Celebrity

Daniel Adnan Bahas Akting, Cinta, dan "Gundala"

  by: Shamira Priyanka Natanagara       17/10/2019
  • Di balik penampilannya yang gagah, ternyata Daniel Adnan memiliki soft spot untuk seni. Aktor pendatang baru yang berdarah Ceko-Indonesia ini pun memiliki visi yang yang kuat untuk kariernya di dunia hiburan. Berikut wawancara Cosmo dengan pemeran Tanto Ginanjar dalam film Gundala, di mana ia membahas karier, harapannya, dan cinta.


    First of all, Cosmo mau mengucapkan selamat atas kesuksesan Gundala. Are you excited?

    Terima kasih! Saya sempat mengunjungi beberapa kota untuk mempromosikan Gundala. Saya senang bisa bertemu banyak orang yang menonton film ini—bahkan ada yang sudah tiga kali, dan ada juga penggemar komik Gundala yang sudah menonton berkali-kali. Seru sekali, saya yang baru menyaksikannya satu kali jadi bisa mengetahui hal-hal yang mungkin tidak saya perhatikan. 




    Bagaimana rasanya bisa bekerja dengan aktor-aktor senior dan salah satu sutradara ternama Indonesia?

    Sebenarnya ini adalah cita-cita setelah saya berperan dalam film pertama, Buffalo Boys. Dulu saya ingin sekali bermain dalam film Joko Anwar tapi tidak tahu bagaimana caranya, lalu tiba-tiba saya dipanggil untuk casting. Casting dengan Bang Joko itu selalu ngobrol dan membahas suatu topik, lebih seperti wawancara daripada casting. 


    Apa yang membuat kamu bercita-cita untuk berperan di film karya Joko Anwar?

    Karena dia selalu membuat cerita dengan latar belakang yang detail, saya rasa tidak semua orang bisa melakukan hal ini. Ia selalu menciptakan latar belakang untuk setiap karakter sehingga lebih mudah untuk dibayangkan. Ini benar-benar membantu untuk memahami peran kita secara mendalam. Saat mengobrol dengannya pada sesi casting, ia bisa membayangkan karakter yang akan kita perankan dan bikin latar belakang yang sesuai. 


    Menurutmu, apakah karakter Tanto Ginanjar cocok dengan dirimu?

    Iya, ada salah satu sisi saya yang mirip dengan Tanto Ginanjar. Sedikit berbicara, lebih banyak bertindak. Saya lebih ingin melakukan aksi dibandingkan hanya berbicara saja. Sama seperti Tanto Ginanjar, ia gemar membuat karya seni besi karena ia percaya ia bisa mengubah sesuatu di kehidupan nyata melalui kegiatan tersebut. Sama dengan saya, misalnya ketika saya ke gym, saya ke sana untuk berolahraga dan bukan untuk ngobrol. Jadi kalau ada yang mengajak berbicara, langsung saya potong pembicaraannya karena saya ingin fokus nge-gym, hahaha… 


    Apa momen paling menarik saat syuting Gundala?

    Syuting Gundala dilakukan saat musim hujan, dan karakter Gundala sendiri adalah putra petir. Ketika syuting outdoor untuk final scene, tiba-tiba benar-benar ada petir! Lighting sampai hampir jatuh, hujan semakin kencang, lalu angin juga rasanya seperti badai. Kita semua langsung evakuasi dari lokasi syuting. Namun senangnya para main cast jadi bisa ngobrol bersama.



    Selain Jagat Sinema Bumilangit, apakah kamu sedang mengerjakan proyek lain?

    Kemarin saya baru saja jalan-jalan di Pulau Bangka bersama My Trip My Adventure. Ada banyak hal yang bisa saya pelajari tentang diri sendiri, sekaligus banyak ilmu dari para warga lokal di sana.


    Back to acting, kapan kamu mulai tertarik untuk akting secara profesional?

    Mungkin saat saya masih kecil tidak pernah terbayang untuk menjadi aktor, tapi dulu saya pernah mengikuti kelas drama saat TK. Dan justru saya mengambil kelas tersebut karena hiperaktif, sering berlarian ke sana kemari, jadi saya mengikuti kelas tersebut untuk mengontrol diri. 

    Saat saya tumbuh dewasa saya semakin tertarik dengan seni visual, terutama fotografi. Saat masih tinggal di Ceko saya sering berkumpul dengan kelompok fotografer dan membuat pameran setiap tahun. Sekarang saya masih suka fotografi, tapi karena waktu, saya jadi kurang aktif.

    Kemudian saya sempat bertemu Falcon [Pictures] saat mereka syuting di Ceko dan saya terlibat dalam produksi film tersebut. Dan akhirnya Falcon mengajak saya ke Jakarta dan meluangkan dua tahun pertama untuk mengambil kelas-kelas akting, mengikuti kelas silat, kelas Bahasa Indonesia, dan bahkan kelas stage acting dengan Ari Tulang.


    Apa motivasi terbesarmu untuk menjadi seorang aktor?

    Everything. Segala hal yang datang dan pergi dari hidup saya menjadi motivasi. Dan saya senang menjadi seorang aktor, karena banyak hal yang bisa dilakukan. Saat menekuni fotografi, saya tidak suka diberi label ‘fotografer’ karena terkesan seakan-akan saya akan menjadi fotografer seumur hidup, tapi kalau diberi label aktor tidak masalah. Aktor bisa menjadi apa saja. Satu hari saya bisa menjadi rockstar di panggung, lalu keesokan harinya saja bisa menjadi seorang bapak.


    Genre film apa yang paling ingin kamu coba?

    Komedi atau drama romantis. Sebenarnya dari dulu saya ingin mencoba film komedi, tapi nanti semua orang akan memberi label komedian, sedangkan saya ingin dikenal sebagai aktor, terlepas dari genre film yang saya mainkan.




    How do you see yourself in five years? Apakah kamu punya cita-cita yang ingin dicapai?

    Oh, tentu saja harus sudah tampil di film yang tayang di Hollywood, hahaha… Selain itu juga Netflix! Saya ingin tampil di film atau serial Netflix Originals. Dan untuk sutradara, sepertinya menarik untuk bisa disutradarai Quentin Tarantino, Robert Rodriguez, atau Darren Aronofsky yang filmnya agak “gila” dan memiliki sisi gelap. 


    Kapan seorang pria menyadari kalau ada seorang perempuan yang menyukai mereka?

    We can sense it. Semisal kita berada di satu ruangan bersama perempuan tersebut, kita bisa merasakan ketika ia melirik kita. 


    Bagaimana kamu mendekati perempuan yang kamu sukai?

    Ketika saya sudah yakin bahwa saya benar-benar menyukai perempuan itu, akan ada dorongan sendiri untuk lebih mengenalnya. Karena menurut saya daripada saya panik, lebih baik bertindak. More action, don’t think too much.


    Apa yang membuat kamu jatuh cinta pada seorang perempuan?

    Biasanya karena kita satu frekuensi. Saya tidak bisa memaksakan diri untuk menyukai perempuan yang enggak nyambung dengan saya, buang-buang waktu!


    Menurutmu apa yang membuat seorang pria sulit move on dari mantannya?

    Belum ada gebetan baru, hahaha... Menurut saya kalau kita sudah mencoba untuk move on tapi tidak ada hasilnya, itu berarti kita harus mulai membiarkan Tuhan yang bekerja.


    Apa penyesalan terbesarmu dalam cinta?

    Tidak ada. What’s done is done, menyesali perbuatan terlalu lama tidak ada gunanya. Yang bisa kita lakukan adalah belajar dari pengalaman tersebut dan tidak mengulanginya. 


    Fotografer: Insan Obi

    Stylist: Dheniel Algamar

    Assistant Stylist: Yovita Pratiwi

    Makeup Artist: Claudya Christiani

    Hairdo: Puja Pani Merliani

    Wardrobe: Valentino


    (Shamira Natanagara / Ed. / Image: Dok. Cosmopolitan Indonesia)

    tags: daniel adnan,