Celebrity

Eksklusif! Putri Marino Bicara Film Terbaru Sampai Self-Love

  by: Givania Diwiya Citta       9/10/2020
    • Aktris pemenang FFI, Putri Marino, berbagi kabar tentang film terbaru bersama Angga Yunanda dan Gina S. Noer, dan tantangan shooting di tengah pandemi.
    • Sebagai sosok yang berada di bawah sorotan, Putri pun berbagi misi personalnya untuk merangkul berbagai perempuan di Indonesia, terutama lewat media sosial.


    Setelah sempat cuti dari industri film, Putri Marino kembali aktif dan baru saja menyelesaikan shooting proyek film terbaru, Cinta Pertama, Kedua & Ketiga. Kepada Cosmo, ia pun bercerita tentang tantangan bekerja di tengah pandemi, dan kerja samanya dengan lawan main Angga Yunanda serta sutradara Gina S. Noer. Lebih dari itu, Putri pun angkat suara tentang isu di masyarakat yang ia ingin beri perubahan, serta misi personalnya dalam memberdayakan media sosial dan sorotannya.




    Hai, Putri, apa kabar? Semua keluarga sehat?

    Puji Tuhan, sehat!


    Akhirnya Cosmo bisa photoshoot dengan kamu, Cosmo sangat menanti setelah jadwal shooting Cinta Pertama, Kedua & Ketiga selesai. Bagaimana rasanya shooting di tengah pandemi?

    Awalnya tidak terbiasa, karena jika dulu syuting tidak pakai masker dan bisa mengobrol jarak dekat dengan siapa pun, bisa menyapa kru, bersalaman dan berpelukan, sekarang lebih ketat, kami harus mengenakan masker dan tidak bisa bersentuhan. Tapi yang lebih terasa adalah justru saat sebelum syuting, seperti persiapan reading dan workshop, kami melakukannya secara online hampir selama dua bulan. Sangat tak biasa, kami tak bisa bertemu, tak bisa kontak mata, tak bisa bertanya langsung, belum lagi kalau internet sedang lemah!




    Apakah dengan reading dan workshop yang dilakukan online malah membuat prosesnya jadi lebih lama?

    Kami reading intens selama dua bulan, lalu sempat bertemu saat masa PSBB Transisi, jadi total reading hampir 3,5 bulan. Namun positifnya, reading yang lama justru sangat menguntungkan, lho! Karena jadi ada lebih banyak waktu untuk memperdalam karakter, lebih banyak waktu untuk memahami isi skenario, buat memahami sutradara, buat menjalin rasa aman dan nyaman antara satu sama lain. Dan ini pertama kalinya saya mengalami proses reading yang lama, enak sekali! 


    Menarik! Lalu apa yang paling kamu suka dari proses penggarapan film ini?

    Ini adalah film pertama saya sejak saya cuti hamil dan melahirkan. Tiba-tiba ada tawaran film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga. Penulisnya adalah Kak Gina (S. Noer). Wah! Sutradaranya pun Kak Gina. Oke!! Karena ini adalah kerja sama yang kedua dengan Kak Gina setelah Posesif, dan mendengar namanya lagi, saya mantap langsung ingin ikut casting. Saya akhirnya datang casting dan mengobrol dengannya. Di sana saya merasa ada koneksi dengannya. Menurut saya, penting sekali saat bisa merasa ada momen di mana koneksi dengan Kak Gina muncul. Setelah casting, saya diberi script. Bagi saya pribadi, saya harus jatuh cinta terlebih dulu dengan script sebelum memutuskan mau atau tidak untuk bergabung dalam film. Menurut saya, script adalah napas dari sebuah film, dan saat saya membacanya, saya merasa script ini sangat spesial. Saya merasa karakter yang saya mainkan juga sangat menantang! Akhirnya saya menjalaninya, dan rasanya film ini jadi yang paling menyenangkan dari semua yang menyenangkan!


    Apa yang paling bikin kamu merasa tertantang dari mendalami karakter yang kamu mainkan?

    Sebenarnya semua karakter yang saya mainkan sama-sama menantang. Namun karena saat itu ada rasa sudah lama sekali tidak main film, rasanya kangen untuk berakting dan berdiskusi dengan sutradara, lawan main, dan kangen untuk berkumpul di satu ruangan reading untuk mengulik isi skenario sama-sama. Apalagi dalam film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga, karakter saya sangatlah dewasa. Entah kenapa kata ‘dewasa’ ini bikin saya tertantang, karena saya penasaran ingin memerankan karakter yang dewasa secara penampilan dan pikiran. Berbeda terbalik dengan karakter Lala dari Posesif, yaitu anak SMA yang masih naif, kini saya memerankan karakter yang sangat realistis. 




    Setelah kerja sama yang kedua dengan Gina S. Noer, apa yang paling bisa kamu pelajari dari sosoknya?

    Saya selalu bilang pada diri sendiri, Put, kamu beruntung sekali bisa dapat sutradara seperti Kak Gina. Ia suka sekali membagikan ilmu dan sangat terbuka, apalagi pada aktor-aktornya. Ia juga sangat detail saat reading. Apalagi saat di lokasi, ia bisa lebih mendetail lagi! Makanya saya dan Angga (Yunanda) setelah take dan cut, tak pernah lihat monitor lagi karena kami percaya dengan penilaian Kak Gina. Menurut saya, aktor yang tak melihat monitor lagi setelah cut, berarti sudah punya level kepercayaan yang tinggi pada sutradaranya. Mengapa saya bisa sangat percaya padanya? Karena proses reading yang panjang dan komunikasi yang intens. Ia juga percaya pada saya untuk mengulik karakter sesuai yang saya tafsirkan dan yang ia tambahkan setelahnya.

    Pokoknya ada banyak hal yang belum saya ketahui tentang berakting, jadi saya ketahui sekarang. Seperti bagaimana dinamika emosi dalam suatu adegan, lalu bagaimana caranya untuk berakting bukan hanya di wajah namun justru di seluruh badan. Karena Kak Gina bilang, “Saat kamu berakting, bahkan ibu jari kamu pun ikut berakting,” dan bahwa “Dinamika adalah yang membuat suatu adegan jadi menyenangkan untuk ditonton.” Saya juga sempat latihan vokal untuk film ini, karena penting juga untuk aktor melatih vokalnya. Kak Gina juga tidak pernah bikin aktornya buru-buru, dalam arti jika kami butuh waktu untuk memperdalam emosi karakter saat di set lokasi syuting, maka ia akan mempersilakan ruang dan waktu bagi aktornya tersebut. Butuh waktu berapa lama pun, ia akan menunggu. Hal ini juga penting bagi seorang aktor agar merasa bahwa ia tidak diburu-buru oleh sutradara. Itu pula yang membuat saya, Angga, dan para pemain lain merasa sangat dihargai. Ia adalah salah satu perempuan yang saya kagumi. 


    Omong-omong soal Angga Yunanda, kamu pun bekerja sama dengan aktor menjanjikan dari Gen Z, yang juga sama-sama Cosmo kagumi! Apa pengalaman paling menyenangkan dalam bekerja sama dengannya?

    Angga adalah seorang partner yang sangat baik. Saat ada yang bertanya bagaimana membentuk chemistry dengannya, saya bisa bilang bahwa dengannya, semuanya berjalan mulus dan effortless. Saat pertama kali bertemu, kami bisa langsung mengobrol bahkan tak merasa bahwa ada gap umur di antara kami. Karena ini adalah salah satu yang disorot orang-orang, apalagi saat poster film Cinta Pertama, Kedua & Ketiga muncul, banyak yang mengomentari jarak umur kami. Well, itu memang fakta, tapi saat masuk ke film, itu adalah pekerjaan seorang aktor yang harus meninggalkan semua atribut personalnya, dan masuk ke dalam film dengan napas baru, seperti kami sebagai Asia dan Raja. 



    Saya sering bilang padanya, 'Kamu sudah curi start dengan sangat bagus!' Apalagi ia memulai kariernya di usia 20 tahun, lho! Sedangkan saya baru memulainya belum lama ini. Tapi saya bahagia memilikinya sebagai partner. Ia adalah pasangan diskusi yang sangat baik, pengingat yang baik, dan tak ada rasa tak enak di antara kami. Semoga chemistry kami tertangkap kamera, ya! 


    Cosmo tak sabar menanti filmnya! Anyway, seperti apa cara kamu dalam mengasah kemampuan berakting selama ini?

    Dengan memperbanyak casting, bertemu, dan diskusi dengan para aktor yang sudah lebih dulu terjun ke dunia film, atau dengan aktor yang kami kerja bareng. Mengasah akting itu tidak akan ada habisnya sampai kapan pun. Setiap project pasti memberi ilmu baru. Seperti Posesif film pertama saya yang selalu bikin saya sentimental sampai bisa ingat semua detailnya. Saat itu saya belum tahu seperti apa dunia akting ataupun seperti apa dalam membaca skenario. Namun karena proses dan memberanikan diri untuk melangkah, untuk berbuat salah, akhirnya saya belajar dari sana. Saya harus memerhatikan seperti apa orang lain saat reading, tidak malu untuk bertanya pada sutradara. Dan sekarang yang harus saya lakukan adalah untuk banyak menonton film, banyak baca buku, dan kalau sedang nonton Posesif, saya senang pause beberapa kali untuk mengulang lagi melakukan adegannya. Lalu meskipun syuting Cinta Pertama, Kedua & Ketiga sudah selesai, tapi sampai sekarang saya masih suka membaca skenarionya dan mempraktikkannya lagi dengan emosi yang berbeda kala syuting. 


    Apakah pilihan berkarier dalam akting ini sudah menjadi keinginan kamu sejak lama, atau justru berjalan secara candid?

    Sebenarnya tidak disengaja bahwa saya bisa terjun ke dunia film. Karena awalnya saya di Bali kerja kantoran, lalu ke Jakarta menjadi presenter acara TV, lalu takdir dan mungkin berjodoh, saya dapat film. Dan ternyata seru, ya, main film! Bikin adrenaline rush setiap kali datang ke tempat reading, setiap kali akan take... Saya jatuh cinta dengan dunia seni peran. Karena dunia ini penuh dinamika, dan saya menyukai hal-hal yang punya dinamika, seperti dunia film yang tak pernah habis untuk dieksplor dan punya ilmu tak terbatas. 


    Setelah kamu jatuh cinta dengan dunia film, apakah kamu memiliki target yang ingin dicapai untuk karier berakting?

    Targetnya hanya satu: Menjadi lebih baik lagi setiap melewati satu project, dan harus ada satu hal yang saya pelajari dari suatu project. Entah itu merupakan pembelajaran dari project film lama, atau pembelajaran dari project film terbaru saya yang akan saya terapkan dan asah pada project film mendatang saya. 




    Adakah nasihat terbaik yang pernah kamu terima hingga kamu jadikan prinsip dalam mengarungi karier di industri hiburan ini?

    Ada satu yang selalu saya ingat, yaitu dari Mas Edwin (sutradara Posesif), ia bilang, “Kamu akting bukan cuma ngomong saja ke lawan main, tapi yang penting adalah kamu mendengarkan lawan main kamu.” Itu sangat mengena pada saya. Karena terkadang kita justru tidak mendengarkan apa yang lawan main bicarakan. Meski itu bukan saat di set lokasi, di tempat reading ataupun workshop saja sebenarnya kita sudah harus mendengarkan lawan main, sutradara, bahkan mendengarkan kata hati. Mendengarkan memang susah, sih, tapi seiring berjalannya waktu pasti akan terasah.




    Setuju, terkadang skill untuk mendengarkan dan menyimak memang lebih sulit ketimbang berbicara.

    Tepat sekali! Semisal kita sedang grogi, kita pasti sudah tidak terpikirkan untuk mendengarkan orang lain. Kita justru terpikir balasan apa yang akan kita sampaikan setelah si lawan bicara selesai berbicara. Dalam akting, justru itulah yang membuat emosi jadi tidak keluar. Dengan kita mendengarkan dan menyimak, kita jadi tahu lawan main itu seperti apa, lalu apa yang ia maksud, jadi kita bisa membalasnya dengan emosi yang ia lemparkan pada kita. 


    Mari bicara hal lain selain karier. Sebagai figur publik, kamu menjadi salah satu perempuan yang di-look up oleh masyarakat dan generasi penerus, apalagi perempuan di luar sana. Kamu pun telah menjadi sosok seorang figur publik, perempuan, bahkan seorang ibu. Apakah kamu merasa ada standar tertentu ketika kamu hidup di bawah sorotan? Apakah ini menjadi tantangan tersendiri ataukah menjadi dorongan motivasi kamu?

    Saya tidak menganggapnya sebagai beban. Malah saya ingin menggunakan spotlight ini sebagai kesempatan saya untuk merangkul semua orang, merangkul semua perempuan di Indonesia, untuk menjadi lebih baik lagi bersama-sama. Saya tidak mau menempatkan posisi saya sebagai contoh yang harus diikuti. Yang saya mau, ayo kita sama-sama maju, karena saya ini juga perempuan yang sama seperti orang lain, sama-sama harus belajar lebih banyak lagi. Saya hanya punya poin plus berada di bawah sorotan, tapi pasti banyak orang lain yang lebih baik dan dewasa daripada saya. Namun karena saya punya wadah, jadi mengapa kita tidak sama-sama saling rangkul? Untuk belajar bareng, dan kalaupun kita berbuat kesalahan, kita bisa perbaiki sama-sama. Kalau saya menganggapnya sebagai beban, maka hanya akan jadi bumerang buat saya, karena saya malah tidak akan bisa menjadi diri sendiri. Namun memang tak terelakkan, saya jadi lebih menjaga perilaku. Tapi saya percaya ini bikin saya jadi lebih baik lagi.




    Cosmo juga senang memiliki kamu di industri hiburan Tanah Air, apalagi dari media sosial kamu yang kontennya positif. Apakah kamu punya misi personal untuk memberdayakan media sosial agar bisa berkontribusi menciptakan lingkungan yang lebih ramah lagi bagi khalayak?

    Saat pandemi COVID-19 melanda, saya merasa bahwa kita semua masuk ke suatu hal yang berbeda dan harus beradaptasi dengannya. Saya pun menggunakan media sosial saya sebagai satu platform untuk membuat followers dan khalayak merasa tidak seorang diri. Karena semua orang di dunia ini sedang merasakan hal yang sama. Banyak yang DM atau comment pada saya tentang cerita mereka, dan biasanya jika saya ada waktu, saya akan membalasnya seperti berbagi obrolan untuk bersabar. Saya lebih ingin jadi teman bagi mereka, meski susah karena saya tidak setiap saat aktif di media sosial. Tapi sebisa mungkin, saya ingin menyebarkan energi positif pada orang-orang yang melihat konten saya. Saya percaya dengan ilmu tarik-menarik. Jika kita melemparkan hal positif, maka positivity akan kembali juga pada kita. 

    Jika kita melemparkan hal positif, maka positivity akan kembali juga pada kita.

    Selain itu, saya juga concern tentang ‘perempuan terhadap perempuan’. Kadang saat saya melihat suatu permasalahan di media sosial antara perempuan dengan perempuan yang saling menjelek-jelekkan, saya heran, kenapa kita tidak bisa mengkritik yang membangun saja, yang bisa menciptakan ruang diskusi? Kenapa kita cenderung mengkritik yang menjatuhkan, dan berlandaskan kebencian? Sedih rasanya melihat ada perempuan saling iri, melakukan cyber-bullying. Saya ingin sekali pelan-pelan mulai mengedukasikan followers saya tentang hal itu.


    Mungkin sama halnya seperti isu body shaming yang kita kerap lihat terjadi pada perempuan.

    Yes, stigma masyarakat masihlah bahwa perempuan harus bertubuh langsing, tinggi, punya rambut panjang dan lurus. Well, menurut saya, sistemnya salah. Sebenarnya, normal itu apa, sih? Padahal semua orang itu punya arti normal yang berbeda-beda. Tapi selama ini, mengapa semua arti normal itu jadi sama? Karena kita takut dihakimi oleh orang lain, bukan? Itulah mengapa, menurut saya, sedari dini baiknya kita menormalkan keberagaman, selama itu hal positif, why not?


    Menurut kamu, apa hal sederhana yang bisa kita lakukan sebagai individu untuk meminimalisir hadirnya energi negatif?

    Kunci yang pertama adalah percaya pada diri sendiri terlebih dahulu. Karena jika tidak, maka energi negatif akan keluar terus. Ketika kita tidak percaya dengan diri sendiri, maka muncul rasa iri terhadap perempuan lain. Saat kita percaya dan cinta dengan diri sendiri, kita bisa menyebarkan energi positif pada orang lain.




    Bagaimana kamu akhirnya bisa meraih posisi self-love?

    Saya masih sangat belajar. Masih ada momen di mana saya bilang, duh, rambut saya keriting. Tapi lalu saya menampiknya, well, enggak apa-apa, kok, memang kenapa kalau keriting? Setidaknya, jeda dari energi negatif yang beralih menuju ke kesadaran jadi lebih pendek!


    Untuk meraih self-love, hal-hal apa saja yang biasanya kamu lakukan untuk mengumpulkan energi positif bagi diri sendiri?

    Kalau saya, me-time sudah pasti adalah baca buku. Saya semakin merasa menjadi diri sendiri saat membaca buku. Karena dengan membaca buku, hanya ada diri saya, pikiran saya, imajinasi saya, napas saya sendiri. Tidak ada orang lain, dan tidak ada yang bisa mengganggu saya. Sekarang saya juga ingin mulai konsisten meditasi, meski hanya 15 menit setiap bangun pagi! 


    That sounds so zen! Dengan kehidupan kita yang sedang terasa seperti roller coaster, adakah pesan dari kamu untuk melalui berbagai tantangan hidup, meski itu terjadi di luar kondisi pandemi?

    Semua orang mengalami berbagai kesusahan. Saat pandemi, mungkin ada yang kehilangan pekerjaan, mungkin ada juga yang kehilangan anggota keluarga, atau mungkin kehilangan dirinya sendiri. Yang kita alami ini berat, saya juga sangat berat saat melaluinya. Ingin sekali marah, tapi apa gunanya marah dengan keadaan? Yang terpenting sekarang adalah setidaknya lakukan satu hal setiap harinya yang bikin kamu bahagia. Sekecil apapun itu, seperti minum kopi, nonton Netflix. Malah hal-hal yang sebelumnya tidak pernah kita lakukan karena kita sebelumnya terlalu sibuk, justru bisa dilakukan sekarang, lho. Carilah hal positif di setiap hal dalam kehidupan kalian. Saya pun belajar begitu, yaitu mencari celah agar saya bahagia. Tapi ingatlah, kalian tidak sendiri. Kita menjalani ini bersama-sama. Memang berat, tapi pasti akan berlalu. Dan saat hal ini berlalu, kita akan bilang ke diri sendiri, kamu hebat sudah bisa melalui pandemi!




    Photographer: Hadi Cahyono

    Stylist: Dheniel Algamar

    Makeup Artist: Ifan Rivaldi

    Hair Stylist: Rangga Yusuf

    Wardrobe: Sejauh Mata Memandang


    (Givania Diwiya / FT / Layout: Rhani Shakurani)

    tags: putri marino