Career

Cosmo Mencoba Tips Menabung, Bagaimana Hasilnya? Cek di Sini

  by: Alvin Yoga       31/1/2020
  • Sepanjang tahun 2019 kemarin Cosmo memberikan banyaaak sekali tips keuangan yang (sebenarnya, kalau kamu niat) cukup mudah dan menyenangkan untuk dicoba. But well, tak adil rasanya kalau kami hanya menulis artikel tersebut tanpa benar-benar mempraktikkannya. So here it is: Cosmo mencoba tips yang kami tulis sendiri – mengenai bujet dan menabung – untuk membuktikan apakah tips tersebut benar-benar bisa dilakukan. Penasaran? Simak sampai habis, ya!

    At the end of the day, there is simply no one piece of generalized money advice that’s going to apply to absolutely everyone. Inilah alasannya mengapa Cosmo terus menerus memberikan saran keuangan yang beragam padamu: karena kami tahu, setiap orang memiliki situasi keuangan dan keadaan ekonomi yang berbeda-beda. Namun entah apapun situasi keuanganmu, membuat bujet dan mengatur keuangan adalah saran penting yang sebaiknya kamu lakukan agar finansial kamu terkendali.

    Kalau kamu baru saja membuang napas dan berkata “duh” setelah membaca tulisan di atas – sama, kami juga. Well, menabung membutuhkan banyak usaha dan segenggam keinginan besar. Tak aneh jika banyak orang malas melakukannya.



    Inilah yang terjadi ketika kami memutuskan untuk mencoba tip yang kami tulis sendiri. Malas? Of course! Memakan waktu? Pasti. Butuh usaha lebih untuk menahan godaan belanja? Tak perlu ditanya. Meski begitu, kami yakin hasilnya sepadan dengan usahanya. Penasaran? Let’s find out!

    1. The 50/30/20 Rule 

    Done by: Kezia Calesta, Reporter Cosmo, 23 tahun

    Strategi bujet yang satu ini memiliki struktur yang paling simpel dan paling mudah dilakukan. Bayangkan saja sebuah piramida, lalu bagi piramida tersebut menjadi tiga bagian, yaitu bagian dasar, bagian tengah dan bagian teratas. Bagian yang terbesar, yaitu bagian yang paling dasar, merupakan pengeluaran utama dan pertama yang harus kamu perhitungkan, yakni fixed costs. Yang termasuk dalam kategori ini adalah pengeluaran untuk biaya kos atau cicilan apartemen, cicilan kartu kredit, uang transportasi (termasuk bensin dan biaya parkir), biaya pulsa dan internet, biaya asuransi, biaya laundry, dan pengeluaran utama lainnya. Pengeluaran fixed costs sendiri sebaiknya berjumlah 50% dari total gaji kamu. 

    Kedua, bagian tengah, adalah untuk flexible costs, yaitu biaya makan dan belanja, kebutuhan hiburan, berkumpul bersama the girls, serta kebutuhan lainnya. Untuk pengeluaran ini, totalnya sendiri sebaiknya sekitar 30% dari gaji kamu. Terakhir, bagian piramida teratas, adalah untuk ditabung. Jumlahnya sendiri sebaiknya berkisar 20% dari gaji kamu.


    Apakah sistem bujet ini bisa bekerja dengan baik?

    Kalau kamu bekerja di kantor dengan gaji yang konsisten setiap bulannya - which is most likely - strategi ini merupakan salah satu cara bujet terbaik. Tapi kalau kamu bekerja secara freelance, strategi ini mungkin kurang cocok dengan kamu karena perhitungan setiap bulannya akan berbeda-beda dan menyulitkan.

    Meski begitu, metode ini mungkin tidak bisa diaplikasikan pada setiap pekerja kantoran. Alasannya: kalau flexible costs Akamu benar-benar bisa mencapai 30% dari gaji, ini artinya keuangan kamu tiap bulannya pasti benar-benar baik (baca: gaji kamu pasti cukup besar). Which is, I mean, great for you darling - namun kenyataannya, ada banyak orang yang hidup "paycheck to paycheck". 

    Selain itu, menurut saya, sistem ini bisa bekerja dengan baik jika kamu sudah hidup secara independen. Namun jika kamu masih tinggal bersama orangtua dan belum sepenuhnya independen, lebih baik memilih sistem bujet lain.

    Kenyataannya, meskipun saya bekerja kantoran dan mendapat gaji tetap, 50/30/20 kurang cocok untuk lifestyle yang saya terapkan. Saya tinggal bersama orangtua, dan pergi-pulang kantor dengan sopir pribadi keluarga, jadi saya tidak perlu mengeluarkan biaya untuk kos, bensin, listrik, dan air. Selain itu, saya juga tidak memiliki kartu kredit, jadi coret cicilan kartu kredit dari pengeluaran. Asuransi pun masih ditanggung oleh orangtua, jadi biaya untuk fixed costs sendiri sebetulnya tidak akan sampai 50%. Bagi saya, rasio yang lebih tepat adalah 50% untuk flexible costs, 25% untuk fixed costs dan 25% untuk tabungan. 


    How do I rate this?

    3/5

    Kemudahan dari sistem bujet yang satu ini adalah saya hanya perlu fokus pada tiga hal besar - fixed costs, flexible costs dan saving - alih-alih fokus pada masing-masing kategori pengeluaran. Untuk pemula yang ingin menabung, sistem bujet ini mudah dilakukan. Meski begitu, ini bukan sistem bujet yang sempurna, apalagi bagi saya yang hidup dengan gaji yang tidak terlalu besar tiap bulannya.


    2. The “Savings Goes First” Budget

    Done by: Giovani Untari, Writer Cosmo, 27 tahun

    Berbeda dengan sistem lain yang mengedepankan pengeluaran fixed costs, yang satu ini justru mengedepankan tabungan terlebih dahulu. Tak ada aturan persentase yang wajib seperti 50/30/20 di atas. Jika jumlah tabungan yang harus dilakukan memang kecil, tak masalah, yang penting adalah tujuannya. Jika jumlah tabungannya besar, tak jadi masalah juga, hanya perlu mengirit pengeluaran saja. Jadi, yang perlu dilakukan adalah menulis apa saja tabungan yang harus dilakukan, semisal mulai dari emergency fund, tabungan untuk traveling, tabungan pribadi dan lainnya. Setelah itu, bagi dua sama rata sisanya untuk fixed costs dan living expenses.


    Apakah sistem bujet ini bisa bekerja dengan baik?

    Kalau kamu punya banyak financial goals – semisal untuk biaya pernikahan atau DP rumah – strategi ini cocok untukmu. Tapi sebaliknya, kalau kamu cukup kesulitan untuk memenuhi kebutuhan kamu setiap bulannya dengan gaji yang tidak seberapa, mungkin sebaiknya kamu pilih sistem bujet yang lain. Saving is extremely important, but so is paying bills on time and in full.

    Menurut saya, sistem bujet ini sebenarnya cukup ideal karena kamu diajak untuk menentukan prioritas masa depan kamu terlebih dahulu, lalu menentukan pengeluaran setelahnya. Kelemahannya mungkin terletak pada diri sendiri yang seringkali kesulitan untuk konsisten mengatur persentase tabungan. Mungkin sudah saatnya saya mensiasatinya dengan mulai memikirkan tabungan serta menaikkan target tabungan per bulannya. #WeCanDoIt.


    How do I rate this?

    3/5

    Sistem ini sebenarnya tidak sulit dilakukan, namun mungkin kurang ideal kalau kamu tak punya savings goals yang tepat. Saya rasa sistem ini pun kurang ideal untuk diterapkan kepada para pekerja freelance atau pemula sekalipun. Bagi saya, biaya untuk fixed costs tetap harus didahulukan dibandingkan tabungan.


    3. The Envelope Budgeting

    Done by: Givania Diwiya, Editor, 27 tahun

    Memulai taktik bujet anti-digital ini memang mudah, namun menyelesaikannya akan terasa cukup sulit. Mengapa? Karena sistem ini mengharuskan kamu untuk menyimpan sejumlah uang (dengan nominal yang tepat) untuk masing-masing kategori yang spesifik ke dalam amplop yang berbeda-beda, dan menggunakan uang tersebut hingga akhir bulan. Begitu uang dalam amplop tersebut habis, kamu tak boleh mengambil jatah amplop lain untuk pengeluaran tersebut.

    Pertama-tama, pisahkan uang dalam tiga amplop dengan warna berbeda. Amplop berwarna merah untuk tabungan. Amplop warna kuning untuk kebutuhan bulanan yang fixed (sebut saja untuk listrik dan transportasi). Lalu amplop warna hijau untuk pengeluaran makan siang, dan lain-lain. 

    Kelebihan dari metode ini adalah saya jadi tak bisa boros dan harus menghitung dengan cerdas pengeluaran selama sebulan. Kekurangannya, saya jadi harus memegang begitu banyak uang tunai dalam jumlah besar (Yes, saya bersyukur kamar kos saya tidak pernah dirampok!).




    Apakah sistem bujet ini bisa bekerja dengan baik?

    Sebagai seseorang yang bekerja di kantor dengan gaji yang konsisten setiap bulannya, strategi bujet ini sebetulnya sangat bisa diterapkan. Saya sendiri tidak merasa kesulitan untuk membagi-bagi daftar bujet bulanan saya ke setiap amplop. Contohnya, saat gajian, saya langsung menarik sejumlah uang, lalu membaginya ke beberapa amplop berlabel ‘bayar kos’, ‘latihan yoga’, ‘living expenses’ yang meliputi makan harian serta belanja bulanan, sampai label spesial ‘birthday treat’ (coz HBD to me!). Dengan nominal biaya yang masing-masing sudah saya alokasikan secara pasti tersebut, saya tidak perlu repot memikirkan pengeluaran lebih atau beraksi mengambil uang ekstra dari tabungan karena seluruhnya sudah dikalkulasi secara presisi di awal.

    Meski begitu, salah satu kekurangan dari metode ini adalah jika terjadi peristiwa tidak terduga. Ketika ada anggota keluarga saya yang berpulang, amplop untuk biaya tak terduga saya tak cukup, sehingga terpaksa saya harus merogoh tabungan. Mungkin ke depannya saya harus memasukkan uang dalam jumlah yang lebih besar untuk pengeluaran tak terduga. 


    How do I rate this?

    4/5

    Kalau kamu termasuk tipe orang yang boros dan "lapar mata", sistem ini merupakan langkah yang tepat untuk mengontrol inflasi dalam pengeluaran Anda. Namun kekurangannya, kamu jadi sulit untuk online banking atau online shopping, karena seluruh bujet diatur ke dalam sebuah amplop. But I’d still recommend to get a go with this envelope budgeting! With this budgeting system, I managed to be okay, financially and personally.


    4. The Tracking Your Spend

    Done by: Shamira Natanagara, Digital Writer, 22 tahun

    Untuk kamu yang suka membuat laporan Excel, atau punya aplikasi keuangan yang bisa membantu mengatur keuangan, sistem ini cocok untukmu. Caranya pun mudah sekali, kamu hanya perlu mencatat setiap pengeluaran yang kamu lakukan – sampai nominal terakhir. Salah satu alasan mengapa strategi ini populer adalah strategi ini bisa membuat kamu menyadari kebiasaan (buruk) kamu dan memungkinkan kamu untuk mengurangi hal-hal yang tidak penting.


    Apakah sistem bujet ini bisa bekerja dengan baik?

    Saya sudah pernah menggunakan metode ini, dan menurut saya mencatat seluruh pengeluaran (dan pendapatan) dengan aplikasi memang cukup bermanfaat. Kalau kamu termasuk orang yang: gemar menyimpan bon pengeluaran, rajin melihat dan menghapus foto-foto galeri yang tak terpakai, dan selalu membuka isi kotak masuk di e-mail, sistem ini akan terasa sangat membantu. Terbukti, di akhir setiap hari, saya bisa melihat berapa banyak pengeluaran saya di hari itu, dan ketika melihat hasilnya, rasanya seperti wake-up call dan membuat saya lebih berhati-hati keesokan harinya.

    Namun kalau kamu merupakan tipe pemalas, metode ini tentu akan menyulitkan. Sistem ini akan menuntut kamu untuk membuka aplikasi (atau mengeluarkan buku catatan) setiap kali melakukan pembayaran. Kalau kamu berpikir, “Ah, nanti saja dicatatnya,” percayalah, pada akhirnya kamu akan lupa apa saja yang harus dicatat.

    How do I rate this?

    2/5

    Menurut saya, metode ini akan sangat berguna untuk para freelancer, atau ketika kamu sedang traveling, karena dengan sistem ini kamu bisa lebih mudah mengatur dan melihat pengeluaran setiap harinya. Namun jika kamu pekerja kantoran, sepertinya ada banyak cara lain yang bisa kamu pilih untuk memonitor pengeluaran dibandingkan harus mencatat SETIAP pengeluaran yang dilakukan.


    5. The Cash Diet

    Done by: Kissy Aprilia, Digital Editor, 26 tahun

    Sistem ini mendahulukan fixed costs dan tabungan terlebih dahulu, baru setelah itu kamu memikirkan soal flexible spending. Pertama, pisahkan gaji untuk tagihan utama (seperti cicilan apartemen atau biaya kos, asuransi, biaya listrik, biaya air, transportasi, biaya pulsa dan internet, serta cicilan kartu kredit). Kemudian pisahkan untuk tabungan, seperti dana pensiun, emergency fund serta tabungan lainnya. Sekarang lihat berapa sisanya. Bagi sisa uang tersebut dalam empat bagian – masing-masing merupakan nominal yang bisa kamu habiskan dalam satu minggu. Ingat, sisa uang tersebut harus diambil dalam bentuk cash dan kamu tak boleh mengambil jatah minggu berikutnya jika uang kamu sudah habis. Saatnya lebih disiplin!


    Apakah sistem bujet ini bisa bekerja dengan baik?

    Kalau kamu memiliki gaji bulanan yang konsisten dan harus menahan sisi konsumtif untuk berbelanja (seperti membeli boba drink setiap harinya), strategi ini merupakan salah satu trik bujet yang efisien.

    Triknya, pertama-tama langsung sisihkan uang untuk tabungan. Saya menyisihkan sekitar 25% dari pendapatan untuk masuk dalam savings. Lalu saya menghabiskan 30% untuk fixed costs (thank God, saya masih tinggal bersama orangtua), yaitu biaya parkir, biaya tol, pulsa dan internet, Netflix, serta retouch eyelash extension (iya, ini wajib masuk dalam fixed costs!). Setelah itu sisanya saya bagi menjadi lima minggu, kurang lebih sekitar Rp850.000,- untuk setiap minggunya.

    Tentu saja untuk minggu pertama dan kedua saya sangat kesulitan untuk melakukan sistem tersebut – Rp850.000,- termasuk sangat sedikit untuk saya yang “lapar mata”! Tapi sejujurnya, sistem ini baik untuk mereka yang konsumtif seperti saya, karena saya jadi harus berpikir berkali-kali dan menahan keinginan belanja. Yes, dengan jumlah uang cash yang lebih terbatas, saya menjadi lebih berhati-hati dalam mengeluarkan uang.

    Selain itu, sistem ini juga sangat baik untuk kamu yang gemar online shopping. Karena seluruh pengeluaran harus dilakukan dalam bentuk tunai, kamu jadi harus menahan godaan online shopping – kecuali terpaksa. Jika ini merupakan kali pertama kamu mencoba cash diet, saran saya sisakan sekitar Rp1.000.000,- untuk pengeluaran yang tidak terduga – seperti dana untuk ke dokter, atau biaya untuk ke undangan pernikahan teman.


    How do I rate this?

    4/5

    Sistem bujet ini ideal bagi kamu yang sering terkejut begitu menerima tagihan kartu kredit, atau kamu yang sering terkejut begitu melihat jumlah uang yang tersisa di akun rekening ketika akhir bulan. Tentu saja, ada beberapa pengecualian dalam aturan cash diet – seperti membeli tiket pesawat, karena harus dilakukan secara online – tapi selain itu, usahakan untuk selalu menggunakan uang kertas kamu. Percaya atau tidak, bahkan dengan cash diet selama satu bulan, kamu bisa lebih bertanggung jawab terhadap pengeluaran. Setidaknya, kamu jadi tahu ke mana uang kamu “bocor” tiap bulannya.


    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Annie Spratt on Unsplash)