Career

Halo 2021! Ini Tips Menyusun Resolusi Keuangan Tahun Ini

  by: Alvin Yoga       1/1/2021
    • Ada banyak tips dan cara mengatur keuangan untuk hadapi tahun 2021 yang penuh ketidakpastian.
    • Setidaknya, ada tiga langkah mudah yang bisa kamu lakukan untuk membuat resolusi keuangan di tahun 2021 tercapai.


    Masih ingatkah kamu pada hari-hari ketika kamu masih duduk di bangku sekolah dan sang guru menjelaskan pelajaran ekonomi? Di masa-masa itu, kita susah payah menghafal bab-bab pelajaran ekonomi dan literasi keuangan, “Duh, apa sih, ini? Memang nanti hal ini akan terpakai, ya?” dan berusaha sebaik mungkin mencerna apa itu hukum ekonomi dasar sambil memutar mata.

    Yeah, saya juga mengalaminya. Dan bisa ditebak, saya tak mempelajarinya dengan baik. Tak aneh makanya, jika kini saya menganggap saldo di rekening layaknya sebuah misteri yang tak pernah terpecahkan – bagaimana sih, caranya bisa menabung sebanyak itu, dan ke mana sih, perginya uang yang “mengalir” seperti air ini?



    Dan, saya tak sendirian. Menurut hasil survei literasi keuangan OJK tahun 2019, hanya 6% milenial Indonesia yang memiliki dana pensiun. Selain itu, menurut hasil survei The Future of Money tahun 2019 yang dilakukan oleh perusahaan Luno bersama dengan Dalia Research terhadap kurang lebih 1000 responden milenial Indonesia dengan rentang usia 23-28 tahun, 20% milenial tidak memiliki investasi, dan 44% sisanya hanya berinvestasi sekali dalam setahun. Sedangkan menurut studi yang dilakukan oleh American Psychological Association, 67% milenial ternyata memiliki kurang dari Rp10 juta dalam tabungan mereka, dan 46% di antaranya justru hanya punya nol besar.

    Merinding membaca fakta tersebut? Saya juga. Namun tenang, Cosmo telah menyiapkan jalan keluar untuk menghadapi hal tersebut. Yes, we’ve gotchu! Sam Beckbessinger, seorang entrepreneur dan juga penulis dari Manage Your Money Like A F*cking Adult, siap membantu dengan tiga langkah mudah untuk membantu keadaan keuanganmu kembali sehat. Once and for all.


    LANGKAH PERTAMA - Buat Rencana Matang

    Mengatur keuangan merupakan suatu kegiatan yang sulit dilakukan. Saya paham. Rasanya seperti... ada jutaan prioritas yang saling berkompetisi menjadi nomor satu. Mana yang harus dilakukan terlebih dahulu? Menabung dana darurat atau dana pensiun? Lalu bagaimana dengan cicilan? Oke, oke, tarik napas duluCara terbaik menghadapi dilema ini? Coba pilah kembali prioritasmu dan fokus pada satu (ya, satu saja) money goal dalam satu waktu. Berikut contoh urutan rencana yang bisa kamu lakukan.

    1. Kontrol dulu pengeluaranmu.

    Kamu bisa meraih tujuan pertama ini jika kamu tahu ke mana tepatnya seluruh uang kamu 'lenyap' setiap bulannya. Dengan begitu, kamu tak perlu mengirit pengeluaran di minggu-minggu terakhir dengan menyantap mie instan tanpa telur dan bisa mulai menabung untuk tujuan berikut.

    2. Simpan uang untuk dana darurat sampai jumlahnya mencapai satu bulan pengeluaran (dulu).

    Tak perlu muluk sampai berbulan-bulan, buka saja dulu tabungan di bank digital untuk menyimpan dana darurat sampai jumlahnya mencapai satu bulan pengeluaran (bukan satu bulan gaji, ya, tapi satu bulan pengeluaran)–karena bank digital tidak memerlukan biaya bulanan jadi uangmu tidak akan terpotong setiap bulannya. Sudah selesai dengan tahap ini? Lanjut ke tahap berikutnya, yaitu...

    3. Mulai dana pensiun.

    Kamu mungkin sudah punya BPJS Ketenagakerjaan, namun itu saja tidak cukup. Memang sih, masih berpuluh tahun lagi sampai kamu pensiun, namun kamu harus mulai membuat rencana dan menyisihkan dananya dari sekarang. Kenyataannya: dengan adanya inflasi setiap tahun sampai kamu pensiun nanti, dibutuhkan dana sekitar 8,7 miliar rupiah jika kamu ingin pensiun di umur 57 tahun dan terus hidup sampai usia 75 tahun. Kaget dengan jumlah tersebut? Saya juga. Jadi, mulailah berkomitmen untuk menyimpan sekian persen dari pendapatan setiap bulannya supaya kamu bisa pensiun dengan bahagia tanpa merepotkan siapa pun dalam keluargamu.

    4. Lunasi setiap utang.

    Ini salah satu hal yang sulit, namun penting untuk dilakukan. Ligwina Hananto, Lead Financial Trainer sekaligus co-founder dari QM Financial, berkata bahwa kamu akan dianggap sebagai “pasien” dalam perusahaan mereka jika kamu masih memiliki utang kartu kredit. Jadi, kecuali kamu bisa membayar secara lunas seluruh utang kartu kreditmu tiap bulannya tanpa kesulitan (baca: tanpa perlu dicicil), sebaiknya jangan lanjut ke tahap berikut. Ingat: kamu tak bisa mulai menabung untuk masa depan jika masih terpaku pada masa lalu. Kalau kamu masih punya banyak utang, Google “snowball method” sekarang, dan susun rencana untuk menyelesaikannya. Se-ka-rang!

    5. Saatnya melanjutkan dana darurat sampai terkumpul sejumlah tiga bulan pengeluaran.

    Ahhh, akhirnya kamu mulai melihat titik terang. Kembali kumpulkan dana darurat hingga jumlahnya mencapai tiga bulan pengeluaran. Jika sudah, maka lanjutkan menjadi enam bulan, dan akhirnya: satu tahun pengeluaran. Cosmo jamin, tidurmu pasti lebih tenang dengan adanya dana tersebut di tangan.

    6. Mulai bangun portofolio investasi.

    Untuk mimpi jangka panjang, saatnya mulai berinvestasi. Menurut Ligwina Hananto, kamu bahkan bisa mulai berinvestasi dengan reksa dana yang harganya lebih murah dari kopi susu favorit: Rp10.000,- saja. Yes, here’s where the fun really begins.

    Oh ya, apabila perusahaan tempat kamu bekerja menawarkan dana pensiun tambahan dan juga asuransi kesehatan (lucky you!), maka ambil kesempatan tersebut dan jadikan prioritas kamu setiap bulannya. Percayalah, hal ini akan sangat berguna di masa depan.


    LANGKAH KEDUA - Awasi Pengeluaranmu

    Apakah kamu termasuk salah satu orang yang langsung meremas kertas bukti transaksi begitu kertas tersebut keluar dari mesin ATM sehingga tak perlu melihat saldonya? (Tak perlu malu mengakuinya, saya juga melakukannya, kok.) Mulai dari sekarang, coba ubah kebiasaan tersebut dengan menyimpan kertas tersebut di dalam dompet, dan beranikan diri untuk melihat saldonya.

    Banyak orang tidak menyadari ke mana perginya uang mereka setiap bulannya karena mereka malas melihat saldo dan memeriksa transaksi keuangan. Jadi, tugas pertamamu sekarang adalah: Cari tahu ke mana uangmu pergi, dan hadapi 'kenyataan' saldo rekeningmu. Unduh aplikasi seperti YNAB (You Need A Budget) atau PocketGuard yang secara otomatis akan mencatat dan mengkategorikan pengeluaranmu. Cobalah untuk tidak menghakimi diri sendiri (duh, saya boros sekali!) ketika menggunakan aplikasi tersebut. Kamu yang sekarang mungkin cukup boros dan sulit mengatur keuangan, namun masa depanmu bisa berubah!

    Kalau dengan aplikasi tersebut kamu masih kesulitan mengatur pengeluaran setiap bulannya, maka opsinya: cari penghasilan tambahan, atau kurangi pengeluaranmu. Mungkin ini saatnya kamu mencari pekerjaan sampingan, atau lihat kembali apakah sudah waktunya bagi kamu untuk meminta kenaikan gaji di kantor.

    Kamu pintar mengambil foto? Unduh aplikasi Foap dan jual hasil jepretan kamu di sana. Atau jika kamu gemar membeli novel namun kini sudah tidak terpakai lagi, unduh BookScouter dan tawarkan novel milikmu yang masih layak digunakan. Punya keahlian menanam tanaman atau merajut? Tawarkan kelas khusus di Airbnb Online Experiences. Punya banyak baju tak terpakai yang masih layak digunakan? Tawarkan di Carousell, atau gunakan fitur Marketplace di Facebook. Namun ingat, terkadang mendapatkan uang tambahan sebanyak apapun tetaplah tidak cukup jika kamu tak bisa mengatur pengeluaran dengan baik (FYI, Mike Tyson, Nicolas Cage dan 50 Cent pernah mengumumkan bahwa mereka bangkrut meski mereka memiliki pendapatan jutaan dolar). 

    Untuk bisa memotong pengeluaran, salah satu kuncinya adalah dengan bertanya pada diri sendiri setiap kali kamu ingin membeli sesuatu: Apakah pengeluaran ini benar-benar saya butuhkan? Semisal, jika fokusmu tahun ini adalah mengejar traveling (semoga semuanya berjalan baik sehingga kita bisa kembali berpelesir di tahun ini), maka tak masuk akal jika kamu menabung untuk sederet tas branded, karena yang kamu butuhkan adalah sebuah tiket pesawat. Selain itu, lihat kembali daftar pengeluaran yang bisa kamu kurangi dari dua kategori berikut: gaya hidup dan kebutuhan hidup.

    Gaya hidup

    Kategori ini adalah pengeluaran untuk hal-hal yang sebenarnya tidak terlalu kamu gunakan. Beberapa contohnya adalah:

    1) Biaya keanggotaan untuk gym, padahal kamu hanya menggunakannya untuk berlari di treadmill dan sauna. P.S.: kamu bisa berlari di sekitar komplek rumah dan harganya gratis.

    2) Biaya paket internet TV berlangganan padahal yang kamu tonton hanyalah tiga channel saja. Jika kamu lebih sering menonton layanan subscriptions yang kini makin marak, gunakan kelebihan family packages yang lebih murah dan alokasikan pengeluaranmu dalam daftar tersebut sekarang.

    3) Koneksi internet dengan kuota paling besar dan bandwidth tercepat. Lihat kembali pemakaianmu, jika kamu tak benar-benar membutuhkannya, maka turunkan paketmu.

    4) Pengeluaran bulanan di bank demi “tampilan” kartu platinum. Serius, apa sih, kelebihannya? Cuma mau pamer? B-Y-E!



    Kebutuhan hidup

    Hal ini terjadi karena kamu terbiasa menggunakan layanan tertentu atau membeli sesuatu yang harganya lebih mahal HANYA karena kamu bisa membelinya (meski sebenarnya kamu tak benar-benar membutuhkannya). Seringnya, rasa malas menjadi salah satu penyebabnya. Semisal, jujur saja, apakah kamu lebih suka membeli makan siang dan makan malam di luar padahal sebenarnya kamu bisa saja memasak dan membawa bekal? Ini yang disebut dengan kebutuhan hidup yang tidak perlu.

    Di antara sekian banyak kategori, pengeluaran untuk transportasi dan biaya konsumsi merupakan dua hal yang paling berbahaya. Kalau kamu bisa mengatur pengeluaran tersebut, saya yakin kamu bisa menabung lebih banyak untuk mewujudkan mimpi dan ambisimu di tahun baru inil.

    Semisal, alih-alih mengeluarkan uang untuk triple shot venti, kopi hitam buatan sendiri sebenarnya sudah cukup. Selain itu, biasakan juga untuk membuat daftar belanja sebelum pergi ke toko serba ada. Usahakan untuk membeli barang mentah alih-alih produk siap saji karena biasanya harganya lebih murah (buah semangka utuh biasanya jauh lebih murah dibanding semangka potong, begitu juga dengan ayam mentah alih-alih ayam masak goreng mentega).

    Ingat, mengurangi pengeluaran tak berarti kamu tak boleh bersenang-senang, hanya saja kamu harus tahu mana pengeluaran lebih yang benar-benar berarti untukmu.


    LANGKAH KETIGA - Biarkan Uangmu Tumbuh

    Perbedaan terbesar antara money-savvy dan money-stresed adalah: mereka yang money-savvy pandai mengakumulasi aset, sedangkan mereka yang money-stressed rajin menumpuk pengeluaran. Lalu apa yang termasuk aset? Aset adalah hal-hal yang tetap memberikan kamu penghasilan tambahan bahkan ketika kamu tertidur. Sedangkan pengeluaran adalah hal-hal yang membuat kamu bertahan dengan pekerjaan saat ini dan membuat kamu mustahil untuk tidak bekerja. Aset, my dear friend, adalah kunci untuk kebebasanmu di masa depan. Setidaknya ada empat faktor yang harus kamu pertimbangkan ketika memilih sebuah aset:

    1. Diversifikasi

    Jaga keadaan keuanganmu tetap aman dengan cara menyebarkan asetmu ke dalam berbagai hal sekaligus. Percayalah, kamu tak ingin menginvestasikan seluruh uang tersebut dalam satu macam investasi saja.

    2. Biaya

    Seluruh investasi membutuhkan biaya. Tapi ingat, kamu tidak membutuhkan investasi yang nantinya akan menyerap seluruh keuntungan dari asetmu karena memiliki terlalu banyak biaya.

    3. Risiko

    Kamu sebaiknya menginvestasikan mayoritas uang pada aset yang sudah terpercaya dan memiliki track record yang baik dalam beberapa dekade terakhir. Saran saja, jangan menginvestasikan lebih dari lima persen uangmu pada investasi yang spekulatif (meskipun mungkin investasi tersebut sedang banyak diminati saat ini) kecuali kamu yakin dengan apa yang kamu lakukan. Dengan kata lain: Kamu telah memahami risikonya dan menerima apapun yang nanti terjadi.

    4. Nilai

    Asetmu tak boleh hanya memberikan keuntungan semata, namun sebaiknya juga memiliki suatu nilai tersendiri. Semisal, perusahaan tempat mu berinvestasi secara konsisten menyumbangkan uang untuk upaya penghijauan atau membantu pertumbuhan komunitas lokal.


    Selain harus mempelajari faktor-faktor di atas, ketahui juga bahwa kamu harus memutuskan kapan kamu ingin mengambil keuntungan dari investasi tersebut. Dengan kata lain, cari tahu apakah investasi yang ingin kamu lakukan merupakan investasi jangka pendek atau jangka panjang.

    Secara general, semakin lama kamu membutuhkan keuntungan dari investasi tersebut, semakin banyak uang yang sebaiknya kamu investasikan ke dalam tipe aset yang berisiko tinggi namun keuntungannya juga sepadan–meski kamu membutuhkan banyak waktu untuk bisa meraup keuntungan sebesar itu. Sebaliknya, jika investasi kamu merupakan jangka pendek, maka sebaiknya jany menaruh uang pada aset yang stabil, meski keuntungannya memang tidak terlalu besar (semisal, reksa dana pasar uang).

    Mencari investasi yang tepat memang sulit. Kamu mungkin harus berkonsultasi dengan seorang financial planner jika memang ingin serius berinvestasi. Tapi saran saya, carilah seorang planner yang bekerja secara independen (ia bukan bagian dari satu perusahaan) dan mendapatkan gaji secara bulanan dengan jumlah yang pasti, bukan komisi, sehingga saran yang kamu dapatkan tidak bias karena mengikuti keinginan perusahaan. Dan ingat, hal terpenting adalah: Beranikan diri untuk mulai saja dulu.


    TIPS TAMBAHAN: Gunakan Aplikasi Keuangan

    Bingung memilih aplikasi keuangan yang baik? Cosmo punya beberapa rekomendasi aplikasi keuangan yang bisa kamu coba:

    1) Franc

    Sebuah aplikasi baru untuk kamu yang ingin memulai investasi, tapi tidak ingin merasa terintimidasi dengan istilah-istilah sulit dan proses yang membingungkan.

    2) KoinWorks

    Aplikasi lokal yang cukup terkenal di Indonesia, gratis, dan bisa kamu gunakan untuk berinvestasi serta memiliki banyak penawaran layanan finansial.

    3) YNAB

    Cocok untuk generasi milenial dan gen-Z yang menginginkan tampilan menarik serta mudah digunakan. Aplikasi ini siap membantu mencatat seluruh pengeluaranmu.

    4) Goodbudget

    Aplikasi money-management untuk kamu yang gemar menggunakan cara budgeting lama: envelope budgeting.


    (Alvin Yoga / FT / Image: Ian Schneider on Unsplash)