Test Love Language: Kenali Cara Kamu Memberi dan Menerima Cinta
Kamu tipe yang senang dikasih kata-kata manis, quality time, atau justru merasa paling disayang ketika pasangan rela membantu tanpa diminta? Setiap orang ternyata punya cara berbeda dalam memahami dan menunjukkan kasih sayang.
Karena itu, nggak heran kalau istilah love language atau bahasa cinta begitu populer di kalangan pasangan. Lewat love language test, kamu bisa mencari tahu bentuk perhatian apa yang paling bermakna buatmu, mulai dari Words of Affirmation, Acts of Service, hingga Physical Touch. Tapi sebelum buru-buru menganggap hasil tes sebagai gambaran mutlak tentang dirimu, ada beberapa hal yang perlu kamu ketahui.
Berikut, Cosmo ajak kamu bahas test love language: Kenali cara kamu menerima memberi dan menerima cinta.
1. Cara Mengerjakan Test Love Language agar Hasilnya Lebih Akurat

Pernah penasaran kenapa kamu merasa sudah menunjukkan rasa sayang, tetapi pasangan justru seperti tidak menyadarinya? Bisa jadi, cara kamu mengekspresikan kasih sayang memang berbeda dengan cara orang lain menerimanya.
Konsep love language atau bahasa cinta dari Gary Chapman populer digunakan untuk membantu seseorang memahami cara dirinya memberikan dan menerima kasih sayang. Ada lima kategori yang dikenal luas, yaitu Words of Affirmation, Acts of Service, Receiving Gifts, Quality Time, dan Physical Touch.
Salah satu cara untuk mengenalinya adalah dengan mengerjakan love language test. Namun, agar hasilnya terasa lebih relevan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan. Pasalnya, hasil kuis sebaiknya digunakan sebagai bahan refleksi, bukan sebagai label permanen tentang bagaimana seseorang harus dicintai.
1. Pilih test dari sumber yang terpercaya
Saat ini ada banyak tes love language yang beredar di internet. Jika ingin mengikuti versi yang paling dekat dengan konsep aslinya, kamu bisa menggunakan tes resmi dari The 5 Love Languages yang dikembangkan berdasarkan konsep Gary Chapman.
Situs resminya menyediakan tes gratis untuk membantu pengguna mengetahui bagaimana mereka cenderung memberikan dan menerima kasih sayang. Namun, perlu diingat bahwa tes tersebut tetap merupakan alat refleksi berbasis konsep love language, bukan diagnosis psikologis.
2. Jawab berdasarkan kebiasaan, bukan jawaban yang dianggap ideal
Ketika mengerjakan test, hindari memilih jawaban hanya karena menurutmu itulah respons yang paling romantis atau paling baik.
Misalnya, ketika diberi pilihan antara mendapatkan hadiah kecil dari pasangan atau menghabiskan waktu berkualitas berdua, pilih yang benar-benar paling berarti bagimu, bukan yang menurutmu seharusnya kamu pilih.
Dalam profil resmi Love Language Personal Profile, peserta memang diarahkan untuk memilih pernyataan yang paling bermakna bagi mereka dalam hubungan.
3. Pikirkan pengalaman nyata
Supaya jawaban tidak terlalu dipengaruhi suasana hati sesaat, coba ingat kembali beberapa pengalaman dalam hubungan dengan pasangan, keluarga, atau orang terdekat.
Tanyakan kepada diri sendiri:
-
- Kapan terakhir kali aku merasa benar-benar dihargai?
- Hal apa yang dilakukan seseorang yang membuatku merasa diperhatikan?
- Hal apa yang paling membuatku kecewa ketika tidak dilakukan?
- Ketika ingin menunjukkan rasa sayang, apa yang biasanya kulakukan?
- Jawaban atas pertanyaan tersebut bisa membantu kamu melihat pola yang mungkin tidak langsung terlihat saat mengerjakan kuis.
4. Jangan terburu-buru memilih jawaban
Luangkan waktu untuk membaca setiap pilihan dengan saksama. Dalam profil resmi Love Language, peserta bahkan disarankan mengerjakannya ketika sedang rileks dan tidak terburu-buru.
Kalau dua pilihan terasa sama-sama cocok, pikirkan mana yang lebih bermakna jika dilakukan oleh seseorang yang kamu sayangi.
5. Jangan menganggap hasil sebagai label mutlak
Misalnya, hasil test menunjukkan Quality Time sebagai skor tertinggi. Itu tidak berarti kamu hanya bisa merasa dicintai ketika seseorang menghabiskan waktu bersamamu.
Penelitian mengenai love language masih menunjukkan keterbatasan bukti untuk beberapa klaim utama teori ini. Sebuah tinjauan yang diterbitkan dalam Current Directions in Psychological Science menemukan bahwa belum ada dukungan empiris yang kuat untuk anggapan bahwa setiap orang pasti memiliki satu love language utama atau bahwa kecocokan love language secara otomatis membuat hubungan lebih memuaskan.
Jadi, anggap hasil test sebagai petunjuk untuk memahami kebutuhan dan preferensi, bukan aturan baku dalam hubungan.
2. Lima Hasil Love Language dan Arti Masing-Masing

Setelah menyelesaikan tes, kamu mungkin mendapatkan salah satu dari lima kategori berikut sebagai skor tertinggi. Setiap kategori menggambarkan bentuk kasih sayang yang mungkin terasa paling bermakna bagi seseorang.
1. Words of affirmation
Jika hasilmu adalah Words of Affirmation, kamu mungkin lebih mudah merasa dihargai melalui kata-kata yang menunjukkan perhatian, apresiasi, dukungan, atau kasih sayang. Bentuknya tidak selalu harus berupa kalimat romantis seperti “Aku cinta kamu”.
Pujian yang tulus, ucapan terima kasih, pesan penyemangat, atau sekadar memberi tahu seseorang bahwa kamu menghargai keberadaannya juga dapat menjadi bentuk Words of Affirmation.
Contohnya:
-
- “Aku bangga sama kamu.”
- “Makasih sudah selalu ada.”
- “Aku tahu hari ini berat, tapi kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Bagi orang yang menyukai bentuk kasih sayang ini, kata-kata sederhana tetapi tulus bisa terasa jauh lebih berarti daripada gestur besar.
2. Acts of service
Bagi pemilik Acts of Service, kasih sayang bisa terasa melalui tindakan nyata. Daripada sekadar mengatakan “Aku sayang kamu”, seseorang mungkin merasa lebih diperhatikan ketika pasangannya membantu menyelesaikan sesuatu atau meringankan bebannya.
Contohnya adalah membantu mengerjakan pekerjaan rumah, menawarkan bantuan ketika sedang sibuk, atau melakukan sesuatu yang memang dibutuhkan tanpa harus diminta terlebih dahulu. Intinya bukan tentang menjadi “pelayan” bagi pasangan, melainkan menunjukkan perhatian melalui tindakan yang bermakna.
3. Receiving gifts
Receiving gifts sering kali disalahartikan sebagai materialistis. Padahal, dalam konsep love language, fokusnya bukan semata-mata pada harga atau nilai barang. Hadiah dapat terasa berarti karena menunjukkan bahwa seseorang mengingat, memperhatikan, dan memikirkan kita.
Bahkan hadiah sederhana seperti makanan favorit, bunga, atau benda kecil yang mengingatkan pada percakapan sebelumnya bisa memiliki makna besar. Dengan kata lain, yang penting bukan “Seberapa mahal hadiahnya”, tetapi cerita dan perhatian di baliknya.
4. Quality time
Kalau hasilmu Quality Time, perhatian penuh mungkin menjadi salah satu hal yang paling kamu hargai. Menghabiskan waktu bersama tidak selalu berarti harus melakukan sesuatu yang mewah.
Makan malam tanpa sibuk memainkan ponsel, berjalan-jalan sambil mengobrol, atau menonton film bersama dengan benar-benar hadir dalam momen tersebut bisa terasa sangat berarti. Dalam konteks ini, kuantitas bukan satu-satunya hal yang penting. Kualitas perhatian selama menghabiskan waktu bersama juga berperan.
5. Physical touch
Physical Touch berkaitan dengan ekspresi kasih sayang melalui sentuhan fisik yang nyaman dan sesuai dengan batasan masing-masing. Pelukan, menggenggam tangan, sentuhan lembut di bahu, atau bentuk kedekatan fisik lainnya dapat menjadi cara seseorang merasa terhubung dengan orang yang disayanginya.
Namun perlu diingat, Physical Touch tentu harus selalu memperhatikan kenyamanan, persetujuan, dan batasan pribadi masing-masing.
3. Perbedaan Love Language saat Memberi dan Menerima Kasih Sayang

Menariknya, cara seseorang memberikan kasih sayang belum tentu sama dengan cara ia ingin menerimanya. Misalnya, seseorang mungkin terbiasa menunjukkan rasa sayang dengan membantu pasangannya menyelesaikan pekerjaan. Itu bisa menunjukkan bahwa ia nyaman memberikan kasih sayang melalui Acts of Service.
Namun, ketika dirinya sendiri sedang membutuhkan dukungan, ia mungkin justru lebih merasa dicintai ketika mendapatkan pelukan atau mendengar kata-kata yang menenangkan. Hal ini juga sejalan dengan penjelasan Cleveland Clinic bahwa love language dapat berkaitan dengan bagaimana seseorang memberikan maupun menerima kasih sayang.
Oleh karena itu, jangan langsung berasumsi bahwa cara pasangan menunjukkan cinta adalah cara yang sama dengan yang ia harapkan darimu. Lalu, bagaimana cara mengetahuinya? Salah satu cara paling sederhana adalah berkomunikasi secara langsung.
Kamu bisa bertanya:
- “Hal apa yang paling bikin kamu merasa disayang?”
- “Kalau lagi capek, kamu lebih suka ditemani atau dibantu?”
- “Kamu lebih menghargai kata-kata atau tindakan?”
- “Apa hal kecil yang pernah aku lakukan dan paling kamu ingat?”
Selain membantu memahami pasangan, pertanyaan seperti ini juga bisa menghindarkan kita dari kebiasaan menebak-nebak kebutuhan orang lain. Sebuah penelitian yang melibatkan pasangan menemukan bahwa orang memang dapat memiliki pemahaman yang bias mengenai preferensi pasangannya. Sebaliknya, pemahaman yang lebih akurat mengenai preferensi pasangan berkaitan dengan kepuasan hubungan yang lebih tinggi.
Jadi, daripada sibuk mencari tahu apakah pasanganmu benar-benar seorang Quality Time atau Physical Touch, mungkin pertanyaan yang lebih penting adalah “Apa yang membuatmu merasa dicintai?”