Lifestyle

Nikita Willy Berbagi 4 Destinasi Tak Terlupakan di Hidupnya!

  by: Givania Diwiya Citta       21/1/2020
  • Bagi Nikita Willy yang telah bermain peran sedari umur delapan tahun, kini usia 25 tahun merupakan waktunya untuk menikmati apa yang ia tuai. Wujudnya? Traveling. Passion Niki dalam mengeksplorasi hal-hal baru telah membawanya ke berbagai belahan dunia, lengkap dengan daftar kunjung menuju Islandia untuk menyaksikan aurora, hingga ke Rwanda untuk melihat gorila bulan ini. Kepada Cosmo, ia membeberkan destinasi yang paling tak terlupakan dalam hidupnya. We’re dying to know! 


    1. Positano

    Niki’s Rating: ****




    Dari kecil saya selalu melihat postcard dengan background Positano, dan selalu bilang ke diri sendiri “I have to go there!” Saya bersyukur 2017 lalu bisa berkunjung ke sana. Saya ingin Positano jadi salah satu destinasi honeymoon saya nantinya!


    Why it’s worth it:

    Untuk pencinta pantai, Positano adalah destinasi tepat untuk dikunjungi. Di sini, saya bisa berdiam diri di depan pantai, baca buku, minum wine – bahkan dari siang sampai sore, bisa hanya itu yang saya lakukan. Saya juga gemar berjalan kaki menyusuri kota ini dari ujung ke ujung, naik turun tangga. Selain itu, saya senang saat mencoba minuman-minuman ‘aneh’ yang ada di sana, seperti Limoncello, alkohol lemon yang menurut saya (jujur) tidak enak, tapi masyarakat di sana sangat menyukainya, bahkan jadi minuman shot wajib saat berkunjung ke suatu toko. 


    What to try:

    Perihal kuliner, cobalah restoran-restoran pinggir pantai yang ada di Positano, kemudian pizza (I’m a pizza lover!) dan tiramisu yang disajikan di setiap restoran. Saya bahkan bisa makan pizza setiap hari... Di waktu lain, saya juga senang melakukan boating. Saya menyewa kapal agar bisa island hopping


    Biggest challenge:

    Saya sangat senang olahraga, karena saya makan sangat banyak (kalian tak tahu, kan, sekarang kalian tahu!). Tapi di Positano, jarang ada hotel yang menyediakan fitness center. Jadi olahraga yang bisa dilakukan adalah outdoor activity sebanyak-banyaknya. Tapi saya tersadar, rasanya kalau liburan ke Positano, Anda tak perlu terlalu berpikir keras untuk fitness atau lainnya. Motonya: just eat it!

    Niki’s Tips:

    Datanglah saat musim panas. Akan ada banyak aktivitas yang bisa dilakukan di luar ruang, karena seluruh bar akan buka untuk berpesta di sana, kemudian kalian juga bisa langsung terjun ke laut saat boating.


    2. Namibia

    Niki’s Rating: *****


    Saya tidak akan pernah bosan ke benua Afrika. There’s always something with Africa. Orang-orangnya, makanannya, apalagi dengan melihat anak-anaknya yang membuat saya semakin bersyukur dengan kehidupan yang saya miliki sekarang. Karena saya merasa beruntung, maka saya merasa harus berbagi kebahagiaan ini kepada mereka.


    Why it’s worth it:

    Berkunjung ke Namibia adalah salah satu pengalaman terbaik dalam hidup saya. Karena Namibia punya semuanya. Ada safari, ada gurun, ada gunung, ada pantai. Dulu, saya hanya mengenal gurun seperti yang ada di Dubai atau Maroko. Tapi gurun di sini… luar biasa. Kalian harus coba mendaki gurunnya, karena Big Daddy Dune di Namibia ini adalah padang pasir tertinggi di dunia! Awalnya saya anggap akan mudah mendakinya, karena saya sering workout di Jakarta. Ternyata... sangat menantang dan sangat melelahkan! Satu kaki naik, satu kaki terhisap turun. Lalu saya sempat terkena panic attack karena saat berada di atas muncul badai pasir! Setelah badai itu selesai, wajah dan mulut saya penuuuh pasir. But it is one of a lifetime experience.


    The best impression:

    Namibia adalah salah satu tempat terkering di dunia. Jadi di luxury lodge yang saya inapi, terdapat lubang air yang dibuat oleh hotel agar para hewan liar bisa meminum air. Jadi sambil sarapan, saya bisa melihat berbagai hewan liar yang mampir untuk minum. Dan satu lagi, orang Afrika benar-benar baik. Cara mereka treat turis yang mengunjungi Namibia sangatlah bagus. Bahkan saya merasa akan lebih aman untuk traveling ke Afrika ketimbang ke London atau Paris!


    What lasts in Niki’s heart:

    Saya mengunjungi salah satu perkampungan di Namibia, yaitu Himba people. Mereka tidak punya rumah tetap karena hidup nomaden. Jadi mereka membangun tempat tinggal dari tanah liat. Mereka juga tidak pernah mandi seumur hidup, mereka hanya mengenakan tanah liat dengan lemak binatang ke tubuh mereka untuk melindungi mereka dari matahari dan suhu dingin saat malam. Cara bersantap mereka pun adalah cukup berburu kambing lalu langsung dibakar dan dimakan bersama di sana. Bahkan mereka minum dengan berbagi satu baskom bersama ayam. Namun mereka bahagia. Saat saya menampilkan foto-foto Indonesia dari ponsel, mereka sangat antusias, apalagi saat lihat laut, ternyata mereka tidak pernah melihat laut sama sekali. Jadi saat bertemu mereka, saya merasa sangat beruntung dan bersyukur pada hidup.


    3. Labuan Bajo & Banda Neira

    Niki’s Rating: ***** + ***** (I can, can’t I?)




    Lautan yang ada di Indonesia tidak akan pernah keluar dari bucket list saya. Ada Raja Ampat, Manado, Pulau Komodo. Kemudian Labuan Bajo dan Banda Neira…


    Why it’s worth it:

    Saat itu saya mencoba live on board. Setiap saya bangun tidur lalu buka pintu… astaga, pemandangannya bagus sekali. Dengan menginap di tengah laut, lalu terjun langsung untuk diving melihat terumbu karang yang ada, saya tak heran jika Indonesia terkenal akan keindahan maritimnya. Saya pernah menyelam di Maladewa dan Filipina, namun tak ada yang seindah Indonesia. Meskipun saya kerap terkena panic attack jika sudah berada di dasar air, apalagi jika melihat ke bawah hitam, ke atas pun hitam, hingga membutuhkan dive master yang memegangi saya saat panik, namun seluruhnya worth it. Rasanya diving adalah salah satu bentuk saya dalam menaklukan ketakutan tersebut.


    Best thing to do:

    Water ski! Meskipun saya gagal karena tidak bisa berdiri... Saat itu ombaknya sedang kencang, jadi bagi pemula seperti saya, akan sangat sulit untuk melakukannya. Lalu perihal kuliner, hidangan yang langsung diolah dari hasil tangkapan di laut sangat menyegarkan, bahkan tak perlu dibumbui terlalu banyak, seafood tersebut sudah amat lezat. Lalu saat live on board, ada pula kapal-kapal kecil di sekitarnya yang berjualan kerang sampai aksesori, jadi kalian tak perlu pergi jauh untuk berbelanja. Sementara di Banda Neira, saya sempat mengunjungi perkampungannya dan berinteraksi dengan warga lokalnya. Saya pun belajar tentang sejarahnya. Banda Neira terkenal akan pala, jadi dulu kolonisasi Banda Neira oleh Belanda hanyalah demi pala. Saat berkunjung ke sana, para warga pun memperlihatkan tempat-tempat produksi pala yang bersejarah.


    Biggest challenge:

    Saat diving di Banda Neira, arusnya sedang sangat kencang. Dan baru kali itu, saya diving sampai tabung oksigen saya hampir menyentuh angka nol, hingga harus meminta tambahan oksigen dari buddy diving. Tantangannya adalah harus tetap tenang. Tapi semuanya terbayar karena saya bisa melihat hammer shark yang jadi sorotan wisata selam di sana! Untuk menemukannya, kita harus tahu jam-jam tertentu, dan harus menyelam agak dalam karena mereka senang dengan tempat yang gelap.


    4. Bhutan

    Niki’s Rating: ****


    Bisa dibilang saya ini Aman junkie… jadi saya ingin mencoba mengunjungi resor Aman yang ada di setiap negara. Termasuk Bhutan.


    Why it’s worth it:

    Mengunjungi Bhutan adalah (lagi-lagi) suatu pengalaman yang berbeda. Negara ini kuat dengan agama Buddha. Masyarakatnya sangat laid-back, mobil sangat sedikit, jalanannya tidak punya lampu merah, dan mereka sangat percaya dengan karma. Sesederhana mereka percaya bahwa jika di jalanan mereka saling serobot, maka karma akan datang dengan sendirinya. Oleh karenanya, lampu merah tak perlu ada di sini. Sementara itu, ponsel bagi mereka hanyalah berfungsi untuk SMS. Mereka benar-benar hidup selayaknya alam. Bebas. Beribadah pada sesama. 


    Niki’s first love of Bhutan:

    Orang-orangnya. Di sana pun ada Tiger’s Nest, yakni kuil terbesar di Bhutan yang butuh waktu empat jam untuk naik ke atas, lalu naik lagi dua jam untuk masuk ke dalam kuil dan menyaksikan warganya beribadah, lalu butuh empat jam juga untuk turun dari kuil. Sangat melelahkan, tapi worth it. Selama 10 hari traveling di Bhutan, ada rasa sulit untuk meninggalkan negara ini. Karena saya merasa menjadi seseorang yang lain. Selama di sana yang saya kerjakan adalah mengobrol, dan mencari hiburan dari panahan. Saat warganya diajak memanah, mereka sudah sangat bahagia! Sementara itu, kita di Jakarta bahkan tak akan terpuaskan hanya dengan makan siang sambil bermain smartphone. Prinsip mereka adalah bahwa hal yang nyata jauh lebih indah daripada yang kita lihat di ponsel.


    Wellness to do:

    Pastinya yoga setiap pagi! Di Amankora pun terdapat fasilitas akupuntur terkenal dari Jepang bernama Akina. It was crazy… rasanya seperti ditolong oleh malaikat. Selama di Bhutan saya sedang sakit perut karena mencoba sambal-sambal Bhutan yang ternyata super pedas. Namun berkat akupuntur tadi, semua rasa sakitnya hilang, bahkan pada bagian-bagian tubuh lain yang biasanya sakit.


    Best to taste:

    Chili cheese. Bhutan sangat terkenal dengan hidangan ini, yaitu cabai dicampur kuah keju dan kentang. Saat di Bhutan, saya mengunjungi rumah warga lokal yang langsung memasakkan saya berbagai hidangan lokal. It was quite an experience. Ikuti juga tradisi warga lokal dengan berendam di air panas yang dibakar oleh batu. Karena isinya adalah rempah-rempah, maka saat keluar dari rendaman, terasa sangat segar. I’ll be back for sure.


    (Givania Diwiya / FT / Image: Dok. Nikita Willy)