Jauh Sebelum The Odyssey, Dunia Fashion Sudah Terobsesi dengan Greek Mythology
Sejak The Odyssey karya Christopher Nolan dirilis, Greek mythology langsung menjadi bagian dari fashion conversation. Dari red carpet dan press tour, hingga editorial dan For You Page, visualnya hadir di mana-mana.
Namun, The Odyssey bukanlah awal dari obsesi ini. Jauh sebelum para dewa dan pahlawan Homer kembali hadir di layar lebar, Greek mythology telah menjadi salah satu referensi yang terus muncul dalam sejarah fashion. Selama lebih dari satu abad, para desainer telah menerjemahkan dunia tersebut melalui pleating, draping, sculptural silhouettes, hingga simbol mythology yang kemudian melekat pada identitas fashion collection mereka.
Jadi, sebelum The Odyssey kembali mencuri perhatian, mari kita lihat lima koleksi desainer yang membawa mitologi Yunani dari ancient history ke runway.
1. Versace Fall 1992 ("Miss S&M")

Salah satu momen berkesan ketika Greek mythology benar-benar menemukan tempatnya di contemporary fashion datang dari Gianni Versace. Lewat Fall 1992 “Miss S&M”, Versace menjadi salah satu desainer ternama paling awal yang membawa referensi Greek mythology ke dalam koleksi yang begitu bold.
Alih-alih menghadirkan sosok dewi dalam klasik flowing gowns, Versace memilih pendekatan yang jauh lebih niche dan provocative. Black leather, body-contouring dresses, straps, dan gold hardware memenuhi runway. Namun, ada satu elemen yang membuat koleksi ini standout: wajah Medusa yang hadir berulang sebagai detail ikonis.
Di balik visualnya yang sensual, Versace menjadi salah satu fashion house yang paling berpengaruh dalam mengubah Medusa dari figur Greek mythology menjadi fashion muse. Dalam koleksinya, Medusa direpresentasikan sebagai simbol seduction dan dangerous attraction, dua karakter yang begitu lekat dengan sensualitas, keberanian, dan confidence yang menjadi DNA perempuan Versace. Sejak saat itu, Greek mythology bukan lagi sekadar referensi dalam koleksi, tetapi menjadi bagian dari visual language yang langsung dikenali sebagai “Versace”.
2. Givenchy Spring 1997 Haute Couture ("The Search for the Golden Fleece")

Alexander McQueen telah mengambil alih Givenchy pada usia 27 tahun. Menyadari ekspektasi besar yang menantinya, ia pun memilih untuk memperkenalkan dirinya dengan pendekatan yang sangat berani. The Search for the Golden Fleece, koleksi debutnya untuk Givenchy, terinspirasi dari kisah Jason dan para Argonauts dalam Greek mythology. Dipresentasikan di Paris pada Januari 1997, koleksi ini hadir dalam dua warna yang mendominasi: putih dan emas. Warna ini di aplikasikan pada sharp tailoring, corsetry, sculptural volumes, dan gold embellishment yang membuat para model terlihat seperti modern-day goddesses dan juga warriors.
Menariknya, hampir tiga dekade kemudian, koleksi ini kembali menjadi bagian dari tren dan juga fashion conversation ketika Zendaya mengenakan archival look dari The Search for the Golden Fleece untuk The Odyssey press tour di Paris. Koleksi yang terinspirasi dari mitologi Yunani ini akhirnya kembali bertemu dengan sosok yang paling tepat untuk membawanya ke masa kini: Zendaya, yang memerankan Athena dalam film The Odyssey.
3. Chanel Cruise 2018 Collection (La Modernite De L'antiquite)

Kalau bicara soal elegance yang timeless, Chanel rasanya selalu jadi nama yang pertama muncul di kepala. Dengan signature yang begitu kuat, membayangkan rumah mode ini tampil di luar ciri khasnya mungkin terasa sulit. Tetapi, koleksi kali ini justru berhasil membuktikan sebaliknya. Membawa konsep yang cukup berbeda, Chanel tetap bisa mengolahnya dengan cara yang terasa sangat “Chanel”, yaitu fresh, unik, tapi punya DNA yang langsung dikenali.
Pada 2017, Karl Lagerfeld membawa Greek mythology ke Grand Palais lewat Chanel Cruise 2018, La Modernité de l’Antiquité. Referensi Greek mythology hadir lewat draped dresses, one-shoulder silhouettes, pleats, gold armbands, laurel motifs, hingga gladiator sandals dengan heels berbentuk Ionic columns. Alih-alih merekonstruksi era tersebut secara literal, Lagerfeld mengambil elemen-elemen yang timeless dan menerjemahkannya ke dalam bahasa Chanel yang lebih modern. Hasilnya? Greek mythology terasa fresh, tanpa kehilangan pesonanya yang klasik. Love it!
4. The Dior Cruise 2022 (Christian Dior Resort 2022)

Dior juga ikut bermain dengan tren ini, tetapi Maria Grazia Chiuri membawanya ke arah yang jauh lebih unexpected. Untuk Cruise 2022, ia mempertemukan tiga dunia yang sekilas terasa sulit disatukan: Greek mythology, elegance khas Dior, dan modern sportswear. Bertempat di Panathenaic Stadium, Athens, koleksi ini bermain dengan siluet Yunani seperti peplos dress, namun diberi twist sporty lewat drawstrings, material yang lebih ringan, hingga oversized sneakers. Bahkan Bar Jacket ikonis Dior dibuat lebih relaks dengan konstruksi tanpa lining dan material yang terasa lebih athletic.
Alih-alih tampil sama persis seperti kostum Yunani, koleksi ini terasa modern dan effortless. Detail embroidery dan craftsmanship khas Athena pun ikut memperkuat koleksinya. Sebuah koleksi yang terasa seperti “vision turned into reality”. Bold, unexpected, tapi tetap unmistakably Dior.