Better You

Oh No! Ini Dampak Buruk Minuman Boba Bagi Kesehatan!

  by: Giovani Untari       5/1/2020
  • We can’t buy happiness but we can buy..a bubble tea and it’s same thing! Sungguh siapa yang akan mengira jika -sang minuman paling sensational saat ini- nyatanya punya dampak buruk bagi kesehatan. Pertanyaannya: Is it really worth the hype?





    The hottest internet buzz; bubble tea sejatinya berasal dari Taiwan, di mana ia mulai diproduksi sejak tahun 1980-an. Kemudian minuman ini dikenal dengan beberapa nama seperti pearl tea drink, boba drink, atau black pearl tea. Apapun namanya ia identik dengan pearls berwarna kehitaman yang terbuat dari tapioka, untuk kemudian dicampurkan ke dalam berbagai rasa minuman. 

    Lalu berkat sejumlah inovasi dan (tentu saja) internet, now they are popping around the world! Banyak yang rela mengantri hingga lebih dari satu jam demi mendapatkan segelas brown sugar tea lengkap dengan topping pearl atau boba di dalamnya. 


    BEHIND A ‘SWEET’ STORY

    Tetapi di balik manisnya minuman boba favorit kamu, siapa yang mengira jika ada ancaman kesehatan yang patut diwaspadai. Faktanya, satu gelas bubble tea kesukaanmu ternyata mengandung gula yang tinggi!



    "Dalam satu gelas minuman bubble tea mengandung gula dan kalori yang tinggi. Minuman tersebut bahkan bisa memiliki 400-500 kalori! Di mana jumlah itu nyaris setara dengan porsi satu kali makan. Kandungan proteinnya mungkin saja ada karena beberapa di antaranya memiliki campuran susu atau keju, tetapi tetap saja porsinya kecil dan lebih didominasi gula," ujar Dokter Spesialis Gizi Klinik, dr. Diana F. Suganda, Mkes, Sp.GK. 


    THE CYCLE OF SUGAR RUSH



    Terkejut dengan jumlah kalori yang masuk dari menyeruput segelas boba? Tunggu sampai kamu juga mengetahui fakta mengejutkan lainnya tentang sang kandungan utama minuman ini yaitu GULA.

    “Banyak yang bertanya mengapa sih kita selalu ingin lagi dan lagi atas minuman manis seperti bubble tea? Itu karena gula membuat efek menyenangkan. Begitu kita mengonsumsi gula, bahan makanan itu akan masuk ke otak dan membuat kita merasa segar dan gembira. Yang akhirnya membuat kita mencari lagi dan lagi," tukas dokter Diana.

    "Gula saat ini bahkan disebut sebagai the new heroin karena rasa adiktifnya tersebut," tutup dokter spesialis gizi klinik yang berpraktik di RS Pondok Indah – Bintaro Jaya dan RSIA Asih tersebut.


    TOO MUCH SWEET, WOULD KILL!





    Satu hal yang perlu dipahami bahwa segala hal yang berlebih jelas tak baik. Data menurut America Heart Association (AHA) menjelaskan bahwa seorang perempuan dalam sehari sebaiknya hanya mengonsumi enam sendok teh gula atau 25 gram gula. Coba bayangkan berapa banyak kandungan gula dalam segelas bubble tea kamu? Minuman ini bahkan menggunakan gula mulai dari proses memasak pearls-nya hingga minuman yang ada di dalamnya. Belum lagi saat kamu memesan bubble tea dalam ukuran yang lebih besar, artinya jumlah gulanya pun semakin bertambah!


    "Pada dasarnya saat gula tidak digunakan tubuh ia akan disimpan dalam bentuk lemak dan menjadi trigeliserida. Ketika kandungan trigeliserida tinggi, maka sangat potensial Anda terserang penyakit generatif dan metabolik. Mungkin tidak sekarang tetapi dalam hitungan tahun mendatang. Terlebih jika Anda tidak memiliki gaya hidup sehat," papar dokter Diana. " Lalu gula yang berlebihan di tubuh jelas bukan hal yang baik terutama bagi Anda yang memiliki riwayat keluarga dengan penyakit diabetes. Meski Anda tidak memilikinya riwayat penyakit tersebut pun, selalu ingat apa yang Anda makan sekarang akan berpengaruh pada tubuh dan mungkin akan dirasakan dalam jangka waktu puluhan tahun mendatang," pesan dr. Diana F. Suganda, Mkes, Sp.GK. 


    AND SOME OF US, HAVE A WRONG PERCEPTION


    Girls, pernah melakukan cheating melalu boba? Di mana kamu lebih memesan boba di sore hari dengan tujuan agar perut kenyang dan men-skip makan malam demi #BodyGoals? Ternyata ini pun adalah sebuah persepsi yang salah besar dan harus kita semua hentikan. Oh why? 

    “Minuman boba jelas memberikan rasa kenyang karena ada kandungan tepung, gula, serta lemak yang tinggi. Lemak sendiri sulit dicerna tubuh sehingga memberi rasa kenyang. Tapi alih-alih menghindari makan, Anda justru memasukkan kalori lebih banyak dibandingkan saat Anda makan malam dengan menu yang lengkap. Dan kembali lagi, minuman seperti boba tidak memiliki kandungan nutrsi yang memadai,” ungkap dr. Diana.

    “Jika Anda benar-benar ingin mengganti makan malam Anda, pilih protein shake yang jelas memiliki makronutrien untuk tubuh. Atau pilih menu makan malam rendah kalori yang sehat serta berisi lauk pauk bernutrisi. Hasilnya Anda tetap kenyang dan sehat,” tutupnya.


    (Giovani Untari / Images: Dok. Unsplash.com, Tenor.com / Artikel pernah dimuat di Majalah Cosmopolitan Indonesia edisi Oktober 2019)