Lifestyle

Tabula Rasa, Cinta Lewat Sepiring Kuliner Minang

  by: RedaksiCosmopolitan       1/10/2014
  • Apa genre film yang biasa Anda lihat di bioskop? Thriller, romance, action, atau komedi? Pernah menyaksikan film ber-genre food, selain Ratatouille? Then Tabula Rasa will be an enlightment for all the movie lovers!

    Setelah memproduksi Pintu Terlarang dan Modus Anomali, kini rumah produksi LifeLike Pictures menghasilkan karya terbarunya yang berjudul Tabula Rasa. Film yang telah rilis sejak 25 September lalu ini bercerita tentang Hans (Jimmy Kobogau), seorang pemuda Serui yang kehilangan mimpinya untuk menjadi pemain bola profesional. Di tengah kegundahannya, ia bertemu Mak (Dewi Irawan), pemilik sebuah rumah makan Padang (lapau). Ia pun berusaha membangun kembali hidupnya dengan bekerja di lapau milik Mak. Kehadiran Hans ternyata mendapat penolakan dari Parmanto (Yayu Unru), juru masak, dan Natsir (Ozzol Ramdan), juru senduak (pelayan). Keadaan pun kian buruk ketika mereka mendapat saingan sebuah rumah makan baru yang lebih besar, persis di depan lapau. Hans, Mak, Natsir dan Parmanto harus menyelesaikan perselisihan di antara mereka untuk menyelamatkan lapau yang sedang sulit karena sepi pengunjung. Di tengah perbedaan segala perbedaan, tak disangka kalau mereka menemukan persamaan. Dan ya, lewat makanan dan masakan, Hans kembali menemukan mimpi dan semangat hidupnya.

    Film ber-genre drama keluarga dan ber-sub-genre food film ini disutradarai oleh sutradara muda, Adriyanto Dewo. Dengan tagline “Makanan adalah iktikad baik untuk bertemu”, film ini rasanya akan membawa mata dan lidah Anda menari-nari dengan berbagai visual masakan Minang yang sudah pasti menggiurkan. Belum lagi film ini juga menyuguhkan pemandangan indah kota Serui, Papua yang juga menjadi salah satu lokasi shooting film. Terlepas dari itu semua, Tabula Rasa menguak perbedaan kontras antara budaya barat dan timur Indonesia yang bersatu dalam makanan. “Walau karakter-karakternya tak memiliki hubungan saudara; beda suku dan agama, tapi di sanalah sebuah keluarga baru lahir. Dan yang menarik, keluarga ini dipimpin oleh seorang ibu, di mana kita dapat menggali konsep keluarga matriliniar dalam film,” ungkap Adriyanto.



    Lebih jauh lagi, produser film Sheila Timothy yang Cosmo temui tanggal 26 September lalu berharap jika film ini bisa membuat orang merasakan kehangatan keluarga, emosi, serta kerinduan akan masakan ibu. “Saya ingin orang bisa merasakan sebuah kehangatan emosi dan kerinduan akan keluarga saat menonton film ini,” ungkapnya. Tak main-main dalam penggarapannya, Sheila pun menggaet orang-orang terbaik untuk terlibat dalam pembuatan film ini, seperti Art Director Iqbal Marjono – Art Director Terbaik piala Citra tahun 2013, Cinematographer Amalia Trisna Sari – satu  dari sedikit cinematographer wanita Indonesia yang mumpuni, Culinary Advisors Chef Adzan dan Reno Andam Suri, serta Tom Ibnur yang menjadi Cultural Advisor khusus budaya Minang.



    Untuk membungkus film dengan apik, Lie Indra Perkasa pun dipercaya menjadi music director di film ini. “Musik dalam Tabula Rasa merupakan gabungan dari alat musik modern seperti synth, loops, dan lainnya yang digabungkan dengan “bumbu” musik tradisional seperti Talempong, Saluang, Triton dan Tifa,” jelas Indra. Tak hanya itu, band Dialog Dini Hari pun ikut menyumbangkan lagu dari album terbaru mereka yang berjudul Gurat Asa. So, apa lagi yang Anda tunggu? Segera ajak teman kantor, the girls, keluarga, atau si dia untuk menonton film berdurasi 105 menit ini. Dijamin, Anda akan langsung kangen untuk makan masakan Padang selepas menonton film ini! (Vidi Prima / FT / Image: dok. Life Like Pictures)