Reinventing Tenun, Film Dokumenter Wilsen Willim tentang Dedikasi Para Penenun dan Tim di Balik Koleksi Satu Dekade
Wastra seperti tenun bukan sekadar tentang kain yang indah. Di balik setiap helai benang, terdapat tradisi, pengetahuan, dan cerita yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Bagi para penenun, proses menciptakan kain juga menjadi bentuk penghormatan kepada leluhur sekaligus perjuangan untuk menjaga budaya agar tetap hidup. Semangat inilah yang menarik perhatian desainer Wilsen Willim untuk mengangkat perjalanan tersebut ke dalam serial film dokumenter berjudul Reinventing Tenun: Journey to Algorithm.
Wilsen mengundang media, kolaborator, dan klien untuk menyaksikan pemutaran perdana secara terbatas di XXI Plaza Indonesia pada 21 Agustus 2026.
Dedikasi Para Penenun Jadi Fokus

Terdiri dari enam episode, serial ini mendokumentasikan perjalanan dan proses kreatif Wilsen dalam menciptakan koleksi Algorithm: Universal Language , yang sekaligus menjadi perayaan satu dekade perjalanan kariernya sebagai desainer. Untuk koleksi ini, Wilsen menyambangi sejumlah daerah penghasil tenun yang menjadi bagian penting dari proses kreatifnya, mulai dari Tenun Songket dari Jembrana, Bali; Tenun Sutra Garut dari Bandung Selatan, Jawa Barat; Tenun Dayak Iban dari Kapuas Hulu, Putussibau, Kalimantan Barat; hingga Songket Minang dari Halaban, Sumatera Barat.
Di balik keindahan kain-kain tersebut, terdapat berbagai tantangan kompleks yang dihadapi para penenun. Mulai dari keterbatasan bahan baku, regenerasi penenun, hingga bagaimana mempertahankan keberlangsungan tenun sebagai sebuah bisnis. Sebab bagi sebagian penenun, tenun bukan hanya tentang menjaga tradisi, tetapi juga menjadi sumber penghasilan sekaligus medium pemberdayaan, khususnya bagi perempuan.

Lewat serial dokumenter ini, Wilsen tidak hanya menyoroti tantangan yang mereka hadapi, tetapi juga semangat dan dedikasi untuk terus menciptakan sesuatu yang relevan dengan zaman. Salah satunya terlihat dari eksplorasi material, seperti penggunaan benang denim daur ulang yang kemudian diolah Wilsen ke dalam koleksinya. Eksperimen tersebut menunjukkan bahwa inovasi tidak harus berarti meninggalkan tradisi. Justru, melalui pendekatan baru, tenun dapat terus berkembang tanpa kehilangan akar budayanya.

Semangat para perajin tersebut kemudian terasa mengalir hingga ke tim internal Wilsen Willim. Dari kain-kain yang dihasilkan para perajin, mereka menerjemahkannya menjadi busana yang tidak hanya merepresentasikan kreativitas Wilsen, tetapi juga memberikan ruang bagi keindahan tenun untuk berbicara. Proses di balik koleksi tersebut pun tidak kalah penting untuk disoroti: perjuangan tim yang bekerja dari siang hingga malam, melewati berbagai tantangan, hingga akhirnya melihat ide-ide tersebut hadir dalam bentuk busana. Di balik gemerlap sebuah koleksi fashion, selalu ada kerja keras, proses panjang, dan dedikasi yang sering kali tidak terlihat.
Ketika film berakhir, riuh tepuk tangan dan ucapan selamat terdengar di dalam ruang pemutaran. Momen tersebut terasa semakin spesial karena hari itu juga bertepatan dengan ulang tahun Wilsen. Beberapa tamu bahkan mengaku mendapatkan perspektif baru setelah menyaksikan perjalanan para penenun dalam film tersebut, mulai dari memahami proses panjang di balik sehelai kain hingga melihat tenun sebagai sesuatu yang terus berkembang, bukan sekadar peninggalan masa lalu.
Pada akhirnya, Reinventing Tenun: Journey to Algorithm tidak hanya bercerita tentang bagaimana sebuah koleksi fashion dibuat. Film ini memperlihatkan hubungan antara manusia, tradisi, dan kreativitas yang terus bergerak. Karena untuk membuat tenun tetap hidup, mungkin yang dibutuhkan bukan sekadar mempertahankannya dalam bentuk yang sama, tetapi memberinya ruang untuk berevolusi tanpa harus melupakan dari mana semuanya bermula.