Celebrity

Cerita Harly Valentina yang Jatuh Cinta dengan Sepeda!

  by: Givania Diwiya Citta       5/10/2020
    • Host sport Harly Valentina Bastiaans mulai menekuni bersepeda sebagai hobi dan olahraga yang digelutinya.
    • Cosmo pun berbincang tentang tips seru untuk bersepeda serta perjalanan bersepeda Harly yang membuatnya jatuh cinta.


    Jika berbincang tentang hobi bersepeda yang tengah marak di skena olahraga urban, host sport Harly Valentina Bastiaans pun mulai menekuni dunia sepeda sebagai hobi serta bidang olahraganya. Dengan kolaborasi bersama @TheCyclistPortrait yang menangkap berbagai persona cyclist lintas profesi dan latar, Cosmo pun berbincang dengan Harly untuk berbagi tips seru kala bersepeda serta perjalanannya dalam menekuni dan jatuh cinta dengan olahraga bersepeda ini. Simak, girls!




    Bagaimana awal mula Anda mulai aktif dan ‘terjun’ ke hobi bersepeda ini?

    Dari kecil saya tidak pernah bisa bersepeda, namun pada bulan Februari lalu kekasih saya, Fabian, mengajak saya bermain sepeda lipat sekaligus belajar bersepeda. Saya ingat pertama kali belajar naik sepeda di GBK, kaki saya masih sering turun, seatpost belum berani tinggi, saya masih takut jatuh jadi sedikit-sedikit berhenti, sampai akhirnya rajin latihan. Tapi beruntungnya proses belajarnya cepat, mungkin karena saya malu juga sudah besar tapi belum bisa naik sepeda! Akhirnya saya pun lancar dan berani turun ke jalan, bukan hanya main di GBK saja. Saya pun ikut bersama teman-teman Fabian bersepeda dari Jl. Sudirman sampai Kota Tua (Jakarta). 


    Awalnya saya menggunakan sepeda lipat agar belajarnya cepat, tapi dengan ban yang kecil, jadi sulit dan capek untuk mengejar para riders yang naik fixed gear ataupun road bike. Akhirnya saya pun kemudian mencoba naik road bike pada bulan Juni lalu. Saya pun memiliki kerja sama dengan Specialized hingga bisa punya road bike sendiri, dan akhirmya saya naik road bike sampai sekarang. 


    Apakah Anda memiliki keinginan atau target tertentu yang berhubungan dengan hobi bersepeda tersebut?

    Keinginan saya adalah bisa kencang bersepeda, karena saya masih takut dan belum bisa mengurangi kepanikan saat bersepeda kencang. Tapi saya ingin bisa kencang di track yang flat. Sejauh ini kecepatan rata-rata saya belum tinggi, masih sekitar 35km/h untuk 50 km dalam waktu satu jam. Saya ingin bisa ikut peloton yang sudah lebih jagoan seperti yang biasa di Dalam Kota, yang bisa menempuh rata-rata kecepatan 40km/h.


    Saya juga ingin belajar RPM endurance agar kalau sedang long ride atau riding ke mana pun, saya sudah bisa menguasai teknik-teknik dasarnya, supaya tidak mudah lelah, punya teknik cadence yang benar agar saat gowes cepat, heart rate saya masih bisa santai. 



    Saya juga ingin keliling kota lain atau bahkan ke luar negeri untuk bersepeda, karena saya suka sekali bersepeda yang tidak membosankan. Bayangkan saja bisa bersepeda sampai tiba di pinggir pantai. Aduh… enak banget. 


    Apa perasaan yang Anda rasakan setiap kali bersepeda? Terutama setelah berhasil menempuh jarak yang maksimal dan mengarungi medan yang berbeda?

    Saat saya bisa traveling hingga menempuh 200 km bersepeda ke Pangandaran, itu sangat memuaskan dan saya tidak menyangka saya bisa melakukannya. Saya ini cukup sering minder dan merasa bahwa saya hanya punya skill untuk jadi presenter. Oleh karenanya saya ingin punya hal lain untuk ditonjolkan bahwa, ‘Oh, Harly bisa, lho, melakukan ini’ meski itu adalah hal yang masih saya pelajari dan butuh proses untuk menguasainya. Bersepeda membuat saya merasa puas dan percaya diri, terlebih bisa membuat saya merasa mampu melampaui batasan-batasan dalam pikiran saya sendiri. Meski badan lelah, belang kaki dan tangan, tapi itu semua tidak masalah!


    Apakah Anda biasanya lebih memilih bersepeda sendiri, atau bergabung dalam grup?

    Kadang-kadang, keuntungan bersepeda dalam grup adalah kita bisa meningkatkan kecepatan. Semisal di Dalam Kota ada orang-orang yang rata-rata kecepatannya 30 sampai 40km/h, jika saya bergabung dengan mereka, saya jadi terdorong juga untuk tidak santai-santai terus dan sampai menembus limit. Ternyata saya bisa, lho – meskipun melelahkan, ataupun meski mereka merasa santai karena itu adalah kecepatan normal mereka.


    Kalau sendiri, saya merasa lebih capek dan tidak aman, karena saya pernah punya pengalaman tidak mengenakkan saat bersepeda sendiri atau berdua. Tapi kalau saat long ride, saya justru akan lebih memilih bersepeda bertiga atau berempat saja. Karena saya tahu batas kekuatan saya dan level belajar saya, jadi tak apa meski saya berada di urutan paling belakang. 




    Apakah Anda rutin bersepeda setiap hari? Bagaimana biasanya Anda mengatur jadwal bersepeda di antara aktivitas yang padat?

    Saya hampir setiap hari bersepeda. Sebisa mungkin saya ikut ajakan teman atau ikut dalam cycling club teman. Saya biasanya meluangkan empat sampai lima kali dalam satu minggu. Kalau bisa dapat tiga kali bergabung dengan peloton, maka sisanya saya gunakan sebagai latihan di rumah dengan alat trainer dan aplikasi Zwift. Atau saya juga bisa bersepeda santai dengan pasangan saya, long ride berdua seperti dari Bintaro ke Kelapa Gading. Karena kalau tidak bersepeda, rasanya ada yang kurang! Untuk bersepeda, saya harus bangun jam 4 atau 04:30, jadi kalau tidak bersepeda, saya tetap terbangun jam segitu, sayang sekali kalau saya harus tidur lagi! Kalau long ride, saya biasanya pilih saat akhir pekan, agar sekaligus liburan.




    Adakah hal positif yang Anda dapatkan ketika menjalani hobi bersepeda ini? 

    Pastinya disiplin. Tidak sehat saat saya dulu baru tidur jam 12 malam, bangun bisa jam 10, lalu terlanjur malas untuk beraktivitas atau berolahraga. Sekarang saya jadi lebih disiplin untuk olahraga pagi, dan hari jadi terasa lebih panjang. Saya jadi bisa melakukan apapun, dan kegiatan jadi lebih banyak ketika kita sudah terbiasa untuk bangun pagi. Apalagi setelah bersepeda, rasanya segar dan tidak mengantuk lagi! Saya bisa bekerja setelahnya, dan istirahat tidur lebih cepat di jam 10 malam. Rasanya jadi lebih sehat dan segar!


    Selain itu saya jadi punya lebih banyak teman, bisa bertukar pikiran dengan mereka atau bahkan membuka peluang bisnis. Bersepeda pun membuat saya punya rasa percaya diri, lalu bersepeda juga mengubah saya yang tadinya manja dan takut berkeringat jadi lebih pemberani. Karena saya akhirnya mengalami, saya pernah melalui ratusan kilometer yang sama menggunakan mobil dan sepeda, tapi ternyata lebih melelahkan saat naik mobil ketimbang sepeda, lho! Gowes itu seru.


    Di mana track bersepeda favorit Anda?

    Itu saat saya gowes dari Bandung ke Pangandaran. Saat itu saya pikir hanya latihan dan tidak tahu akan ke Pangandaran, jadi saya tidak mempersiapkan apapun. Hasilnya bikin bangga pada diri sendiri. Meski orang lain bisa tiba tujuh jam, sementara saya delapan setengah jam, saya tetap senang sekali, karena targetnya adalah tiba sebelum magrib, dan saya bisa tiba bahkan jauh sebelum waktunya. Track-nya sangat menyenangkan! Saya melewati berbagai gapura seperti “Selamat Datang di Kota Tasikmalaya”, hingga membuat saya berpikir, kok, saya bisa gowes sejauh ini, melewati tanjakan, turunan, flat, dan merasa bahwa badan ini masih kuat lanjut hanya dengan tiga kali istirahat. Niat saya adalah hanya harus mencapai finish, tidak boleh turun selain di pit stop, tidak boleh didorong, tidak boleh loading ke mobil meski mobil tetap ikut di belakang untuk mengawal kami dan membawa supply untuk kami dan sepeda kami. Saya tetap gowes meskipun pelan.


    Seperti apa persiapan Anda sebelum pergi bersepeda?

    Pertama harus mix and match pakaian! Lalu siapkan air karena minum itu fatal saat bersepeda. Hal-hal kecil seperti kacamata, speedometer, heart rate, helm, jangan sampai tertinggal. Semuanya bahkan sudah saya persiapkan dari malam sebelumnya. Dan biasanya sebelum gowes, saya akan makan pisang, jangan makan nasi ataupun roti. Sisanya persiapkan seatpost dan mengecek sepeda. 



    Olahraga sepeda saat ini sedang begitu populer di tengah masyarakat. Bagaimana tanggapan Anda dengan meningkatnya penggemar sepeda saat ini?

    Senang karena semakin banyak orang yang aware tentang hidup sehat, salah satunya dengan bersepeda. Apalagi olahraga ini lebih terbilang aman dibanding yang lain selama masa pandemi. Karena tidak ada kontak fisik dan bisa jaga jarak. Apalagi dengan adanya selebriti dan influencers yang menyemarakkan bersepeda, mereka menularkan gaya hidup sehat. Yang terpenting saat gowes keluar dari rumah, selalu gunakan masker dan perlengkapan hand sanitizer serta protokol lainnya, hingga bersepeda tetap dapat manfaat sehatnya sampai mengurangi kalori.


    Terakhir, apa pesan dari Anda untuk semua yang sama-sama sedang menekuni hobi sepeda ini?

    Tetap waspada di mana pun dan kapan pun. Jangan keluarkan ponsel, karena banyak kejadian tidak mengenakkan yang bisa terjadi. Dan jangan pernah takut untuk belajar menanjak, karena nanjak itu seru! Coba juga untuk eksplorasi ke tempat-tempat wisata yang bisa didatangi oleh pesepeda, karena akan bikin mood kamu baik, bikin happy, bikin kamu punya foto-foto bagus, dan tentu saja, kalori yang terbakar juga cukup banyak! Apapun sepedanya, tantanglah diri sendiri dengannya. Dengan gear saya ini, saya bisa ke mana pun, bisa eksplor tempat-tempat baru!


    (Photography: Panji Indra @TheCyclistPortrait)