Lifestyle

Ekspedisi ke Gurun Danakil, Etiopia, Tempat Terpanas di Bumi

  by: Alvin Yoga       8/10/2020
    • Salli Sabarrang, kontributor Cosmo Indonesia untuk travel, menceritakan pengalamannya ketika berekspedisi ke Etiopia.
    • Salah satu tujuan ekspedisi tersebut adalah, Gurun Danakil, Etiopia, yang merupakan salah satu tempat terpanas di muka bumi.
    • Suhu di area Afar dapat mencapai 42 derajat Celsius di siang hari, sedangkan berdasarkan pengalaman, di malam hari, suhunya sekitar 36 derajat Celsius.



    Danakil merupakan salah satu tempat terpanas di dunia. Salah satu kawasannya adalah Dallol, tempat di mana saya harus menginap. Jangan pernah membayangkan hotel bintang lima, karena saya bahkan tidur di atas rotan yang diletakkan di luar rumah. Rumahnya pun hanya terdiri dari tumpukan batang kayu dengan atap terpal plastik atau karung, berlantaikan tanah, dan tentunya toilet dengan konsep bersatu dengan alam. Di malam hari, suhunya mencapai 36 derajat Celsius, membuat saya terbangun dengan baju yang basah oleh peluh. Berniat untuk memejamkan mata lagi, namun saya kehabisan kata dengan taburan bintang yang menghiasi langit Dallol malam itu. Dalam hati, saya bertutur, “This is the real five stars hotel experience.




    Oleh: Salli Sabarrang

    *****


    Mungkin negara termiskin saat ini diduduki oleh Sudan Selatan, tapi masih teringat dengan jelas kalimat guru geografi saat saya duduk di bangku sekolah, “Etiopia adalah negara termiskin di dunia.” Sambil melirik selembar boarding pass yang menunjukkan Makale sebagai kota tujuan, saya memasuki salah satu ruang tunggu di Bandara Addis Ababa, Etiopia. 

    Makale adalah ibu kota dari area Tigray yang terletak sekitar 780 kilometer di utara Addis Ababa. Kota ini jauh dari kata modern. Sepanjang mata memandang, gedung tertinggi hanyalah pusat perbelanjaan berlantai empat yang menyerupai ruko tua. Beberapa sudut kota pun dipenuhi dengan pasar dadakan yang meluap hingga ke luar jalan, serta kendaraan umum berwarna biru yang bentuknya seperti bajaj. 

    Pagi itu, mobil Jeep berwarna putih sudah parkir tepat di depan penginapan. Saya akan memulai road trip selama lima hari ke Erta Ale, sebuah danau lava yang terletak di Gurun Danakil, Etiopia. Area ini disebut sebagai tempat paling panas di bumi, juga “surga” bagi para ahli geologi – salah satu dari tujuan petualangan saya di Etiopia. 


    Keluar dari kota Makale, pemandangan lanskap berubah menjadi bukit-bukit tandus yang diselingi oasis pohon palem. Saya pun melewati beberapa dusun kecil dengan rumah-rumah yang dindingnya terbuat dari tanah liat dan beratapkan seng. Terlihat beberapa rumah dicat dengan warna biru dan hijau, sedangkan yang lainnya dibiarkan dengan warna alami tanah liat, cokelat tua. 

    “Kita akan menginap di area Afar malam ini, tapi bukan di kota,” ujar Ali, supir jip yang akan menemani saya selama perjalanan. Kota Afar sendiri terbilang cukup ramai, banyak kafe pinggir jalan yang menyajikan kopi dan bir. Bahkan yang membuat saya tercengang, harga sebotol bir di Afar jauh lebih murah dari sebotol air mineral.


    Karena masih pukul 4 sore, saya memutuskan untuk berkeliling kota setelah menghabiskan tiga botol Walia (bir lokal) bersama dua kawan baru asal Spanyol yang saya temui di perjalanan. Kami sampai di depan sebuah gerbang yang di dalamnya terdapat gereja dengan beberapa deretan makam. Sayang, saat itu gereja tutup sehingga kami tidak bisa masuk ke dalam. Tapi beruntung, saya bisa melihat anak-anak Afar berlatih bernyanyi lagu rohani sambil bermain gendang dan bertepuk tangan. Mereka terlihat ceria, dan tentunya bersemangat karena sadar kami sedang memperhatikan mereka. Satu hal yang saya ingat tentang anak kecil di Etiopia, mereka begitu bersemangat melihat para pendatang. Mereka pasti akan mencoba untuk bersalaman, memeluk secara tiba-tiba atau bahkan mengikuti sampai gerbang tempat saya menginap.


    Puas menyaksikan anak-anak kota Afar menyanyi, kami pun melanjutkan perjalanan. “Kita akan mampir ke kamp militer dulu. Saat ke Gurun Danakil, kita harus didampingi oleh anggota militer,” ucap Ali sambil membelokkan jip ke sebuah rumah batu yang berada di tengah gurun tandus. Tidak lama, ia keluar membawa beberapa lembar kertas yang saya duga adalah surat ijin untuk memasuki kawasan Dallol dan Erta Ale – semuanya masih merupakan bagian dari Afar. Menyusul di belakangnya, terlihat seseorang memakai sarung berwarna merah lengkap dengan senjata laras panjang, yang tidak lain adalah anggota militer yang akan menemani kami. Ali pun menyalakan mobil, dan kami kembali menembus gurun.


    Kali ini, jip beroda empat tersebut mengantarkan saya ke sebelah timur Gurun Danakil. Dari jauh, terlihat barisan unta yang cukup panjang. “Mereka menuju ke salt flat untuk mengambil blok garam,” jelas Ali sambil menunjuk ke arah karavan unta. Orang-orang suku Afar telah lama menghuni Gurun Danakil, mereka hidup dengan menyuling garam selama berabad-abad. Bahkan, dahulu garam adalah salah satu bentuk mata uang yang dipakai oleh masyarakat Afar.

    Sedikit cerita mengenai garam dan Afar. Danau Afar merupakan pusat penyulingan garam yang membentang seluas 60.000 meter persegi, dan dalamnya mencapai 300 kaki atau sekitar 91 meter di bawah permukaan laut. Proses ekstraksi garam sendiri ternyata cukup melelahkan, melibatkan pemecahan lempeng garam dari kerak bumi, yang kemudian dipotong menjadi lempengan-lempengan besar menggunakan kapak. Lempengan besar ini lalu dipotong kembali menjadi ukuran yang lebih kecil dengan berat kurang lebih empat kilogram, yang dinamakan ganfur.

    Saya bertemu dengan Abebe, seorang penggali garam yang bekerja di Afar. Dengan bantuan para unta, ia mengangkut blok garam dan sedang berjalan menuju kota Makale. Setiap unta membawa 30 blok garam, dan mampu berjalan sejauh 25 kilometer per hari. Masyarakat Afar yang bekerja sebagai penggali garam akan mulai bekerja sebelum matahari terbit agar terhindar dari panas yang ekstrem saat matahari sudah mencapai puncak. Mereka hanya mendapatkan upah 7 Euro per hari, atau sekitar Rp120.000,-. Belum lagi mereka harus membayar makanan untuk para unta.

    Sebelum bertolak ke Hamed Ela, sore itu kami menyaksikan matahari terbenam di salt flat. Pemandangan ini mengingatkan saya akan Salar de Uyuni di Bolivia, yang kerap saya lihat di timeline Instagram. Hamed Ela sendiri adalah sebuah desa kecil di kawasan Dallol. Seluruh rumahnya terbuat dari tumpukan batang kayu dengan terpal plastik dan karung sebagai atap. “Kita akan tidur di sini,” kata Ali dengan spontan sambil membuka pintu jip. Udara panas langsung bertiup menerpa wajah saya yang sudah dua hari tidak bertemu dengan air. Beberapa warga desa terlihat mengeluarkan tempat tidur dari anyaman yang mirip dengan bale-bale ke depan rumah. Karena suhu di Hamed Ela sangat panas, maka lebih baik setiap orang tidur di area terbuka. 


    Malam itu, saya tidur di atas bale-bale berlapis sleeping bag – yang berhasil saya pinjam dari salah satu teman. Sangat sulit untuk menutup mata, terlebih saat suhu mencapai 36 derajat Celsius di malam hari. Saya kerap terbangun tiba-tiba, dan mendapati baju saya sudah penuh dengan peluh. Berniat untuk memejamkan mata lagi, tapi saya kehabisan kata dengan taburan bintang yang menghiasi langit Dallol malam itu. Yes, this is the real five stars hotel experience.

    Jam 7 pagi, saya sudah kembali duduk di dalam jip. Hari ini kami akan pergi menuju Dallol, Danakil Depression. Sambil melirik pengukur suhu di dalam jip yang menunjukkan angka 39 derajat Celsius, saya pun bertanya kepada Ali, “Apakah masyarakat Dallol tidak pernah merasakan hujan?” Dengan suhu yang super panas, ternyata Dallol hanya merasakan hujan dua hingga tiga hari setiap tahunnya. Mungkin ini juga yang membuat Gurun Danakil di Etiopia disebut sebagai hunian terpanas di Bumi.


    Dari Hamed Ela, kami harus berkendara kurang lebih satu jam, kemudian dilanjutkan dengan trekking untuk mencapai ladang sulfur di Danakil Depression. Terengah-engah di bawah sinar matahari yang sangat terik, saya kemudian mengambil waktu sejenak, sambil berusaha mencerna keindahan yang ada di depan mata.




    Seperti berada di dunia yang berbeda, di sini saya seakan melihat Mars dari dekat. Lanskapnya begitu spektakuler: Kolam sulfur dengan warna eye-cathing bertebaran di kanan-kiri, warna paletnya pun beragam mulai dari hijau, kuning, jingga dan cokelat. Dari dekat, terdengar suara menggelembung dan terlihat percikan air dari kawah kecil yang berwarna. Rasanya seperti bumi benar-benar sedang memasak! Pantas saja jika kawasan ini berhasil memikat banyak peneliti.


    Untuk melewati kolam sulfur, saya harus melangkah pelan. Beberapa bagiannya masih rapuh, dan jika salah menginjak, saya bisa membuat air sulfurnya keluar dan mengenai kaki. Tentu, saya menjadi salah satu korbannya. Air sulfur berhasil masuk ke dalam sela-sela sepatu. Dan sampai sekarang, bekas luka kecil masih tertinggal di kaki sebelah kiri saya. Kenang-kenangan, mungkin?


    Saya tidak bisa berlama-lama di sana, karena panas yang sudah tidak bisa diajak bersahabat. Setelah satu jam, saya pun turun dan melanjutkan perjalanan ke Erta Ale. Pemandangan dari Dallol menuju Erta Ale sungguh tidak biasa. Bongkahan-bongkahan batu magma berwarna hitam dan berukuran besar bertebaran di sepanjang jalan. Kadang saya harus berpegangan pada bagian ujung mobil karena medan yang terlalu bumpy. Hingga akhirnya saya sampai ke kamp militer perbatasan Ethiopia dan Eritrea. Ini merupakan titik awal trekking untuk melihat Erta Ale di atas.


    Dalam bahasa Afar, “Erta Ale” memiliki arti gunung berasap. Konon, Erta Ale menjadi gunung berapi yang paling tidak dapat diakses karena letaknya yang terpencil, dan memiliki fluktuasi suhu serta lingkungan yang tidak bersahabat. Erta Ale sendiri memiliki danau lava pijar yang sangat aktif berukuran sekitar 30 meter. 


    “Kita harus menunggu langit gelap untuk bisa mulai trekking ke atas,” ucap Ali. Sambil menunggu, saya pun memutuskan untuk berkeliling kamp militer perbatasan Etiopia tersebut. Kampnya cukup luas, terdiri dari beberapa pondok kecil yang terbuat dari susunan bebatuan, dan atapnya dilapisi dengan jerami. Para anggota militer sedang sibuk bercengkerama – beberapa terlihat hanya duduk menggunakan kaus kutang, dan sebagian lainnya memakai seragam lengkap sambil berjalan menenteng senapan. Di sebelah utara kamp, saya melihat beberapa anggota militer sedang salat berjamaah. “Sebagian besar orang Afar adalah Muslim, Salli,” jelas Ali, yang menyadari saya sedang memperhatikan mereka. 


    Setelah makan malam yang super sederhana (kalau-kalau kamu penasaran, saya makan roti dan pisang), tepat pukul 7 malam saya pun mulai trekking menuju Erta Ale, diikuti dengan sekumpulan anggota militer. Penasaran, saya pun bertanya kepada Ali, “Kenapa ada begitu banyak militer yang mengikuti kita trekking ke atas?” Dari penjelasannya, saya kemudian paham bahwa daerah Erta Ale merupakan tempat yang ekstrem. Di tahun 2012, terdapat lima rombongan wisatawan dan ilmuwan yang tewas ditembak oleh pemberontak.

    Tak gentar, trekking menuju Erta Ale justru mengingatkan saya pada perjalanan Frodo Baggins dan Sam Gamgee menuju Mordor demi menghancurkan cincin berkekuatan besar milik Saruman pada lava lake di puncak Mordor. Perbedaannya, saya bertarung dengan batu vulkanik, hasil muntahan Erta Ale di awal tahun 2017. Beberapa kali saya hampir terpeleset. Maklum, cahaya kami minim, dan saya harus bersaing dengan waktu untuk sampai ke puncak tepat pada waktunya.

    Perjalanan menuju atas memakan waktu sekitar empat hingga lima jam. Bagi saya yang tidak melakukan persiapan olahraga rutin sebelum trip, bagian ini cukup melelahkan. Saat trekking, saya sendiri sempat berhenti untuk beristirahat sekitar empat kali, masing-masing selama lima menit.

    Di bagian akhir sebelum mencapai Erta Ale, ada medan turun curam di mana saya harus bertumpu pada bebatuan yang kecil dan runcing. Saya juga berhadapan dengan batu lava yang harus dipijak dengan sangat hati-hati. Kami diminta untuk berjalan dalam satu baris, dimana orang yang paling depan akan berjalan sambil membawa tongkat untuk memastikan jalan yang kami lewati cukup aman. Sebelum melangkah, orang yang berada paling depan akan mengetuk batu lava untuk memastikan bahwa batu tersebut cukup kuat. Jika tidak kuat dan rapuh, batu lava dapat retak dan membuat kaki yang berjalan terperosok ke dalam.

    Setelah perjalanan yang melelahkan, kami pun sampai tepat di bibir Erta Ale. Saya menyaksikan langsung lautan magma yang mengamuk – membenturkan diri ke dinding-dinding kolam sambil mengeluarkan pijar yang terang. Merinding, seperti mendengar Tuhan yang sedang marah.


    Kami pun kemudian diminta untuk berdiri di bagian bibir danau lava yang berlawanan dengan arah asap yang keluar. Memang, agak sulit untuk mendekati pusat gunung berapi dengan suhu udaranya yang tinggi serta asap asam yang bertiup.


    Danau lava Erta Ale sendiri terbentuk pada tahun 1906, para pakar vulkanologi menyatakan bahwa ini adalah satu-satunya danau lava di dunia yang selalu aktif sepanjang tahun, dan letusan terakhir dari Erta Ale terjadi pada bulan Januari 2017 – tepat sembilan bulan sebelum kepergian saya ke Etiopia.

    Puas menonon lava pijar, kami tidak langsung turun ke kamp militer. Kami memutuskan beristirahat terlebih dahulu di sebuah bukit dekat dengan danau lava tersebut. Malam itu, saya menggelar tikar yang diangkut dengan unta, memandangi taburan ribuan bintang di langit sambil mendengar dentuman magma yang menyentuh dinding danau yang masih sangat jelas terdengar.


    Dalam perjalanan turun ke kamp militer, seorang teman dari Israel berteriak, memberikan kode agar saya berbalik badan, “Salli, turn around, you have to see this magical view!”

    Detik itu, saya melihat sunrise di tempat terpanas di dunia. Rasanya sungguh magis – membuat saya tertegun sejenak, mengingat kembali seluruh perjalanan yang saya lalui. Rasanya baru kemarin saya melihat jip Ali terparkir di depan penginapan. Kini, saya harus kembali ke kota tersebut. Makale, saya kembali.


    (Salli Sabarrang / AY / Image: Dok. Salli Sabarrang)