Celebrity

Vino G. Bastian Buka-bukaan tentang Idealisme Film & Asmara!

  by: Givania Diwiya Citta       17/10/2019
  • Dalam sebuah wawancara eksklusif, Cosmo duduk bersama Vino G. Bastian untuk berbincang buka-bukaan tentang idealismenya dalam film, dream project miliknya, sampai hal paling personal dalam hidupnya – asmara. 


    Hai, Vino! Apa upcoming project kamu?

    Masih proses shooting film biopik Buya Hamka yang rencananya akan tayang di tahun depan. Tahun ini memang saya tidak mengeluarkan film apapun, karena saya sengaja mengambil jeda agar tahun depan bisa lebih tampak fresh




    Ingatkah first job pertama kamu dalam akting?

    Film 30 Hari Mencari Cinta. Awalnya saya casting untuk pemain skateboard, karena saya bisa main skate meski tidak jago-jago amat. Ternyata saya justru dapat peran yang lain! Awalnya saya kelabakan, tapi karena karakter tersebut sangat unik, setelah memainkan film itu, saya justru dapat banyak tawaran lain untuk film. 


    Apakah dari awal kamu tahu bahwa kamu ingin menjadi aktor?

    Tidak, karena akting awalnya hanyalah coba-coba bagi saya. Saat masuk film kedua, Catatan Akhir Sekolah, saya agak bimbang. Saya baru saja lulus kuliah, dan apply magang ke perusahaan oil. Ternyata, saya mendapat panggilan untuk training di perusahaan tersebut di Selandia Baru. Namun karena di awal saya sudah kontrak duluan dengan film Catatan Akhir Sekolah, akhirnya saya memutuskan untuk menjalani filmnya. Pikir saya, jika rezeki saya di perusahaan oil itu, pasti akan ada panggilan lagi. Namun yang terjadi justru panggilan untuk film datang lebih banyak. Kenyataannya, saya sangat menikmati pekerjaan akting ini, meskipun berbeda jauh dari jurusan kuliah Teknik Kimia saya.


    Apa yang paling kamu sukai dari berakting?

    Bisa bergonta-ganti peran mulai dari menjadi jagoan, playboy, sampai pemuka agama. Namun saat sudah menjadi kepala keluarga, saya tidak lagi bisa se-idealis dulu untuk mengambil peran yang hanya saya inginkan saja. Sekarang saya mulai belajar bahwa peran itu sebenarnya yang menghidupkan adalah aktornya, jadi jika karakternya biasa saja, tugas sayalah yang harus menghidupkannya jadi bagus. Jadi idealisme pun harus berjalan beriringan.


    Dalam idealisme kamu, apa karakter atau film yang sangat ingin kamu mainkan?

    Entah kenapa, saya selalu paling senang dengan film tentang orang tua dan anak. Padahal saya tidak punya latar keluarga yang berantakan – saya bahkan tahu tentang dunia film dari ayah. Lalu jika diminta bantuan untuk menuliskan naskah, pasti ide cerita yang saya gagas adalah tentang hubungan orang tua dan anak. Tapi untuk karakter, saya tak membatasinya. Semisal saat dapat peran anak bandel, ada anak bandel di sekolahan seperti di Catatan Akhir Sekolah, atau jadi bad boy dengan struggle sebagai drug user yang sudah berumah tangga seperti dalam Radit dan Jani. Meski di awal karier saya seolah tampak hanya ambil peran bad boy, tapi saat itu saya ingin menyuarakan bahwa anak muda haruslah vocal, namun bukan dalam sisi negatif, ya. Saya hanya ingin menyampaikan pemikiran itu lewat medium film.


    Adakah keinginan untuk ekspansi peran menjadi penulis skenario atau sutradara?

    Saya belum pernah menulis satu skenario penuh, tapi banyak dari ide-ide cerita saya yang lantas dijadikan film. Seperti Realita Cinta dan Rock & Roll, itu adalah cerita berdasarkan yang saya alami di sekolah. Atau film Belenggu, film thriller hasil dari salah satu buah pikir saya. Lalu seharusnya di tahun ini ada proyek yang berlangsung namun jadwalnya harus mundur dulu, yaitu film Party Jompo yang menceritakan tentang konflik orang tua dan anak, idenya adalah dari saya dan Lukman Sardi. Akhirnya banyak yang minta bantuan saya untuk mengembangkan naskah. Saya menikmatinya! Apalagi tantangannya adalah bagaimana menciptakan win-win solution dengan produser, dan mengarahkan apakah film bisa digodog menuju bioskop atau festival.


    Mari kembali ke akting. Bagaimana cara kamu mengasah kemampuan berakting?

    Saya sebenarnya aktor yang otodidak. Saya belajar dari pengalaman yang saya jalani, baik itu dari bertemu aktor lain, mengamati hidup keseharian, atau belajar dari film lain. Beruntungnya, saat masuk film pertama kali, saya ditangani oleh tim yang benar. Dalam arti, ada sesi reading, workshop, sampai dimarahi dalam latihan akting. Saya merasa tertantang dan semangat untuk belajar dari buku, bahkan aktor-aktor baru. Saya lebih belajar untuk menguasai rasa, bukan tekniknya.


    Adakah satu orang yang kamu jadikan role model dalam industri film?

    Mendiang Didi Petet. Kami sempat main bareng dalam film Madre, tapi saya menonton filmnya dari dulu. Ia adalah satu aktor yang bisa membuat suatu karakter hidup sepanjang masa. Contohnya Emon, Kabayan, hanya dia yang bisa melakukannya. Ia juga punya rasa dan teknik yang tinggi di seni peran. Bahkan ia aktor pantomim! Ia adalah paket lengkap. Saya jauh lebih kagum terhadapnya saat saya bertanya padanya, bagaimana cara main yang baik dan benar? Ia menjawab, “Kamu harus bisa membuat lawan main kamu bermain lebih bagus.” Saya tersadar, karena jika kita bisa service lawan main sehingga ia bermain bagus, maka secara tidak langsung, kita pun ikut bermain dengan baik. Saya belajar bahwa saya tidak main sendirian, harus solid dengan tim tanpa harus mengecilkan aktor-aktor lainnya. Itu yang selama ini saya pegang sampai sekarang. Bahkan saat saya punya anak, tanggal lahirnya sama dengan beliau! Saya juga ingat saat saya baru kerja beberapa hari dalam film bersamanya, ia sudah hadir di pernikahan saya dengan Marsha (Timothy). Ia sungguh aktor yang hebat, bukan hanya di depan kamera, tapi juga dalam kehidupan nyata.




    Kalau bisa mengajak satu aktor atau aktris untuk membuat sebuah dream project, siapakah dia?

    Istri saya. Dari dulu sejak saya bertemu dia, saya melihatnya punya energi yang sangat besar untuk film. Bahkan ternyata, ia lebih idealis daripada saya! Ia bisa mengkritisi saya lebih gila dari orang lain, ia bisa mendukung saya lebih gila daripada orang lain. Banyak orang dulu underestimate dengannya karena ia jarang ambil film, padahal ia adalah seseorang yang sangat pemilih dan perfeksionis untuk karyanya. Sampai ia meraih satu titik di mana ia memenangkan Festival Film Indonesia, memainkan Marlina, menang dua kali berturut-turut di Indonesian Movie Actors Awards, saya pun senang karena ia akhirnya menemukan peran yang sangat tepat untuknya. Jadi, mengapa saya harus cari jauh-jauh orang yang lain untuk dream project saya? 




    Sekarang mari berbincang tentang relationship. Kapan seorang pria menyadari bahwa ada seorang perempuan yang menyukai mereka? Apakah kamu peka?

    Saya bukan orang yang sensitif terhadap hal itu. Tapi menurut saya, jika ada seseorang yang bisa mengkritik saya secara membangun, saat itulah saya tahu, bahwa orang ini berbeda, hingga membuat saya merasakan hal yang berbeda terhadapnya. Dulu saya punya satu idealis yang selalu saya pegang, tapi saat bertemu Marsha dan berdebat habis-habisan tentang hal itu dengannya, ternyata idealis saya salah, ia justru membenarkan arah saya. 


    Apa hal paling memalukan yang pernah kamu lakukan demi cinta?

    Saya melamar Marsha saat kami ziarah ke makam ayahnya. Mungkin bagi orang lain, itu hal gila dan aneh! Tapi bagi saya, tidak ada yang memalukan jika kita melakukan sesuatu demi cinta.


    Seperti apa trik PDKT kamu?

    Karena dulu saya main band, semuanya berkaitan dengan musik. Dulu saya punya poster Oasis yang berjudul “Stand by Me” dan bergambar sepasang kakek-nenek. Lalu di belakang poster, saya tuliskan penggalan lirik lagu Goldfinger, “I love you more today than yesterday but not as much as tomorrow.” Saya memang tidak pernah bisa merangkai kata-kata! Lalu saya pun memberikannya pada Marsha, dan sampai sekarang poster tersebut jadi kenangan kami berdua, hingga kami pajang dan bingkai di rumah. Sepertinya dulu trik itu jitu, ya!


    Apa hal yang biasanya membuat hati kamu bisa luluh?

    Saya keras, tapi mudah luluh. Dan untuk meluluhkan hati saya, tidak perlu perjuangan berat. Semisal saat sedang bekerja, ditanyakan, “Sedang apa?” Atau saat jalan-jalan santai, ia memegang tangan saya, meski bukan berkonteks romantis. Atau saat sedang di restoran, tapi tiba-tiba disuapi. Hal-hal kecil itu yang membuat saya luluh. Dan ketika hal-hal itu tidak ada seperti saat saya sedang bekerja di lokasi shooting, saya merasa kehilangan.


    Best relationship advice from you?

    Sebenarnya di balik kata-kata yang sering kita dengar seperti komunikasi, tapi yang terpenting bagi saya adalah kita harus selalu merasa bahwa diri kita tidak sehebat itu. Dalam arti, saat kamu mengenali kelemahan-kelemahan kamu, maka itu adalah kekuatan kamu. Seperti sebelum kita membahas kelemahan pasangan, lihat dulu apa kekurangan diri sendiri. Sering kali kita punya mental, “Siapa lo?!” tapi kita jarang melihat, “Siapa gue?” Padahal kita bukanlah siapa-siapa tanpa orang-orang di sekitar kita.


    Photographer: Insan Obi

    Stylist: Dheniel Algamar

    Stylist Assistants: Yovita Pratiwi & Hendry Leo Liany

    Makeup & Hair: Apriana W. Susanto

    Wardrobe: Calvin Klein, Zara


    (Givania Diwiya / Image: Dok. Cosmopolitan Indonesia)