Better You

Wajib Tahu! Ini Perbedaan antara OCD dan Anxiety

  by: Givania Diwiya Citta       19/10/2020
  • Kini ada semakin banyak informasi di luar sana mengenai kondisi kesehatan mental, tapi sampai kamu menerima diagnosa yang resmi, kamu mungkin masih akan sedikit kebingungan. Dengan kondisi kesehatan mental yang dilaporkan terjadi peningkatan selama lockdown – bahkan survei terbaru mengungkapkan bahwa 80% orang British merasa bekerja dari rumah telah memberi dampak negatif pada kesehatan mental mereka – penting untuk tahu secara jelas apa yang sedang dihadapi, dan menemui dokter jika kamu butuh bantuan.


    Menemui ahli menjadi sangat penting, karena beberapa kondisi – seperti Obsessive Compulsive Disorder (OCD) dan Generalised Anxiety Disorder (GAD) atau gangguan kecemasan umum – bisa terasa mirip dalam beberapa kondisi, dan mungkin jadi disalah mengerti antar satu sama lain.




    OCD mungkin paling terkenal karena menyebabkan perilaku kompulsif. Tapi para penderita gangguan kesehatan mental juga bisa mengalami pikiran yang sulit untuk dihalau. Miripnya, ketika kegelisahan sedang terasa intens, maka tricky untuk menghilangkan pikiran-pikiran tersebut dari akal. Di sanalah overlap bisa muncul, menimbulkan kesalahpahaman tentang apa yang sebenarnya sedang terjadi.


    Jika kamu belum yakin apakah kamu mengalami gangguan kecemasan umum, ataukah kamu mengalami OCD, maka ada beberapa kunci perbedaan yang perlu kamu tahu tentangnya. Cosmo pun menanyakannya pada Fionuala Bonnar RMN, CPN, BSci, direktur di Mental Health First Aid England, untuk menjelaskan perbedaannya. Simak jawabannya serta nasihatnya berikut ini.



    Apakah itu anxiety atau kecemasan?

    Anxiety atau kecemasan itu sendiri merupakan respons normal yang dirancang untuk menjaga kita tetap aman lewat memeringatkan kita pada potensi situasi berbahaya dan memotivasi kita untuk menyelesaikan masalah sehari-hari. Ketika kita merasa gelisah, kita mungkin menyadari beberapa respons fisik (detak jantung yang cepat, berkeringat, mulut kering, rasa sakit), serta respons psikologis (tidur yang terganggu, pikiran yang melompat-lompat atau malah blank, memori yang payah) dan pada perilaku juga (menghindari situasi atau tempat tertentu, ataupun perilaku seperti berulang-ulang mengecek apakah sudah mengunci pintu, dan lain-lain).


    “Setiap orang mengalami kegelisahan di beberapa waktu. Jika terkadang merasa gelisah, terutama terhadap suatu kejadian atau situasi yang menantang atau mengancam, maka itu adalah normal dan sangat umum,” ujar Fionuala. “Namun, jika perasaan gelisah kamu secara reguler menyebabkan stres yang signifikan atau perasaan tersebut mulai berdampak pada kemampuan kamu untuk mengerjakan aktivitas normal seperti bertemu teman, keluarga, bekerja, maka itu bisa jadi tanda anxiety disorder.”


    “Ada beberapa jenis perbedaan dari anxiety disorder, yaitu Generalised Anxiety Disorder (GAD) alias gangguan kecemasan umum, dan OCD. Beberapa lainnya termasuk panic disorder, PTSD, dan berbagai fobia,” jelas Fionuala. Rangkumannya: GAD atau gangguan kecemasan umum dan OCD adalah dua jenis anxiety disorder yang berbeda, jadi tak heran keduanya bisa terasa mirip. 


    Apakah itu OCD?

    OCD dikarakteristikkan lewat kehadiran obsesi atau kompulsif, tapi banyak juga yang melibatkan keduanya. Pemikiran obsesif dan perilaku kompulsif menemani perasaan gelisah tersebut.





    “Pemikiran obsesif adalah pikiran berulang-ulang, dorongan atau imaji yang tak bisa dihalau oleh seseorang. Pikiran-pikiran ini tak diinginkan dan menyebabkan kegelisahan pada yang mengalaminya,” jelas Fionuala. “Perilaku kompulsif adalah perilaku repetitif atau aktivitas mental. Contohnya, salah satu concern paling populer dan umum bagi para penderita OCD adalah mencuci tangan secara kronis. Beberapa dari mereka mungkin merasa harus mencuci tangan mereka berkali-kali agar menghindari sesuatu terjadi. Aktivitas mental bisa juga melibatkan menghitung dan mengulang beberapa kata atau frase tertentu secara internal.”


    Seseorang dengan OCD merasa terdorong untuk berperilaku seperti ini agar mampu mengurangi kegelisahan atau pikiran obsesif. 


    Meskipun secara global OCD didefinisikan sebagai bentuk dari anxiety disorder, namun Amerika Serikat tak lagi mengklasifikasi OCD sebagai anxiety disorder. Kini OCD punya kategorinya sendiri yang disebut ‘obsessive-compulsive and related disorders’.


    Apa perbedaan antara gangguan kecemasan umum dan OCD?

    Satu kunci perbedaannya ada di kekhawatiran yang dimiliki masing-masing keduanya. “Yang mengalami kegelisahan tanpa gejala OCD biasanya mengkhawatirkan tentang hal-hal yang berdasar kuat pada kerisauan di kehidupan nyata,” ujar Fionuala. “Meski kekhawatiran tersebut bisa agak ekstrem, namun topik yang dikhawatirkan oleh orang tersebut sebenarnya layak dirisaukan. Topik-topik yang dimaksud termasuk: kesehatan, hubungan personal, keuangan, dan pekerjaan.”


    Mereka yang menderita OCD, justru menemukan sifat kompulsif mereka sebagai cara untuk mengurangi kegelisahan yang disebabkan oleh pikiran obsesif mereka, namun perilaku mereka akan menjadi berlebihan atau malah tak ada hubungannya sama sekali dengan pikiran yang mereka cemaskan. “Banyak orang dengan OCD menyadari bahwa perilaku kompulsif tersebut sebenarnya tak masuk akal, tapi mereka tak bisa menghentikan aksi mereka dan merasa bahwa mereka harus melakukan ini untuk ‘jaga-jaga jika suatu peristiwa terjadi’. Lain halnya dengan penderita OCD, orang dengan pikiran gelisah tak punya ciri khas untuk terikat pada perilaku yang sifatnya tampak jadi ritual, hanya demi menghadapi ketakutan mereka,” ujar Fionuala.



    Apa saja gejala yang beririsan antara gangguan kecemasan umum dan OCD?

    Kegelisahan sendiri bisa saling bertindihan, saat dialami oleh kedua kondisi gangguan kecemasan umum dan OCD. Namun perbedaannya, ujar Fionuala, adalah “pada OCD, gejala itu merupakan kontributor terhadap kondisi yang dialami, sementara pada gangguan kecemasan umum, gejala itu merupakan dampak yang diakibatkannya.”


    “Dalam banyak kasus, individu dengan OCD merasa terdorong untuk terikat dalam perilaku kompulsif dan cenderung tak akan melakukan hal-hal yang memakan waktu seperti aksi menyiksa diri. Perilaku kompulsif ini dilakukan dengan tujuan untuk mencoba kabur atau mengurangi kegelisahan ataupun kehadiran rasa obsesif.” Karena alasan ini pula, meminta seseorang dengan OCD untuk berhenti melakukan apa yang dilakukannya, tak akan membantu ia untuk sembuh atau membaik sama sekali.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.com/uk / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Givania Diwiya / Image: Leah Kelley from Pexels)