Love & Sex

Apakah Cinta Pada Pandangan Pertama Itu Nyata? Ini Kata Ahli

  by: Givania Diwiya Citta       5/1/2021
  • Cinta pada pandangan pertama: Plot yang kerap menjadi dasar cerita semua film komedi romantis, dan juga banyak acara TV baru (halo, Married At First Sight), tapi apakah benar-benar memungkinkan untuk jatuh cinta dengan seseorang ketika pertama kali melihatnya? Kita mungkin sudah pernah mengalami naksir berat dengan seseorang sesaat setelah mata kita memandangnya, tapi bagaimana caranya kita menyebutkan bahwa itu adalah cinta pada pandangan pertama atau apakah itu hanya hasrat polos biasa? Cosmo pun berbincang dengan para ahli untuk menemukan penjelasan dari pernyataan apakah ‘cinta pada pandangan pertama’ itu benar-benar nyata.


    Apakah ‘cinta pada pandangan pertama’ itu nyata?




    Adalah hal yang memungkinkan untuk merasa seperti ‘jatuh cinta pada pandangan pertama’, meski itu tergantung pada jenis cinta yang kamu alami, ujar terapis psychosexual dan hubungan yang terakreditasi COSRT, Cate Mackenzie.



    Ada beragam alasan mengapa kita bisa tertarik terhadap seseorang secara instan, dan ini bisa terasa seperti jatuh cinta, ujar Cate. Sebagai contoh, ini bisa terjadi berkat pheromones (senyawa yang muncul pada tubuh yang bisa membuat kita tertarik pada orang lain), atau mungkin saja bahwa orang tersebut mengingatkanmu pada sesuatu atau seseorang dari masa kecil kamu yang terasa familier, tambah Cate.



    “Kita bisa tertarik pada seseorang dan merasa seperti bisa jatuh cinta secara tiba-tiba, tapi ini sering kali terjadi karena senyawa kimia yang dilepaskan oleh otak kita, seperti phenethylamine,” jelas Cate. Phenethylamine secara esensi berfungsi selayaknya amphetamine, yang bisa membuat kita serasa ‘melayang’ ketika merasakan cinta, dan hal tersebut juga memicu lepasnya dua neurotransmitters, yaitu dopamine dan norepinephrine, yang bisa meningkatkan detak jantung dan membuat kita merasa nyaman.


    “Ini bisa membuat tembok batasan kita runtuh, dan bisa berarti bahwa kita mengidealisasikan orang di hadapan kita tersebut hingga kita melihat dirinya sebagai sesuatu yang memukau,” tambah Cate, yang menjadi salah satu alasan mengapa kita merasa seperti sedang jatuh cinta.


    Meski begitu, stase awal dari ketertarikan yang intens bisa dikategorikan sebagai suatu jenis cinta sendiri. Filosofi Yunani kuno mengungkapkan enam jenis cinta yang berbeda: “Eros (gairah seksual), philia (pertemanan yang dalam), ludus (bermain-main dengan cinta), agape (cinta untuk semua orang), pragga (cinta yang bertahan melewati waktu demi waktu), dan philautia (cinta untuk diri sendiri),” jelas Cate.



    Jatuh cinta pada pandangan pertama termasuk dalam cinta ‘eros’, yang artinya gairah seksual atau ketertarikan intens. Tapi ini juga bisa berarti bahwa orang-orang yang mengalami cinta ‘eros’ berakhir putus setelah periode waktu singkat, ketika ketertarikan awal serta gairah seksual memudar.


    Bagaimana pun juga, meski jenis cinta ini tak selamanya awet, tapi bukan berarti perasaan tersebut tidak valid.


    “Bahkan koneksi singkat bisa jadi kuat dan transformasional, tergantung pada orang-orang yang terlibat dan bagaimana mereka menghadapinya,” ujar Cate. “Banyak orang yang berbincang dengan saya pernah merasa koneksi besar meski berlangsung singkat, tapi tetap terasa seperti cinta dan merupakan perasaan yang penting juga.”


    Apakah cinta bisa bertumbuh seiring waktu, meski kita tak mengalami ‘cinta pada pandangan pertama’?




    Jika kamu pernah bertemu seseorang dan kamu tak merasa jatuh cinta dari kepala-sampai-kaki secara instan, jangan panik. Ini tak berarti kamu tak akan bisa berakhir saling jatuh cinta pada akhirnya.



    “Cinta di dalam dunia saya adalah sebuah kata kerja dan bisa bertumbuh seiring waktu, dan kita bisa mengaktifkannya lewat kebaikan hati pada satu sama lain,” jelas Cate. Apalagi, “Cinta bisa didefinisikan dalam berbagai cara berbeda oleh orang lain,” tambahnya.


    “Saya telah bertemu dengan banyak orang yang menumbuhkan ketertarikan terhadap seseorang yang sebelumnya merupakan teman mereka, hingga bisa menjadi sebuah romansa yang indah.”


    Bagaimana pun juga, ia menambahkan bahwa mereka yang tak memiliki ketertarikan sama di awal, sering kali merasa bahwa ada sesuatu yang kurang dalam hubungan mereka. Namun, tetap ada juga hal-hal yang bisa dilakukan untuk membangun chemistry dan koneksi.


    “Menciptakan pengalaman menyenangkan bersama-sama bisa membantu melepas senyawa seperti dopamine (hormon kenikmatan), seperti ketika bersentuhan, berangkulan, dan tertawa yang bisa melepas oksitoksin (hormon kebahagiaan),” jelas Cate.



    Ini bisa berarti pergi berjalan-jalan bersama, mencoba hal-hal baru, bereksperimen secara seksual, menghadiahi satu sama lain, hingga membuat satu sama lain merasa dihormati, ujar Cate, yang semuanya bisa berkontribusi untuk membangun koneksi.


    Kamu mungkin juga ingin mencoba 36 pertanyaan untuk bisa jatuh cinta ini, yang menjadi bagian dari eksperimen psikologis yang dirancang untuk meningkatkan keintiman antara dua orang.


    Bagaimana pun juga, tak ada resep cepat sekaligus berat untuk cinta. Tapi ingatlah bahwa apapun yang kamu rasakan itu asli, dan jika kamu merasa tak yakin bagaimana perasaan kamu terhadap seseorang, cek beberapa pertanda berikut ini, mungkin kamu memang benar sedang jatuh cinta.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.com/uk / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Givania Diwiya / Image: Cottonbro from Pexels / Emily Gulla)