Celebrity

Baskara Mahendra Ungkap Isi Hatinya Dalam Karier dan Asmara

  by: Alvin Yoga       14/10/2019
  • Meski masih tergolong aktor pendatang baru, pria kelahiran Jakarta ini berhasil membuktikan pada Cosmo bahwa ia tak bisa dipandang sebelah mata. Baskara Mahendra tahu apa yang ia inginkan dan apa yang harus ia lakukan – baik di depan maupun di balik layar. Simak wawancara eksklusif Cosmo dengan pria 26 tahun tersebut di bawah ini.

     

    Selamat untuk film terbaru Anda, Bebas. Peran Anda terlihat sangat menyenangkan di layar. Apakah sejak kecil Anda memang sudah ingin memulai karier sebagai aktor?

    Kalau pertanyaannya apakah saya ingin berkarier di dunia perfilman, jujur saja sebetulnya hal tersebut tidak pernah terpikir di benak saya. Sejak kecil saya tak pernah berpikir ingin berkarier sebagai aktor. Saya justru pernah berkarier sebagai karyawan kantoran, seperti kebanyakan orang pada umumya.



    Awal mula saya tertarik untuk berkecimpung di dunia ini adalah ketika diajak untuk berkarya pada 2016 pertengahan – ajakannya saat itu adalah untuk berkarya. Jadi saya sempat dijelaskan sedikit mengenai keadaan perfilman Indonesia, dan saat itu disebutkan bahwa Indonesia sedang butuh banyak aktor baru untuk bisa diajak berkarya bersama.

    Dari situlah saya mulai tertarik untuk berakting. Saya pikir, “Dicoba saja dulu.” Karena ajakannya toh, untuk berkarya dan demi industri perfilman Indonesia. Berangkat dari hal itu, dari yang awalnya tidak mengerti sama sekali mengenai perfilman, saya mulai belajar sedikit demi sedikit, sampai akhirnya, yaaa, ternyata saya bisa lho, berakting.


    Kapan Anda menyadari bahwa berkarier sebagai aktor akan menjadi pilihan hidup Anda?

    Hmm, ketika diajak untuk bermain dalam sebuah iklan, saya masih belum terpikir bahwa hal ini akan menjadi pilihan hidup saya. Begitu pun ketika saya diajak untuk modelling – saya merasa kurang cocok dengan dunia modelling – sampai akhirnya saya mendapat peran pendukung di film besutan Upi (Upi Avianto, sutradara), My Generation. Itu adalah film pertama saya, dan meski perannya kecil, saya belajar banyak mulai dari post production sampai tahap promo. Dari sinilah saya akhirnya memutuskan untuk lebih serius di dunia ini, dan mulai berganti dari pekerja kantoran menjadi pekerja seni.


    Cosmo pikir Anda memulai karier dari web series.

    Sebetulnya ya, awalnya saya bermain di web series. Namun lucunya, web series pertama yang saya perankan justru pada akhirnya tidak pernah tayang sampai sekarang. Hahaha.


    Sebagai aktor, adakah film-film Indonesia favorit Anda?

    Secara pengambilan gambar dan scoring, saya suka sekali dengan Sang Penari, akting Prisia Nasution se-keren itu di film tersebut. Film Kucumbu Tubuh Indahku juga salah satu favorit saya. Tapi satu-satunya film yang berhasil bikin saya mewek di bioskop adalah 27 Steps of May. Saya jarang sekali menangis ketika menonton film, tapi film yang satu ini berhasil membuat saya tersentuh.


    Menurut Anda, genre film seperti apa yang sulit untuk dimainkan?

    Menurut saya, film yang paling sulit dimainkan adalah film biopik, apalagi kalau karakter yang saya mainkan masih hidup. Setiap orang pasti punya ekspektasi tersendiri terhadap karakter tersebut, karena setiap orang masih bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri karakter itu seperti apa, cara berjalannya seperti apa, cara bicaranya bagaimana dan sebagainya.

    Berbeda dengan memerankan karakter dari novel, karena meski setiap orang memiliki “bayangan” masing-masing untuk karakternya, tapi tidak ada gambaran persis mengenai karakternya. Lebih mudah lagi memerankan karakter yang memang diciptakan untuk sebuah film, karena lebih bebas untuk mengeksplor karakternya.


    Kalau begitu, adakah genre film tertentu yang ingin Anda coba?

    Sebenarnya saya ingin mencoba bermain di genre action, tapi masalahnya saya belum mempunyai kemampuan di bidang martial art. Pasalnya, genre horor sudah pernah saya mainkan, romantis dan drama sudah sering, komedi sudah mencoba, film soal Pancasila pun sudah. Jadi saya penasaran dengan action, terutama yang full-packed action.


    Mari bicara soal film terakhir Anda, Bebas, seperti apa peran Anda di film tersebut?

    Sedikit cerita mengenai filmnya, kisahnya sendiri mengenai sebuah geng di tahun 1995 yang beranggotakan enam orang – lima perempuan dan satu lelaki – dan diadaptasi dari film Korea berjudul Sunny. Nah, peran yang saya mainkan, Jojo, memiliki karakter dengan mulut paling nyinyir – ia satu-satunya lelaki di geng itu, tapi justru dia yang paling nyinyir. Menurut saya, di sinilah letak kemiripan saya dengan Jojo: Nyinyir, berisik, ramai, dan straightforward saat ngomongin orang.


    Apa tantangan terbesar Anda ketika memainkan film Bebas?

    Karena film ini bercerita mengenai dua periode waktu, yaitu di tahun 1995 dan 2019, saya rasa di situlah letak kesulitannya. Dua orang yang berbeda harus memerankan karakter yang sama. Ketika proses reading, saya dan Baim Wong (peran Jojo di tahun 2019 diperankan oleh Baim Wong) membuat banyak keputusan, dan kami membentuk karakternya dari nol, siapa dan seperti apakah Jojo ini.

    Awalnya saya dan Baim masing-masing diberikan kertas untuk menulis sendiri biografi Jojo: saya diminta untuk menuliskan apa nama panjang Jojo, kapan ia lahir, apa zodiaknya, apa makanan kesukaannya, dan sebagainya. Kemudian jawabannya dicocokkan dan dicari titik tengahnya: karakternya akan seperti apa. Dari sini barulah kita mainkan peran Jojo.

    Kesulitannya, saya harus berbagi peran dengan orang lain, di saat saya biasanya bebas mengeksplor sendiri sebuah karakter. Tantangan inilah yang unik dan jarang ditemui di film lain.




    Sebagai aktor muda, apa harapan Anda terhadap dunia perfilman Indonesia?

    Harapannya sih, film Indonesia bisa lebih beragam. We know, at the end of the day, film itu memang soal berbisnis, apa genre film yang laku, mana yang kurang laku di pasaran. Tapi kalau setiap orang berpikir seperti itu, film Indonesia akan “seragam” semua. Yang akan ada di pasaran genre-nya itu-itu saja, dan yang laku itu-itu saja – saya bicara seperti ini tentu tanpa mendiskreditkan genre tertentu.

    Harapannya, akan ada lebih banyak orang yang berani untuk memproduksi dan merilis film-film yang tidak melulu harus komersil atau sedang laku di pasaran. Harapannya, akan ada lebih banyak penulis yang menulis sebuah karya baru, tanpa harus banyak berpikir apakah filmnya akan laku di pasaran atau tidak. Harapannya – terutama – film Indonesia bisa lebih beragam dan membuat penonton tidak bosan untuk menonton film lokal di bioskop. Toh, tidak mungkin kan, kita menonton film romantis terus, atau film horor terus. Saat ini, ketika ada satu film yang laku banget di pasaran, seakan-akan film lain mengikuti genre yang sama seperti itu juga. Padahal, semakin banyak film yang idealis, semakin banyak karakter seru yang bisa dimainkan oleh para aktris-aktor Indonesia.




    Mari bicara mengenai relationship. Kapan biasanya Anda menyadari kalau ada perempuan yang menyukai Anda?

    Bagi saya, mata benar-benar berbicara. Saya cukup sensitif jika ada perempuan yang menyukai saya, karena semuanya terlihat dari mata.


    Bagaimana Anda biasa mendekati perempuan yang Anda sukai?

    Ahaha. Saya termasuk pria yang cupu, percayalah, saya tidak tahu bagaimana cara mendekati perempuan. Untuk membuat first move – semisal untuk memulai chat saja – saya takut. Maka dari itu, kebanyakan perempuan yang kini menjadi mantan saya awalnya adalah sahabat saya. Jadi biasanya kami memang sudah kenal sebagai seorang teman.

    Saya tak pernah berani make a move, seperti berkenalan. Biasanya saya mulai sadar bahwa saya suka dengan seorang perempuan ketika pembicaraan kami ternyata “satu frekuensi”, dan saya nyaman dengan dia. Dari situlah saya baru mulai mendekati si dia, dari yang nongkrong ramai-ramai sama teman-teman, saya ajak berdua. Jujur, saya tidak pandai mendekati perempuan.


    Apa yang membuat Anda luluh dengan seorang perempuan?

    Ketika saya nyaman berbagi cerita dengan si dia, dan dia pun nyaman menceritakan segala sesuatunya dengan saya. Karena menurut saya, kita tak bisa membangun sebuah hubungan kalau kita tidak nyaman dan tidak saling terbuka satu sama lain.


    Apa yang membuat Anda sulit move on dari sang mantan?

    Saya termasuk orang yang move on terusss, ahahaha. Tapi kalau ditanya apa yang membuat saya berpikir ulang mengenai mantan, mungkin karena kebanyakan mantan saya tadinya adalah sahabat, saya jadi kehilangan sosok untuk diajak curhat.


    Apa penyesalan terbesar Anda dalam cinta?

    Sejujurnya pacaran dengan sahabat adalah sebuah guilty pleasure bagi saya. Sekarang ini saya berpikir, mengapa sih saya mau pacaran dengan sahabat-sahabat saya, kalau sebenarnya kami bisa jadi sekadar sahabat saja? Pada akhirnya saya mulai kehilangan sahabat-sahabat saya yang tadinya sedekat itu.


    (Alvin Yoga / FT / Image: Dok. Cosmopolitan)

    Fotografer: Insan Obi

    Makeup Artist: Claudya Christiani

    Hairdo: Puja Pani Merliani

    Wardrobe: (Outer) Uniqlo, (Sweater) Topman