Lifestyle

@Girleatworld Berbagi Travel Diary untuk Eksplor Yordania

  by: Givania Diwiya Citta       10/10/2019
  • Melissa Hie sang penggemar kegiatan solo traveling di balik akun Instagram @girleatworld (yang mouth-watering!) serta blog www.girleatworld.net, berbagi travel diary miliknya selama melakukan trip penuh local insight plus local delicacies di Yordania. 


    Day 1




    9:45 AM: Setelah singgah sebentar di Dubai, akhirnya saya tiba di tujuan: Queen Alia International Airport di Amman, ibukota negara Yordania! Saya pun melewati imigrasi dan tak perlu waktu lama, saya keluar dan siap mengecap rasa pertama di Yordania.

    11:00 AM: Saya menaiki taksi untuk berputar sedikit – dan singgah di toko telekomunikasi lokal. Tip teratas saya untuk traveling? Selalu pastikan Anda terhubung dengan internet. Jadi saya membeli kartu SIM prabayar yang punya paket data lokal, cukup untuk tujuh hari saya di Yordania (malah dengan koneksi yang baik, lho. Meski sempat hilang sinyal di pegunungan, tapi selebihnya koneksinya kuat dan cepat).

    11:30 AM: Saya tiba di tempat menginap, yang berlokasi di Jebel Al Weibdeh, yang sekaligus menjadi area paling berbudaya di Amman, saya jadi tak sabar untuk eksplor.

    1:00 PM: Pemberhentian pertama saya adalah Rainbow Street, tak lain lagi adalah untuk falafel sandwich legendaris di Al Quds Falafel. Ini adalah pemberhentian WAJIB di Amman – saya bahkan tidak lapar, tapi saya berhasil menghabiskan satu sandwich penuh sendirian. Bahkan, masih muat untuk dessert dari Gerard Ice Cream yang berada di ujung jalan. Saya merekomendasikan es krim Arabic Gum untuk sentuhan rasa lokal.


    4:00 PM: Saat sore menjelang, saya menyempatkan diri mengunjungi Wild Jordan Center. Saya dengar inilah tempat terbaik untuk melihat pemandangan Amman, dan…ternyata benar! Saya tak kecewa sedikit pun dengan apa yang saya saksikan.

    7:00 PM: Masih di Jebel Al Weibdeh, saya menuju Fakhreldin untuk sebuah mezze dinner. Mezze itu terdiri dari penganan kecil untuk dicicipi, layaknya tapas di Spanyol atau dimsum di Asia. Saya menyantap semua yang tersaji di depan saya, tapi favorit personal saya adalah Hummus yang sangat creamy (tentu saja!) dan hidangan ati ayam dengan molasses – yang mengingatkan saya pada kecap Indonesia, rasanya seperti sedang menyantap ati ayam goreng di rumah!

    10:00 PM: Sangat kenyang dari makan malam tadi dan masih sedikit jetlag, saya kembali ke hotel. Saya harus istirahat dan mengalahkan jetlag untuk besok!


    Day 2


    9:00 AM: Saya terbangun segar dan memimpikan Hummus.

    10:00 AM: Syukurlah, mimpi Hummus saya segera terrealisasikan berkat sarapan di Hashem, salah satu restoran tertua di Yordania. Dan tak dapat dipungkiri, di sini terdapat salah satu hummus terbaik yang pernah saya cicipi dalam hidup. Hashem mungkin tampak sederhana, tapi jangan tertipu dengan tampilannya. Rumor bilang kadang Anda bisa mendapati para bangsawan Yordania bersantap di sini, lho!


    11:30 AM: Dengan perut yang penuh akan hummus dan falafel, saya menuruni downtown Amman untuk mengisi hari dengan sejarah. Pemberhentian pertama, Amman Citadel. Anda tak akan menduga bisa menemukan struktur Romawi di sini, setidaknya itu yang saya pikirkan. Ternyata Amman Citadel mampu memutar waktu ke masa kependudukan Romawi di Amman pada 162 Masehi.

    2:00 PM: Setelah beberapa jam mengeksplorasi citadel, saya berjalan kaki ke Al Balad alias Downtown Amman, dan menyusuri pasar tradisional di sana. Saya juga singgah di Habibah Sweets untuk perdana mencicipi Knafeh, dessert Timur Tengah yang terbuat dari keju, kacang tanah, pistachio, dan dilumuri sirup manis. It’s basically heaven.

    6:00 PM: Setelah seharian berjalan kaki, saya harus mengisi amunisi lewat makan malam lezat. Saya pun mengunjungi Shawarma Street, tepatnya di Al-Fadl Ben Al-Hasan St on 7th circle. Shawarma Wrap adalah hidangan Timur Tengah lainnya yang sangat lezat dan telah diadopsi ke berbagai penjuru dunia. Banyak sekali stall yang ada di sini, tapi yang paling populer adalah Reem dan Bashka.

    9:00 PM: Kembali ke hotel, lelah namun bahagia.


    Day 3


    8:00 AM: Saya bangun lebih awal dan siap sarapan di hotel, yang tentunya ada menu… hummus! Hidangan emas milik Timur Tengah. Hari ini spesial karena saya akhirnya akan mengeksplorasi Yordania di luar Amman. Destinasi selanjutnya? Laut Mati yang tersohor.

    11:00 AM: Tiba di Kempinski Ishtar di Laut Mati. Kebanyakan pantai di Laut Mati diisi sederet resor bintang lima, yang punya porsi private beach masing-masing.

    1:30 PM: Saya sudah berganti dalam swimsuit dan siap untuk perdana mencelupkan diri di Laut Mati! Mengapung di lautan rasanya aneh, tapi sekaligus menenangkan karena kadar garam dalam airnya mengangkat Anda tanpa beban. Tapi mungkin Anda tak ingin berlama-lama di air terlalu lama. Karena kulit saya mulai terasa geli dan gatal setelah lima menit di dalam air, jadi saya cepat-cepat keluar dan melumuri tubuh saya dengan lumpur. Kandungan mineral dalam lumpur dari Laut Mati katanya bagus untuk kulit!

    3:00 PM: Resor di sepanjang Laut Mati kebanyakan inclusive, dan ukurannya LUAS sekali. Di Kempinski Resort sendiri saja, ada lima kolam renang yang bisa dieksplor – jadi itulah yang menghabiskan hari saya.


    Day 4


    8:00 AM: Saya menerima wake up call lebih awal hari ini, karena akan berkendara jauh ke selatan…untuk mengunjungi Dana Biosphere Reserve, cagar alam terbesar Yordania seluas 308 km2. Dana terkenal sebagai rumah bagi keragaman tumbuhan, burung-burung, dan mamalia.

    11:00 AM: Destinasi selanjutnya adalah Wadi Mujib untuk menyaksikan ngarai yang tinggi, setinggi bangunan-bangunan kota di tempat tinggal saya, Singapura. Tidak terlalu banyak waktu untuk dihabiskan di sini, jadi hanya sempat berfoto lalu melanjutkan berkendara.



    3:30 PM: Akhirnya sampai di Dana Biosphere Reserve! Jika Anda pencinta alam, Anda pasti bahagia di sini. Saya dan rombongan tur lokal menginap di Dana untuk berkemah – meski menurut saya, ini adalah “glamping” karena tenda di sini sudah siap sedia bahkan dengan kasur di dalamnya. Di sini, Anda bisa mendaki sekitaran cagar alam atau menyinggahi Dana Village, yang katanya telah dihuni sejak tahun 4000 SM.

    6:00 PM: Apa artinya berkemah tanpa sesi api unggun? Semua orang yang berkemah di sini mulai menyalakan api unggun, dan kami pun duduk di sekitarnya mengenakan selimut dan menyesap teh hangat sampai suhu semakin turun saat malam menjelang. Saya masuk ke dalam tenda setelah pukul 9.


    Day 5


    8:00 AM: Harus bangun lebih pagi lagi hari ini! Tapi tak apa, karena hari ini kami akan menuju salah satu destinasi yang telah saya nantikan di Yordania – Petra the Rose City. Kota kuno Petra telah menjadi simbol Yordania, dan tidak mengejutkan mengapa begitu – karena penuh keagungan.

    10:00 AM: Selama perjalanan menuju Petra, rasanya saya bisa sedikit mengerti perbincangan penumpang lain di sekitar saya (mereka berbincang dalam bahasa Arab). Dan hal ini karena…well, bahasa Indonesia mengadaptasi berbagai kata dari bahasa Arab! Mungkin hanya satu atau dua kata saja, tapi karena Indonesia mengadaptasi kata-kata pentingnya, jadi saya cukup bisa menyerap konteks perbincangannya. Mengingatkan saya bahwa sesama manusia haruslah saling respek, karena kita mengambil inspirasi dari satu sama lain!



    1:30 PM: Saya tiba di Petra, dan mencentang bucket list kedua saya di Yordania – yaitu melihat The Treasury (Al-Khazneh). Untuk menuju ke sini, Anda harus berjalan kaki menyusuri Siq sepanjang 1,2 kilometer, yaitu ngarai sempit selaku pintu masuk Petra. Saya dipenuhi penantian, dan setelah 20 menit menyusurinya, saya mulai bertanya-tanya kapan akan sampai di Petra. Tapi ternyata semuanya worth it, ujung Siq yang menyingkap The Treasury sangat magis!

    3:30 PM: Saya pun bisa melihat must-see lain di Petra – The Monastery (Ad Deir). Untuk melihat yang satu ini pun harus berjuang lebih karena lokasinya hampir berada di ujung kota, tapi worth it! Situs ini JAUH lebih besar daripada The Treasury.

    6:00 PM: Saya pun meninggalkan Petra dan kembali ke hotel. Petra sebenarnya memang tutup setelah pukul 6 malam, dan semua tamu diharuskan untuk meninggalkan area.

    8:30 PM: Saya kembali ke Petra untuk sebuah show di malam hari – Petra by Night, yang menampilkan storytelling dan kekaguman terhadap The Treasury dalam candlelight romantis.


    Day 6


    8:00 AM: Saya tidak akan bohong, saya mulai merasa lelah dari semua early wake up call ini, tapi saya tidak ingin melewatkan satu pengalaman pun di Yordania. Jadi bangunlah saya!

    11:00 AM: Saya tiba di destinasi terakhir di Yordania – Wadi Rum, salah satu padang pasir paling dramatis di dunia. Berkat medan yang ekstrem ini, membuat Wadi Rum tampak extraterrestrial. Lokasi ini juga menjadi latar untuk film The Martian dan Lawrence of Arabia. Hari ini, saya menginap di Bedouin camp tradisional di tengah gurun!

    1:00 PM: Saya mengikuti tur dengan menaiki 4WD mengitari gurun. Saya sangat merekomendasikan ini, karena tak akan bisa mengeksplorasi gurun dengan cara lain – karena Anda tak bisa berjalan kaki atau berkendara seperti biasa di sini.

    5:30 PM: Setelah beberapa jam istirahat, saya bersiap untuk mengikuti tur naik unta saat senja. Matahari tenggelam di gurun benar-benar indah. Tapi tetap hati-hati saat mengendarai unta, pastikan Anda menjaga keseimbangan agar tidak jatuh dari unta!

    8:00 PM: Akhirnya makan malam yang ditunggu lama tiba, yaitu Zarb, Bedouin BBQ yang dimasak di bawah tanah. Sukses menjadi salah satu penganan paling berkesan di Yordania.


    Day 7


    10:00 AM: Sayangnya, hari ini adalah hari terakhir saya di Yordania :-( Saya berkendara kembali ke Amman yang ditempuh selama empat jam. Terdengar perjalanan yang panjang memang, tapi sebenarnya cukup pendek, mengingat butuh empat hari hingga saya tiba di gurun ini.

    3:00 PM: Saya tiba kembali di Amman, dan waktunya terbang pulang ke Singapura.


    What I learned from from Jordan Trip


    Trip ke Yordania menjadi pengalaman pertama saya mengunjungi negara di Timur Tengah, terlepas dari semua transit di Dubai yang pernah saya singgahi. Dan jujur, saya belajar banyak tentang Yordania dari trip ini! Mulai dari fakta bahwa ia memiliki sejarah Kekaisaran Romawi zaman dahulu, hingga bagaimana bahasa ibu saya (Bahasa Indonesia) mengadaptasi bahasa Arab, sekaligus bahasa lainnya. Saya tak pernah gagal terkesan akan bahasa, bahwa kata demi kata telah traveling dan berevolusi, dan seperti yang saya bilang sebelumnya, bahasa menjadi pengingat penting bagaimana manusia menghormati satu sama lain, karena kita semua saling terinspirasi dan menginspirasi! Dan meski kali ini selama di Yordania saya dipandu oleh tur lokal, namun saya merekomendasikannya untuk bisa mendapat local insights yang mendalam. Tip teratas saya bagi solo traveler baik yang mengikuti tur atau bereksplorasi sendiri, selalu kabari seseorang di rumah di mana pun keberadaan Anda. Dan beli SIM prabayar lokal, jadi Anda selalu punya internet setiap saat. Serta bawa baterai ekstra hingga tak perlu kehabisan daya. Lalu, meski bepergian dengan tur lokal, selalu risetlah terlebih dahulu sebelum bepergian, karena Anda harus selalu siap dengan rencana A, B, C, dan seterusnya.


    (Penulis: Melissa Hie/GD / Image: Melissa Hie / Layout: S. Dewantara)