Lifestyle

Kehilangan Semangat untuk Membaca Buku? Baca Tips Berikut!

  by: Alvin Yoga       16/10/2020
  • Kembali ke bulan Maret, ketika keadaan masih cukup jelas bahwa saya akan menghabiskan beberapa minggu ke depan di dalam rumah. Dengan polosnya saya berpikir: Yah, setidaknya saya akan punya banyak waktu untuk membaca buku di rumah. Seribu lima ratus sembilan puluh tujuh hari kemudian (oke, tidak benar-benar seribu lima ratus hari, tapi siapa sih yang benar-benar menghitung sudah berapa lama kita berdiam diri di rumah?), kenyataannya tentu saja tidak seperti itu. Like, at all. Saya termasuk salah satu orang yang suka sekali membaca buku; saya bahkan berhasil menamatkan setidaknya 17 buku di tahun lalu. Tapi sejak melakukan self-quarantine, saya bahkan sudah senang bisa menghabiskan satu buku: Goodbye, Things oleh Fumio Sasaki. Dan ketika saya berusaha untuk menyelesaikan buku berisi kumpulan prosa dari Jalaluddin Rumi, rasanya seperti otak saya terbang entah ke mana.

    Dan tentu saja hal ini membuat saya frustasi karena buku adalah, well, it's MY thing. Tentu saja saya bukan satu-satunya orang yang merasa demikian. Menurut survei yang dilakukan oleh Cosmopolitan US, 3 dari 4 orang pembaca turut merasakan hal yang sama.

    Jelas sudah, pandemi ini tidak menciptakan suasana yang ideal untuk membaca buku. Terlebih kalau kamu sedang sakit, atau merasa sedih akibat kehilangan seseorang, atau mungkin yang dirasakan oleh kebanyakan orang: terlalu lelah akibat bekerja seharian.



    Bukan berarti saya menyerah begitu saja pada keadaan. Saya bahkan berusaha untuk mengumpulkan energi dengan cara tetap membeli beberapa buku yang saya inginkan secara daring, meskipun tahu bahwa saya tak punya waktu untuk membacanya. Dan pada akhirnya, saya malah kebingungan mana buku yang harus saya baca terlebih dahulu.

    "Kehidupan banyak orang telah berbalik 180 derajat, dan ada banyak sekali hal yang tidak menentu di luar sana, sehingga hal tersebut secara kronis menciptakan suatu distraksi," ujar Dr. Ramani Durvasula, seorang psikolog klinis. Apalagi jika kamu terus menerus membaca berita, kehilangan pekerjaan atau cemas akan kehilangan seseorang yang berarti untukmu. Hal tersebut membuat membaca terasa lebih berat bagi otakmu dibandingkan kebiasaan bersantai yang lain (seperti menonton TV atau melamun).

    Namun membaca bisa menjadi jalan pintas yang mudah kalau kamu ingin kabur sejenak dari dunia nyata, dan membaca adalah suatu kegiatan yang mengedukasi. Cosmopolitan US bertanya pada beberapa penulis dan pembaca mengenai tips untuk membaca buku tanpa membuat pikiran kelelahan. Ini saran mereka:


    Tempatkan buku-buku yang ingin kamu baca di dekatmu

    Sure, kamu mungkin punya daftar to-be-read alias buku yang ingin kamu baca di Goodreads, tapi akan jauh lebih membantu jika kamu melihat buku-buku tersebut berada di dekatmu setiap harinya. "Saya menaruh dua sampai tiga buku yang ingin saya baca di samping tempat tidur," ujar aktris Emma Roberts, co-founder dari klub buku Belletrist. "Hal tersebut memotivasi saya dan membuat saya bersemangat. Saya akan berpikir, okay, ini adalah urutan bagaimana saya akan membaca buku-buku tersebut."


    Coba audiobook

    Kalau duduk diam justru membuatmu gelisah karena pikiranmu langsung melayang pada daftar tugas yang harus kamu kerjakan, audiobook mungkin bisa menjadi sahabat barumu. "Saya menemukan bahwa mendengarkan buku sambil membersihkan ruangan atau memasak membuat saya lebih santai, dan membuat saya lebih cepat menyelesaikan satu buku dibanding biasanya," ujar Ashley Spivey, mantan kontestan The Bachelor yang kini membuka sebuah klub buku.

    Belum pernah mencoba audiobook? Unduh Libby, yang memperbolehkan kamu untuk menyewa buku secara gratis dari perpustakaan mereka. 


    Ciptakan rutinitas membaca yang baru

    Elisabeth Thomas, pengarang Catherine House, biasa membaca ketika sedang berada di perjalanan menuju atau pulang dari kantor. Tapi kini ketika perjalanan "pulang"nya hanya dari tempat tidur ke meja kerja (meh, sama, paling hanya tiga meter?) ia kemudian memodifikasi rutinitasnya.

    "Saya kini suka membaca buku ketika baru bangun tidur di pagi hari, sebelum mulai bekerja," ujarnya. "Sama seperti ketika saya sedang berangkat menuju kantor! Saya akan berguling di sofa dengan secangkir besar teh hangat, lengkap dengan gula dan sedikit susu, lalu saya akan membaca selama setengah jam peuh. Saya rasa ritual tersebut sangat membantu saya untuk lebih fokus berkonsentasi."

    "Jadwalkan waktu untuk membaca setiap harinya, tak peduli seberapa sedikit materi yang kamu baca atau seberapa singkat waktu yang bisa kamu berikan untuk membaca," saran Etaf Rum, penulis A Woman Is No Man yang juga membuka sebuah toko buku sekaligus kedai kopi Books and Beans di Rocky Mount, North Carolina.


    Ambil "liburan sejenak untuk pikiranmu"

    Jika tidak salah, di bulan Februari, salah satu klub buku yang saya ikuti di media sosial merekomendasikan Severance, sebuah novel fiksi yang ceritanya mengangkat isu pandemi. Sebulan kemudian, kebanyakan dari kami tentu saja tidak menyelesaikan buku tersebut karena isinya terkesan...terlalu nyata.

    Setelah ditelusuri lagi, kami semua membutuhkan sesuatu yang disebut Ashley Spivey sebagai "mind vacation"—sesuatu yang mengalihkan kita dari situasi saat ini. Ia berkata, "Saya suka sekali dengan fiksi literasi dan fiksi historis, namun karena segala sesuatunya kini sangat sulit, saya hanya ingin membaca kisah romansa yang bahagia." Cobalah membaca You Should See Me in a Crown oleh Leah Johnson.



    Atau jika hidup-bahagia-selamanya bukanlah sesuatu yang kamu suka, cobalah sesuatu yang benar-benar berbeda. "Saya menyukai ide bepergian lewat buku," ujar Frances Cha, penulis If I Had Your Face. "Saya mulai dengan membaca Unorthodox, sebuah memoar tentang seorang perempuan Yahudi yang kabur dari komunitasnya di Brooklyn ke Berlin."


    Dua kata: cerita pendek

    "Saya telah mengirimkan hal ini pada semua orang yang saya kenal, yang kini sedang self-quarantine—sebuah cerita pendek bergenre sci-fi yang berjudul 'The Touches' karangan Brenda Peynado," ujar Emma Roberts. "Ini adalah cara yang sangat baik untuk mengontak seorang teman, dan kamu memberikan goal yang lebih mudah diraih dibanding menyarankannya membaca sebuah buku setebal 400 halaman yang tidak akan ia baca meskipun ia berkata bahwa ia akan menyelesaikannya."


    Dua kata lagi: novel grafis

    Cha juga menyarankan untuk membaca buku komik. "Sebuah buku terbaru dari seorang kartunis asal New York, Liana Finck, yang berjudul Excuse Me: Cartoons, Complaints and Notes to Self adalah buku yang sangat menarik, benar-benar nyata, serta penuh humor," ujarnya. Plus, gambar yang cantik.


    Tukar bukumu dengan buku temanmu, dan tambahkan hadiah

    Karena kamu sedang tak bisa bertemu langsung dengan teman-temanmu untuk bertukar cerita, kamu bisa mencoba "bertukar cerita" dengan cara saling mengirimkan buku. Dan, tambahkan sedikit hadiah. "Ketika saya kehabisan bahan bacaan, mendapatkan sebuah buku baru ditambah dengan hadiah kecil rasanya seperti mendapatkan kado ulang tahun," tutur Emma Roberts.


    Ikut sebuah klub buku

    "Bergabung dengan sebuah klub buku membuatmu terhubung dengan sebuah komunitas," ujar Emma Roberts, yang telah mendirikan Belletrist sejak 2017. Emma tahu—ia telah mencintai buku sejak masih sangat kecil, ketika ia homeschooling dan bergantung pada klub buku sebagai langkah untuk berhubungan dengan orang lain. "Ada banyak pembicaraan menarik dan kisah personal yang bisa kamu dapat ketika sedang bertukar buku dengan orang lain."


    Jika deadline membuatmu termotivasi, sebuah klub buku mungkin akan menjadi sarana yang tepat untuk memaksamu kembali membaca buku. Mulailah dengan saling mengobrol bersama salah satu temanmu yang juga gemar membaca buku, atau ikuti klub buku terkenal nasional, seperti Klub Buku Narasi atau @komunitaspembacabuku. Atau, kamu juga bisa mengikuti klub pembaca buku yang ada di kotamu. Cosmo menemukan ada banyak sekali klub buku lokal yang tersebar di kota Bandung.

    "Ketika kamu ikut dalam sebuah klub, tak ada alasan untukmu untuk berhenti membaca," ujar penulis buku, Etaf Rum.


    Psst, tak jadi masalah jika kamu butuh berhenti sejenak dari membaca buku

    Terkadang otakmu berpikir, "Oke, cukup, nope!" dan hey, tentu saja, that's okay. "Kita dan seluruh dunia sedang menjalani masa trauma yang berjalan sangat lambat," ujar Elisabeth Thomas. Taruh dulu buku bacaanmu, dan kembalilah untuk membacanya nanti. Buku tersebut akan tetap berada di sana, menunggu untuk dibuka ketika pikiranmu sudah kembali jernih.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dlakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / Image: Dok. Cosmopolitan US)