Peggy Hartanto Debut Eksplorasi Kain Tenun! Berpadu Apik dengan Detail Scallop dan Nuansa Feminin
Peggy Hartanto untuk pertama kalinya merancang koleksi berbasis tenun. Label yang identik dengan siluet feminin dan sentuhan quirky ini mempresentasikan koleksi terbarunya, Sang Penari, dalam gelaran Karya Kreatif Indonesia di JCC, Jakarta, pada 22 Agustus 2026.
Peggy Hartanto mengeksplorasi kain tenun Batak Toba dan Batak Karo, lalu mentransformasikannya ke dalam deretan busana khasnya, mulai dari jaket berdetail scallop, vest, hingga gaun dengan aksen peplum.
Terinspirasi dari sang Ibu

Ada kisah personal di balik koleksi ini. Bertajuk Sang Penari, koleksi ini terinspirasi dari sosok ibu Peggy, Petty, dan Lydia Hartanto selaku pendiri label Peggy Hartanto, yang berprofesi sebagai penari. Semangat dan gerak seorang penari kemudian diterjemahkan ke dalam siluet, detail, hingga aksen busana yang terasa dinamis.
Untuk pertama kalinya, Peggy mengeksplorasi kain tenun Batak Toba dan Batak Karo, yang dalam proses pembuatannya masih mengandalkan peralatan tradisional. Setiap motif pun membawa narasi dan simbol tersendiri, menjadikan kain bukan sekadar material, tetapi bagian penting dari cerita koleksi.

Tantangan dalam mengolah tenun adalah bagaimana mempertahankan karakter kain sekaligus menyelaraskannya dengan garis rancang seorang desainer. Peggy menjawab tantangan tersebut dengan memasukkan tenun ke dalam gaya feminin khasnya. Vest dengan aksen scallop, misalnya, tampil lebih eklektik ketika dipadukan dengan corak tenun, sementara kain yang sama hadir dalam bentuk atasan, jaket, hingga busana dengan aksen peplum.
Koleksi ini turut mengangkat motif Kreasi dan Sadum yang terinspirasi dari alam serta kehidupan sehari-hari. Motif-motif tersebut merefleksikan hubungan erat antara alam, tradisi, dan komunitas yang selama ini menjaga keberlangsungan warisan tenun.

Ide estetika penari terasa melalui detail sculptural dan aksen selendang yang memberikan kesan dinamis. Eksperimentasi tekstur dalam warna ungu menjadi salah satu elemen yang menarik perhatian. Selain memberikan kontras, permainan tekstur tersebut menghadirkan perspektif baru dalam memodernisasi kain tenun.

Ketika seorang desainer mengeksplorasi kain tradisional, yang dirayakan bukan hanya desain busananya, tetapi juga craftsmanship dan dedikasi para penenun di balik setiap lembar kain. Lewat Sang Penari, Peggy Hartanto memperlihatkan bagaimana tenun dapat diterjemahkan ke dalam bahasa desain yang feminin dan kontemporer, memberikan ruang bagi perempuan modern untuk mengenakan warisan budaya tanpa kehilangan identitasnya.