Celebrity

Membedah Film Dokumenter Kreatif “Semesta” yang Aspiratif

  by: Givania Diwiya Citta       7/1/2020
  • Dengan Nicholas Saputra dan Mandy Marahimin yang duduk di bangku produser, film dokumenter kreatif Semesta garapan Chairun Nissa sukses premier di Suncine Environmental Film Festival, Barcelona, dan segera tayang di bioskop nusantara untuk menarasikan aksi para climate warriors Indonesia. Be inspired!






    Dari mana sajakah Anda mendapatkan sumber inspirasi dalam menggarap dokumenter kreatif Semesta yang mengombinasikan dokumenter dengan gaya fiksi ini?

    CN: Ada sutradara bernama Wim Wenders, ia punya gaya bercerita yang bukan seperti dokumenter konvensional berisikan informasi saja, tapi juga ada perasaan yang ditunjukkan. Seperti kamera yang bisa menangkap hal-hal yang kritis, semisal dari sang karakter yang semakin dikenali kebiasaannya setelah diriset. Contohnya saat adegan di Flores dalam film Semesta ini. Saat kami sampai, bendungan yang ditampilkan dalam film sudah hancur terlebih dahulu, tapi kami pun merekonstruksi insiden banjir bandang yang terjadi beberapa hari sebelumnya dengan visual-visual yang bisa memicu perasaan penonton. Mulai dari adegan saat sang protagonis dengan pakaian Romo miliknya berdiri di pintu gereja sambil memandang hujan, yang dalam matanya tersirat narasi emosi tentang kekhawatirannya. Emosi-emosi tersebut kami coba bangun secara dramatis dalam kemasan dokumenter.


    Apa harapan dan pesan yang ingin Anda suarakan melalui kontribusi film Semesta?

    CN: Sebenarnya praktik-praktik ketujuh protagonis dalam film ini ingin kami jadikan inspirasi bagi banyak orang. Apalagi dengan tujuh lokasi dan latar belakang yang berbeda, penonton kami pun akan beragam nantinya. Kami harap film ini bisa membuat penonton terefleksi dan teringat bahwa masing-masing agama yang dipeluk sudah mengajari tentang menjaga lingkungan, jadi tinggal apa saja yang bisa kita lakukan dalam keseharian untuk melindungi lingkungan. Film ini tidak menginstruksikan penonton untuk mengubah gaya hidupnya 180 derajat, tapi harapannya adalah penonton bisa mulai dari aksi yang kecil, seperti sesederhana membawa tumbler. Saya pun sebagai individu yang bekerja di bidang film, mengarahkan kru saya untuk juga sama-sama membawa tumbler sendiri saat shooting. Harapannya adalah agar film ini bisa menggerakkan orang-orang dalam melakukan perubahan yang meski tak besar, namun berkelanjutan.



    Dari mata produser, apa yang paling Anda sukai dari memproduseri film creative documentary?

    NS: Kami jadi ikut belajar juga saat proses pembuatan dokumenter. Kami mendapat ilmu yang sangat banyak. Meski mungkin di film hanya berdurasi 90 menit, tapi experience yang kami dapat adalah berjalan harian, bahkan sampai 75 hari penuh saat proses shooting

    MM: Setiap membuat film dokumenter, artinya adalah kesempatan kami untuk mempelajari isu yang digali. Apalagi kami harus melakukan riset yang intensif sebelum melakukan shooting. Saya pernah bertemu dengan satu pembuat film dokumenter senior asal Inggris, saat itu ada seseorang yang menanyakannya, “Film-film Anda sangat dalam, bagaimana cara Anda memiliki pengetahuan sedemikian banyak?” Ia justru menjawab, “Saya tidak punya pengetahuan yang banyak, tapi film-film itulah yang memberi saya pengetahuan.” Jadi, pengalaman membuat film Semesta inilah yang menjadikan kami lebih mempelajari isu-isu lingkungan. Dan ternyata seru, lho, untuk mempelajari hal-hal baru.


    Selaku produser, apa saja hal yang berbeda saat memproduseri film (terutama dokumenter) di era sekarang, dibanding lima tahun lalu? Contohnya saat Mandy memproduseri The Year of Living Vicarously pada 2005 silam.

    MM: Perbedaan secara mendasar tidak ada, karena proses kerja masih sama. Namun di era sekarang, kita lebih dimudahkan oleh teknologi kamera dan penggunaan alat-alat editing yang lebih ringkas dan murah. Perbedaannya sangat signifikan dengan pembuatan film fiksi, karena dalam film fiksi, semua skenario harus masuk dan melakukan setiap adegan sesuai skenario yang ditetapkan. Namun dalam dokumenter, di awal kami hanya menciptakan sinopsis dan guidelines tentang cerita film. Kemudian pada saat shooting, guidelines tersebut sangat mungkin berubah karena kita tidak pernah tahu apa yang ditemui di lapangan, sehingga setelah shooting sekian bulan atau tahun, barulah masuk ke proses editing untuk merangkai kembali ceritanya. Sehingga proses penulisan skenario pun baru dibuat di akhir.





    Semesta juga berhasil dinominasikan dalam FFI 2018. Apa pesan dan harapan yang ingin Anda beri pada sineas muda, terutama yang menggeluti film dokumenter?

    MM: Film dokumenter adalah film yang pembuatannya susah-susah-gampang. Disebut gampang karena jika dibandingkan dengan film fiksi, kru film dokumenter adalah kru kecil, jadi pergerakan pun jadi lebih cepat. Namun sulitnya, proses pengerjaannya memakan waktu. Kami beruntung bisa menyelesaikan Semesta dalam satu tahun, banyak dokumenter lain yang bisa membutuhkan waktu tiga tahun, lima tahun, tujuh tahun. Tapi yang terpenting bagi para sineas muda, milikilah kesabaran dan milikilah ketekunan dalam mendalami isunya. Dua hal itu adalah kunci dalam membuat dokumenter. Kesabaran akan dibutuhkan untuk shooting yang bisa berlangsung lama. Seperti saat ingin menampilkan subjek tertentu, kita harus sedekat mungkin dengan mereka agar mereka serasa tak menyadari bahwa di dekat mereka ada kamera. Dan proses tersebut akan membutuhkan waktu lama, malah ada yang bilang bahwa butuh waktu tiga bulan sendiri untuk shoot tanpa menggunakan salah satu footage! Kemudian, dokumenter adalah sesuatu yang tidak bisa direkayasa, seperti meminta sang karakter pura-pura marah. Seluruhnya adalah momen yang harus ditunggu.


    Apa aksi individual yang dapat dilakukan agar bisa berpartisipasi menjadi climate warrior versi terbaik masing-masing?

    NS: Semua yang bisa dilakukan ada di film ini! Tapi yang jelas, pahamilah bahwa setiap keputusan kita dalam melakukan sesuatu seperti berkegiatan atau membeli sesuatu, memiliki dampak yang sangat besar setelahnya. Jadi, sebelum melakukan suatu kegiatan, pikirkanlah pertimbangan-pertimbangan apa yang perlu kita miliki. Semisal memilih barang yang lebih ramah lingkungan, atau pertimbangkan juga perusahaan yang punya komitmen terhadap lingkungan. Sesederhana juga saat kita akan melakukan perjalanan, pikirkanlah apa yang paling bisa kita lakukan dalam memilih kendaraan, sekaligus yang bisa lebih berkontribusi pada perlindungan alam. Tak sampai di situ, di rumah pun ada yang bisa dipertimbangkan, seperti apakah mau menggunakan genset atau solar panel? Pertimbangan-pertimbangan sebelum melakukan sesuatu itulah yang akan jadi sebuah dasar bahwa kita mau ikut berkontribusi dalam menjadi climate warrior.



    Semesta tayang mulai 30 Januari 2020.


    (Givania Diwiya / FT / Photographer: Eddy Sofyan / Stylist: Hendry Leo Liany / Wardrobe: jacket H&M on Nicholas Saputra / Digital Imaging: Ragamanyu Herlambang / Layout: S. Dewantara)