Better You

Mengenal Slut Shaming: Kekerasan Secara Verbal Bagi Para Perempuan

  by: Redaksi       25/1/2022
  • Cosmo yakin kamu pasti pernah mendengar istilah slut shaming. Bagi kamu yang belum pernah mendengarnya, well, slut shaming sesungguhnya merupakan salah satu bentuk kekerasan pada perempuan yang dilakukan secara verbal. Slut shaming merupakan label atau stigma yang diberikan kepada seorang perempuan ketika orang tersebut dianggap berperilaku sensual, dan "label" ini diberikan dengan tujuan untuk mempermalukan sekaligus merendahkan sang korban. Biasanya slut shaming diucapkan ketika seseorang menilai perempuan lain dari cara berpakaiannya, hingga dugaan aktivitas seksual.

    Ada beberapa hal yang sebenarnya termasuk dalam kategori slut shaming, namun masih banyak orang yang tidak mengetahui hal ini, termasuk ketika mereka melakukannya. Di sisi lain, banyak juga yang tidak menyadari bahwa mereka sebenarnya menjadi korban dari slut shaming, dan alih-alih membela diri, mereka justru merasa jadi merasa rendah diri.

    Sayangnya, perilaku negatif ini masih sering terjadi di masyarakat, dan bahkan slut shaming kerap ditemukan dalam berbagai media. Semisal, pernahkah kamu menonton sinetron atau film yang menampilkan adegan sesama perempuan yang saling menghina dan memanggil satu sama lain dengan kata-kata kasar? Seperti halnya menyebut julukan "pelacur" kepada sesama perempuan atau komentar negatif lainnya?



    Dirangkum dari Teen Vogue, berikut ini lima tanda dari perilaku slut shaming yang perlu kamu ketahui, dan sudah seharusnya kamu hindari:

    1. Merendahkan perempuan lain karena pakaian yang dikenakan

    Perilaku slut shaming pertama adalah komentar negatif yang ditujukan pada seorang perempuan atas pilihan pakaian yang mereka kenakan. Semisal, seseorang berkomentar negatif kepada perempuan yang memakai rok yang panjangnya di atas lutut yang dinilai kurang memenuhi norma kesopanan.


    Komentar negatif atas pakaian yang digunakan ini sebenarnya termasuk suatu bentuk kekerasan verbal, dan tidak sepatutnya dilakukan. Ingat, setiap perempuan bebas mengenakan pakaian apa pun yang ingin mereka kenakan untuk menunjukkan jati diri mereka yang unik, tanpa penilaian negatif dari masyarakat.

    2. Berasumsi perempuan berdandan untuk kaum lelaki

    Pendapat yang beropini bahwa perempuan berdandan atau membuat dirinya terlihat cantik hanya untuk lelaki juga termasuk ke dalam slut shaming. Beragam komentar seperti, "Lihat, deh, dia pasti pakai full make-up karena ingin tebar pesona", atau "Ya ampun, dia pasti pakai baju itu supaya dilirik sama lelaki lain." Catat: Ketika kamu berpikir bahwa seorang perempuan berdandan atau berpakaian "demi menyenangkan" pria lain, hal ini seakan-akan kamu menyetujui asumsi bahwa tubuh perempuan "seakan-akan sengaja diciptakan" untuk memuaskan pria. And that's absolutely wrong.

    3. Menyalahkan perempuan atas revenge porn

    Menurut Komnas Perempuan, revenge porn atau non consensual sharing of intimate contents adalah suatu kegiatan penyebaran materi berbentuk foto atau video intim milik seseorang, umumnya perempuan, secara online dan tanpa izin, sebagai bentuk usaha balas dendam dan bertujuan untuk mempermalukan bahkan merusak kehidupan korban. Bentuk revenge porn sendiri bisa berupa banyak hal, mulai dari rekaman suara, foto atau video, dan pelakunya bisa saja kekasih, mantan pasangan, atau orang lain yang bermaksud buruk terhadap korban.



    Ada banyak alasan mengapa revenge porn lebih sering dialami oleh perempuan, salah satunya adalah karena adanya relasi yang timpang dalam sebuah hubungan, serta perempuan masih dan sering dijadikan objek. Sayangnya, revenge porn justru hampir tak pernah berpihak pada perempuan yang berlaku sebagai korban, namun alih-alih menyudutkan perempuan dengan asumsi negatif seperti "perempuan pecinta hubungan seksual" dan sebagainya. Masyarakat juga seringnya lebih menuduh perempuan sebagai "pihak yang bersalah" meski sebenarnya sang penyebar video tersebut yang bersalah karena melakukan hal tersebut tanpa consent. Guys, remember, she has been betrayed in this situation. She has been wronged. Tak ada yang ingin video intimnya disebarluaskan begitu saja. Kali lain, ingat bahwa korban dari revenge porn adalah pihak yang videonya intimnya tersebar, dan sudah seharusnya kita membela korban yang tubuhnya sedang dieksploitasi oleh pihak umum.

    4. Beranggapan negatif pada perempuan yang sering berganti pasangan

    Yup, yang satu ini pun termasuk dalam slut shaming. Pikirkan. ketika ada lelaki yang bergonta-ganti pasangan atau aktif secara seksual, ia hanya diberikan julukan playboy. Bahkan, seringnya ada kebanggaan di balik perilaku tersebut, dengan komentar-komentar seperti "Dia ganteng, sih. Orang ganteng mah bebas". Ugh!

    Berbeda dengan seorang perempuan yang bergonta-ganti pasangan, biasanya perempuan tersebut akan langsung diberi label "perempuan gampangan" atau diberi komentar, "Ih, baru putus kok, sudah jadian lagi. Perempuan macam apa dia?" dan sebagainya yang sebenarnya termasuk dalam slut shamming. Inilah mengapa, slut shamming sebenarnya bias gender, dan lebih sering menyudutkan perempuan. 

    5. Tidak melakukan apa-apa pada perempuan yang menjadi korban

    Semisal, seseorang berkata pada temanmu, "Bajunya seksi banget, minta ditiduri, ya?" hal ini sudah termasuk dalam kategori slut shaming, dan biasanya korban tidak berkomentar apa-apa karena merasa malu. Kalau kamu hanya duduk diam saja mendengar komentar tersebut, maka perilaku silence yang kamu lakukan akan dianggap sebagai suatu "persetujuan", dan orang yang melakukan slut shamming menganggap bahwa hal tersebut boleh mereka lakukan, inilah mengapa sebaiknya kamu harus melawan komentar negatif tersebut. Memang, speaking up dengan melawan komentar negatif tersebut akan berisiko membuatmu ikut "diserang", dianggap sebagai "sesama pelacur" atau "sok feminis", namun hal yang kamu lakukan adalah benar, karena dengan begitu kamu bisa membuka percakapan dan mengedukasi mereka bahwa komentar yang mereka berikan itu keliru.


    (Alvin Yoga / Rifqi Fadhillah / Image: Pexels/Keira Burton)