Better You

NEWBORN NIGHTMARE: BREASTFEEDING JAUNDICE

  by: RedaksiCosmopolitan       7/1/2013
  • Breastfeeding jaundice atau kuning adalah masalah yang sering dialami bayi baru lahir atau newborn. Cosmo Pregnancy mengajak Anda untuk menggali lebih lanjut mengenai hal ini. 

    Si Kecil yang dinantikan selama sekitar 40 minggu akhirnya datang membawa sukacita baru untuk keluarga Anda. Sayang dibalik kegembiraan ini ada masalah kesehatan yang “menghantui” bayi mungil Anda, yaitu breastfeeding jaundice atau biasa disebut kuning. Kuning pada bayi baru lahir ini biasanya terjadi karena bayi tidak cukup mendapatkan ASI. Biasanya penyebab utamanya karena minimnya pengetahuan ibu baru soal ASI, termasuk soal frekuensi pemberian ASI hingga proses perlekatan pada saat menyusui bayi.
    Ciri utama bayi kuning adalah bayi malas menyusu dan tidur dalam waktu lama. Kelelahan pasca melahirkan kadang membuat  Anda merasa nyaman ketika bayi Anda terus menerus tidur, karena Anda bisa beristirahat. Tanpa Anda sadari, tiba-tiba suhu tubuh bayi meningkat karena ia mulai dehidrasi dan kulit bayi berubah jadi kuning karena hiperbilirubin (kadar bilirubin meningkat melebihi batas normal). Ciri lain adalah adanya semburat kuning di kulit bayi terutama wajah, dada dan perut, serta mata. Jika bayi terlihat menguning, berarti terjadi peningkatan bilirubin.


    60% bayi baru lahir akan terlihat kuning, terutama pada bagian mata dan kulit, selama beberapa hari di awal kehidupannya. (www.cdc.gov)



    Apa itu Breastfeeding Jaundice?
    Breastfeeding jaundice atau sakit kuning adalah suatu kondisi pada bayi baru lahir akibat hiperbilirubin karena kurang ASI. Hiperbilirubin terjadi karena fungsi hati yang belum sempurna untuk bekerja mengeluarkan bilirubin dari darah. Keadaan ini biasanya terjadi pada 25-50% bayi cukup bulan dan lebih tinggi persentasenya pada bayi prematur.
    Dalam darah manusia terdapat bilirubin, dan pada bayi baru lahir biasanya bilirubin meningkat karena fungsi hati belum matang sehingga sulit untuk memproses bilirubin tersebut. Akhirnya bilirubin yang seharusnya keluar bersama dengan feses, kembali mengendap pada usus. Kondisi kuning yang biasanya terlihat pada hari ketiga kelahirannya ini disebut kuning fisiologis.
    Pada kuning fisiologis, biasanya kadar bilirubin akan menurun dalam 7-10 hari tanpa pengobatan apapun. Jika kadar bilirubin tidak terlalu tinggi (<10-12mg/dl) pada hari ke 3-5 pada bayi cukup bulan, maka bayi Anda akan diperbolehkan pulang. Perawatan utama bagi bayi kuning adalah memberikan cukup ASI tiap 2 jam sekali. Cara ini dapat membantu proses pengeluaran bilirubin lewat urine dan feses bayi.
    Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, bayi kuning biasanya malas menyusu, oleh karena itu jangan ragu untuk membangunkannya. Buka bedong Si Kecil, elus pelan telapak kakinya, dan tempelkan mulut mungilnya ke payudara Anda. Biasanya naluri bayi yang mencium aroma tubuh ibunya akan bangun kemudian menyusu. Kandungan zat pencahar pada ASI akan membuat bayi sering mengeluarkan feses bersama bilirubinnya.
    Selain itu, menjemur bayi di bawah matahari pagi antara pukul 07.30-09.00 selama 15-20 menit juga dapat mengurangi kadar bilirubin. Ada dua cara menjemur bayi yang bisa Anda lakukan. Pertama, dengan mengenakan baju berbahan tipis pada bayi sehingga sinar matahari bisa tembus ke kulit. Kedua, Anda bisa menelanjangkan bayi Anda, namun jangan biarkan sinar matahari secara langsung mengenai kulitnya. Anda bisa menghalangi dengan kaca atau gorden tipis. Kandungan vitamin D dalam sinar matahari dapat membantu percepatan maksimalisasi fungsi hati. Ingat, jangan lupa lindungi mata bayi Anda dari sinar matahari pagi secara langsung, ya.




    "Batas aman bilirubin adalah 12 mg/dl pada bayi cukup bulan, pada hari ke 3-5. Kadar bilirubin sebesar 12-15 mg/dl pada bayi cukup bulan sebetulnya cukup aman bila ia sering disusui, dan tidak perlu perawatan. Namun, sebaiknya bayi tetap diawasi oleh dokter anak untuk mengevaluasi kadar bilirubin setiap 1-2 hari." (dr. Ayu Pratiwi, Sp.A (K))


    Pada kondisi tertentu, ada dokter anak yang tidak memperbolehkan bayi pulang dan ia harus dirawat di rumah sakit melalui fototerapi. Fototerapi dilakukan dengan cara meletakkan bayi dalam boks dan diberikan sinar dari lampu fluorescent atau ultra violet untuk beberapa hari. Tindakan ini bertujuan untuk mematangkan fungsi hati bayi sehingga bisa bekerja dengan baik untuk mengeluarkan bilirubin berlebih pada tubuhnya.
    Pada saat fototerapi, bayi akan ditelanjangkan, namun mata dan alat kelaminnya akan ditutup kain supaya tidak terkena dampak sinar ultra violet. Jika bayi Anda harus  difototerapi, Anda tetap berhak berada di dekatnya dan memberikan ASI. Jika Si Kecil belum bisa mengisap dengan maksimal, perahlah ASI Anda dan berikan secara rutin setiap 2 jam sekali dengan menggunakan cup feeder, pipet, atau sendok.
    Bayi cukup bulan dan lahir dengan berat minimal 2500 gram namun kemudian kuning tak membutuhkan cairan lain seperti air gula atau susu formula. Sesuai rekomendasi AAP (American Academy of Pediatrics), “Jika bayi hiperbilirubin dan kuning, maka setiap ibu berhak mendapatkan dukungan agar tetap bisa sukses menyusui. Ajak ibu untuk menyusui bayinya sebanyak 8-12 kali perhari di beberapa hari awal kelahiran bayi.” (Sazkia Ghazi/ Image: Dok. Cosmo Pregnancy)



    tags: health, baby, mom