Better You

Semua yang Perlu Kamu Tahu Soal Fenomena Gaslighting

  by: Alexander Kusumapradja       30/10/2019
  • Untuk kamu yang aktif dan mengamati keributan di Twitter beberapa hari ini yang melibatkan sosok seorang influencer kontroversial yang tidak terima karena kelakuannya mencuri beberapa artwork untuk diunggah tanpa memberi kredit dibongkar oleh seorang ilustrator hingga melibatkan pengacara, kamu mungkin membaca beberapa orang merasa si influencer melakukan gaslighting terhadap si ilustrator hingga akhirnya ia merasa ketakutan dan menghapus akunnya. Jadi, apa sih sebetulnya gaslighting yang dimaksud?

    Merujuk ke ilmu psikologi populer, gaslighting adalah taktik manipulasi yang dilakukan oleh seseorang untuk terlihat berkuasa dan mengontrol seseorang dengan cara membuat korban tak yakin dengan diri sendiri. Perasaan ragu dan skeptis pada diri korban seiring waktu melemahkan psikologi korban dan membuatnya mempertanyakan realitas. Hasilnya, korban pun menderita kecemasan, depresi, insecure, hingga mental breakdown. Berikut adalah beberapa hal yang dapat membantumu lebih paham soal gaslighting.




    Definisi Gaslighting


    via GIPHY


    Istilah gaslighting kabarnya berasal dari film tahun 1944 berjudul “Gaslight” yang bercerita tentang seorang suami yang secara sistematis mencuci otak istrinya sampai si istri merasa dirinya benar-benar gila. Sang istri berusaha setengah mati melindungi kesadaran dirinya di tengah upaya sang suami merebut kewarasannya. Film ini juga bercerita bagaimana korban gaslighting bisa menderita Stockholm Syndrome di mana sang korban begitu tak yakin dengan realita dan malah akhirnya jadi bergantung dengan si pelaku. Istilah tersebut bertahan sampai hari ini dan tak hanya terjadi dalam hubungan asmara, tapi juga hubungan profesional, pertemanan, hingga relasi kuasa antara public figure dengan orang biasa.


    Siapa yang Bisa Jadi Korban?


    Siapa saja, termasuk kamu, punya risiko menjadi korban gaslighting. Yang menyeramkan, gaslighting umumnya dilakukan dengan begitu pelan sehingga banyak orang tak sadar kalau dirinya telah menjadi korban. Secara kultur, wanita sering distereotipekan memiliki sifat yang terlalu emosional dan rapuh sehingga mudah dimanipulasi. Sudah banyak cerita yang menggambarkan bagaimana wanita dimanipulasi sehingga merasa dirinya benar-benar gila oleh orang sekitar mereka. Tetapi, gaslighting pada intinya tak hanya tentang wanita yang dianggap gila atau terlalu emosional. Gaslighting adalah siksaan psikologis yang bisa menyerang siapa saja.


    Siapa Pelaku Gaslighting?

    Gaslighting bisa dilakukan siapa saja. Mulai dari keluarga, teman, pasangan, atasan, public figure, hingga orang asing di media sosial. Umumnya mereka yang terbiasa melakukan gaslighting adalah mereka yang punya tendensi narsistik, sosiopat, dan psikopat. Selain jago berbohong, pelaku gaslighting umumnya manipulatif dan bisa begitu charming atau bersikap tidak bersalah. Awalnya kamu mungkin yang justru merasa bersalah karena telah berpikiran buruk tentang orang itu, yang sebetulnya menjadi taktik pelaku agar kamu merasa tidak yakin dengan penilaianmu sendiri.


    Contoh Tindakan Gaslighting


    via GIPHY


    Dalam bukunya yang berjudul Gaslighting: Recognize Manipulative and Emotionally Abusive People – and Break Free, Stephanie A. Sarkis Ph.D menulis beberapa modus operandi para pelaku gaslighting:


    1. Mereka berbohong dengan jelas.

    Kamu sadar kalau orang itu berbohong tapi kamu heran kenapa mereka bisa berbohong di depan mukamu dengan sadar? Karena ini adalah rencana awal mereka. Begitu nanti mereka berbohong tentang hal yang lebih besar, kamu jadi tidak yakin apakah yang mereka katakan bohong atau benar. Tujuannya adalah membuat kamu gamang dan tak yakin dengan intuisimu.



    2. Mereka membantah melakukan atau mengatakan sesuatu, padahal kamu punya buktinya.

    Kamu yakin orang itu pernah mengatakan atau melakukan sesuatu yang kamu saksikan sendiri, tapi mereka membantahnya dengan serius. Hasilnya kamu jadi merasa ragu dengan realitas yang kamu lihat dan mulai timbul keraguan, jangan-jangan kamu yang salah tangkap. Bila dilakukan terus-menerus, semakin kamu jadi mudah ragu dan tak percaya dengan diri sendiri.

    3. Mereka menggunakan hal berharga bagimu sebagai senjata.

    Mereka tahu betapa berharganya keluarga, hobi, atau kariermu sehingga bila kamu melakukan konfrontasi, hal-hal itulah yang menjadi senjata mereka untuk menyerang dirimu. Mereka bisa menyerang kepercayaan dirimu dengan mengatakan kamu tak pantas punya hal berharga itu karena kamu punya banyak kekurangan hingga akhirnya kamu rapuh dan tak berdaya.

    4. Sikap mereka tidak sesuai dengan perkataan.

    Ketika berurusan dengan pelaku gaslighting, yang penting adalah hal yang mereka lakukan dan bukan yang mereka katakan. Sebagai orang yang manipulatif, seringkali mereka berkata manis padahal yang mereka lakukan adalah menakuti dirimu hingga kamu merasa lemah.

    5. Mereka membuatmu bingung dan tak pasti.

    Salah satu taktik pelaku gaslighting adalah membuat kamu tidak yakin dan terus bertanya-tanya. Misal mereka mengancam akan melaporkanmu secara hukum sehingga kamu ketakutan dan meminta maaf namun mereka tak benar-benar mengonfirmasi apakah mereka akan mencabut tuntutannya atau tidak sehingga kamu merasa makin tak berdaya dan hanya bisa menunggu kepastian dari mereka.

    6. Mereka memproyeksikan kesalahan mereka pada dirimu.

    Mereka adalah pembohong, penipu, tukang bully, tapi kok mereka malah menuduh kamu yang seperti itu ya? Mereka menuduhmu menyebarkan hal buruk tentang diri mereka dan mengajak orang-orang agar membenci mereka, sehingga kamu merasa benar-benar seperti pembohong dan bully sampai kamu mulai membela diri kamu sendiri dan terdistraksi dari kesalahan si pelaku gaslighting.

    7. Mereka mengajak orang untuk menyerangmu.

    Pelaku gaslighting yang jago manipulasi tahu caranya menemukan orang yang akan membela mereka mati-matian dan tak ragu menggunakan mereka untuk melawanmu. Hal ini banyak dilakukan oleh public figure atau influencer dengan followers atau penggemar yang banyak plus fanatik. DI tingkat yang lebih personal, pelaku gaslighting akan berbohong seperti “Dia juga tahu kok kamu yang salah” atau “Mereka semua tahu kalau kamu cuma cari perhatian dan gara-gara dengan saya.” Hal ini dilakukan pelaku untuk membuat kamu terasa dikucilkan dan tak punya orang untuk dipercaya.

    8. Mereka menyebarkan cerita kalau kamu tidak bisa dipercaya.

    Ini adalah salah satu taktik paling efektif dari gaslighting karena sifatnya yang merendahkan. Pelaku gaslighting tahu kalau mereka mempertanyakan kewarasanmu, orang-orang tak akan percaya kalau kamu bilang si pelaku bersikap abusif dan manipulatif.

    9. Mereka bilang semua orang berbohong.

    Dengan meyakinkan kalau semua orang di sekitarmu adalah pembohong (termasuk teman, keluarga, dan media), kamu pun menjadi gamang pada realitas yang sebenarnya. Kamu tidak tahu siapa yang bisa dipercaya sehingga kamu akhirnya termanipulasi untuk hanya percaya pada si pelaku gaslighting.


    Semakin kamu sadar dengan teknik-teknik ini, semakin kamu cepat menyadari dan menghindari dari perangkap pelaku gaslighting.


    Upaya Bangkit dari Gaslighting

    via GIPHY


    Gaslighting menyebabkan stress psikologis dan trauma emosional pada penderitanya. Namun, bila kamu pernah mengalami bentuk gaslighting, ingat lah kalau kamu tidak sendirian dan kamu bisa bangkit. Beberapa cara berikut bisa membantumu bangkit dari gaslighting:

    • Pertama, klarifikasi siapa yang melakukan gaslighting padamu dan alasannya. Catat momen-momen kamu mempertanyakan kesadaran realitasmu sendiri. Agar bisa move on, kamu harus bisa mengonfirmasi ke diri sendiri kalau gaslighting itu benar-benar terjadi.

    • Ambil waktu untuk menenangkan diri. Caranya bisa dengan log out dari media sosial, bermeditasi, atau berdoa. Pokoknya lakukan hal yang bisa membuatmu tetap tenang dan bisa berpikir jernih dan objektif tentang dirimu sendiri.

    • Bicara pada teman atau keluarga yang kamu percaya. Alternatifnya adalah menemui tenaga profesional di bidang kesehatan mental seperti psikolog atau terapis.

    • Ubah cara pandangmu. Kamu bukan lagi seorang korban, tapi seorang survivor.


    (Alex K. / Image: Mitchell Hollander on Unsplash)