Celebrity

Eksplorasi Path bersama Cynthia Samanian

  by: Redaksi       29/10/2014
  • Hari Rabu tanggal 8 Oktober lalu, Cosmo berkesempatan untuk melakukan wawancara eksklusif dengan Product Manager Path, Cynthia Samanian. Ia datang langsung dari kantornya di San Fransisco untuk mengunjungi Indonesia yang masuk dalam daftar tiga besar pengguna social media Path di dunia. Berikut wawancara singkat Sr. Editor Cosmopolitan Indonesia, Vidi Prima bersama wanita cantik lulusan Harvard Business School tersebut.

    Cosmo (C): Hi Cynthia! Suatu kehormatan besar bisa bertemu Anda di Jakarta.

    Cynthia Samanian (CS): Well, hello Cosmo! It’s also my pleasure…



     

    C: Bisa diceritakan sedikit mengenai perjalanan Path hingga sekarang?

    CS: Path didirikan oleh Dave Morin, Shawn Fanning, dan Dustin Mierau tahun 2010 dan berbasis di San Fransisco, California. Visi Path selalu tentang menghubungkan Anda dengan orang-orang di sekitar yang penting bagi Anda. Dave dulu bekerja di Facebook dan semakin menyadari jika social media ini mulai popular. Sampai akhirnya ia melihat banyak foto yang ia simpan di handphone-nya, tapi merasa bahwa foto-foto tersebut terlalu personal untuk diunggah di Facebook atau social media lain. So, it was his vision to really create an app that was all about being more intimate and private.

     

    C: Sejauh ini, bagaimana Anda melihat respon para pengguna terhadap Path?

    CS: Umur Path memang baru empat tahun, tapi sangat menarik melihat perkembangannya. Ketika baru memulai Path, aplikasi ini bahkan hanya bisa men-sharing foto. Lalu kami sadar bahwa banyak pengguna mulai taking screen grabbed dari handphone mereka mengenai apa musik yang sedang didengar, buku yang sedang dibaca, aktivitas mereka, dan lain sebagainya. So we're decided that we're gonna let you choose. Tahun 2012 menjadi tahun di mana mulai banyak orang menggunakan Path karena banyak pengguna bisa sharing banyak hal. It's evolved a lot, but the core is still like sharing meaningful interesting contents with your closest ones.

     

    C: Kenapa akhirnya Path memisahkan aplikasi Path Talk dari dalam Path? Bukankah itu justru lebih membingungkan dan merepotkan dari sisi pengguna?

    CS: Kami menemukan bahwa banyak orang sekarang yang ingin melakukan lebih banyak hal dengan sistem pesan di dalam Path, dan kami tidak bisa melakukan itu semua jika masih dalam satu aplikasi. Dengan Path Talk sekarang, Anda bisa mendapatkan lebih banyak stiker dan melakukan lebih banyak hal. Hal itu akan jadi lebih crowded dan complicated ketika dimasukkan hanya dalam satu aplikasi.

     

    C: Lantas apa yang menarik dari Path Talk? Apa yang ingin Path kembangkan dari situ?

    CS: Ketika mengeluarkan Path Talk, kami menambahkan banyak fitur di dalamnya. Selain memperbanyak stiker, kami juga tengah mengembangkan Places, satu fitur dalam Path Talk yang saat ini baru berkembang di Amerika dan Kanada. Ini adalah satu fitur yang sangat cool karena dengan fitur ini Anda bisa terhubung dengan banyak local business di sekitar. Di Amerika, fitur ini sedang sangat disukai karena mempermudah banyak orang untuk terhubung langsung dengan banyak tempat. Yang sebenarnya terjadi, Anda mengirim pesan kepada operator kami, dan operator kamilah yang akan menanyakan pertanyaan Anda pada gerai terkait. Jadi ketika Anda ingin memesan tempat di sebuah restoran, operator Path tentu sudah mengetahui nama dan nomor telepon Anda. Jadi meja di restoran favorit Anda langsung terpesan atas nama Anda sendiri. It’s really cool, like you’re having a personal assistant of your own in your hands. Walau sampai saat ini aplikasi Places baru berkembang di US dan Kanada, tapi kami berharap jika aplikasi ini bisa berkembang meluas.

     

    C: Negara mana saja yang paling banyak mendownload Path di seluruh dunia?

    CS: Indonesia termasuk dalam daftar Top 3 kami, selain Amerika dan Timur Tengah.



     

    C: Akhir-akhir ini, Path menambah jumlah teman dari 150 jadi 500. Apa alasannya?

    CS: Waktu pertama sekali dibuat, teman yang bisa Anda add malah hanya 50. Di tahun 2012, kami mengubahnya menjadi 150. Lalu banyak pengguna Path yang memberi masukan untuk menambah angka tersebut agar lebih banyak lagi teman yang bisa di-add. Ini merupakan keputusan sulit bagi tim, karena ide awal para pendiri adalah untuk membuat jaringan yang lebih personal. Karenanya di tahun 2013, kami mulai membuat fitur Inner Circle, sekaligus memperbesar angka menjadi 500. Dengan begitu kami berharap jika para pengguna ingin berbagi cerita yang lebih intim, mereka bisa menggunakan fitur Inner Circle, plus tetap bisa menambah jumlah teman di akun Path mereka.

     

    C: Dari angka 150 ke 500 itu merupakan lompatan angka yang cukup besar.

    CS: Angka tersebut sebenarnya berasal dari penelitian anthropologist asal Inggris, Robin Dunbar. Ia mengungkapkan logika di balik angka tersebut, bahwa sebanyak apapun teman yang Anda miliki di social media, tapi orang-orang yang tetap berada di lingkaran terdekat hanya berkisar di angka 50, lalu membesar menjadi 150, 500, dan seterusnya.

     

    C: Pertanyaan berikut mungkin jadi salah satu masalah yang sering dihadapi banyak pengguna Path – kenapa aplikasi Path sering crashed di mobile phone ya?

    CS: Untuk para pengguna iPhone, masalah tersebut jarang terjadi. Tapi untuk para pengguna Android, aplikasi Path memang kadang mengalami gangguan yang saat ini masih terus diperbaiki oleh tim teknis kami.

     

    C: Apalagi yang menarik dari Path di masa mendatang?

    CS: Kami juga selalu berinovasi dengan stiker-stiker yang ada di Path Talk. Misalnya beberapa bulan lalu saat Hari Kemerdekaan Indonesia, Path mengeluarkan beberapa stiker yang sangat Indonesia.

     

    C: Bisakah Path mengeluarkan fitur untuk men-untag sebuah post? Terkadang cukup menjengkelkan jika pengguna di-tag untuk sebuah post yang menurut mereka kurang menarik.

    CS: Hahahaha! We’re working on it. So just wait. Beberapa aksi pun sudah kami kerjakan berdasarkan feedback dari banyak pengguna, seperti menghilangkan notifikasi Visit di Path karena beberapa pengguna merasa hal tersebut cukup memalukan, hahahaa… (Vidi Prima / SW / Image: dok. Molly DeCoudreaux)