Better You

Demi Apapun, Tolong Berhenti Unggah Foto Liburanmu di Medsos

  by: Alvin Yoga       8/1/2021
  • Semuanya dimulai saat liburan akhir tahun kemarin. Saya sedang rebahan di atas kasur sambil scrolling Instagram (kegiatan yang paling banyak saya lakukan belakangan ini), dan di tengah kedamaian tersebut, tiba-tiba saja saya melihat sederet unggahan yang membuat saya ingin melempar ponsel ke luar jendela saat itu juga.

    Saya melihat sederet unggahan foto dari seorang teman—oke, bukan teman dekat, tapi kami saling mengenal satu sama lain, dan sepertinya kini hubungan kami semakin menjauh karena pandemi—dan melihat foto-foto tersebut membuat darah saya mendidih. Saya bahkan tadinya tidak berpikir untuk melihat IG Story miliknya, karena kami memang tidak sedekat itu. Tapi karena saya bosan, saya kemudian mengklik foto profilnya dan ya, saya menyesal. Mengapa? Karena kemudian layar ponsel saya dipenuhi dengan foto-foto dirinya yang sedang tertawa dalam balutan pakaian renang. Di pantai (kamu pasti bisa menebak pantai mana maksudnya). Di tengah pandemi.

    Rasanya saya ingin sekali mengirimkan lirik lagu Sheryl Crow, 'All I Wanna Do', padanya. "Babe, this ain't no disco. This ain't no country club either."



    Maksud saya, ini 2020! You should know better. Duh!

    Tapi karena saya tak suka mencari masalah, terutama di masa liburan yang seharusnya penuh dengan momen bahagia ini, saya tak jadi mengirimkan lirik penuh sindiran itu padanya. Yang saya lakukan: Saya menekan tombol unfollow tanpa rasa menyesal sama sekali, dan tak lagi berusaha untuk mengintip profilnya.


    Namun hanya karena saya tak lagi bisa melihat tingkahnya (yang menyebalkan, sampai sekarang saya masih tidak bisa habis pikir, sungguh), tak berarti saya langsung berhenti berpikir soal dirinya, dan juga seluruh jet-setters yang sedang menikmati hidup terbaik mereka berlibur di pulau tropis sementara banyak dari kita berusaha (setengah mati) menahan keinginan tersebut. Belum lagi mereka yang sedang berjuang di rumah sakit.

    Yang mengejutkan: Faktanya, ada banyak orang di luar sana yang juga melanggar aturan tersebut. Maksud saya, bukankah seharusnya mereka mengerti mengapa pemerintah tidak jadi memberikan libur panjang aka cuti bersama saat akhir tahun kemarin? Tujuannya jelas, yaitu untuk menekan laju penyebaran virus corona. Yang membuat saya bingung adalah, ada banyak sekali orang yang tanpa malu mempublikasikan serta mendokumentasikan keegoisan mereka di media sosial.

    Yang membuat saya ingin meneriakkan: Tolong. Berhenti.

    Really. Please. STOP!

    Berhenti memamerkan kebiasaan burukmu. Tak hanya membuatmu terlihat sangat bodoh (walaupun ya, kamu memang sangat bodoh), kamu juga terlihat egois. Tentu saja saya tahu pembelaan seperti apa yang siap ia lontarkan, karena ia menulis dengan jelas pada foto tersebut, "Tenang saja, kami sudah dites dan hasilnya negatif!" Jujur, saya tak peduli, dan virus itu pun tidak peduli, karena meskipun kamu pergi sejauh apapun, kalau virus itu sudah menempel di salah area koper atau pakaianmu, virus itu akan mengikutimu ke mana pun! Dan dalam waktu 0,1 detik ketika virus itu masuk ke dalam tubuhmu, hasil tes negatifmu bisa langsung berubah menjadi positif.



    Dan lagi, unggahan media sosialmu secara tak langsung mengirimkan pesan yang berbahaya. Kamu menormalisasikan kegiatan yang jelas-jelas dilarang oleh para dokter dan para ahli. Seakan-akan kamu berkata, "Kalau saya bisa dan hasil tes saya negatif, maka kamu juga bisa. Aman, kok!"

    Bicara soal pandemi, entah kamu Kim Kardashian atau kamu seseorang yang bahkan followers-nya tak mencapai seribu, kamu meng-influence orang lain—tanpa kamu sadari!—baik mereka adalah teman-teman terdekatmu, keluargamu, atau bahkan orang asing yang tidak kamu kenal namun mengikutimu di media sosial.

    Ya, faktanya, kamu memiliki kemampuan yang lebih besar untuk memengaruhi jalan pikir orang-orang terdekatmu dibanding Kim Kardashian. Sebuah studi yang dilakukan pada 2017 lalu menemukan bahwa media sosial memengaruhi kemampuan seseorang untuk membuat keputusan—terutama berkat unggahan orang-orang terdekat atau keluarga—dan terutama soal traveling. That's right. Kamu—ya, kamu—punya kemampuan secara langsung untuk memengaruhi orang-orang terdekatmu, dan alih-alih seharusnya menjaga mereka tetap aman, kamu justru melakukan yang sebaliknya.

    Satu fakta lagi: tak peduli seberapa sering kamu mencuci tanganmu, atau berpikir bahwa kamu sudah aman karena kamu telah memakai masker, kamu tak pernah tahu kapan virus itu berada di dekatmu. Inilah mengapa kita terus menerus diberitahu untuk tetap berada di dalam rumah: Untuk menghindari konsekuensi dari hal-hal yang tidak kita inginkan.

    Sebagai pengingat, saat ini sudah ada 800.000 kasus terkonfirmasi di Indonesia, positive rate telah meningkat sampai 24,9%, kasus kematian per hari ini adalah 23.520 jiwa, petugas kesehatan sudah kewalahan, rumah sakit semakin penuh, dan angka-angka tersebut masih akan terus bertambah. Ya, vaksinnya memang sedang dalam proses distribusi, tapi kita semua masih jauuuhh sekali dari kata "aman". Berlibur masih menjadi kegiatan yang riskan dan tidak direkomendasikan, dan mempromosikan kegiatan tersebut lewat media sosial hanya membuat orang-orang ikut mencoba melanggar aturan.

    Jujur, untuk yang pertama kalinya dalam hidup saya, melihat orang lain menyeruput air kelapa di suatu tempat yang eksotis, atau melihat teman saya berkumpul dan berpesta dengan teman-temannya tanpa social distancing, tidak membuat saya iri. Justru saya merasa sedih dan marah, karena saya tahu bahwa jika ada semakin banyak orang di luar sana yang ikut melanggar aturan dan bertindak sesuai dengan keinginan pribadinya tanpa memikirkan orang lain, maka semakin lama kita semua akan hidup dalam realita yang menyiksa ini.

    In the meantime, saya akan rebahan di rumah, menunggu nama saya muncul sebagai penerima vaksin sambil terus menekan tombol unfollow. Tentunya tanpa rasa menyesal sama sekali.

    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmopolitan US)