Matcha untuk Diet, Benarkah Bisa Membantu Menurunkan Berat Badan?

Redaksi 2 07 Sep 2026

Matcha semakin sering muncul dalam menu banyak orang yang sedang mencoba menjalani pola makan lebih sehat. Warnanya yang hijau pekat, rasanya yang khas, dan kandungan senyawa alami di dalamnya membuat matcha kerap dianggap lebih dari sekadar minuman kekinian. Tidak sedikit pula yang meminumnya dengan harapan berat badan lebih mudah turun.

Namun, apakah matcha benar-benar bisa membantu diet? Jawabannya tidak sesederhana “iya” atau “tidak”. Matcha berasal dari tanaman teh hijau, sehingga mengandung katekin seperti EGCG serta kafein. Keduanya memang sedang banyak diteliti berkaitan dengan metabolisme dan pengelolaan berat badan, tapi efeknya cenderung kecil dan bukan pengganti pola makan seimbang.

Matcha Mengandung Katekin dan Kafein

Salah satu alasan matcha sering dikaitkan dengan diet adalah kandungan katekin dan kafeinnya. Kedua senyawa tersebut dapat berhubungan dengan proses penggunaan energi tubuh. Studi pada teh hijau juga menemukan adanya penurunan berat badan dalam beberapa penelitian, tapi besarnya efek relatif kecil. Jadi, matcha lebih tepat dianggap sebagai bagian kecil dari pola hidup sehat, bukan “pembakar lemak” yang bekerja sendiri.

Bukan Berarti Berat Badan Akan Turun Drastis

Penelitian tentang teh hijau menunjukkan hasil yang beragam. Beberapa studi menemukan efek positif terhadap berat badan, sementara penelitian lain menemukan perubahan yang sangat kecil atau tidak signifikan. Artinya, minum matcha setiap hari tidak otomatis membuat berat badan turun. Defisit kalori, pola makan, aktivitas fisik, tidur, dan berbagai faktor lain tetap jauh lebih berperan.

Matcha Bisa Menjadi Pilihan Minuman yang Lebih Ramah Diet

Ada satu keuntungan yang lebih sederhana, yaitu matcha tanpa tambahan gula, krimer, atau sirup memiliki kalori yang relatif rendah. Jika biasanya kamu memilih minuman manis dengan banyak tambahan gula, menggantinya dengan matcha yang tidak terlalu banyak pemanis bisa membantu mengurangi asupan kalori harian. Dalam konteks ini, manfaatnya lebih berasal dari pilihan minumannya secara keseluruhan, bukan karena matcha memiliki efek ajaib terhadap lemak tubuh.

Hati-Hati dengan Minuman Matcha yang Manis

Masalahnya, matcha yang dijual sebagai minuman kekinian belum tentu rendah kalori. Susu, gula, sirup, whipped cream, atau topping dapat membuat satu gelas matcha memiliki kalori jauh lebih tinggi dibanding matcha murni. Jadi, kalau tujuanmu adalah mengatur asupan kalori, perhatikan bukan hanya jenis matchanya, tapi juga apa saja yang masuk ke dalam gelas.

Jadikan Matcha sebagai Pendamping, Bukan Andalan

Kalau kamu suka matcha, tidak ada alasan untuk menghindarinya hanya karena sedang diet. Kamu bisa menikmatinya tanpa terlalu banyak pemanis dan tetap menjadikan pola makan seimbang serta aktivitas fisik sebagai fondasi utama. Dengan begitu, matcha menjadi bagian menyenangkan dari rutinitas, bukan minuman yang dibebani ekspektasi untuk menurunkan berat badan.

Jadi, matcha untuk diet memang mungkin memberikan sedikit manfaat, tapi jangan berharap satu cangkir matcha bisa menggantikan pola hidup sehat. Kandungan katekin dan kafeinnya membuat matcha menarik untuk diteliti dalam kaitannya dengan berat badan, tapi bukti yang ada menunjukkan efek yang relatif kecil.

Kalau kamu suka matcha, nikmati saja sebagai bagian dari kebiasaan sehat. Pilih versi yang tidak terlalu banyak gula, perhatikan porsi, dan tetap fokus pada keseluruhan pola makan. Karena dalam urusan menurunkan berat badan, yang paling menentukan biasanya bukan satu makanan atau minuman tertentu, tapi kebiasaan yang bisa kamu jalani secara konsisten.