Lifestyle

"Batik Goes To Campus" Ajak Anak Muda untuk Lestarikan Batik

  by: Shamira Priyanka Natanagara       31/10/2019
  • Sebagai upaya mengajak generasi muda untuk melestarikan dan mengapresiasi seni batik, sekaligus untuk memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada tanggal 2 Oktober, Fakultas Ilmu Pengetahuan Universitas Indonesia (FIB UI) dan asosiasi kain Indonesia Himpunan Wastraprema menyelenggarakan acara Batik Goes To Campus. Acara ini diisi dengan talkshow oleh beberapa narasumber dari industri batik nusantara, serta dihadiri oleh puluhan mahasiswa Universitas Indonesia yang penuh antusias. 


    Memperkenalkan Sejarah Batik Kepada Generasi Muda

    Bertajuk “Batikku Indonesiaku”, agenda Batik Goes To Campus dimulai dengan sesi “Mensosialisasikan Batik Kepada Kaum Muda” yang dipimpin oleh Neneng Iskandar, pemerhati budaya dan Wakil Ketua Umum Himpunan Wastraprema. Ibu Neneng menjelaskan sejarah batik Indonesia secara detail, mula dari asal mula batik dari zaman Majapahit hingga pada masa masa kejayaan Kerajaan Mataram Islam, era di mana seni dan budaya semakin populer dan batik digunakan untuk acara-acara istana.



    Selain mengedukasi para murid mengenai sejarah batik, Ibu Neneng juga tak lupa untuk memperkenalkan mereka kepada beberapa ragam motif batik beserta artinya. “Salah satu pola yang paling dikenal masyarakat adalah ‘parang rusak’,” jelas Ibu Neneng. Beliau mengatakan bahwa pada zaman kerajaan, parang rusak adalah salah satu ‘motif larangan’, yakni motif batik yang hanya boleh dikenakan oleh anggota kerajaan. “Anak muda itu inovatif, tapi saya pernah melihat pola parang di sepatu dan menurut saya [hal tersebut] agak miris,” ujar Ibu Neneng. “Pola tersebut adalah pola larangan dan pola utama, jadi agak disayangkan.”

    Sesi bincang-bincang Ibu Neneng dilanjutkan dengan pembahasan seputar proses pembuatan batik. Beliau telah menyiapkan beragam kain batik di atas panggung yang dapat dilihat langsung dan diraba oleh para hadirin. 


    Meningkatkan Ketertarikan Anak Muda Terhadap Batik

    Setelah talkshow informatif oleh Ibu Neneng, Batik Goes To Campus mempersilakan perwakilan dari Irwan Tirta Private Collection, Rindu Melati Pradnyasmita, untuk mengambil alih acara. Irwan Tirta Private Collection adalah merek batik yang didirikan oleh perancang desain batik Iwan Tirta pada tahun 1970-an. Kini merek tersebut ditangani oleh generasi baru yang ingin melestarikan dan meningkatkan ketertarikan anak muda terhadap seni batik.

    Menurut penjelasan oleh Ibu Rindu, Irwan Tirta sendiri menganggap batik sebagai barang mode yang mewah, dan oleh karena itu, Irwan Tirta Private Collection memiliki visi dan misi untuk mempertahankan teknik batik dan ciri khas Irwan Tirta, tapi dengan cara memasarkan batik dalam pasar ritel.



    “Agar anak muda lebih tertarik, kami berinovasi secara digital melalui media sosial, bukan hanya untuk berdagang tapi juga untuk membangung platform yang inovatif,” jelas Ibu Rindu. 

    Ketika ia menyebut harga baju Irwan Tirta yang mencapai jutaan rupiah, para penonton langsung terkejut. Dan setelah mengetahui informasi tersebut, moderator acara Benny Gratha pun mempertanyakan kemampuan Irwan Tirta Private Collection untuk membuat barang yang lebih mudah diakses oleh anak muda. “Jika anak muda bisa beli sneakers yang harganya mencapai jutaan, mengapa tidak?” jawab Ibu Rindu. “Yang perlu ditingkatkan adalah cinta anak muda terhadap batik.” Hmm… poin yang bagus!

    Jika Irwan Tirta Private Collection mengajak anak muda untuk melestarikan batik melalui ranah digital, Kampoeng Batik Palbatu bertujuan untuk menyongsong generasi milenial melalui program workshop yang beragam. Hal ini disampaikan oleh sang pendiri Budi Darmawan, ia menjelaskan bahwa Kampoeng Batik Palbatu telah mengadakan program membatik di beberapa kafe dan kampus di Jakarta, dan ia mengatakan bahwa wisata edukasi yang ia dirikan ini pun ingin membuktikan bahwa batik bukanlah sekadar seni atau passion saja, tapi juga bisa dijadikan sebuah profesi yang menghasilkan keuntungan. “Komunitas kami bisa akan mengajarkan cara membatik, membuatkan business plan, perizinan, kredit usaha, dan sebagainya agar program ini terus berjalan,” jelas Bapak Budi. Wakil Dekan FIB UI, Irmawati Marwoto, pun menutup sesi talkshow dengan berbagi informasi mengenai motif batik Banten.

    Setelah menghadiri acara ini, Cosmo bisa menyimpulkan bahwa ada beragam cara yang bisa dilakukan untuk melestarikan batik. Kamu bisa menggunakan media sosial, mengikuti workshop membatik, dan bisa pula mulai memadukan batik ke pakaian sehari-hari (jangan pakai merek baju luar negeri melulu, girls!). Yuk, mari kita turut serta dalam melestarikan batik Indonesia!


    (Shamira Natanagara / Ed. / Images: Dok. Himpunan Wastraprema / Layout: S. Dewantara)