Better You

Guys, Tak Masalah Jika Kamu Kurang Produktif & Stres di Saat Pandemi

  by: Alvin Yoga       26/1/2021
  • Hello, it’s me, again, yang kemarin sempat menulis opini tentang betapa menyebalkannya orang-orang yang mengunggah foto liburan mereka circa liburan akhir tahun kemarin, juga yang menulis mengenai betapa rindunya saya menonton film di bioskop, saya juga yang menulis mengenai cara menegur mereka yang tidak patuh protokol kesehatan (maksud saya, kok bisa sih, mereka tidak mengikuti protokol kesehatan? Di saat angka positivity rate di Indonesia terus meningkat seperti ini! Ugh). Dan ya, perkenalkan, saya yang malas membereskan lemari pakaian ketika teman-teman saya giat sekali mendekorasi kamar mereka selama self-quarantine dan bahkan mulai merawat tanaman atau memiliki peliharaan baru selama pandemi. *sigh*

    Satu hal yang 'mencubit' saya dengan keras selama pandemi COVID-19 ini: Setiap influencer (atau seleb TikTok atau seleb Insta, apapun itu), juga teman-teman dekat saya, dan bahkan rekan kantor saya, seluruhnya sangat *optimal* membuat progres kerja, dan sangat, sangat, produktif meski mereka harus WFH dan melakukan self-quarantine di rumah.

    Bukan berarti saya tidak senang dengan pencapaian mereka. Yo, girls and guys, I’m really happy for you. Saya bahagia kok, melihat kalian mampu membuat berloyang-loyang kue, mencoba membuat kopi yang sempat viral tersebut (bahkan membayangkan saya harus mengocok kopinya sebanyak itu sudah membuat saya lelah), merapikan serta mendekorasi kamar, mencoba yoga (atau meditasi, atau berlari, atau bersepeda), mengambil kelas online, melakukan meeting tiada henti setiap hari dari pagi sampai malam, dan lainnya dan seterusnya... Tapi, jujur deh, menonton Netflix sambil menghabiskan berbungkus-bungkus camilan dan tidur selama 12 jam sehari juga termasuk self-quarantine yang...totally acceptable, kan? Right? No? Tidak?! Well, okay, bagaimana sih, caranya kalian bisa terus bersemangat menghadapi hari di tengah masa-masa penuh ketidakpastian ini? Jujur, saya sangat penasaran.



    Bukan berarti saya tidak mencoba untuk tetap produktif di tengah pandemi. Saya berusaha melakukannya di beberapa bulan pertama pandemi, namun karena seluruh hal ini terus menerus berlangsung selama berbulan-bulan, rasanya...sulit sekali menghadapinya. Internet merupakan satu-satunya hal yang bisa saya gunakan untuk 'kabur' sementara dari realita yang menyakitkan ini. Dan internet jugalah yang pada akhirnya ikut membuat saya stres. I mean, pesan-pesan WhatsApp dan e-mail yang tiada henti (bahkan di luar jam kerja normal), ditambah perasaan tertekan untuk terus memberikan yang terbaik di saat saya justru sudah lelah secara mental dan fisik, honestly, hal tersebut membuat saya merasa gagal untuk memaksimalkan waktu WFH saya di rumah.

    "Sangat natural untuk merasa cemas, kewalahan akibat terlalu banyak pekerjaan, serta kelelahan. Justru, ini merupakan bukti bahwa kamu menjalani hidup dan sibuk melakukan pekerjaanmu," ujar Richard A. Friedman, seorang profesor di bidang clinical psychiatry dan juga direktur dari klinik psychopharmacology di Weill Cornell Medical College.

    Jalan keluarnya? "Berusahalah untuk membatasi waktu bekerjamu dalam jumlah yang masuk akal, dengan begitu kamu bisa lebih produktif ketika bekerja—dibandingkan memaksakan diri hingga kamu melewati batas kelelahan," ujar Angela Fowler, direktur dari Office of Postdoctoral Affairs di Indiana University School of Medicine. "Saya mengerti bahwa sebagai seorang karyawan kita seringkali sulit membuat batas bagi diri sendiri. Di saat rekan kerja yang lain begitu termotivasi, bersemangat, serta bekerja ekstra-keras, kita jadi ikut terdorong untuk mengikuti disiplin yang sama serta jadi lebih kompetitif untuk mengejar tujuan dan perubahan," lanjut Angela. Pada akhirnya, hal ini membuat mayoritas dari kita mengalami kesulitan untuk berkata tidak ketika kita seharusnya menolak pekerjaan, padahal tubuh dan pikiran kita sudah kewalahan.

    Kondisi ini juga diperparah dengan keadaan di mana kita harus bekerja secara terpisah dari rumah masing-masing belakangan ini, sehingga garis waktu antara bekerja serta beristirahat menjadi kabur. “Tidak ada lagi batasan waktu kapan harus beristirahat dan kapan bekerja,” ujar Syazka Nadindra, M.Psi, Psikolog, psikolog klinis dan Kepala Badan Konseling Universitas Nasional. Mengapa bisa begitu? Pasalnya, tempat bekerja dan tempat beristirahat telah mengabur menjadi satu, sehingga kamu sulit membuat batasan dan merasa bahwa rumah yang tadinya menjadi tempat beristirahat kini ikut memberikan suasana tegang.

    Untuk kamu yang juga stres dan merasa kurang produktif di tengah pandemi ini, tak ada salahnya untuk mulai menentukan 'batasan' bagi diri sendiri. "Kamu bisa mulai dari hal kecil, semisal hanya mengecek pekerjaan dari 9-6, dan berusahalah untuk tidak membuka pesan apapun di malam hari atau di akhir pekan—ketika kamu seharusnya beristirahat," jelas Angela. And that is absolutely OK. It is OK to say no (like me). Learn how to say no.



    Lalu, bagaimana caranya mengetahui apakah pekerjaan yang diberikan pada kita adalah sesuatu yang seharusnya kita tolak atau tidak? "Tanyakan pada dirimu lima pertanyaan ini: Satu, apakah pekerjaan tersebut merupakan sesuatu yang penting untuk kamu lakukan dan sesuai dengan job desk-mu? Dua, apakah kamu setuju menerima proyek tersebut karena memang kamu yang harus melakukannya, ataukah kamu membantu orang lain melakukannya? Tiga, apakah hal tersebut mendorong karier di tempatmu bekerja? Empat—dan ini salah satu pertanyaan terpenting—apakah kamu memiliki kapasitas mental yang cukup kuat untuk mengerjakan proyek ini, terutama di masa sekarang? Apakah kamu perlu membuat batasan waktu dan berkomitmen untuk menjalaninya? Terakhir, apakah aktivitas tersebut merupakan pekerjaan yang kamu butuhkan untuk meningkatkan pengalaman dalam karier yang memang menjadi passion-mu?" ujar Angela. "Jika banyak dari pertanyaan tersebut yang jawabannya tidak, maka pikirkan kembali tugas tersebut. Jika ada pekerjaan yang menurutmu akan membuatmu kewalahan, tolaklah dengan sopan, dan berikan penjelasan pada atasanmu."

    Hal lain yang juga perlu kamu pertimbangkan ketika bekerja di rumah, terutama di masa-masa yang bikin sakit kepala ini adalah: Jangan memberi alasan pada diri sendiri untuk bekerja ekstra. Kalimat seperti "aku cuma ingin menjawab satu email, kok" atau "duh, aku bisa mencicil sedikit" biasanya akan berujung membuatmu bergadang semalaman. Percayalah, saya sudah belajar dari pengalaman. Ingat, jika pekerjaan tersebut bukanlah sesuatu yang harus kamu lakukan saat itu juga, tulislah di to-do list dan kerjakan saja besok. Ikuti batas waktu yang kamu buat. Matikan komputermu, tinggalkan ponselmu, dan lakukan yang kamu sukai—semisal menonton serial drama Korea, membaca buku, memasak menu baru, atau sesimpel mandi sambil mendengarkan lagu favorit.

    Remember, you only have one life and one self. Sekeren apapun pekerjaanmu, kamu harus memprioritaskan kesehatan dirimu terlebih dahulu. Seorang teman pernah mengingatkan saya, "Pasang dulu masker oksigenmu sebelum kamu membantu memasangkannya pada orang lain." Yang berarti: kamu tak bisa membantu orang lain jika kamu sendiri sudah terlalu banyak bekerja dan lelah secara emosional.

    Untuk semua teman saya yang bahkan menggunakan makeup ketika WFH atau bahkan menjadi le chef ketika membuat sarapan di pagi hari, I love you! Lanjutkan apa yang kamu lakukan! Tapi tolong jangan marah jika saya mute kalian di Instagram untuk satu atau dua bulan ke depan. In the meantime, saya akan berusaha untuk tetap fokus menikmati hidup, sambil menjauhkan ponsel saya agar tidak perlu menjawab seluruh pesan WhatsApp setiap lima belas menit sekali. Love y'all!

    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmopolitan US)