Celebrity

Bersepeda Seru! Tips Menjadi Daily Rider Seperti Ade Putri

  by: Givania Diwiya Citta       7/10/2020
    • Culinary Storyteller Ade Putri telah menekuni bersepeda sejak tahun 2010 dan kini telah menjadi seorang daily rider.
    • Cosmo pun berbincang tentang tips seru untuk bersepeda serta perjalanan bersepeda Ade yang membuatnya jatuh cinta.


    Jika berbincang tentang olahraga urban bersepeda yang tengah marak, Culinary Storyteller Ade Putri pun telah terjun menekuni dunia sepeda sebagai sarana transportasi harian sekaligus sebagai sarananya untuk melakukan me-time. Dengan kolaborasi bersama @TheCyclistPortrait yang menangkap berbagai persona cyclist lintas profesi dan latar, Cosmo pun berbincang dengan Ade untuk berbagi tips seru kala bersepeda serta perjalanannya dalam menekuni dan jatuh cinta dengan gaya hidup bersepeda ini. Simak, girls!




    Bagaimana awal mula Anda mulai aktif dan ‘terjun’ ke hobi bersepeda ini?

    Pertama kali menerjuninya adalah saat dibuatkan Soma Mixte pada bulan Desember 2010. Sebenarnya itu adalah hadiah, jadi saya pun memakainya. Saat itu kebetulan orang-orang sedang ramai menggunakan Fixie, jadi saya pun mengubah Mixte saya menjadi Fixie. Awalnya saya hanya bersepeda saat weekend saja selama setahun pertama, itu pun kalau sempat! Namun sekarang saya adalah seorang daily rider.


    Apakah Anda memiliki keinginan atau target tertentu yang berhubungan dengan hobi bersepeda tersebut?

    Bagi saya, tidak ada target yang ingin diraih dari bersepeda. Karena menurut saya, bersepeda adalah sarana bermain sekaligus sarana transportasi – saya sudah dengan sengaja menjual mobil pribadi agar mau tidak mau pilihannya adalah bersepeda atau naik kendaraan umum seperti kereta, bus, atau jika darurat maka taksi dan ojek.  


    Apa perasaan yang Anda rasakan setiap kali bersepeda? Terutama setelah berhasil menempuh jarak yang maksimal dan mengarungi medan yang berbeda?

    Selalu senang, apalagi jika menempuh jarak yang maksimal! Saya ingat dulu pertama kali bersepeda jauh adalah saat ikut Last Sunday Ride sekitar empat tahun lalu. Saya ikut dengan gelagat sok tahu, padahal itu hampir 100 km! Sebelumnya, saya paling biasanya hanya sampai 10 km paling maksimal. Lalu saya pikir, oke, saya harus bersepeda 10 kali lipat dari yang biasanya, jadi saya pikir itu bearable. Tapi ternyata… gila, capek banget! Namun dimulai dari sana, tahun lalu justru saya bisa bersepeda dari Jakarta ke Bali. Itu pun dengan pemikiran teori yang sama, jarak 1200 km yang akan saya tempuh berarti bisa ditempuh selama 12 hari, agar sehari adalah 100 km, hahaha. Rasanya selalu senang, karena yang saya nikmati adalah perjalanannya dan proses bersepedanya.



    Apakah Anda biasanya lebih memilih bersepeda sendiri, atau bergabung dalam grup?

    Saya adalah tipe yang senang melakukan segala sesuatu sendirian, jadi saya pun lebih senang bersepeda sendirian. Namun kalau diajak dengan grup, saya pun ikut, kok. Meski terkadang di grup itu yang bikin keberatan adalah saat harus menunggu lama, karena saya adalah orang yang bertipe on time. Seperti saat ke Bali waktu itu, saya bersepeda dengan tujuh orang, jadi saya terkadang ada di paling depan atau justru di paling belakang karena saya lebih suka sendirian. Dalam proses bersepeda, saya memang menikmati kesendiriannya. 


    Apakah Anda rutin bersepeda setiap hari? Bagaimana biasanya Anda mengatur jadwal bersepeda di antara aktivitas yang padat?

    Ya, setiap hari! Karena kendaraan saya hanyalah sepeda. Meski bisa pergi naik MRT karena tempat tinggal saya dekat stasiun MRT, tapi jika harus ke tempat yang tidak ada akses MRT, maka saya prefer naik sepeda. Kecuali jika harus bertemu orang dengan keadaan rapi dan pakai rok, ya… maka saya menggunakan taksi.




    Adakah hal positif yang Anda dapatkan ketika menjalani hobi bersepeda ini? 

    Bersepeda adalah me-time saya. Saat bersepeda, rasanya saya bisa berkomunikasi dengan diri sendiri dan dengan alam semesta. Saya senang berbicara pada diri sendiri saat bersepeda, terutama sejak harus pakai masker ke mana pun. Bersepeda dengan masker itu berarti saya bisa bersepeda sambil bernyanyi! 


    Di mana track bersepeda favorit Anda?

    Bagi saya, track bersepeda itu tidak ada yang sama. Kalau lihat Strava saya, orang selalu menanyakan, bagaimana cara bikin track? Padahal sebenarnya saya ini adalah tipe orang yang malas berhenti saat bersepeda. Jadi semisal saya sedang di Jl. Sudirman, daripada berhadapan dengan lampu merah, maka saya akan pilih untuk belok kiri agar langsung melaju. Jadi track saya selalu tidak menentu. Saya mengikuti feeling saja! Kalau saat lampu hijau bisa belok kanan, maka saya akan berbelok ke kanan. Apapun itu, yang penting saya tidak mengulang jalan yang sama, karena saya paling tidak mau jika harus looping.


    Seperti apa persiapan Anda sebelum pergi bersepeda?

    Tidak banyak, kok. Saya biasanya hanya bawa kartu identitas diri, uang secukupnya – bahkan seringnya tidak bawa dompet – lalu ponsel saja. Dulu saya pernah punya sepeda dengan keranjang, dan itu membuat saya ingin bawa segala macam hal. Sementara semakin ke sini, saya ingin segalanya semakin ringkas agar tidak kebanyakan pikiran.




    Olahraga sepeda saat ini sedang begitu populer di tengah masyarakat. Bagaimana tanggapan Anda dengan meningkatnya penggemar sepeda saat ini?

    Saya senang dengan banyaknya pesepeda sekarang ini. Karena jadi menarik perhatian pemerintah hingga akhirnya kita bisa diberi lebih banyak fasilitas seperti jalur khusus sepeda. Dulu tidak ada, karena mungkin jumlahnya sedikit hingga rasanya tidak krusial untuk dibuatkan jalur sendiri.   


    Terakhir, apa pesan dari Anda untuk semua yang sama-sama sedang menekuni hobi sepeda ini?

    Tetaplah bersenang-senang, tapi jangan lupa untuk ride safely. Patuhi peraturan lalu lintas, karena ingat, kita memang menggunakan sepeda, tapi bukan berarti kita bisa sembarangan menembus lampu merah, ataupun ambil lawan arah karena kita bukan mobil dan motor. Please don’t do that! Karena selain berbahaya, namun itu juga bisa membuat orang lain yang tidak menggunakan sepeda jadi kesal melihat pesepeda.


    (Photographer: Panji Indra @TheCyclistPortrait)