Love & Sex

Penting! 5 Kata Kunci yang Bikin Hubungan Cintamu Langgeng

  by: Givania Diwiya Citta       18/10/2020
    • Apakah hubungan asmara yang berhasil itu bergantung pada beberapa kata kunci yang terdengar sepele? Esther Perel menjelaskannya pada Cosmo.
    • 5 kata kunci berikut ini akan membuat hubungan cintamu langgeng, karena kelimanya akan memberi ikatan kalian kesempatan untuk jadi kuat.


    Kita kerap bingung terhadap hal-hal penting tentang cinta. Kita cenderung melihatnya sebagai bagian hidup yang penuh dengan antusiasme saja. Padahal, ‘mencintai’ adalah sebuah kata kerja, dan kata kerja itu bersifat dinamis. Artinya, ada aksi, niat, dan tanggung jawab yang terlibat. Dengan berfokus pada lima kata kerja berikut ini, kita mampu meningkatkan hubungan secara konkret, dan bisa meningkatkan kemampuan agar bisa sukses menjalani hubungan di masa depan. Tak perlu untuk menguasai penuh kelimanya dalam satu waktu. Coba, manakah yang paling tak mudah kamu lakukan di antara yang lain? Mari fokus untuk menguatkan satu demi satu kata kunci berikut ini.





    Memberi (To Give)

    Memberi yang sesungguhnya adalah tentang kemampuan untuk selaras dengan kebutuhan seseorang yang lain, agar membuat orang lain tersebut merasa spesial, dicintai, dan merasa berharga. Jika kamu merasa bisa memberi secara lebih, mungkin itu karena kamu tumbuh dengan perasaan tak ada orang yang pernah memperjuangkan kebutuhanmu, jadi kamulah yang harus menjadi pejuang keras bagi kebutuhan sendiri.

    Atau bisa jadi kamu tipe yang merasa ketika kamu memberi, kamu kehilangan sesuatu. Jika itu kasusnya, maka berlatihlah untuk merasa nyaman ketika memberi; bahkan ketika kamu tak akan dibayar oleh apapun sebagai imbalannya. (Memberi pada orang lain juga merupakan obat anti-depresi yang kuat. Ketika kamu memberi, kamu merasa berdaya.)

    Memberi kepada pasangan juga memberimu kekuatan – bukan untuk menguasainya, namun justru kekuatan untuk menumbuhkan ikatan kalian. Tak perlu memberi hadiah besar-besaran atau yang mahal, hal-hal kecil justru jadi lebih berarti ketika dilakukan secara reguler: mengisi kulkas pasangan dengan minuman favoritnya, memberi pijatan punggung ketika ia mengalami hari yang berat. Bisa juga memberi waktumu, perhatianmu.

    Begitu juga memberi dalam hal seksual. Seharusnya tak masalah untuk memberi agar mendapatkan sesuatu – idealnya, memberi pada seseorang seharusnya datang dari rasa kepercayaan diri dan ketulusan, bukan karena rasa insecure atau merasa harus melakukan kewajiban. Pikirkan berapa banyak aksi memberi yang telah kamu lakukan di beberapa minggu terakhir ini, versus semua macam interaksi lain. Seharusnya semuanya seimbang, dan seharusnya berjalan secara dua arah.



    Menerima (To Receive)

    Kamu pasti tahu beberapa orang yang tak bisa menerima pujian, bukan? Banyak yang masih belum bisa menerima pemberian kecuali ada syaratnya, dan mereka kesulitan memercayai bahwa ada orang lain yang mau melakukan hal baik pada mereka tanpa meminta imbalan.

    Jika menerima sesuatu – pujian, hadiah, gestur baik – membuatmu merasa kamu jadi berhutang kepadanya, maka kamu harus melatih hal ini. Menerima berarti memercayai seseorang untuk merawat dirimu. Dan menerima juga jadi hal sensitif dalam seks: merelakan, tidak memalsukan apapun ketika pasangan sedang berusaha membuatmu nyaman. Sebuah hubungan tak bisa sepenuhnya diisi kejujuran kecuali kedua belah pihak nyaman untuk menerima, terutama ketika yang kamu terima adalah sebuah kenikmatan.



    Memperoleh (To Take)

    Pria diajarkan untuk memperoleh apa yang mereka butuhkan, oleh karenanya mereka cenderung tegas secara seksual. Perempuan telah dilatih bahwa apapun kenikmatan yang diberi oleh pasangan, maka itulah yang kamu peroleh. Tapi dalam hubungan, hal seperti itu tak akan berhasil.

    Terkadang ia tak tahu caranya untuk memuaskanmu. Terkadang hanya kamu yang tahu bagaimana caranya. Jadi berbagi informasi itu dan memperoleh apa yang kamu butuhkan, adalah cara agar kalian bisa berkembang bersama, jika kita berbicara dalam konteks seksual.

    Sifat asertif bahkan membantu kamu mendapatkan pekerjaan ataupun promosi dalam karier, dan begitu pula pentingnya dalam urusan ranjang. Perempuan tak perlu jadi agresif untuk memperoleh sesuatu. Ada perbedaan antara tegas dan agresif. Tegas melibatkan pengertian sehat tentang kepemilikan hak. Sementara agresif artinya menggunakan kekuatan atas seseorang untuk mendapatkan sesuatu.



    Pikirkanlah kalimat ‘Ambillah waktumu’. Ketika perempuan ditanya apa yang bisa diperbaiki dari kehidupan seks mereka, banyak yang menjawab bahwa mereka ingin pasangan mereka slow down, dan ingin pasangan mereka menyentuh serta memeluk mereka lebih banyak. Maksudnya ‘ambillah waktumu’ adalah beri diri sendiri izin untuk merasa layak mendapatkan hal tersebut, dan mendorong diri secara lembut agar tegas. Bilang pada pasangan: ‘Aku suka saat kamu menyentuhku di sini. Terus lakukan. Rasanya nikmat sekali.’ Memperoleh dan meminta itu berhubungan. Terkadang keduanya harus dilatih bersamaan.



    Menolak (To Refuse)

    Sayangnya, beberapa hal tak akan berubah secara mudah. Perempuan tetap melakukan banyak sekali pekerjaan atau hal, yang bahkan tak mereka sukai di ranjang, karena mereka kesulitan untuk bilang tidak. Namun agar kamu bisa merasa tetap melakukannya dengan persetujuan, kamu pun perlu merasa bahwa kamu diizinkan untuk menolak.

    Perempuan terkadang hanya mengikuti arus saja agar tak menyakiti perasaan pasangannya. Bisa dibilang, pasangan mungkin suka ketika kamu melakukan beberapa hal, tapi kamu tak akan menyukai dirimu sendiri. Satu kunci untuk kehidupan dan hubungan seks yang sehat adalah belajar untuk bilang tidak, namun bukan berarti menutup segala pintu kesempatan sepenuhnya.

    Coba katakan, ‘Aku suka mencoba beberapa hal baru, tapi kalau aku merasa tak nyaman, aku tak ingin melanjutkannya.’ Atau ‘Cara kita melakukannya akhir-akhir ini tidak nyaman bagiku. Mungkin kita bisa mencoba cara yang lain.’ Penting untuk belajar bilang tidak agar tak membuat pasangan atau seseorang merasa ditolak atau tak dicintai.

    Mengatakan tidak – dan mendirikan batasan – adalah dimensi esensial dalam hubungan. Terkadang suatu hal bisa kamu katakan ‘tidak’ untuk sekarang, terkadang juga artinya ‘tidak’ untuk melakukannya dengan cara tertentu. Tapi di setiap hubungan, kamu perlu tahu di mana saja kamu tak bisa selalu bilang iya.



    Bermain (To Play)

    Kemampuan untuk jadi konyol dan berkelakar bersama itu penting bagi ikatan suatu pasangan. Dari momen kita terlahir pun, kita terikat dengan orang lain lewat bermain-main. Itulah cara kita belajar untuk percaya dan mengambil risiko. Kita pun jadi tahu banyak tentang seseorang dan betapa cocoknya kita dengannya lewat cara mereka bermain: Siapa yang kerap melanggar aturan? Siapa yang lebih mahir dalam olahraga?

    Bermain membuat kalian jadi lebih kreatif dan bisa membangun mimpi bersama, menikmati celah kebahagiaan di antara kesulitan yang ada di kehidupan nyata. Bisa saja saat kalian berjalan kaki bersama, kamu tiba-tiba menggandeng tangannya dan berjalan terbalik, kalian pun bisa tertawa bersama.

    Bermain juga jadi faktor besar dalam hal seksual – agar membuat segalanya tetap menarik, kamu harus punya kemampuan untuk lebih playful, nakal, dan jadi tak terduga. Ketika ada pasangan yang mengeluh bahwa mereka bosan, itu adalah karena mereka berhenti bermain. Tertawa dan melucu bersama adalah cara pasangan menciptakan memori dan petualangan. Itu adalah cherry on top dari semua hubungan yang baik.


    Sumber: Esther Perel adalah terapis seks dan hubungan, penulis bestselling dari Mating In Captivity, dan konsultan untuk serial The Affair. Ted Talks miliknya tentang hasrat dan perselingkuhan telah ditonton lebih dari 14 juta kali.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.in / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Givania Diwiya / Image: Dimitri Kuliuk from Pexels)