Career

Tips Mengembangkan Diri dalam Berkarier dari Zivanna Letisha

  by: Givania Diwiya Citta       14/10/2020
    • Zivanna Letisha, Puteri Indonesia 2009 sekaligus founder Kitajuara.id berbagi tip dalam mengembangkan diri untuk berkarier di era yang baru.
    • Mengenal diri sendiri, mengelola rasa takut, dan memberikan me-time jadi langkah untuk memulai pengembangan diri secara personal dan profesional.


    Beberapa waktu lalu, Cosmo berkesempatan untuk berbincang dengan Zivanna Letisha, Puteri Indonesia 2009 sekaligus founder Kitajuara.id, yang membagikan tip mengenai “how to build personal growth in career”. Dari sosoknya, Cosmo belajar bagaimana kita bisa mengembangkan diri serta kemampuan, baik secara personal maupun profesional, karena kita telah memasuki era baru, di mana kita tidak akan kembali lagi ke zaman pra-pandemi, lho! Cosmo pun membahas bagaimana caranya agar kita bisa beradaptasi lebih baik dengan workforce yang punya banyak perubahan di tahun 2020 ini, mulai dari menjalani yang namanya remote working, meeting virtual, bahkan wawancara kerja virtual. Psst, saran Cosmo, simak, save, dan catat serta tulis di jurnalmu sendiri untuk mengikuti rangkuman langkah jitu dari Zivanna berikut ini. Inspiring!




    Hai Zivanna! Bagaimana rutinitas dan kesibukan selama #DiRumahAja?

    Saya berusaha menyeimbangkan semuanya di masa sekarang ini. Mungkin di saat seperti sekarang ini, kurang tepat kalau kita menjadi orang yang perfeksionis atau menjadi orang yang sangat ambisius, karena kita mungkin akan berakhir kecewa, karena mungkin akan ada banyak hal atau mimpi yang belum bisa terrealisasikan. But it’s okay, yang penting mood kita sekarang adalah survival saja dulu. Yang penting kita menjalani masa sekarang dulu, tak perlu memberi pressure banyak pada diri sendiri dulu. 


    Masa-masa self-quarantined selama pandemi telah kita lalui hampir lebih dari 6 bulan, dan hingga sekarang pun pandemi belumlah usai. Bagaimana cara Anda untuk tetap happy, produktif, dan kreatif selama di rumah saja dan selama melewati tantangan dari kondisi pandemi?

    Saya pribadi mencoba mengubah sudut pandang. Biasanya di kondisi pandemi kita merasa, “Susah, ya, tidak bisa meeting, tidak bisa bertemu klien, tidak bisa nongkrong dengan teman,” dan hanya berfokus pada apa saja yang tidak bisa dilakukan. Padahal kita lupa di balik semua yang tidak bisa dilakukan, ada hal yang bisa dilakukan. Menurut saya, mengubah sudut pandang tersebut sangat berpengaruh efeknya pada saya.



    Sebenarnya apa aksi kecil atau sederhana yang bisa kita lakukan untuk melakukan self-development, baik secara personal maupun profesional dalam berkarier?

    Saya mulai bisa menikmati rutinitas yang serba online, dan dari diri kita sendiri pun, harus bisa cepat beradaptasi. Semisal saya dulu sering jadi MC di suatu event, yang kemudian saya lakukan adalah membuat kelas online. Saya pun dapat advantage saat pandemi karena orang-orang mulai terbiasa menghadiri kelas online. Itulah program Kitajuara.id yang saya dirikan, yaitu yang saya bangun saat merasa stuck namun tetap ingin merasa berdaya ketika saya sudah lebih lama berada di rumah sebelum pandemi ini merebak, yaitu ketika saya melahirkan anak pertama saya. 


    Bersyukur, saya jadi lebih merasa bermanfaat sebagai manusia karena yang datang ke kelas saya jadi jauh lebih beragam. Jika dibandingkan saat menggelar kelas offline, mungkin yang datang hanya yang berdomisili di satu atau beberapa kota saja. Sementara saat kelas online, saya bertemu para coachee dari Aceh, Manado, sampai NTT! Saya bisa bertemu mereka secara virtual, namun saya tetap punya quality time dengan keluarga, dan saya pun tetap bisa menyalurkan passion saya di bidang pengembangan diri. 


    Saya merasa, kalau kita mencoba cari suatu hal, pasti akan ada kesempatannya. Bagi siapa pun yang merasa belum menemukan celah tersebut, maka galilah terus, karena di satu poin pasti akan ada titik cerahnya, kok!


    Menurut Anda, apa manfaat yang bisa didapatkan ketika kita bisa mengembangkan diri untuk memaksimalkan potensi diri kita? Apa dampak positifnya dalam berkarier?

    Tentu kita ingin berada di tempat yang lebih baik, mungkin jika dalam karier, kita ingin mendapat kenaikan gaji, atau posisi yang lebih baik, atau mungkin ingin di-approach oleh perusahaan yang lebih baik. Namun alangkah lebih baik, jika kita bisa menentukan tujuan akhir yang ingin kita tuju. Meski tak semua orang bisa mudah menentukan tujuan akhir, bahkan saya sendri, sampai hari ini pun masih terus belajar dan pergi dari satu tujuan ke tujuan yang lain. Seluruhnya akan ada prosesnya. Namun selama kita terus maju ke depan, bukan jalan di tempat apalagi mundur, maka kita sudah berada di jalan yang benar.


    Selama kita terus maju ke depan, bukan jalan di tempat apalagi mundur, maka kita sudah berada di jalan yang benar.


    Apakah langkah-langkah yang bisa kita lakukan untuk memulai mengembangkan diri dan mengembangkan kemampuan kita?

    Pertama, kita harus kenal dengan diri sendiri. Manfaatkan momen pandemi untuk berkenalan ulang dengan diri. Ada banyak waktu untuk refleksi dan introspeksi. Entah itu jika kamu adalah pekerja kantoran, mungkin kamu bisa menanyakan pada diri sendiri tipe pekerjaan apa yang sebenarnya diinginkan, atau apakah pekerjaan ini sudah sesuai dengan yang kamu inginkan. Jika belum dapat, maka jangan cepat puas dan berhenti mencari. Suatu hari nanti kita pasti akan berada di tempat yang diinginkan, tapi kita butuh melewati proses pembelajaran ini agar kita bisa ke tempat tersebut nantinya. Yang saya percaya, ketika kita sudah mengobrol lebih banyak dengan diri sendiri, cobalah catat – harus ditulis, ya, secara jelas apa saja kelebihan, kekurangan, kesukaan, ketidaksukaan, keinginan kita – agar kita pelan-pelan bisa mengarahkan diri ke tujuan. Kita bisa semakin dekat ke tujuan ketika kita mempersempit pilihan untuk mencapainya.


    Kedua, ketika kita merasa stuck dan sedang sangat hectic, dan merasa jadi bekerja melulu padahal WFH, hingga merasa ini sudah tak sehat lagi, maka kita harus kembali mengatur waktu dan energi kita. Kembali lagi, catatlah semuanya bahkan waktu yang digunakan untuk bersiap-siap di pagi hari, bekerja efektif, scrolling Instagram, menonton Netflix, dan lain-lain. Karena siapa tahu, ternyata ada alokasi waktu yang daripada terbuang tak jelas, bisa kita gunakan untuk mengembangkan diri dalam hobi, semisal ikut kursus memasak, atau ambil kelas yang mendukung karier kita, atau sesederhana untuk meluangkan waktu untuk berolahraga. 



    Lantas bagaimana cara untuk mengalahkan rasa takut akan gagal mencapai tujuan?

    Rasa takut pasti ada penyebabnya, dan inilah yang harus ditanyakan pada diri sendiri. Apakah penyebabnya takut dihakimi orang lain? Atau takut pada perasaan gagal? Atau takut untuk mencoba? Jika bicara tentang takut gagal mencapai tujuan, itu memang harus dipersiapkan. Menurut saya, kebanyakan dari kita selalu dipersiapkan untuk menang. Kita selalu dipersiapkan bahwa harus bisa ini, harus bisa itu. Tapi kita jarang dipersiapkan untuk kalah ataupun merasa gagal. Akhirnya kita merasa takut untuk gagal. 


    Kita hanya sering dipersiapkan untuk menang, seperti semisal di pekerjaan, kita kerap diberi training, mentor, diskusi dengan bos – semua adalah persiapan diri yang disediakan untuk menang. Tapi bagaimana jika gagal? Jarang ada pelatihannya. Jadi menurut saya, memang harus dicoba. Tidak ada cara lain selain mencobanya, like it’s now or never! 




    Sekarang pilihannya ada dalam diri kita, apakah kita mau membiarkan rasa takut itu menjadi besar dalam diri kita, hingga kita menjadi nyaman di posisi kecil karena takut gagal jika harus melangkah lebih besar? Ataukah kita mau tabrak lari saja, entah itu akan menang atau kalah, dan lihat saja hasilnya selama kita punya daya dan upaya untuk melakukan yang terbaik, daripada menyesal di kemudian hari?


    Skill set apa saja yang secara esensial perlu kita asah, yang bisa menunjang pengembangan diri kita?

    Pertama adalah komunikasi. Karena kita tidak hidup dan bekerja sendirian, apalagi di masa pandemi yang semuanya serba virtual, kalau kita salah memberi tanda baca saja di chat, itu sudah bisa jadi salah arti. Komunikasi sesederhana bilang terima kasih, minta tolong, minta maaf, seperti masih menghubungi tentang pekerjaan di luar jam kerja, juga menjadi sangat penting. Karena pasti dampaknya akan berbeda pada yang menerima pesan jika kita berkomunikasi lebih baik, meskipun tujuannya sama, yaitu untuk mengingatkan tentang pekerjaan.


    Kedua adalah daya tahan tekanan, tentang kemampuan kita mengontrol diri ketika di bawah tekanan. Apalagi saat semua sedang WFH, bekerja dengan segala keterbatasan, kita bisa dengan mudah merasa stres, juggling, dan burnout – padahal di masa sekarang ini, imunitas yang paling kita butuhkan. So no matter how hard you work, selalu sempatkan untuk olahraga, untuk me-time, agar bagaimana pun tetap sehat secara mental, dan bisa berdamai dengan situasi seperti ini. 


    Ketiga, terbuka untuk menerima kritik dan saran, serta kemampuan bekerja sama dalam tim. Saya pun sampai sekarang masih belajar tentang hal ini. Karena pasti ada saja hari-hari di mana kita tidak bisa membuat semuanya under control. Tapi jika kita tahu kita salah, mencoba minta maaf dan menjadi lebih baik lagi, pasti akan lebih diterima oleh tim. Dan tim pun bisa melihat bahwa kita mau untuk terbuka dengan kritik, dan intinya, kita mau maju sama-sama.



    Bagaimana cara Anda dalam membuat mental tetap bahagia agar tidak burnout kala bekerja ataupun mengembangkan diri?

    Saya selalu mengusahakan untuk berolahraga, sesederhana jalan kaki 10.000 langkah per hari. Tapi kalau pun tidak sampai target pun tak apa – lagi-lagi saya tidak memberi tekanan untuk diri sendiri. Dan tentunya menonton K-drama! Karena setidaknya itu membuat saya merasa punya sesuatu untuk dinanti, meski hanya ingin menonton satu episode saja. Ini juga membuat saya merasa bahwa setelah bekerja seharian, saya layak mendapatkan istirahat dan menikmati sisa hari.


    Berdasarkan pengalaman, saya juga pernah berada di titik di mana hari terasa sangat padat dan sibuk. Tapi ternyata, sibuk dan produktif adalah dua hal yang berbeda. Saat itu saya merasa stres dan burnout hingga lupa apa tujuan saya sebenarnya. Saya tenggelam dalam rutinitas harian, hingga lupa meluangkan waktu untuk refleksi dan evaluasi diri. Saya merasa seperti kereta api yang terus berjalan, padahal yang sehat adalah saat kita bisa berhenti sejenak. Kita bisa menarik napas dulu, relaks, lalu berjalan lagi. Oleh karenanya me-time itu penting. 


    Tahun 2020 ini, kita pun mesti beradaptasi dengan workforce baru. Menurut Anda, bagaimana cara kita beradaptasi dengan transisi baru di dunia kerja tahun ini? 

    Menurut saya, kita sedang berada di era di mana kita harus cepat tanggap dengan segala perubahan situasi. Ikuti saja dan beradaptasilah dengan cepat. Jika tidak mengerti, pelajari. Jika tidak biasa, biasakan. Jika tidak nyaman, buatlah kenyamanan sendiri. Saya pun sempat mengobrol dengan Najelaa Shihab, Kepala Sekolah dari Sekolah.mu, ia bahkan berbagi pendapat bahwa dari sudut pandang pendidikan, sekolah tak akan pernah jadi sama lagi. Kita tidak akan mungkin kembali ke sekolah dari era pra-pandemi. Kita akan hidup seperti ini, bahkan akan ada banyak hal lagi yang bisa dibuat secara virtual. Jadi yang harus kita lakukan adalah membiasakan diri, beradaptasi, dan cepat tanggap. 


    Kita sedang berada di era di mana kita harus cepat tanggap dengan segala perubahan situasi.


    Lalu setelah kita belajar untuk mengembangkan diri, bagaimana cara kita untuk membangun personal-branding bagi pengembangan kemampuan kita tersebut? 

    Setelah kita memiliki ilmunya, maka kita bisa mengaplikasikannya ke bidang masing-masing. Personal branding bukanlah suatu hal yang dibuat-buat, karena itu akan merepresentasikan kepribadian kita. Apakah kita ingin dikenal sebagai, semisal, pekerja bank dengan side job wirausaha? Apakah kita lantas ingin mengembangkan wirausaha menjadi besar dan meninggalkan profesi banker? Semua itu adalah bagian dari personal branding. 


    Begitu juga dalam karier, semisal kita memiliki minat terhadap desain grafis meskipun kita adalah seorang banker. Bagaimana cara kita membangun personal branding? Itu bisa dimulai dari lingkungan kantor. Semisal akan ada acara kantor, kita bisa secara sukarela menawarkan untuk mendesain posternya, hingga mungkin bisa menemukan rezeki lain yang lebih besar dalam bidang hobi tersebut, atau bisa menjadikannya side hustle yang menguntungkan. Belum lagi ada kekuatan dari media sosial, yang bisa terbukti ampuh berhasil membentuk persepsi orang tentang brand diri kita. 


    Jangan biarkan pandemi ini membuat kita jadi kurang kreatif atau bikin kita stuck, putus harapan dan asa, karena justru dengan semua keterbatasan kita, terdapat peluang yang tidak terbatas.


    (Givania Diwiya / Image: Dok. Zivanna Letisha / Layout: Rhani Shakurani)