Invisible String Theory dalam Hubungan: Benarkah Ada Benang Tak Kasatmata yang Menghubungkan Dua Orang?
Pernah merasa seseorang seperti sudah “ditakdirkan” hadir dalam hidupmu? Misalnya, kamu dan pasangan ternyata pernah berada di tempat yang sama bertahun-tahun sebelum akhirnya berkenalan. Atau kalian punya teman yang sama, pernah mengunjungi kafe yang sama, bahkan mungkin pernah muncul di foto satu sama lain tanpa pernah benar-benar menyadarinya.
Invisible String Theory ramai diperbincangkan di TikTok, terutama melalui unggahan yang menunjukkan bagaimana dua orang ternyata sudah “bersinggungan” dalam kehidupan masing-masing jauh sebelum akhirnya bertemu. Namun, konsep tentang dua orang yang seolah-olah terhubung oleh benang tak kasatmata sebenarnya bukanlah sesuatu yang baru.
Gagasannya sudah memiliki akar dalam folklor Asia Timur dan kembali populer lewat budaya pop, termasuk lagu Taylor Swift berjudul "Invisible String". Jadi, apakah benar ada “benang” yang mempertemukan dua orang?
Berikut ini, Cosmo ajak Babes, bahas invisible string theory dalam hubungan.
1. Apa Itu Invisible String Theory dalam Hubungan?
Secara sederhana, Invisible String Theory adalah kepercayaan bahwa dua orang tertentu terhubung oleh suatu “benang” tak kasatmata yang pada akhirnya membawa mereka untuk bertemu, terlepas dari jarak, waktu, maupun keadaan. Bayangkan seperti ini: kamu mungkin belum mengenal seseorang hari ini, tetapi tanpa kamu sadari, kehidupan kalian sudah beberapa kali berpapasan. Setelah bertahun-tahun, kalian akhirnya bertemu dan menjalin hubungan.
Dari sudut pandang Invisible String Theory, pertemuan tersebut bukan sekadar kebetulan, melainkan bagian dari rangkaian perjalanan yang pada akhirnya mempertemukan kalian.
Konsep ini memang terdengar seperti kisah romansa. Namun, ada satu hal penting yang perlu digarisbawahi: Invisible String Theory bukan teori ilmiah atau konsep psikologi yang telah terbukti secara empiris.
Istilah ini lebih tepat dipahami sebagai metafora, kepercayaan spiritual, atau cara populer untuk menggambarkan perasaan bahwa seseorang memang “ditakdirkan” hadir dalam hidup kita. Psikolog dan psikoterapis juga menempatkannya sebagai konsep berbasis takdir, bukan teori ilmiah.
Menariknya, mempercayai bahwa sebuah pertemuan memiliki makna tidak selalu berarti seseorang harus menganggap semua hal sebagai takdir. Dalam psikologi, manusia memang cenderung mencari pola dan hubungan dari berbagai kejadian yang tampaknya kebetulan. Penelitian mengenai pengalaman kebetulan menunjukkan bahwa kita secara alami mencoba mengenali pola dan menilai apakah sebuah kejadian terasa lebih dari sekadar kebetulan.
Jadi, ketika kamu menemukan foto lama dan baru sadar bahwa pasanganmu ternyata ada di latar belakangnya, kamu bebas menganggapnya sebagai “benang takdir”. Hanya saja, jangan buru-buru menganggapnya sebagai bukti ilmiah bahwa alam semesta memang sudah mengatur hubungan kalian.
2. Asal-usul Invisible String Theory dan Legenda Red Thread of Fate
Sebelum menjadi tren TikTok, gagasan tentang benang tak kasatmata yang menghubungkan orang-orang yang ditakdirkan untuk bertemu sudah lama hidup dalam folklor Asia Timur.
Salah satu cerita yang paling sering dikaitkan dengan konsep ini adalah legenda Red Thread of Fate, atau benang merah takdir. Kisah tersebut berakar dari folklor Tiongkok dan berkaitan dengan sosok Yue Lao, figur yang dikenal sebagai dewa perjodohan atau penjodoh dalam tradisi Tiongkok. Dalam cerita yang kemudian berkembang, orang-orang yang ditakdirkan untuk bertemu dihubungkan oleh benang merah yang tidak terlihat.
Salah satu rujukan yang lebih spesifik dapat ditelusuri ke kisah Dinghun Dian atau "The Marriage-Making Shop" yang tercatat dalam literatur Tiongkok klasik. Dalam cerita tersebut, seorang tokoh bernama Wei Gu bertemu dengan seorang lelaki tua di bawah sinar bulan. Lelaki itu membawa benang merah yang digunakan untuk menghubungkan pasangan yang kelak akan menikah.
Bahkan jika mereka berada jauh satu sama lain, hubungan tersebut pada akhirnya akan membawa mereka kepada pasangan yang telah ditentukan. National Diet Library Jepang juga mencatat kisah ini sebagai salah satu sumber dari konsep “benang merah” yang kemudian dikenal luas.
Konsep ini kemudian berkembang dan diadaptasi di berbagai budaya Asia Timur, termasuk Jepang. Sebuah kajian mengenai folklor red-thread di Tiongkok dan Jepang bahkan telah diterbitkan dalam Bulletin of Meisei University pada 1993, menunjukkan bahwa kisah tersebut telah lama menjadi bagian dari kajian budaya dan sastra.
Ada pula alasan mengapa warna merah terasa begitu pas untuk kisah cinta. Dalam kebudayaan Tiongkok, warna merah secara historis memiliki berbagai asosiasi dengan keberuntungan, kebahagiaan, perayaan, dan pernikahan.
Lalu, apa hubungannya dengan Invisible String Theory? Versi modernnya pada dasarnya mengambil gagasan yang sama, tetapi “benang merah” dibuat lebih universal dan tidak selalu dikaitkan dengan tradisi tertentu.
Popularitasnya kembali melonjak setelah Taylor Swift merilis lagu “Invisible String” sebagai bagian dari album folklore pada 2020. Lagu tersebut menggunakan gambaran tentang benang tak terlihat untuk menggambarkan hubungan dua orang yang pada akhirnya dipertemukan setelah melalui perjalanan hidup masing-masing. Popularitas lagu ini kemudian ikut membantu membawa metafora tersebut ke budaya populer.
Beberapa tahun kemudian, TikTok memberikan kehidupan baru pada konsep tersebut. Pengguna mulai membagikan cerita tentang bagaimana mereka ternyata pernah bertemu, berada di tempat yang sama, atau memiliki hubungan tidak langsung dengan pasangan mereka jauh sebelum benar-benar berkenalan.
Dengan kata lain, Invisible String Theory versi TikTok bukanlah konsep baru yang tiba-tiba muncul dari media sosial. TikTok lebih tepat disebut sebagai tempat konsep lama tersebut mendapatkan kemasan baru yang lebih personal, romantis, dan sangat mudah menjadi konten viral.
3. Contoh Invisible String Theory yang Viral di TikTok
Kalau kamu pernah melihat video dengan format “ternyata kita sudah pernah bertemu sebelum benar-benar bertemu”, kemungkinan besar kamu sedang melihat salah satu bentuk tren Invisible String Theory.
Tren ini ramai di TikTok, menampilkan foto-foto lama yang kemudian dibandingkan dengan kehidupan seseorang di masa sekarang. Salah satu pola yang sering muncul adalah ketika seseorang menemukan bahwa pasangan mereka ternyata pernah berada di foto atau lingkungan yang sama bertahun-tahun sebelumnya.
Beberapa contoh yang menarik antara lain:
1. Pernah berada di foto yang sama tanpa sadar
Ini mungkin salah satu versi yang paling bikin merinding sekaligus gemas. Seseorang mengunggah foto masa kecil atau foto dari sebuah acara, lalu menyadari bahwa pasangan mereka ternyata juga ada di dalam foto tersebut—meskipun saat itu mereka sama sekali tidak saling mengenal.
2. Sering berada di tempat yang sama
Ada pula kisah pasangan yang ternyata pernah mengunjungi kafe, pusat kebugaran, sekolah, tempat kerja, atau lingkungan yang sama selama bertahun-tahun sebelum akhirnya berkenalan. Dalam salah satu contoh yang dilaporkan indy100, seorang pengguna TikTok menceritakan bahwa ia dan pasangannya pernah berada di tempat kerja, pusat kebugaran, serta memiliki lingkaran pertemanan yang beririsan sebelum akhirnya benar-benar bertemu.
Orang-orang di sekitar mereka ternyata sudah saling terhubung.
Versi lainnya bahkan tidak membutuhkan kedua orang tersebut pernah bertemu langsung. Misalnya, orang tua, teman, guru, atau anggota keluarga mereka ternyata sudah saling mengenal jauh sebelum pasangan tersebut bertemu.
Dalam salah satu cerita yang menjadi bagian dari tren, seorang pengguna menemukan bahwa ayahnya pernah menjadi dokter gigi tunangannya ketika masih kecil, sementara kakeknya juga pernah mengajar orang tua sang tunangan.
3. Ternyata pernah lahir atau berada di tempat yang sama
Ada juga cerita tentang dua orang yang ternyata lahir di rumah sakit yang sama atau memiliki hubungan dengan tempat yang sama sejak kecil, tetapi baru menjadi sahabat atau pasangan bertahun-tahun kemudian. Ternyata kedua bayi yang lahir hanya berselang satu hari di rumah sakit yang sama ternyata kemudian menjadi sahabat ketika dewasa.
Mungkin inilah bagian paling menarik dari tren tersebut: Invisible String Theory tidak selalu harus berakhir dengan kisah cinta. “Benang” itu juga bisa digunakan untuk menggambarkan pertemuan dengan sahabat, mentor, atau orang lain yang memberikan pengaruh besar dalam hidup seseorang. Psychology Today pun mencatat bahwa konsep ini dapat digunakan untuk memaknai berbagai hubungan yang terasa signifikan, bukan hanya hubungan romantis.
4. Apakah Invisible String Theory benar-benar nyata?
Kalau pertanyaannya adalah apakah ada bukti ilmiah tentang benang tak kasatmata yang menghubungkan dua orang, jawabannya: belum ada.
Namun, jika pertanyaannya adalah apakah dua orang bisa mengalami serangkaian kebetulan yang membuat mereka merasa seperti sudah “terhubung” jauh sebelum bertemu, tentu saja bisa.
Pada akhirnya, mungkin daya tarik Invisible String Theory justru bukan pada apakah benang tersebut benar-benar ada. Konsep ini menawarkan cara yang manis untuk melihat kembali perjalanan hidup: orang-orang yang dulu terasa seperti orang asing ternyata mungkin sudah berada di sekitar kita jauh sebelum kita menyadari betapa pentingnya mereka.
Nah, kalau suatu hari kamu menemukan foto lama yang ternyata memperlihatkan dirimu berdiri beberapa meter dari orang yang sekarang menjadi pasanganmu? Anggap saja semesta sedang punya selera humor yang cukup romantis.