Better You

Ini Gejala COVID-19 Varian Omicron yang Wajib Kamu Ketahui!

  by: Giovani Untari       6/1/2022
  • Selama beberapa minggu terakhir, pembicaraan mengenai COVID-19 varian Omicron semakin ramai dibahas. Kasus varian terbaru COVID-19 tersebut pertama kali dilaporkan ke World Health Organisation (WHO) oleh peneliti di Afrika Selatan pada tanggal 24 November 2021 silam. Tak lama setelahnya varian Omicron pun langsung menjadi perhatian besar dan menyebar ke seluruh dunia.


    Di Inggris dan beberapa negara termasuk Indonesia pun langsung merasakan adanya sejumlah aturan yang diperketat untuk mencegah masuknya dan penyebaran COVID-19 varian Omicron. Salah satunya dengan memperpanjang masa karantina bagi mereka yang baru saja tiba dari luar negeri. 






    Tapi dengan diprediksinya Omicron menjadi varian yang akan mendominasi di seluruh dunia, banyak dari kita yang ikut bertanya: Apa saja tanda dan gejala yang harus kita ketahui dari varian Omicron ini?


    Berbicara melalui program BBC 4’s Today, Sir John Bell (seorang Profesor Kedokteran di Universitas Oxford) mengungkapkan: “Satu hal yang kami ketahui adalah gejala varian Omicron cukup berbeda dari varian COVID-19 lainnya.”


    Sir Bell juga menjelaskan perbedaan terbesar antara gejala varian Omicron dengan varian sebelumnya meliputi adanya gejala sakit tenggorokan, nyeri otot, hidung tersumbat, sakit perut, dan diare. Sang profesor juga mengatakan beberapa pasien juga mengalami nyeri otot terutama di area sekitar punggung. Meski saat ini gejala tersebut masih diteliti lebih dalam mengenai sumber penyebabnya.



    Meskipun jumlah penyebaran varian Omicron semakin meluas di seluruh dunia, Sir Bell mengatakan bahwa para peneliti juga masih belum memiliki banyak data terkait varian satu ini. Namun sejak diumumkan menjadi varian COVID-19 yang mendapat perhatian lebih dari WHO, para dokter awal yang menemukan varian ini menyebut bahwa beberapa pasien di Afrika Selatan mengalami gejala sakit yang sangat ringan.


    Berbicara melalui program Andrew Marr di BBC, Dr Angelique Coetzee mengungkap ia dan timnya pertama kali menemukan varian Omicron dari seorang pasien berusia awal 30-an. Pasien tersebut tidak menunjukkan gejala COVID-19 seperti umumnya, tetapi ia mengalami kelelahan dan sakit kepala ringan. “Inilah yang gejala yang secara klinis kami temukan di Afrika Selatan. Di mana gejala varian Omicron ini terlihat lebih ringan dibanding varian sebelumnya,” ujar sang dokter. 


    Tapi tentu saja, tidak semua orang di industri medis setuju dengan klaim dari Dr Angelique soal gejala Omicron yang terlihat ringan dari gejala varian lainnya. Dr Paul Burton, Kepala petugas medis dari Moderna mendeskripsikan Omicron sebagai varian yang “tampak berbahaya”, meski ia percaya bahwa para ahli pasti menemukan cara untuk mengatasi virus tersebut.





    “Saya rasa kami memiliki alasan untuk semakin berharap terhadap penyembuhannya. Sebab kami telah mempelajari banyak hal terkait virus ini secara umum,” ujarnya melalui The Guardian.


    “Anda tahu, bahwa kami belajar banyak hal tentang cara menangani COVID-19, misalnya melalui langkah sederhana seperti menggunakan masker, mencuci tangan, dan tentu saja melalui vaksin. Tapi kami pun masih mengamati bagaimana sifat virus ini saat menginfeksi orang dewasa, orang dengan penyakit komorbid, dll. Kami sangat ingin mengetahui seberapa besar gejala yang ditimbulkan dari varian ini.”


    Dr Paul juga menambahkan: “Varian ini memang terlihat berbahaya, tetapi saya pikir kami memiliki banyak alat di armamentarium kami untuk melawannya. Jadi saya optimis terhadap hasil ke depannya.”


    Satu hal yang para ahli setujui demi melawan varian Omicron ini adalah dengan tetap memengang prinsip betapa pentingnya melakukan vaksin dan mendapat booster-nya, di mana ini adalah cara terbaik untuk mencegah penyebaran Omicron dan COVID-19 secara umum

    “Jalan terbaik yang bisa kita lakukan saat ini adalah memberikan vaksin kepada mereka yang belum mendapat vaksin,” jelas Sir Bell. “Ini adalah upaya yang bisa kita lakukan untuk mencegahnya.”




    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan UK / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Giovani Untari / Images: Dok. Anna Shvets from Pexels. Vlada Karpovich from Pexels, Karolina Glabovska from Pexels)