Better You

Ini Cara Terbaik Menegur Orang yang Tidak Ikuti Protokol Kesehatan

  by: Alvin Yoga       20/1/2021
  • Akhir pekan lalu, sebelum memulai maraton drama Korea (kegiatan favorit saya tiap akhir pekan), saya memutuskan untuk mengisi "amunisi" camilan terlebih dahulu di minimarket. Berbekal hand sanitizer di kantong serta masker sekali-pakai menutupi area hidung dan mulut, saya pun mendatangi minimarket yang jaraknya hanya beberapa rumah. Ketika sedang sibuk memilih camilan di salah satu lorong (jujur, saya seringkali bingung, lebih baik membeli camilan manis atau asin? Bagaimana menurutmu? Oke, maaf, mari fokus!), saya melihat seorang pria membuka pintu minimarket dan langsung berjalan menuju kasir. Dari kejauhan, saya bisa menduga bahwa sepertinya ia berkata pada sang kasir bahwa ia ingin membeli sebungkus rokok. Dan benar saja, setelah membayar jumlah yang sesuai pada kasir, pria tersebut pun langsung mengambil rokoknya, membuka pintu, lalu keluar. Terlihat normal? Yah, kelihatannya begitu.

    Satu-satunya hal yang tidak normal dan mengganggu pikiran saya dari kejadian tersebut: Sang pria tidak mengenakan masker ketika berbelanja. Dan saya ataupun sang kasir tidak menegurnya ketika ia masih berada di dalam toko.

    Yang menyedihkan, bukan pria itu saja yang dengan entengnya meremehkan aturan untuk tidak memakai masker di tempat umum. Karena ketika saya berjalan pulang dari minimarket, sekelompok anak muda yang tidak mengenakan masker melewati saya begitu saja sambil bersenda gurau. Saya jadi teringat, bahwa beberapa hari lalu ketika saya dalam perjalanan pulang dari kantor (menggunakan taksi online, kendaraan umum favorit saya selama pandemi) saya sempat melihat beberapa pedagang kaki lima di pinggir jalan, yang dengan asyik mengobrol dengan sesama pedagang lain dengan posisi masker diturunkan ke bagian leher dan bukan menempel di depan hidung. Pertanyaannya: "Sesulit itukah memakai masker di masa pandemi ini?" Karena, hey, tahun baru tak berarti virus ini menghilang begitu saja.






    Kalau kamu membaca artikel ini, kemungkinan besar kamu juga memiliki pertanyaan yang sama dengan saya. Dan kamu pasti mengerti: Bahwa hanya dengan satu hal simpel—cukup dengan memakai masker—kamu bisa melindungi banyak sekali orang dari salah satu pandemi paling mematikan dan paling berbahaya dalam seratus tahun terakhir ini.

    Sayangnya, saya tak tahu bagaimana caranya menegur orang-orang yang tak mau mengenakan masker. Atau lebih tepatnya, saya tak berani melakukannya.

    Dalam imajinasi saya, saya akan berjalan lurus ke arah pria-pembeli-rokok yang tak memakai masker tersebut, dan berkata padanya bahwa jika ia tak mengenakan masker ASAP, saya akan *mengepalkan tangan* membuat hidungnya merasa lebih tidak nyaman dibandingkan mengenakan selembar kain di depan hidung dan mulut mereka. Lalu, saya membayangkan sekelompok kecil orang (seluruhnya mengenakan masker dan social distancing, tentunya) akan berkeliling dan bertepuk tangan untuk saya karena saya berani mengatakan hal yang sebenarnya ingin mereka katakan, dan orang yang saya tegur akan malu dan tidak pernah menunjukkan batang hidungnya di hadapan publik lagi!!!

    IRL, tentu saja saya tak punya keberanian untuk bahkan memanggil mereka, walau tentu saja rasanya saya ingin meneriakkan pada setiap orang untuk "Ikuti saja, deh, aturannya!" (Maksud saya, mereka benar-benar tidak peduli dengan orang tua atau keluarga yang berada di rumah, ya?) Alih-alih, saya biasanya hanya sedikit melotot pada mereka ketika mereka berjalan melewati saya. Mereka mungkin berpikir bahwa saya semacam SJW yang berlagak sok, dan pada akhirnya, saya tak melakukan hal yang benar-benar ingin saya lakukan dan sesuai dengan nilai moral saya. *sigh*



    Kenyataannya, it's scary out here, mmkay?! Dan tentunya tidak, um, sopan(?) dan nyaman untuk mengonfrontasi seseorang, terutama jika orang tersebut sama sekali tidak kita kenal, meskipun mereka memang salah karena tidak mengindahkan protokol kesehatan yang ditetapkan pemerintah untuk menghindari penularan COVID-19. Apakah saya siap untuk diomeli orang asing di minimarket? Atau mungkin diajak berkelahi di pinggir jalan? Mmm, tidak. Saya tidak siap. Belum lagi, orang tersebut mungkin tidak benar-benar memedulikan apa yang kamu katakan, jadi usaha "permisi" dan "mohon maaf" serta "ahem" tadi akan sia-sia.

    Jadi, apa yang bisa kita lakukan? Bagaimana caranya supaya suara kecil di pikiran ini bisa tersampaikan pada orang-orang tersebut? Apa yang bisa (benar-benar) kamu lakukan untuk membantu pemerintah menekan laju penyebaran COVID-19 yang semakin lama semakin tinggi ini? 

    Cosmo mengumpulkan saran dari beberapa ahli mengenai masalah ini, dan jawabannya: Berusahalah untuk tetap berpikiran terbuka, dan yakinkan diri bahwa kalau kamu harus menegur mereka, usahamu akan berhasil ketika kamu melakukannya. Atau, opsi lainnya, jaga jarak sejauh mungkin dengan orang tersebut. Setidaknya, itulah yang bisa kamu lakukan.



    "Memang, pembicaraan yang didasarkan pada tujuan yang sama, atas integritas yang sepadan, serta didasari pada rasa respek, memiliki kemungkinan sukses yang lebih tinggi, sehingga kamu bisa mendorong orang tersebut membuat keputusan yang lebih sehat dan lebih baik," ujar terapis asal New York, Damon L. Jacobs.

    "Namun tidak semua orang yang kamu tegur memiliki integritas yang sepadan. Mereka yang melanggar aturan biasanya memiliki banyak alasan, yang berbeda-beda, atas keputusan mereka," jelas Carole Lieberman, MD, seorang psikiater asal Beverly Hills. "Beberapa orang melanggar protokol kesehatan karena mereka tidak nyaman menggunakan selembar kain di depan hidung mereka, beberapa lelah dengan aturan social distancing yang telah ditetapkan. Ada juga mereka yang merasa bingung dengan aturan yang melulu berubah-ubah atau bertambah setiap beberapa minggu sekali, atau kesal dengan pihak tertentu yang mereka anggap tidak mampu menekan laju penyebaran COVID-19. Sisanya adalah mereka yang simply suka memberontak saja, karena mereka ingin mengambil kontrol atas hidup mereka setelah berbulan-bulan dibatasi oleh aturan baru yang tidak pernah mereka lakukan dan tidak mereka sukai."

    Beberapa mungkin memang lupa bahwa mereka harus memakai masker. Jujur, beberapa bulan lalu, saya sendiri pernah lupa memakai masker ketika akan membeli camilan. Dan untungnya saya langsung sadar ketika baru beberapa langkah dari pintu pagar. Saya pun langsung berbalik ke arah rumah dan mengambil masker sebelum akhirnya beranjak ke minimarket. Di saat itu, saya sempat berpikir, "Kalau saja tadi ada orang yang menegur dan mengingatkan saya, atau memberitahu saya lewat gestur untuk memakai masker. Ugh." Tapi ya, saya mengerti, bahwa mungkin mereka yang melihat saya keluar tanpa menggunakan masker tahu bahwa hal tersebut keliru, namun tak berani menegur saya.

    Jadi, well, mungkin tak ada salahnya untuk menegur seseorang yang tidak memakai masker karena, simpel saja, mereka lupa untuk melakukannya. Namun tentu saja, menegur dengan cara yang penuh emosi seperti imajinasi saya di atas mungkin tidak baik (baca: bukan mungkin, TENTU saja tidak baik). Dengan sedikit bumbu empati, rasa saling mengerti, serta *finger crossed* kamu mungkin bisa berhasil. Dan ingat, cara menegur untuk setiap orang pun berbeda-beda. Berikut ini beberapa instruksi yang bisa kamu ikuti, mulai dari menegur teman baikmu sampai atasanmu di kantor. You're welcome.



    Sahabatmu

    Ajak mereka mengobrol secara baik-baik, lalu minta mereka menjelaskan alasan dan perasaan mereka sehingga kamu bisa berempati tanpa(!) ikut mengadopsi kebiasaan mereka. Gunakan rasa empatimu untuk mencari tahu mengapa mereka tidak mengikuti aturan, dan cari tahu apakah kamu bisa membuatnya setuju untuk mulai mengikuti protokol yang ada. Jika alasannya adalah mereka berpikir bahwa mereka tak akan sakit (duh!), jelaskan bahwa kamu sebenarnya khawatir mengenai kesehatan mereka dan akan sangat menyesal jika di kemudian hari mereka terinfeksi (*ketuk kayu tiga kali*) atau mereka membuat salah satu orang yang mereka cintai terinfeksi. Kamu pasti lebih tahu soal sahabatmu, dan mereka pasti lebih percaya padamu dibanding orang lain, jadi kamu memiliki kemampuan lebih untuk bisa membuat mereka mengerti.



    Pasanganmu

    Aka pacarmu, kekasihmu, kesayanganmu, suamimu, istrimu. Pertama-tama, fokuskan dirimu untuk memahami apa yang tidak ingin mereka lakukan dan mengapa mereka melakukan hal tersebut. Kamu mungkin pernah bertengkar dengan pasanganmu di masa pandemi ini—thanks, quarantine stress!—jadi cobalah untuk lebih sensitif dan jangan mulai dengan pertanyaan yang langsung memojokkan mereka seperti "Kenapa sih, kamu tidak mau memakai masker?" Jika mereka memberitahumu bahwa rasanya sulit memakai masker ketika sedang bersepeda atau berlari di komplek, beritahu mereka bahwa perilaku tersebut bisa memengaruhimu tanpa mereka sadari (terutama jika kalian sudah tinggal bersama-sama dalam satu rumah). Jelaskan bahwa kamu peduli dengan kesehatan mereka, dan bahwa mereka juga berisiko menularimu jika tidak menggunakan masker. Ingat, hubunganmu dengan sang pasangan berada di level yang berbeda, jadi seharusnya ia bisa memahami perasaanmu ketika kamu ikut membuka hatimu selama pembicaraan.





    Orang tuamu

    Jika salah satu orang tuamu sama seperti nenek saya yang menganggap bahwa mereka masuk dalam kategori "berisiko tinggi" hanyalah "sebuah alasan yang tidak masuk akal", dan mereka ingin sekali keluar rumah hanya demi mengobrol bersama tetangga (*menghela nafas panjang*), kamu mungkin ingin sekali berteriak pada mereka untuk "Diam saja di rumah!" Permasalahannya, memperlakukan mereka layaknya seorang anak kecil (ya, ironinya, begitulah yang terjadi) mungkin akan membuat mereka berbohong dan diam-diam melakukan kebiasaan buruk tersebut ketika kamu sedang tidak berada di rumah. Jadi, mulailah dengan mendengarkan pendapat mereka terlebih dahulu, baru kemudian jelaskan pelan-pelan hal apa yang menjadi perhatianmu. Paparkan juga fakta yang ada, bahwa sebenarnya virus tersebut bisa menyebar lewat saluran udara seperti A/C jika mereka mengunjungi mal, dan ya, sebaiknya mereka batalkan dulu keinginan untuk arisan di rumah tetangga karena hal tersebut tidak penting untuk dilakukan sekarang ini.



    Atasanmu

    Jika orang yang ingin kamu tegur adalah seseorang yang memiliki posisi lebih tinggi, seperti atasanmu, pahami bahwa apa yang mereka pilih untuk diri mereka sendiri tak seharusnya berpengaruh langsung pada apa yang kamu lakukan atau kamu yakini. Kalau mereka tak memakai masker namun tidak berada di satu ruangan bersamamu, opsi terbaik adalah (tetap!) jangan pernah lepas maskermu dan ingatlah untuk tetap menjaga jarak dengannya secara fisik. Kalau kamu ingin menegur mereka, kalimat atau pertanyaan yang lebih ringan mungkin bisa lebih membantu. Semisal, tawarkan masker cadanganmu pada mereka...karena mungkin saja mereka "duh, lupa membawa masker lebih di dalam tas" *memutar mata*. Namun, jika mereka langsung berargumen panjang dan tertawa atas tawaran maskermu (yang sebenarnya merupakan teguran ringan), ingatlah bahwa kamu selalu memiliki opsi untuk menjaga jarak dengan mereka.



    Rekan kerjamu

    Untuk rekan sekantor, biarkan mereka memutuskan apa yang ingin mereka lakukan, selama hal tersebut tidak menyalahi pilihanmu dan kalian masih bisa bekerja bersama. Pahami apa yang bisa kamu lakukan serta apa yang kamu butuhkan untuk menjaga dirimu tetap aman. Di titik tertentu, kamu mungkin perlu memberitahu rekan kerjamu bahwa kamu merasa kurang nyaman menghabiskan waktu di dekat mereka jika mereka tidak mengindahkan protokol kesehatan dengan serius. Atau kamu bisa mencoba alternatif lain, seperti meminta berada di shift yang berbeda dengan rekanmu, atau tetap meminta rapat dilakukan lewat Zoom meski kalian berada dalam satu ruangan, atau menolak secara halus ketika mereka mengajak makan siang bersama karena kamu "masih ada pekerjaan yang harus dilakukan". Kalau kamu memiliki hubungan yang dekat dengan rekan kerjamu dan merasa bahwa kamu bisa menegurnya secara baik-baik, dekati mereka pelan-pelan dan jelaskan apa perasaanmu ketika sedang berada di dekat mereka, lalu sedikit demi sedikit mulailah berikan masukan, serta jelaskan alasan mengapa menurutmu mereka perlu mengubah kebiasaan tersebut.



    Pelanggan atau pembeli di tempatmu bekerja

    Jika sang pelanggan menggunakan masker namun masker tersebut berada di bawah hidung, atau mungkin diturunkan ke daerah dagu atau leher mereka, kamu bisa dengan sopan meminta mereka untuk menggunakan masker tersebut dengan tepat. Pilihan lainnya, kalau kamu merasa risikonya tak sepadan jika kehilangan pelanggan di masa yang serba sulit seperti sekarang ini—cobalah untuk menjaga jarak dengan mereka setidaknya sejauh satu setengah meter, dan berikan gestur seperti membenarkan posisi maskermu ketika mereka sedang melihat ke arahmu. Kalau kamu tak bisa menjaga jarak dengan mereka karena, semisal, kamu adalah seorang kasir dan mereka sedang dalam proses transaksi, atau mereka sedang menanyakan suatu hal padamu, perhatikan situasinya, dan dengan sopan katakan secara perlahan (jangan lupa tambahkan kata "maaf" di depan) bahwa mungkin mereka bisa membetulkan posisi maskernya. Kalau kamu merasa bahwa atasanmu berada di posisi yang lebih baik untuk menegur mereka, beritahu atasanmu atas situasi tersebut.



    Orang asing

    Ingin menegur seorang yang benar-benar asing di minimarket seperti pengalaman saya? "Sebaiknya tidak perlu," ujar terapis asal New York, Damon L. Jacobs. Yang bisa kamu lakukan adalah sebaik mungkin menjaga jarak dengan orang yang tidak mengikuti protokol kesehatan tersebut. "Mempermalukan seseorang yang tidak kamu kenal, yang di saat bersamaan tidak memiliki percakapan langsung denganmu, tidak akan membuat mereka berubah pikiran. Mereka tahu kamu tidak memiliki wewenang apapun untuk 'mengatur' mereka, dan apapun yang kamu katakan tidak akan memiliki pengaruh atau efek secara langsung," lanjut Damon. Kemungkinan terbesar, teguranmu justru akan memicu insting mereka untuk melindungi diri, dan alih-alih menuruti saranmu, mereka justru tidak memedulikanmu, atau buruknya, mereka akan mengajakmu bertengkar. Pada akhirnya, tidak akan ada untungnya bagi kalian berdua. Merasa gemas dan ingin melakukan sesuatu? Katakan, "Ahem," lalu berpura-puralah membetulkan posisi maskermu. Kalau mereka tak tersinggung, setidaknya kamu sudah mencoba, kan?



    Bottom line:

    Kita semua melewati momen penuh ketidakpastian ini bersama-sama. Kamu mungkin merasa kesal atas beberapa informasi tidak tepat yang berseliweran di sana-sini, yang membuat orang-orang tidak mau memakai masker. Dan selagi kita berusaha sebaik mungkin memprioritaskan kesehatan kita, terkadang memaksakan moral dan mengonfrontasi seorang asing (secara langsung, IRL) yang tidak mengikuti aturan justru dapat berisiko membuat kita terpapar, dan hal tersebut bukanlah suatu hal yang bijaksana. Untuk sahabat dan rekan kerja dan orang-orang yang kamu kenal, yang secara misterius (entah mengapa) menolak mengikuti protokol kesehatan paling dasar ini, kamu memiliki opsi untuk memberi mereka penjelasan secara baik-baik sehingga mereka bisa membuka pikiran mereka, tentunya dari jarak satu setengah meter. Ingat, jangan berikan penilaian yang memojokkan atau justru sekadar menyalahkan dan membuat mereka tersinggung. 

    Semoga kita semua bisa segera memeluk para anggota keluarga dan kembali menghabiskan waktu untuk brunch di kafe favorit bersama para sahabat tanpa rasa takut. Untuk saat ini, mari tetap gunakan masker dan ikuti seluruh protokol kesehatan sebaik mungkin—termasuk ketika membeli camilan di minimarket. 


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmopolitan US / Instagram @katieisdoodling)