Lifestyle

Mengenal Sosok di Balik The Cyclist’s Portrait, Panji Indra

  by: Giovani Untari       14/10/2020
    • Sudah melihat proyek kolaborasi Cosmo x The Cyclist’s Portrait yang menampilkan figur para cyclist perempuan lintas profesi?
    • Kali ini mari kita berkenalan lebih dekat dengan sosok fotografer handal di balik The Cyclist Portrait, Panji Indra.


    Kecintaanya pada dunia fotografi dan juga bersepeda membawa sosok fotografer Panji Indra tergugah untuk menciptakan sebuah proyek dengan ide yang brilliant bernama The Cyclist’s Portrait. Melalui akun Instagram proyeknya @thecyclistportrait pula, sang fotografer mengabadikan foto-foto para cyclist dari berbagai latar belakang, golongan, dan profesi yang beragam dan exceptional. Beberapa hasil fotonya bahkan sempat viral dan begitu dipuji oleh warganet karena berhasil menampilkan potrait cyclist yang unik di sekitar kita. 

    Deretan foto yang diunggah Panji Indra dalam The Cyclist’s Portrait pun seolah bercerita dan memiliki maknanya tersendiri, membuat kita belajar tentang menariknya culture serta peran sepeda itu sendiri di dalam society.



    Yuk kita mengenal lagi lebih dekat sosok fotografer di balik The Cyclist’s Portrait, Panji Indra melalui interview-nya bersama Cosmo berikut ini:


    Hai Panji, seperti apa perkenalan pertama kamu pada dunia fotografi?

    Perkenalan pertama saya dengan fotografi itu dimulai ketika saya duduk di kelas 2 SMP melalui sebuah pelajaran fotografi. Dari sana saya mulai merasa sepertinya ini adalah sesuatu yang menyenangkan untuk saya tekuni. Ketika mulai masuk kuliah, saya bertemu dengan teman satu sekolah saya dulu yang juga menyukai fotografi. Awalnya saya sering meminjam kameranya untuk mulai belajar memotret di kampus. Bisa dibilang saya sebenarnya juga "dicemplungin" oleh teman saya agar lebih serius menekuni dunia fotografi ini. Dari sana saya akhirnya mulai membeli kamera saya sendiri dan belajar fotografi secara otodidak. Saya juga sempat belajar sisi teknis fotografi melalui sebuah kursus fotografi yang waktu itu berlokasi di daerah Tebet. Seiring berjalannya waktu saya juga bertemu dengan mentor fotografi saya bernama bang Tigor. Beliau banyak memberi wawasan dan sudut pandang atas dunia fotografi itu sendiri. Yang akhirnya sekarang beliau sering menjadi produser saya untuk beberapa proyek.


    Siapa sajakah yang menjadi influence kamu dalam berkarya di dunia fotografi?

    Kalau influence dari segi karya, saya suka karya-karyanya Peter Lindbergh, dan Annie Leibovitz. Karena menurut saya, foto-foto mereka sangat soulful sekali. Dan Annie Leibovitz juga terkenal sebagai fotografer yang suka membuat fotografi group shots. Group shots yang sangat indah menurut saya, karena berhasil ditata dengan penataan dan posing-posing yang bagus sekali. Kalau Peter Lindbergh dia adalah sosok fotografer yang terkenal senang memotret apa adanya dengan human subject-nya tanpa di-retouch sama sekali. Jadi kamu dapat merasakan sisi pure dari karyanya. Bagi saya itu menjadi sebuah gerakan yang bold terutama di dunia beauty dan fashion fotografi itu sendiri. Jadi, menurut saya karyanya sangat patut diapresiasi terutama keberaniannya untuk stand up against too much editing.




    Apa gebrakan pertama dalam karier fotografi kamu yang akhirnya jadi turning point perjalanan karier seorang Panji Indra?

    Adalah saat saya memutuskan untuk bergabung dengan salah satu majalah fashion dan lifestyle ibukota. Jadi, waktu saya sempat bergabung di majalah A+. Ini bisa dibilang menjadi segalanya bagi awal karier saya. Di sana saya ditempa belajar banyak hal, mendapat networking serta pengalaman berharga. Pengalaman tersebut sangat membantu saya belajar dan menerapkannya pada pekerjaan saya saat ini. Terutama pada masa itu, ketika kamu menjadi fotografer di majalah pada dasarnya kamu harus bisa mencoba semuanya. Mulai dari memotret untuk majalah, foto fashion, foto potrait, makanan, dan cover. Bahkan kita juga harus bisa memotret event seperti foto catwalk. Hampir semuanya harus bisa kita kerjakan sendiri termasuk urusan angkut mengangkut alat. Jadi ya kemandirian kita juga ikut dites di sana. Sama saya pun belajar problem solving saat mengatasi segala hambatan rintangan di lokasi pemotretan. Karena kita tidak pernah tahu kondisi lokasi itu seperti apa dan bagaimana caranya agar membuat tantangan tersebut tidak memengaruhi kita dalam membuat hasil foto yang bagus. Jadi menurut saya adalah sebuah pengalaman yang sangat bagus bisa bekerja sebagai fotografer di majalah. 


    Panji Indra kita kenal dengan karya-karyanya dunia editorial dan fashion photography, apakah kamu merasa terdapat perubahan dalam dunia fashion photography antara kini dan dulu ketika awal memulainya?

    Kalau perubahan dalam dunia fashion fotografi sih, dulu sama sekarang jelas terasa perbedaannya. Gaya foto dan orang-orang yang terlibat di dalamnya juga berbeda. Tapi yang paling terasa lebih ke gaya fotonya. Kalau gaya foto dulu kita lebih banyak mengunakan properti / props, lalu lighting, dan lebih terkonsep. Sehingga hasilnya harus dibuat dan jadi sebombastis mungkin. Secara teknik dahulu juga lebih menantang. Untuk sekarang, secara konsep sudah lebih effortless. Orang lebih senang bermain mood dengan natural light, yang mana teknisnya mungkin lebih tidak sesulit dibandingkan dulu.


    Cosmo sangat penasaran, bagaimana gagasan awal seorang Panji Indra untuk membangun @thecyclistportrait ini? 

    The Cyclist’s Portrait itu sebenarnya terlahir dari kegelisahan saya selama masa work from home. Saya berusaha untuk mencari ide agar tetap produktif meski di tengah pandemi. Karena latar belakang saya yang banyak di dunia fashion dan portrait, saya akhirnya berpikir "Wah kayaknya membuat portrait pesepeda-pesepeda menarik nih, apalagi sekarang kan animo masyarakat pada sepeda sedang meningkat sekali." Kita bisa melihat masyarakat dari berbagai golongan, latar belakang sosial dan ekonomi, menunjukkan minat yang sangat besar terhadap sepeda. Jadi menurut saya ini adalah sebuah era yang, yang sangat menarik untuk ditandain. Ini adalah fenomena yang belum pernah kita alami sebelumnya dan di tengah pandemi kita bisa menemukan tren tersendiri. Berhubung momennya sedang pas dan saya melihat orang bersepeda dengan jenis sepedar yang beragam, saya tertarik untuk mengabadikannya. Kebetulan saya juga melihat beberapa buku referensi tentang street style. Seperti The Sartorialist karya Scott Schuman dan juga ada buku Bike Style of New York jadi saya berpikir kenapa tidak membuat yang seperti ini di Jakarta? Akhirnya saya memutuskan membuat The Cyclist’s Portrait. Saya ingin membuat satu karya yang cukup berbeda dari karya-karya saya sebelumnya. Dan secara visual membuat orang-orang yang melihatanya mungkin berpikir "Ih kok ribet banget sih? Bikin background di tengah jalan gitu?" Tapi pada akhirnya itulah ciri khas dari The Cyclist’s Portrait yang ingin selalu saya pertahankan.


    Kamu pun merupakan seorang cyclist. Apakah ini menjadi inspirasi di balik pembuatan project @thecyclistportrait?

    Oh ya tentunya! Karena saya bisa melihat sendiri banyak teman-teman saya yang awalnya tidak pernah menunjukkan minat terhadap sepeda, trus mereka tiba-tiba bertanya mengenai sepeda kepada saya. Dan ya, menurut saya ini akan menjadi sebuah kumpulan foto yang menarik. Jadi saya ingin mengumpulkan orang yang bersepeda sebanyak-banyaknya dan lebih menyenangkan lagi jika bisa memukan pesepeda yang gayanya unik, style-style yang menarik, dan memiliki ciri khas tersendiri. Saya ingin membuat potrait dari para pesepeda, terlepas dari sepedanya apa dan berapa harganya.




    Siapa sajakah yang menjadi talent dalam fotografi untuk @thecyclistportrait

    Saya tidak pernah memihak ke salah satu jenis sepeda tertentu pastinya. Karena keinginan saya adalah The Cyclist’s Portrait ini bisa memotret berbagai jenis model sepeda yang ada. Lalu ini yang akhirnya membuat saya juga berpikir, harus ada portrait orang-orang yang sehari-harinya mencari nafkah dari dan dengan bersepeda. Seperti misalnya ibu-ibu penjual jamu keliling atau ibu penjual Yakult memakai sepeda. Karena bagaimapun juga, mereka bersepeda mungkin jauh lebih lama dari kita semua yang ada di koleksi The Cyclist’s Portrait. Lewat proyek The Cyclist’s Portrait ini saya juga ingin menunjukkan kalau sebenarnya banyak sekali pesepeda di sekeliling kita, hanya saja mungkin kita tidak pernah serius memerhatikannya. Proyek ini juga untuk menunjukkan kalau orang-orang yang mencari nafkah melalui sepeda setiap harinya itu ada dan mereka patut kita apresiasi. Mereka semua juga punya latar belakang dan ceritanya masing-masing dengan sepedanya.







    Apa tantangan terbesar yang kamu temukan dalam memotret profil cyclist yang dijumpai secara candid, dibanding melakukan pemotretan yang biasanya sudah terencana dan teriset sebelumnya?

    Jadi, untuk abang-abang dan ibu-ibu pesepeda yang biasanya berjualan ini terkadang tantangannya adalah lokasi dan timing. Seperti misalnya mereka lagi jalan atau buru-buru dan lokasinya tidak pas. Jadi jelas faktor seperti ini tidak memungkinkan untuk menggelar background dan memotretnya. Jadi ya kita harus pilih juga subjek dagangannya yang mungkin secara visual menarik dan bisa memiliki cerita. Saya tidak ingin terlalu banyak mengumpulkan foto yang sudah terlalu sama. Karena prioritas saya adalah foto dengan objek yang berbeda-beda. Terkadang juga para penjual ini suka merasa malu dan canggung untuk saya foto. Jadi, biasanya saya melihat dahulu apa jualan mereka. Kalau bisa saya beli pasti akan saya beli dagangannya baru saya meminta izin untuk foto. Saya juga melihat apakah mereka sedang sibuk atau tidak supaya tidak mengganggu dagangannya. Ya sejauh ini biasanya mereka sih mau difoto untuk The Cyclist’s Portrait. Walaupun pernah juga ada yang menolak karena mereka takut dengan kamera. Tapi ya saya sangat menghargai pilihan mereka.


    Dari mata seorang fotografer (sekaligus seorang cyclist!), apa hal/cerita paling menarik yang bisa Panji Indra utarakan dari sebuah imaji antara seseorang dengan sepeda miliknya?

    Cerita yang paling menarik itu ada di sisi para pesepeda sekaligus penjual dagangan keliling ini. Karena saya merasa cerita mereka tersebut sungguh sangat beragam. Saya pernah menemui sosok yang berjualan dengan sepeda selama 25 tahun, bahkan ada yang 50 tahun berjualan! Cerita yang paling saya ingat adalah ketika saya memotret seorang pedagang pisang di daerah Graha, Tangerang Selatan. Ia sudah berjualan pisang lama sekali dan sudah sangat berumur. Waktu itu saya datangi untuk foto dan beli dagangannya beliau berkata “Sudah mas bawa aja semuanya pisangnya”. Dari sana hati saya merasa sangat terenyuh. Meski tentu saja saya tidak mungkin membawa semua dagangannya. Cerita-cerita seperti ini membuat saya juga bersyukur pada hidup dan merasa kagum dengan mereka semua. Karena mereka bisa begitu gigih dan berkomitmen dalam hal bekerja dengan sepedanya.





    Dari seluruh hasil pemotretan yang telah kamu buat di @thecyclistportrait, apa target / tujuan ultimate untuk project ini?

    Jujur saya masih belum tahu tujuan akhirnya mau diapakan. Tetapi yang pasti saya ingin mengumpulkan dahulu karya ini sebanyak-banyaknya sesuai kemampuan saya. Kalau bisa dijadikan sebuah buku, tentu ini adalah hal yang sangat bagus. Saya juga sempat berangan-angan memiliki ekshibisi sendiri. Semoga bisa terwujud ke depannya. Tetapi kembali lagi sebenarnya proyek The Cyclist’s Portrait ini ingin membuat supaya orang lebih aware kepada culture bersepeda. Semoga bisa meng-grab audience yang lebih besar di kemudian hari.


    Simak juga serunya proyek kolaborasi Cosmo x The Cyclist’s Portrait dengan para female cyclist berikut ini:






    (Giovani Untari / Images: Dok. Panji Indra @TheCyclistPortrait / Ilustrasi: Rhani Shakurani)