Celebrity

Ardhito Pramono, Musisi Jazz Baru Indonesia

  by: Alvin Yoga       23/10/2018
  • Di atas panggung, Ardhito Pramono mungkin dikenal sebagai seorang musisi muda dengan genre musik jazz-nya yang khas. Namun di belakang panggung, ia ternyata seorang koki yang sangat percaya dengan ramalan bintang (FYI, ia seorang Gemini sejati!). Ingin lebih mengenal sosok penyanyi pria satu ini? Simak wawancara eksklusif Cosmo dengan Ardhito Pramono!


    Cosmopolitan (C): Hai Ardhito! Selamat ya, Anda berhasil masuk dalam nominasi Anugerah Musik Indonesia.



    Ardhito (A): Hai Cosmo! Terima kasih. Sejujurnya saya cukup terkejut bisa masuk dalam nominasi tersebut. Saya harap penghargaan ini bisa memicu saya untuk membuat musik yang lebih baik lagi.


    (C): Sejak kapan Anda memutuskan untuk serius bermusik?

    (A): Sebenarnya baru sejak 2016. Saat itu saya memutuskan untuk berhenti kerja dan serius di dunia musik.


    (C): Apa yang membuat Anda mengambil keputusan itu?

    (A): Saya bukan tipikal orang yang bisa bekerja di bawah pressure seorang atasan, selain itu pekerjaan saya saat itu juga sering berhubungan dengan deadline. Hal inilah yang memutuskan saya untuk berhenti bekerja dan serius jadi musisi. Nah, setelah menjadi musisi, anehnya pressure itu tetap ada, namun kali ini asalnya dari dalam diri saya sendiri. Menurut saya, hal ini justru lebih menantang.


    (C): Anda memilih genre jazz, aliran musik yang jarang diambil oleh musisi muda lainnya. Ada alasan tertentu mengapa Anda mengambil genre tersebut?

    (A): Basically, musik jazz membuat saya bebas ingin menulis lagu mengenai apapun. Saya jadi bisa “curhat” soal keadaan pribadi. Semisal, saya bisa saja menulis lagu mengenai keadaan ketika saya sedang tidak punya uang. Atau ketika saya jatuh cinta di saat yang kurang tepat. Semua bisa dituangkan menjadi sebuah karya seni.


    (C): Siapa inspirasi Anda dalam bermusik?

    (A): Sebenarnya ada satu musisi jazz tanah air yang sangat menginspirasi saya, meski saya akui beliau memang agak oldies. Saya tebak Anda pasti tidak kenal dengan Sam Saimun. Beliau adalah musisi jazz keroncong dari zaman 1950an. Ia adalah influence saya dalam bermusik. Untuk musisi luar, saya suka mendengarkan karya Dave Tull. Ia drummer yang sangat honest, dan lagu-lagunya kebanyakan bercerita mengenai kehidupannya. Seperti struggle-nya sebagai musisi yang terkadang tidak punya uang, dan sebagainya.


    (C): Pernah terpikir untuk menjajal genre lain?

    (A): Jelas pernah. Sebenarnya dulu ketika masih di bangku sekolah, saya lebih sering berkecimpung di musik alternative rock, semisal membawakan lagu-lagu Radiohead. Sampai sekarang pun ketika di atas panggung, saya masih suka membawakan lagu-lagu Sondre Lerche. Efek distorsi musiknya memang sangat “gue banget”.




    (C): Adakah keinginan untuk bereksperimen lebih dalam dunia musik?

    (A): Sebenarnya saya ingin sekali membuat aksi-aksi teatrikal, namun tetap dengan chord jazz classic. Semoga suatu saat nanti bisa terealisasikan.


    (C): Anda menulis lagu-lagu Anda sendiri. Dari mana inspirasinya?

    (A): Hmm, kalau untuk lagu-lagu saya sebelumnya, biasa saya ambil dari kenangan masa lalu.. Tapi belakangan ini saya lebih sering digging dari regular basis. Semisal keadaan Jakarta yang macet banget, atau mengapa Kota Bekasi terasa seperti ujung dunia padahal sebetulnya tidak, dan sebagainya. It’s just the simplest issue in life that makes you interesting.


    (C): Dari semua single yang pernah Anda buat, adakah satu yang jadi favorit?

    (A): Mungkin Bitter Love. Lagu itu sebenarnya saya buat under pressure, karena saya sedang dikejar dengan deadline. Namun turns out lagu itu menjadi salah satu yang terbaik. Seperti yang saya bilang, pressure dari diri sendiri justru membuat saya jadi lebih tertantang. Nah, yang membuat saya senang, setiap kali saya bertemu dengan kerabat dekat, mereka akan berkata bahwa lagu ini yang paling menggambarkan diri saya. Ada sisi pop, jazz, dan jati diri saya di lagu tersebut.


    (C): Bagaimana soal album Anda berikutnya?

    (A): Desember ini saya akan mengeluarkan sebuah EP, dan album ini akan sedikit berbeda dari karya-karya saya yang sebelumnya. Karena kalau biasanya saya menyusupkan alunan piano di depan, sekarang saya menjajal gitar nylon untuk pembukanya. Akan sedikit berbeda tentunya, tidak terlalu jazz, dan ada unsur folk-nya.


    (C): Akankah ada kolaborasi di album tersebut?

    (A): Inginnya seperti itu, namun masih belum pasti. Ajakan untuk kolaborasi sebenarnya sudah ada dari beberapa kerabat musisi lain, seperti Rendy Pandugo, Teddy Adithya, dan lainnya. Saya juga berharap bisa co-writing bersama mereka. Namun jadwal mereka yang cukup padat membuat saya belum bisa menentukan waktu yang tepat.






    (C): Kalau Anda hanya bisa memainkan satu alat musik saja seumur hidup, apa instrumen yang akan Anda pilih?

    (A): Piano. Stereotype banget, ya. Tapi menurut saya piano itu memang ngangenin. Begini, ketika saya lama tidak bermain gitar, rasanya akan biasa saja. Tapi kalau saya lama tidak bermain piano, sensasinya ada yang berbeda. Every single detail about piano, the hammer, the tuts, the blacks, semuanya bisa membuat Anda kangen.


    (C): Apakah piano instrumen pertama yang Anda pelajari?

    (A): Bukan, yang pertama itu drum. Dulu saya sempat les drum selama SMP, setelah itu saya belajar gitar secara autodidak. Barulah setelahnya saya mempelajari piano dari majalah musik chord yang dulu sering dijual di toko buku. Saya lebih suka “mengotak-atik” musik sendiri dibandingkan les.


    (C): Selain bermusik, apalagi yang Anda suka?

    (A): Saya sebenarnya suka sekali memasak, dan baru-baru ini saya membuat konten soal memasak di media sosial. Hahaha. Nama kontennya Masak Musik, dan di sana saya membuat hidangan sambil berbicara soal musik.


    (C): Dari mana Anda belajar memasak? Autodidak juga?

    (A): Betul sekali, dulu saya sempat kuliah dan tinggal sendiri di Australia. Di sana, saya merasa membeli makanan di luar membutuhkan bujet yang besar. Jadi saya memutuskan untuk belajar memasak. Awalnya saya belajar baking, baru kemudian mempelajari resep-resep makanan yang lebih rumit terus masak.


    (C): Bagaimana reaksi orang-orang yang pernah mencoba masakan Anda?

    (A): Mereka bilang kalau saya lebih berbakat memasak. Hahaha. Ketika saya membuat kontek memasak tersebut, kebetulan saya hanya menggunakan microwave. Menunya pun cukup mudah hanya sekadar tortilla dan brownies, namun mereka berkata bahwa makanan tersebut luar biasa enak. Senang rasanya jika mereka bisa menikmati karya saya yang lain.




    (C): Apa salah satu kebiasaan Anda yang tidak kebanyakan orang tahu?

    (A): Saya sebenernya moody. Mungkin karena bintang (horoskop) saya gemini, jadi saya sangat moody. Meski mungkin tidak saya tunjukkan di depan umum, namun deep down saya moody banget.


    (C): Anda sepertinya percaya sekali dengan horoskop.

    (A): Mantan dan kekasih saya horoscope minded banget, jadi lama kelamaan saya pun ikut horoscope minded. Bahkan anak-anak kantor saya pun seluruhnya percaya zodiak.


    (C): Kalau Anda bisa memiliki satu superpower, apa yang Anda inginkan?

    (A): Hmm, mungkin kemampuan untuk teleport seperti film Jumper. Pindah dari satu negara ke negara lain. Saya sering banget bermimpi untuk ke Tibet atau Amsterdam, dan karena saya tidak mau repot-repot membeli tiket dan menunggu pesawat, rasanya seru jika saya bisa teleport.


    (C): Last but not least, apa sih tipe kencan favorit Anda?

    (A): Saya bukan tipe orang yang spontaneous, jadi mungkin kencan favorit saya adalah hangout di halaman belakang, having a feast, dan saya yang jadi kokinya. That’s my dream date.


    Fotografer: Hadi Cahyono

    Makeup Artist: Budi Valentino

    Wardrobe: MORAL, H&M

    Penulis dan Stylist: Alvin Yoga / FT