Better You

Ini Pengaruh Pandemi Pada Kesehatan Mental Perempuan

  by: Alvin Yoga       20/10/2020
  • Hidup tidaklah mudah di tahun 2020. Dan, di tengah segala situasi “luar biasa” yang terjadi di tahun ini percayalah bahwa (layaknya judul K-Drama favorit) it’s okay to not be okay.


    Oleh: Hana Andita Devarianti




    Masih ingat malam terakhir Anda di tahun 2019? Apakah Anda menghabiskannya bersama the girls? Atau romantic dinner (with extra ~dessert~) bersama si dia? Atau mungkin me time dengan menonton serial TV favorit? Saya sendiri masih ingat bagaimana saya menghabiskannya: di rumah bersama sepupu terdekat, dan begitu excited menyambut 2020 karena telah mendapatkan pekerjaan baru plus akan merencakan pernikahan dengan si dia. Hidup terasa hopeful, baik-baik saja, justru lebih dari cukup. 

    Fast forward sepuluh bulan setelahnya… To be honest, hidup tak lagi terasa seperti itu karena pandemi Covid-19. Kondisi pandemi telah membawa tekanan yang besar pada kondisi psikologis saya, yang saking besarnya beberapa bulan lalu saya didiagnosa mengalami Major Depressive Disorder (MDD) atau yang lebih kita kenal dengan depresi. Ini adalah pertama kalinya saya didiagnosa mengalami gangguan kesehatan mental, dan hal tersebut membuat saya bertanya-tanya (dan mungkin Anda juga memiliki pertanyaan yang sama): “Apa iya hidup di tengah pandemi dapat membawa pengaruh yang sebesar itu pada kesehatan mental?”



    Well, turns out, pandemi Covid-19 telah menyebabkan sebuah “tsunami” psikologis secara global

    ...yang membuat saya, Anda, kita semua, jauh lebih rentan mengalami gangguan psikologis, mulai dari cemas, depresi, hingga trauma. “Tentu saja situasi pandemi ini dapat menjadi stresor (penyebab stres) yang signifikan, karena adanya unsur perubahan dan ketidakpastian,” tutur Fadhilah Eryananda, M.Psi., Psikolog, psikolog klinis dan Co-Founder SADARI, sebuah pusat pengembangan dan kesehatan psikologis. Perubahan dan ketidakpastian tersebut tidak hanya merenggut kebebasan kita untuk melakukan aktivitas sehari-hari, tapi juga menimbulkan berbagai tantangan baru yang membuat tubuh dan mental kita selalu berada dalam kondisi waspada.

    Kondisi inilah yang kemudian membuat kita jadi lebih mudah mengalami stres, bahkan ketika menghadapi masalah yang remeh-temeh sekalipun. Contoh sederhananya, kita harus memakai masker setiap hari yang berujung pada masalah baru di kulit (uh-oh, maskne!). Hal tersebut mungkin terdengar seperti masalah yang sepele, tapi jika dihadapkan pula dengan kondisi harus berada di rumah seharian, tidak bisa bertemu orang tersayang secara bebas, dihantui virus mematikan yang bisa menular secara cepat, hingga khawatir akan masa depan yang tidak pasti… wajar saja kalau kita merasa overwhelmed

    Malah, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengungkapkan akan adanya krisis kesehatan mental secara global akibat pandemi. “Isolasi, ketakutan, ketidakpastian, kekacauan ekonomi-semuanya adalah penyebab dan dapat menyebabkan tekanan psikologis,” tutur Devora Kestel, Direktur Department of Mental Health and Substance Use di WHO. Di Indonesia, survei periksa mandiri secara daring yang dilakukan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa (PDSKJI) menemukan bahwa 64,8% responden mengalami masalah psikologis selama pandemi. Itu berarti lebih dari setengah responden!

    Situasi pandemi bahkan telah menimbulkan fenomena bernama situational depression, yaitu kondisi yang membentuk diri kita menjadi depresi. Dan, menurut Syazka Nadindra, M.Psi, Psikolog, psikolog klinis dan Kepala Badan Konseling Universitas Nasional, situational depression dapat disebabkan oleh hal-hal kecil dan sederhana. Mulai dari kurang terpapar interaksi sosial, durasi tidur yang tidak menentu, durasi makan yang tidak teratur, sampai personal hygiene yang mungkin saja jadi tidak rutin. Work from home (WFH) atau bekerja dari rumah juga bisa menimbulkan kondisi ini, sebab, “Tidak ada lagi batasan waktu kapan harus beristirahat dan kapan bekerja,” kata Syazka. Akibatnya, kita tidak memiliki tempat pelarian untuk beristirahat, karena tempat istirahat kini terasosiasi dengan kondisi tegangnya bekerja dan semua ruang di rumah yang biasanya memberikan sensasi nyaman malah memiliki asosiasi tegang. 



    Bagi perempuan, tekanan psikologis selama pandemi lebih besar

    Meski siapa pun, terlepas dari gender, berisiko mengalami kecemasan, kekhawatiran, dan kelelahan emosional akibat pandemi, beberapa studi telah menemukan bahwa perempuan lebih rentan mengalami tekanan psikologis dibandingkan laki-laki selama pandemi. Studi dari Institute for Fiscal Studies (IFS) menemukan bahwa kekacauan yang ditimbulkan Covid-19 telah memperburuk ketidaksetaraan gender dalam hal kesehatan mental, di mana kesejahteraan kesehatan mental perempuan terpengaruh secara tidak proporsional dibandingkan dengan laki-laki.

    Studi lainnya yang dilakukan oleh CARE International, sebuah organisasi bantuan international nirlaba, juga menemukan hal yang sama. Selama pandemi, perempuan hampir tiga kali lebih mungkin menderita konsekuensi kesehatan mental yang signifikan, seperti kecemasan, kehilangan nafsu makan, ketidakmampuan untuk tidur dan kesulitan menyelesaikan tugas sehari-hari dibandingkan laki-laki (27% dibandingkan dengan 10%). Para perempuan yang menjadi responden mengatakan, kekhawatiran untuk mempertahankan pendapatan, berjuang untuk makan dan mengakses perawatan kesehatan, serta meningkatnya tanggung jawab sebagai “pengasuh” untuk lingkungan sekitar menjadi pendorong akan memburuknya kesehatan mental.

    Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi perempuan menjadi kelompok rentan mengalami masalah psikologis semasa pandemi. Salah satunya, menurut Fadhilah, kondisi pandemi membuat perempuan harus mengemban tambahan “tugas” yang berlipat ganda di waktu yang bersamaan: menjadi guru bagi anak, istri bagi suami, hingga karyawan bagi perusahaan. Hal tersebut pula yang membuat perempuan sulit menemukan waktu untuk self-care. Hmmm, coba ingat-ingat lagi kapan terakhir kali Anda merasa punya waktu untuk melakukan hal yang disukai? Ketika kita tidak bisa melakukan kegiatan favorit, entah itu window shopping di mal, menonton film di bioskop, hingga hangout dengan the girls secara leluasa, tekanan mental yang kita alami pun akan menjadi semakin besar.

    Fadhilah juga mengatakan bahwa risiko perempuan mengalami kekerasan rumah tangga meningkat selama pandemi dan ini tentu saja berpengaruh kepada kesehatan mental. “Kondisi pandemi yang mengharuskan di rumah membuat korban, yang menurut angka penelitian lebih banyak dialami perempuan, lebih banyak menghabiskan waktu dengan pelaku,” tutur Fadhilah. Komnas Perempuan melaporkan bahwa Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT) menjadi kasus kekerasan yang paling banyak dilaporkan semasa pandemi di mana dari 319 kasus kekerasan yang telah dilaporkan, dua pertiga dari angka tersebut merupakan kasus KDRT. Data Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) juga menunjukkan bahwa selama kurun waktu tiga bulan sejak Maret hingga Juni 2020, angka kasus KDRT telah mencapai setengah dari angka kasus KDRT selama 2019.

    Kalau begitu, hanya perempuan single dengan pekerjaan stabil serta lingkungan suportif saja yang bisa aman dari tekanan psikologis selama pandemi? Well, tidak juga. “Emerging adults atau rentang usia 18-30 tahun merupakan rentang usia yang paling rentan untuk memiliki gangguan psikologis dikarenakan banyaknya ambiguitas peran antara menjadi dewasa dan anak-anak,” tutur Syazka. Masa-masa transisi tersebut adalah masa yang paling membingungkan untuk individu. Terlebih semenjak pandemi, banyak perempuan muda yang dituntut untuk mengambil keputusan besar dalam hidup, mulai dari kembali tinggal dengan orangtua demi memotong pengeluaran tempat tinggal di kos hingga memutuskan untuk mengakhiri hubungan dengan pasangan karena tidak bisa menjalani long distance relationship. Tidak jarang hal tersebut menimbulkan pertanyaan dalam diri, “Mengapa saya tiba-tiba harus mengambil keputusan yang begitu besar dalam hidup?”, “Mengapa saya tiba-tiba harus menjadi ‘orang dewasa’?”



    Dan, saat ini kita kerap dipaksa untuk selalu berpikir positif…

    Entah lewat media sosial atau orang sekitar, selama pandemi ini kita semakin sering “dicekoki” dengan ajakan untuk tetap berpikir positif. Well, bukankah kita memang patut bersyukur karena masih beruntung tidak mengalami hal-hal yang terburuk selama pandemi? Kalau memang itu yang Anda rasakan, good for you! Akan tetapi, berbeda halnya ketika Anda memaksakan diri untuk merasa positif ketika tidak benar-benar mengalaminya. Karena, hal tersebut justru dapat menambah tekanan pada diri kita. Inilah yang dinamakan dengan toxic positivity atau kondisi ketika kita, entah atas keinginan diri sendiri atau dorongan dari lingkungan sekitar, menolak atau tidak memvalidasi emosi-emosi negatif yang kita rasakan. 

    Toxic positivity dapat membawa dampak yang serius bagi kita karena, “Tak hanya kita tidak merasakan emosi negatif yang perlu dirasakan agar tubuh mengerti apa yang sedang dialami, kita juga dapat membuat diri memendam emosi negatif sehingga emosi tersebut dapat muncul tiba-tiba di waktu yang tidak seharusnya atau dapat membuat kita tidak memahami emosi yang dimiliki hingga mati rasa,” ujar Syazka. Semasa pandemi, hal ini menjadi semakin berbahaya karena, Fadhilah mengatakan, di saat situasi sulit yang membuat seseorang rentan akan stres, memaksakan diri untuk berpikir positif justru akan menambah beban baru. “Sebagai contoh, ketika seseorang sebenarnya merasa sedih karena di-PHK (Pemutusan Hubungan Kerja), tapi dipaksa harus berpikir positif dengan bersyukur, hal tersebut membuat dirinya jadi merasa bersalah karena tidak bersyukur. Sehingga, sudah sedih karena di-PHK ditambah merasa bersalah pula. Padahal wajar di situasi yang seperti itu untuk merasa sedih dan kecewa,” tutur Fadhilah.

    Bukannya kita tidak boleh menyemangati diri sendiri dengan mengatakan bahwa “semuanya baik-baik saja” atau “semuanya akan baik-baik saja”. Namun, segala emosi yang muncul dari tantangan yang dihadapi semasa pandemi, sebesar dan sekecil apapun itu, patut mendapatkan respons yang sejujurnya. Sebab, jika tidak melakukannya, kita hanya akan menghakimi diri sendiri dan terjebak dalam situasi ‘feeling bad about feeling bad’. 



    Okay, Cosmo tahu semua ini tidaklah mudah, jadi sebelum melanjutkan membaca cobalah untuk menarik napas dalam-dalam terlebih dahulu

    Sudah? Good. Kalau masih terasa kurang, ulangi kembali sampai Anda merasa lebih tenang. Bagi saya, respons menghela napas panjang menjadi hal pertama yang muncul ketika mendapatkan diagnosa dari psikolog. Dan, ketika saya sudah melakukannya, saya baru teringat bahwa sudah lama saya tidak berhenti sejenak untuk sekadar bernapas dengan lega. Karena sadar atau tidak, selama pandemi ini kita mungkin semakin jarang bernapas dengan lega karena merasa “dicekik” oleh situasi. 

    Nah, kalau sudah merasa lebih tenang, sekarang coba ingat-ingat lagi, sudah lebih dari setengah tahun lho, kita dihantam oleh berita buruk secara bertubi-tubi. Sehingga, harus kita sadari dan akui bersama-sama bahwa 2020 bukanlah tahun yang mudah bagi siapa pun dan it’s okay not to be okay. “Pandemi bukanlah situasi sederhana, sehingga respons cemas, takut, sedih, tertekan adalah respons yang wajar di situasi yang tidak wajar,” ujar Fadhilah. Bahkan, lebih dari sebelumnya, berada di kondisi ini justru seharusnya mendorong kita untuk harus bisa berbaik hati pada diri sendiri. 

    “Di kondisi yang sangat menekan dan tidak pasti saat pandemi ini, sebaiknya kita melakukan praktik self-love dan self-compassion,” tutur Fadhilah. Hal tersebut bisa dilakukan lewat cara yang sederhana seperti self-care dengan menjaga makan, tidur, dan melakukan aktivitas yang disukai. Anda juga bisa mengucapkan rasa terima kasih kepada diri sendiri. Tidak perlu merangkai kata-kata yang rumit, hanya dengan berkata: “Di kondisi sulit ini, terima kasih sudah bertahan dan mau terus bertahan ya,” saja sudah cukup untuk menunjukkan rasa cinta pada diri sendiri. 

    Jika tekanan pekerjaan jadi penyebab utama stres, Syazka menyarankan untuk menentukan batasan kapan waktu bekerja dan kapan waktu beristirahat. Bila merasa lelah, beristirahatlah. Jangan memaksakan diri untuk memenuhi deadline pekerjaan karena kondisi pandemi ini membutuhkan Anda untuk beradaptasi lebih ekstra dengan situasi bekerja dibandingkan biasanya. Selain itu, sebisa mungkin pisahkanlah ruang bekerja dan beristirahat. Bekerja di atas tempat tidur? Big no no, ladies. Jika memang ruang tempat tinggal Anda terbatas, paling tidak hindari bekerja di atas tempat tidur. 

    Kemudian, yang tak kalah penting, fokuslah terhadap hal-hal yang positif. Namun, ingat jangan memaksakan diri merasa positif, ya. Apabila melihat media sosial tertentu membuat Anda merasakan banyak emosi negatif, tutup atau pilih media sosial lainnya. Kalau melihat berita soal perkembangan Covid-19 menimbulkan rasa cemas, berhentilah untuk mencari tahu terlebih dahulu. “Ketika muncul emosi negatif, ceritakan ke orang-orang terdekat yang memahami atau cari outlet untuk mengeluarkan emosi negatif, mulai dari mendengarkan lagu sedih, menggambar, menuliskan isi hati, bahkan berolahraga”, ujar Syazka. Dan, ketika ada orang terdekat kita merasakan emosi negatif, cobalah untuk mendengarkan tanpa menghakimi. Ini adalah saatnya untuk membangun interaksi yang lebih kuat lagi dengan orang terdekat, dengan berbagi keluh-kesah, saling mendengarkan, dan memahami satu sama lain.

    Ya, sadarilah bahwa Anda tidak sendiri. Ketika mengetahui bahwa saya mengalami depresi, layaknya seseorang yang tumbuh di era digital (terlepas bahwa psikolog saya telah menjelaskan tentang kondisi saya dengan menyeluruh), saya langsung googling soal hal tersebut. Ternyata, setiap tahunnya terdapat 2 juta orang di Indonesia yang mengalami kondisi yang sama. Ternyata, saya tidak sendiri. Dan sebenarnya, saya memang tidak pernah sendiri. Karena saya dikelilingi orang-orang yang menyayangi dan mau membantu saya di segala kondisi, termasuk sang psikolog yang telah membimbing saya menemukan kembali jalan menuju rasa bahagia.

     Anda pun begitu, jika memang merasa sudah tidak dapat membendung lagi segala emosi yang ada, jangan ragu untuk reach out dan seek help. Baik itu ke pasangan, teman dekat, keluarga, atau bantuan profesional seperti psikolog atau psikiater. Kalau memang sudah merasa kondisi mental tidak lagi sehat, sudah sepatutnya kita pergi ke dokter dan melakukan terapi agar bisa sembuh. Saya telah melakukannya, dan hal tersebut adalah keputusan terbaik yang pernah saya lakukan semasa pandemi.



    Cosmo tahu kalau ini terasa lebih mudah dikatakan daripada dilakukan, tapi percayalah bahwa segala hal dan emosi negatif yang dialami semasa pandemi tidak menandakan akhir dari segalanya. Ingatlah kalau selalu ada jalan keluar, meskipun Anda sedang terjebak di situasi yang rasanya begitu “gelap”. Hey, coba deh lihat lagi diri Anda di depan kaca. Anda sudah bisa sampai sejauh ini, lho. And, that alone is already fearless!



    Ketika Anda memutuskan mendapatkan bantuan profesional untuk mengatasi tekanan psikologis…

    Kalau sudah mengalami penurunan fungsi sehari-hari seperti produktivitas bekerja, sulit melakukan rutinitas sehari-hari, mulai melakukan pelarian tidak sehat termasuk menyakiti diri sendiri, serta sudah mencoba segala cara untuk merasa lebih baik tapi belum juga berhasil, itu tandanya Anda perlu mendapatkan bantuan profesional dari psikolog atau psikiater. Lalu, apa yang harus dilakukan?

    1) Mulai cari tahu tentang psikolog atau psikiater yang sesuai tak hanya dengan masalah yang dihadapi, tapi juga value yang dimiliki. Anda bisa mencoba bertanya pada teman yang sudah memiliki pengalaman melakukannya. 

    2) Jika tidak memiliki rujukan dari teman, coba tentukan bujet terlebih dahulu karena setiap psikolog atau psikiater memiliki rate yang berbeda-beda. Perlu diketahui bahwa BPJS Kesehatan memiliki layanan psikolog atau psikiater secara gratis. Anda hanya perlu mendatangi Puskesmas terdekat, atau meminta rujukan dari Puskesmas tersebut, untuk berkonsultasi di poli jiwa.

    3) Ketika sudah menentukan jadwal konsultasi, sebaiknya siapkan terlebih dahulu masalah apa yang ingin dikonsultasikan. Termasuk pula pemicunya, sudah berapa lama, dan emosi yang dirasakan. Sampaikan pula tujuan yang Anda harapkan dari sesi tersebut.

    4) Selama konsultasi, bersikaplah dengan jujur meskipun hal itu berarti membuka luka lama. Perlu diingat bahwa ini adalah hubungan dua arah, psikolog bisa membantu Anda apabila Anda juga membantu psikolog memahami Anda lebih dalam.

    5) Persiapkan diri untuk mau berkomitmen. Ketahuilah bahwa psikolog akan membantu Anda menemukan jalan, akan tetapi keputusan untuk bergerak tetap ada di tangan Anda.

    6) Jangan berkecil hati ketika tidak cocok dengan psikolog atau psikiater yang pertama kali Anda temui. Menemukan psikolog atau psikiater itu layaknya mencari pasangan. Jadi, bukan berarti Anda tidak akan cocok dengan psikolog atau psikiater manapun.


    Beberapa contact center di bawah ini bisa membantu Anda untuk mendapatkan layanan psikologi:

    1) Layanan Sejiwa (Sehat Jiwa) oleh Himpunan Psikologi Indonesia (HIMPSI)

    Pusat panggilan: 119 ext. 8


    2) Cari psikolog oleh Ikatan Psikologi Klinis Indonesia (IPK Indonesia)

    https://ipk.bz/caripsikolog


    3) Yayasan Pulih 

    Telepon: 021-78842580  

    Whatsapp: 08118436633 (pada jam kerja dan hari kerja)

    Situs: yayasanpulih.org


    Organisasi dan aplikasi yang menyediakan layanan konsultasi secara online:

    Pijar Psikologi

    LINE: @Pijar Psikologi (Official Account) dan ketik kode #KonsultasiChatPijarPsikologi

    (Konsultasi gratis tersedia setiap hari Senin pukul 11.00-14.00 WIB dengan kuota tertentu)


    Aplikasi

    Riliv (Google Play Store dan Apple App Store)

    Kalm (Google Play Store dan Apple App Store)


    (Hana Andita Devarianti / AY / Image: Dok. Womanizer WOW Tech on Unsplash, Clay Banks on Unsplash, Priscilla Du Preez on Unsplash, Mitchel Lensink on Unsplash, Ashish Mehta on Unsplash, Rob Wingate on Unsplash / Layout Image: Rhani Shakurani)