Celebrity

Wregas Bhanuteja & Shenina Cinnamon Bicara Soal 'Penyalin Cahaya'

  by: Giovani Untari       29/1/2022
  • Sejak ditayangkan perdana dalam ajang Busan International Film Festival 2021 di Oktober 2021 silam dan ikut berkompetisi dalam kategori New Currents di ajang yang sama, film Penyalin Cahaya seolah terus mencetak prestasinya sendiri.

    Film ini bahkan menyapu bersih kemenangan di Festival Film Indonesia 2021 dengan meraih 12 penghargaan, termasuk penghargaan Film Panjang Terbaik dan Sutradara Terbaik. Menjadikannya sebagai film Indonesia dengan rekor peraih Piala Citra terbanyak dalam sejarah FFI. Dengan harapan ingin semakin menyebarluaskan pesan atas isu kekerasan seksual di lingkungan kampus, Penyalin Cahaya kini ditayangkan secara global di Netflix pada tanggal 13 Januari 2022 mendatang. 

    Adalah sebuah momen spesial bagi Cosmo untuk bertemu berbincang dengan sutradara dan pemeran utama film Penyalin Cahaya yaitu Wregas Bhanuteja dan Shenina Syawalita Cinnamon.




    Film Penyalin Cahaya menorehkan prestasi yang membanggakan baik di ajang Festival Film Indonesia 2021 dan sempat ikut berkompetisi di Busan International Film Festival 2021. Apa arti film Penyalin Cahaya bagi Anda secara pribadi?

    Wregas: Untuk saya secara pribadi film ini akan menjadi pengingat bahwa dalam hidup dan sebagai manusia, terkadang kita pasti ada di titik di mana mendapat banyak sekali kebahagiaan dan juga ada kesedihan. Tetapi saya selalu berprinsip bahwa kapan pun itu, jika ada waktu untuk membantu orang lain atau membuat sekitar kita menjadi lebih baik, maka kita harus meluangkan waktu untuk membantu mereka dan tidak hanya berpikir tentang diri kita sendiri. 


    Semoga ke depannya saya bisa lebih banyak memberikan kontribusi kepada masyarakat yang saya rasa membutuhkan dukungan dan bantuan. Sebab itu adalah misi saya sebagai seorang filmmaker.


    Shenina: Penyalin Cahaya adalah film yang sangat memberikan saya banyak pelajaran dalam hidup. Selain saya akhirnya bisa mewakilkan suara para penyintas kekerasan seksual melalui tokoh Suryani, saya juga bisa dikirim ke Busan International Film Festival 2021 untuk mewakili film ini berkompetisi. Itu pertama kalinya bisa datang ke sebuah festival film internasional. Film ini juga memberikan saya kesempatan menjadi pemeran utama dalam produksi layar lebar, bahkan sampai bisa masuk nominasi Pemeran Utama Perempuan Terbaik di FFI 2021. Saya merasa ini kesempatan yang tidak akan dua kali. Jadi saya sangat bersyukur bisa menjadi bagian film ini dan ke depannya saya ingin memiliki target yang lebih tinggi. Karena sebagai manusia kita harus selalu berpikir ke depan dan tidak ingin cepat puas, bukan? Itu juga jadi tantangan bagi saya agar ke depannya bisa terus belajar lagi dan menjadi lebih baik lagi.



    On Wregas: Setelan jas: Jan sober. Kemeja: Uniqlo. On Shenina: Gaun: H&M. Sarung tangan: H&M. Kursi: Stora


    Untuk Wregas, apa ekspektasi awal Anda ketika merilis film Penyalin Cahaya?

    Ekspektasinya sesimpel bahwa film ini harus menjadi suatu medium yang menguatkan para penyintas kekerasan seksual dan memberikan awareness pada orang-orang. Jadi sebenarnya kami berpikir bahwa semakin banyak film ini diputar dibanyak tempat dan dibicarakan, berarti goals film ini sudah tercapai. Mendapat 12 Piala Citra FFI 2021 itu sangat jauh di luar ekpekstasi sebenarnya. Waktu itu ketika mendengar bahwa Penyalin Cahaya mendapat 17 nominasi saja rasanya sudah sangat mengejutkan. Dan ketika mendapat 12 kemenangan, kami menyikapinya dengan berharap bahwa semakin besarnya apresiasi untuk film ini, berarti akan semakin membantu menyebarluaskan inti pesan dan film Penyalin Cahaya ke berbagai lapisan masyarakat. Juga saya ingin menjadi orang yang berpartisipasi dalam menjaga sinema Indonesia, bahwa ternyata meski di tengah pandemi film Indonesia dan ajang FFI masih ada. Ini menunjukkan bahwa perfilman kita tidak semudah itu goyah dan sirna.



    Setelan jas: Jan sober. Kursi: Stora.


    Film atau isu sosial apalagi yang ingin sekali Anda hadirkan ke dalam film?

    Kalau judul atau cerita yang terlalu spesifik sampai saat ini mash belum ada. Tetapi ada satu isu yang dari dulu selalu saya pikirkan yaitu soal kesehatan mental. Bagi saya kesehatan mental itu belum mendapat perhatian khusus dibanding kesehatan fisik. Banyak orang masih fokus pada kesehatan fisik saja, padahal mental bisa berdampak besar keberlangsungan hidup orang tersebut. Keinginan saya adalah suatu saat bisa membuat sebuah karya yang bisa membuat orang menjadi aware dan tahu bagaimana harus menyikapi saat ada teman atau keluarga terdekatnya yang mengalami masalah kesehatan mental dalam bentuk apapun. Mungkin itu isu yang menjadi concern saya.


    Untuk Shenina, apa yang membuat Anda tertarik dan mantap memutuskan untuk bermain sebagai sosok Suryani dalam film ini?

    Mungkin sebelum saya tahu ada sutradara yang akan membuat film dengan isu kekerasan seksual, saya sudah sering sekali mendengar isu tersebut bahkan dari circle terdekat saya. Dari dulu saya sudah berpikir bagaimana ya caranya agar kita bisa menyuarakan soal isu ini supaya bisa didengar semua orang? Sampai akhirnya saya dipertemukan dengan kak Wregas yang juga menulis tentang tema ini. Saya sudah lama gregetan ingin ada orang yang menyuarakan isu ini. Menurut saya kak Wregas adalah sosok yang cerdas sekali, saat kami bertemu dan membahas soal ide film ini saya sudah berpikir bahwa ia sosok yang keren. Dan bisa diberikan kesempatan bermain di film Penyalin Cahaya sembari membahas isu tersebut menurut saya tidak ada alasan yang membuat saya menolak tawaran ini. Sebab saya memang ingin sekali berpartisipasi menyuarakan isu ini.



    Gaun: H&M. Sarung tangan: H&M.


    Seberapa mirip karakter Suryani dengan Shenina? Hal apa yang membuatnya kalian berdua mirip serta sebaliknya?

    Sebenarnya bisa dibilang mirip sekali. Karena menurut kak Wregas ketika kami mengobrol untuk pertama kali, ia bisa tahu bahwa saya tipe orang yang bisa menyuarakan hal yang benar dan tidak benar yang terjadi di sekitar saya. Dan ternyata sosok Suryani yang ia cari adalah karakter yang seperti itu. Jadi kalau ditanya mirip atau tidak? Mungkin sekitar 90% mirip kali ya. Yang tidak mirip, hmmm... bisa dibilang Shenina yang asli jauhlebih ceria dibandingkan Suryani. Tapi jika saya merasakan hal yang sama seperti apa yang dialami Suryani, mungkin saya akan bertindak seperti dirinya. Saya akan menyampaikan seperti apa yang ingin disampaikan. 




    Film Penyalin Cahaya didominasi oleh pemain muda. Apakah ini salah satu hal yang menguntungkan bagi Anda dalam hal membangun chemistry satu sama lain?

    Saya merasa bersyukur sekali bisa bertemu dengan mereka semua. Dulu saya sempat berpikir, ketika syuting dengan para senior pasti akan banyak sekali pelajaran yang bisa saya dapatkan. Ternyata, semua pelajaran itu bisa sebenarnya didapatkan dari siapa pun. Mau itu dengan para senior ataupun yang seumuran dengan kita. Saya merasakan sekali ketika syuting dengan para pemain Penyalin Cahaya, betapa mereka semua adalah orang-orang yang sangat menyayangi dan mencintai pekerjaannya. Apa yang mereka sampaikan itu benar-benar jujur berasal dari hatinya. Setiap saya bertemu dengan mereka baik di reading maupun di luar reading, energi mereka sangat mendukung. Poin plusnya lagi, karena kami semua seumuran maka obrolannya juga lebih nyambung dan tidak ada gap.



    Keseluruhan busana: H&M. Divider: Super Rattan.


    Saat ini Permendikbud Ristek RI Nomor 30 Tahun 2021 Tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Lingkungan Perguruan Tinggi sedang gencar digaungkan. Apakah kalian melihat film Penyalin Cahaya menjadi medium yang tepat untuk membuat warga semakin aware terhadap isu ini?

    Wregas: Tentu saja. Dan terbukti dari awal kita membuat film ini sampai sekarang, ternyata isu ini masih banyak terjadi. Bahkan di tengah pandemi, justru intensitas kekerasan seksual semakin besar. Jadi film ini adalah menjadi salah satu cara kami menjembatani ke masyarakat yang belum begitu aware terhadap isu ini agar lebih peduli dan berani. Kampus seharusnya menjadi tempat untuk menimba ilmu yang aman dan menjadi zona aman. Ketika terjadi kekerasan seksual di kampus, trauma yang dialami penyintas bisa terjadi selamanya dan memengaruhi aspek psikologi dan beratnya mereka menimba ilmu. Itu akan berdampak pada masa depan bangsa kita tentu saja.


    Shenina: Pastinya. Selama mendalami sosok Sur saya pun jadi semakin tahu seperti apa hukum di Indonesia ketika berkaitan dengan masalah kekerasan seksual. Dari sana saya semakin memiliki keinginan untuk membantu banyak dari yang saya bisa. Entah itu melalui peran Sur atau ikut campaign berkaitan dengan isu ini. Ke depannya saya ingin terus bisa membantu para penyintas untuk menyuarakan isu ini, agar semua orang sadar bahwa kekerasan seksual itu bisa terjadi di mana aja. Saya ingin mewakili isu tersebut.



    On Wregas: Kemeja, luaran: Jan Sober. Celana: H&M. On Shenina: Keseluruhan busana: H&M. Divider: Super Rattan.


    Tonton interview selengkapnya Cosmo bersama Shenina Cinnamon dan Wregas Bhanuteja di sini:



    Simak juga trailer film 'Penyalin Cahaya' berikut ini:





    Fotografer: Hadi Cahyono
    Fashion stylist: Dheniel Algamar
    Digital imaging: Raghamanyu Herlambang
    Teks: Giovani Untari / FT
    Assisten fashion stylist: Tri Yuliati
    Ilustrasi Opening: S. Dewantara
    Makeup: Oktrin Azzahra (Instagram @oktrinazzahra)
    Hairdo: Rury Padwa (Instagram @rurypadwa)
    Kursi: Stora (Instagram @thestorastore)
    Divider rotan: Super Rattan (Instagram @hisuperrattan)