Lifestyle

Cosmo Honest Review: "Gundala", Pembuka Jagat Bumilangit

  by: Shamira Priyanka Natanagara       7/9/2019
  • Sebagai media Indonesia, tentu saja Cosmopolitan Indonesia berusaha sebaik mungkin untuk mendukung karya-karya warga negara ini. Jadi saat diumumkan bahwa Indonesia akan memiliki beragam film pahlawan super—lebih tepatnya jagat sinema yang mengikuti kehidupan superhero—kami tidak sabar untuk menyaksikan apa yang akan disuguhkan Jagat Sinema Bumilangit (BCU).

    Untungnya, kami (dan warga Indonesia lainnya) tidak perlu menunggu terlalu lama untuk melihat dunia Bumilangit, karena Gundala baru saja mulai tayang pada tanggal 29 Agustus kemarin di seluruh bioskop Indonesia! Gundala adalah film pembuka BCU yang berkisah tentang kehidupan Sancaka sehingga ia bisa menjadi pahlawan super Gundala. Tim Cosmo berkesempatan untuk menghadiri first day screening film ini bersama 15 pembaca Cosmo. Ingin tahu keseruannya? Simak ulasannya berikut ini—dan iya, ini adalah honest review dari Cosmo!

    PERINGATAN: Ulasan ini mengandung spoiler






    Sinopsis

    Film ini dimulai dengan masa kecil Sancaka (Muzakki Ramdhan) yang cukup berat: ayahnya (Rio Dewanto) tewas saat menuntut haknya sebagai seorang pekerja pabrik dalam sebuah demonstrasi, dan sang ibu (Marissa Anita) meninggalkannya selama berhari-hari untuk mencari kerja. Oleh karena itu, Sancaka terpaksa mengamen di jalanan Jakarta untuk menghidupi dirinya, di mana ia bertemu Awang (Faris Fadjar Munggaran), seorang pengamen cilik yang mengajarkannya ilmu bela diri.

    Ketika ia dewasa, Sancaka (Abimana Aryasatya) berprofesi sebagai petugas keamanan di sebuah pabrik percetakan di Jakarta. Ia menolong tetangganya, Wulan (Tara Basro), dan adiknya Tedy ketika mereka diserang oleh dua orang preman. Sancaka berhasil mengalahkan kedua preman tersebut, namun mereka kembali lagi membawa lebih banyak orang untuk menghabiskannya. Mereka melempar Sancaka dari atas atap, membuatnya tidak sadar, sampai ia disambar petir yang memberinya kekuatan super. 

    Beberapa hari kemudian, Sancaka berhasil melawan 30 orang preman yang menyerang sebuah pasar. Melihat keahlian bela dirinya, Wulan meminta Sancaka untuk melindungi para pedagang pasar. Awalnya ia ragu, tapi setelah melihat penderitaan mereka, akhirnya Sancaka membangun tekad untuk melindungi rakyat. Dengan bantuan Wulan, Tedy, dan rekan kerjanya, Pak Agung (Pritt Timothy), Sancaka membuat kostum yang mampu mengendalikan kekuatan petir dari dalam dirinya. 



    Permasalahan muncul ketika pasar tersebut diduga dibakar oleh pemain biola terkenal Adi Sulaiman (Rendra Bagus). Sancaka pun menghadapinya dan menemukan bahwa ia adalah bagian dari sebuah kelompok pembunuh rahasia.

    Kemudian, terungkap bahwa kelompok rahasia tersebut dipimpin oleh Pengkor (Bront Palarae), seorang mafia yang mengontrol sebagian besar anggota legislatif. Ia mempunyai pasukan anak yatim yang dilatih untuk menjadi pembunuh (diperankan oleh Asmara Abigail, Hannah Al Rashid, Kelly Tandiono, Daniel Adnan, dan Cecep Arief Rahman). Pengkor telah mengontaminasi pasokan beras negara dengan serum yang dikabarkan dapat membuat janin tumbuh tanpa moral, tapi sebenarnya ini hanya sebuah berita palsu agar meresahkan pemerintah dan publik. Setelah mengetahui keberadaan Sancaka, Pengkor mengirim kelompok pembunuhnya untuk menyerangnya, tapi akhirnya Pengkor dibunuh oleh salah satu anggota legislatif, Ridwan Bahri (Lukman Sardi). Sebelum ia tewas, Pengkor mengatakan bahwa ia adalah satu-satunya orang yang mampu menyatukan anggota legislatif dan rakyat.

    Rekan Pengkor, Ghazul (Ario Bayu) menghidupkan kembali Ki Wilawuk (Sudjiwo Tedjo), penjahat dari masa lampau, dan memberitahunya tentang Sancaka, yang ia sebut sebagai Gundala (diambil dari Bahasa Jawa 'gundolo' yang berarti petir). Ki Wilawuk pun menyatakan bahwa perang akan terjadi.





    Review

    Gundala adalah awal yang baik untuk BCU. Film ini memperkenalkan para penonton ke beberapa tokoh BCU yang sudah diumumkan sebelumnya, diantaranya Pengkor, Ghani Zulham (Ghazul), Ridwan Bahri, dan karakter lainnya seperti Camar (Hannah Al Rashid) dan Bidadari Mata Elang (Kelly Tandiono) yang tampil sebagai antagonis dalam film ini. Kalau kamu seperti Cosmo yang sebelumnya bertanya-tanya, "Apa, sih, peran karakter-karakter ini di BCU? Kenapa ada banyak sekali superhero?", Cosmo rasa Gundala cukup menjawab pertanyaan tersebut. Mungkin kekuatan super 'anak-anak' Pengkor belum terungkap (atau mungkin untuk saat ini mereka belum memilikinya), tapi peran tokoh-tokoh BCU menjadi lebih jelas: Gundala, Wulan, dan Ridwan Bahri adalah the good guys, sedangkan Pengkor dan 'anak-anaknya', serta Ghazul dan Ki Wilawuk adalah the bad guys—dan sepertinya konflik pertama BCU adalah tim Pengkor melawan tim Gundala.

    Film ini juga menampilkan adegan-adegan action yang berhasil membuat para penonton tegang dan terhibur. Akhir-akhir ini film laga Indonesia semakin bertambah, dimulai dari The Raid pada tahun 2011, hingga The Night Comes For Us yang dirilis tahun lalu, Foxtrot Six, dan Wiro Sableng 212, dan tampaknya Gundala turut berkontribusi terhadap pengembangan genre ini.

    Para pemeran Gundala pun patut diacungkan jempol. Tidak mengagetkan bahwa Ario Bayu, Lukman Sardi, Tara Basro, dan aktor senior lainnya dapat mewujudkan karakter mereka dengan baik, hanya saja Cosmo rasa penampilan para aktor cilik (khususnya Muzakki Ramdhan dan Faris Fadjar Munggaran) masih agak kaku dan canggung, membuat adegan mereka cheesy.



    Untuk alur cerita, secara keseluruhan kami rasa tidak buruk—ceritanya sendiri cukup menarik—tapi kami berbohong jika mengatakan alur Gundala sempurna. Ada banyak hal yang terjadi dalam film ini, mulai dari masa kecil Sancaka, konflik Wulan dan para pedagang pasar dengan para preman, Pengkor yang mengelabui masyarakat dengan serum amoralnya, munculnya 'anak-anak' Pengkor, hingga pengungkapan bahwa serum amoral Pengkor ternyata palsu. There's a lot, yang sebenarnya tidak apa-apa, tapi cara deretan kejadian tersebut distruktur bisa dibilang agak berantakan—terkadang rasanya agak jumpy, tiba-tiba melompat dari satu masalah ke masalah lain—dan Cosmo rasa ini adalah kekurangan yang dapat dipertimbangkan oleh tim Bumilangit ketika membuat film-film selanjutnya.

    Overall, 7 out of 10. Gundala menyajikan adegan-adegan aksi yang menghibur serta menghadirkan tokoh-tokoh yang menarik. Masih ada beberapa hal yang bisa dikembangkan, terutama alur cerita, tapi secara keseluruhan film ini adalah pembuka yang baik untuk dunia Bumilangit dan Cosmo tidak sabar untuk menyaksikan apa yang akan terjadi selanjutnya.


    (Shamira Natanagara / Ed. / Images: IMDb, Dok. Cosmopolitan Indonesia, Instagram)