Better You

Oops! Jangan Disepelekan, Ini Akibat Jika Kamu Malas Berolahraga

  by: Fariza Rahmadinna       31/1/2022
  • Berolahraga menjadi salah satu cara terbaik untuk menjaga tubuh tetap sehat dan fit. Bahkan, berolahraga selama lima menit saja sudah bisa memberikan banyak manfaat kesehatan.


    Namun sayangnya, masih banyak orang yang melewatkan aktivitas ini karena berbagai alasan. Faktanya, dalam penelitian tahun 2012 yang dipublikasikan di jurnal Comprehensive Physiology, tidak berolahraga dapat menjadi penyebab utama sebagian besar penyakit kronis. Orang dewasa dianjurkan untuk berolahraga setidaknya selama 150 menit dalam seminggu dengan intensitas sedang, atau selama 75 menit seminggu dengan intensitas tinggi.




    Yuk, ketahui apa yang dapat terjadi pada tubuh saat kamu malas berolahraga.



    1. Sulit mendapatkan tidur berkualitas di malam hari


    Tidak cukup tidur setiap malamnya dapat menimbulkan sejumlah masalah kesehatan, mulai dari penambahan berat badan, diabetes, meningkatkan risiko penyakit jantung, sistem kekebalan tubuh yang buruk, hingga mengganggu suasana hati (mood).


    Nah, melakukan aktivitas olahraga secara efektif dapat membantu mendapatkan kualitas tidur yang baik di malam hari. Seperti yang ditunjukan pada sebuah penelitian meta analisis tahun 2017 dalam jurnal Advances in Preventive Medicine, diketahui bahwa olahraga meningkatkan durasi tidur dan kualitas tidur, sehingga terhindar dari berbagai masalah kesehatan.


    2. Meningkatkan tekanan darah

     

    Banyak penelitian menunjukan bahwa tidak berolahraga dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi. Salah satunya ditunjukkan pada sebuah penelitian yang dilakukan oleh para peneliti dari Korea Selatan yang diterbitkan dalam American Journal of Human Biology, yang menemukan bahwa subjek penelitian yang tidak berolahraga memiliki risiko hingga 72% lebih tinggi mengalami tekanan darah tinggi dibandingkan dengan subjek penelitian yang rutin berolahraga.


    3. Meningkatkan risiko penyakit jantung


    Ada banyak faktor penyebab penyakit jantung, ini termasuk tekanan darah tinggi, kolesterol tinggi, dan obesitas. Semua faktor tersebut dapat meningkat ketika kamu tidak berolahraga. Peneliti dari Johns Hopkins Medicine menemukan bahwa, kurang berolahraga dikaitkan dengan peningkatan risiko gagal jantung hingga 18% meskipun tidak memiliki riwayat penyakit kardiovaskular.

     

    4. Mencegah kehilangan memori


    Para ilmuwan percaya bahwa olahraga secara rutin dapat mencegah seseorang kehilangan memori ketika berada di usia paruh baya. Terbukti dalam sebuah penelitian tahun 2015 yang dipublikasikan di British Journal of Sports Medicine, latihan aerobik dapat meningkatkan memori dengan cara melindungi kehilangan volume pada hipokampus otak yang berfungsi mengatur memori. Pasalnya, volume hipokampus dapat menyusut seiring bertambahnya usia, menyebabkan gangguan memori dan peningkatan risiko demensia. Dengan kata lain, tidak berolahraga akan membuat otak rentan terhadap efek penuaan terkait usia, termasuk demensia, penurunan memori, dan penurunan kognitif.


    Memperkuat temuan sebelumnya, studi lainnya dalam jurnal Neurology, orang yang rutin berolahraga saat dewasa muda memiliki memori, keterampilan motorik, kemampuan fokus dan pengendalian emosi yang lebih baik ketika berada di usia paruh baya.


    5. Lonjakan kadar gula darah


    Menurut penelitian tahun 2012 dalam jurnal Medicine & Science in Sports & Exercise, melakukan aktivitas fisik seperti berolahraga dapat membantu tubuh memproses karbohidrat yang bisa mengontrol kadar gula darah.


    Menurut John Thyfault, asisten profesor di Departemen Nutrisi dan Fisiologi Latihan di University of Missouri, melewatkan aktivitas fisik selama beberapa waktu dapat meningkatkan kadar gula darah yang kemudian dikaitkan dengan peningkatan risiko diabetes. Ia menambahkan, melakukan olahraga dengan intensitas sedang saja sudah cukup untuk menuai manfaat dari berolahraga. Selain itu, sebuah studi tahun 2013 yang diterbitkan dalam jurnal Arteriosklerosis, Trombosis, dan Biologi Vaskular, menemukan bahwa berjalan sedang dan berlari kuat mengurangi risiko diabetes tipe 2.


    6. Meningkatkan risiko penyakit kanker


    Berdasarkan National Cancer Institute, banyak penelitian observasional melaporkan adanya hubungan antara aktivitas fisik yang lebih tinggi dengan risiko kanker yang lebih rendah. Mereka yang melakukan aktivitas fisik tingkat tinggi diketahui memiliki risiko yang lebih rendah terkena kanker usus besar dan kanker payudara dibandingkan dengan mereka yang kurang aktif secara fisik.


    7. Meningkatkan kadar kolesterol


    Seperti yang sudah sedikit dijelaskan sebelumnya, kurang berolahraga dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat yang dikaitkan dengan risiko penyakit jantung yang lebih tinggi. Dikutip dari laman Health Harvard, latihan aerobik secara teratur dapat membantu meningkatkan kadar meningkatkan kolesterol baik dan membantu mengurangi kadar kolesterol jahat, menurunkan risiko terkait penyakit kardiovaskular. The American Heart Association merekomendasikan untuk melakukan 150 menit latihan aerobik intensitas sedang per minggu untuk menjaga kesehatan jantung. Lengkapi dengan pola makan dan gaya hidup yang lebih sehat.


    8. Penambahan berat badan


    Tak hanya pola makan yang tidak sehat saja, para peneliti percaya kurangnya aktivitas juga dapat berkontribusi terhadap penambahan berat badan. Salah satu studi yang dilakukan oleh para peneliti Universitas Stanford yang diterbitkan dalam The American Journal of Medicine melihat hasil jangka panjang dari lebih dari 17.000 peserta dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional. Analisis tersebut menemukan bahwa persentase orang dewasa yang tidak berolahraga di waktu luang mengalami peningkatan berat badan atau obesitas.


    9. Mudah depresi




    Olahraga dikenal sebagai salah satu obat terbaik untuk mencegah stres, depresi, dan gangguan kecemasan. Jadi, tidak berolahraga dapat menempatkan pada risiko depresi yang lebih tinggi. Sebuah analisis tahun 2008 dalam jurnal Preventive Medicine menunjukkan bahwa aktivitas fisik intensitas rendah hingga tinggi sama-sama efektif dalam mengurangi risiko depresi, stres, dan gangguan kecemasan berlebihan.



    (Fariza Rahmadinna/VA/Image: Doc. Andres Ayrton on Pexels)