Lifestyle

Visualisasi Kreativitas di Malam Pecha Kucha

  by: Redaksi       19/1/2012
  • Pada acara Pecha Kucha Jakarta yang diadakan pada Rabu (18/01) kemarin, 14 pembicara dari berbagai latar belakang telah sukses menginspirasi para pengunjung. Event networking yang pertama kali digagas di Jerman oleh Astrid Klein dan Mark Dytham ini mengangkat tema Visualize Jakarta.

    Keunikan dari Pecha Kucha (yang berarti “suara percakapan” dalam bahasa Jepang) adalah sistem presentasinya, di mana setiap pembicara harus membawakan 20 slide untuk menjelaskan idenya. Dengan keterbatasan waktu selama 20 detik per slide, peserta hanya memiliki total waktu 6 menit 40 detik untuk memberikan presentasi yang tepat sasaran.

    Beberapa topik yang menjadi highlights acara termasuk Food Photography oleh Tony Wahid. "Kalau Anda mau menjadi food photographer, Anda harus mampu menjadi street food photographer,” ujar Tony. "Dengan peralatan dan lighting yang seadanya, seseorang bisa menjadi food photographer. Gunakan kreativitas". Karya-karya Toni yang memanjakan mata dapat Anda lihat di Cikopi.com. Pesan serupa juga disampaikan oleh Anton Ismael, seorang fotografer dari Third Eye Studio. “Seorang fotografer mesti mempunyai visi,“ jelas Anton. Sedangkan untuk yang tidak memiliki kamera analog profesional, jangan bersedih, karena Ndoro Kakung bercerita kalau iPhone juga bisa menghasilkan hasil foto yang indah melalui instagram.



    Ide menarik lainnya termasuk Visual Jockey yang dipresentasikan oleh visual artist bernama Isha Hening. Wanita lulusan ITB ini menunjukkan beberapa karya memukaunya yang dapat Anda lihat di http://www.ishahening.com. Selain Isha, ada juga seorang ilustrator muda yang sangat kreatif bernama Lala Bohang (lihat karyanya di http://lalabohang.wordpress.com) Sedangkan bagi mereka yang tertarik untuk saling berbagi mengenai dunia kreatif, ada Nuri Arunbiarti, seorang mahasiswi HI UNPAD yang membagikan pengalamannya selama bergabung dalam komunitas DevianArt Indonesia.

    Komunitas hobi yang berkembang berkat social media juga tak ketinggalan tampil, seperti Parkour Jakarta. “Parkour bukan cuma mengenai meloncat-loncat antargedung. Parkour itu sebenarnya mengenai kemampuan beradaptasi, di manapun Anda berada,” jelas Daniel Giovanni. Selain Parkour, ada juga komunitas penggemar lari yang menjadikan olahraga tersebut sebagai sebuah lifestyle. Yasha Chatab sebagai perwakilan Indo Runners mengajak pengunjung Pecha Kucha untuk bergabung dalam komunitas positif yang menyehatkan ini. Selain komunitas olahraga, ada juga komunitas kuliner seperti Keuken Bandung yang dipresentasikan oleh Meizan D. Nataadingrat. Keuken Bandung merupakan kegiatan makan bersama yang dilakukan setiap tiga bulan sekali dengan tema yang sudah ditentukan sebelumnya.


    Selain itu, ada Ary Wibowo yang mempresentasikan Rumah Kreatif yang dibentuk agar anak-anak jalanan dapat merasakan atmosfer rumah yang mendukung mereka untuk kreatif; Bayu D. M. Kusuma, yang berbagi pengalamannya selama bekerja di National Geographic Indonesia; John Tefon yang menampilkan hasil karya berupa 16 softwares digital imaging yang dibuat sejak tahun 2004 hingga 2011; dan Eric Wirjanata yang mengusung tema Toys. Acara ditutup dengan pembicara terakhir Soleh Solihun, yang merupakan salah satu bintang Stand up Comedy.



    Kreativitas memang tidak terbatas ladies, dan empat belas pembicara dalam Pecha Kucha Jakarta volume 10 telah sukses membagikan cerita yang menginspirasi pengunjungnya dengan ide-ide yang fresh. Well, jika Anda ingin menjadi pengunjung Pecha Kucha selanjutnya, nantikan informasinya di http://pechakuchajkt.wordpress.com.

    (Calvin Hidayat/SL/Gambar:Dok.Pecha Kucha)