Love & Sex

Jatuh Cinta Pada Orang yang Tepat di Waktu yang Salah? Ini Tipsnya

  by: Alvin Yoga       2/10/2021
  • Pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang sesuaiii sekali dengan tipe idamanmu, namun tiba-tiba ia harus menjauh darimu dalam kurun waktu seminggu atau sebulan ke depan? Atau pernahkah kamu bertemu dengan seseorang yang menurutmu cocok denganmu namun ia belum siap berkomitmen? Atau, pernahkah kamu merasa punya chemistry yang luar biasa dengan teman kantormu namun kalian tidak bisa berpacaran karena aturan kantor tidak mengizinkan?

    Jika salah satu dari tiga skenario ini terdengar familier denganmu, kemungkinan besar kamu pernah merasakan hal ini: Kamu jatuh cinta dengan orang yang tepat, di waktu yang kurang tepat.

    Bicara soal "waktu yang kurang tepat", ingatlah bahwa definisi hal tersebut bisa berbeda-beda bagi setiap orang. Meskipun katanya "cinta bisa mengalahkan berbagai rintangan", namun nyatanya jika orang tersebut pindah ke kota atau negara lain, atau salah satu dari kalian pindah kantor, atau si dia sedang menghadapi masalah keluarga atau masalah personal, dan ratusan halangan lainnya yang (katanya) merupakan bagian dari "adulting", faktor tersebut dapat menjauhkan dirimu dari sang belahan jiwa.



    Relationship coach, Shula Melamed, setuju bahwa di samping chemistry, rasa suka, serta selera yang sama terhadap banyak hal, timing juga merupakan bagian yang super-tidak terpisahkan dalam sebuah hubungan relationship yang serius.

    "Terkadang [seseorang] belum memiliki rencana untuk berkomitmen pada sebuah hubungan asmara, atau kita sedang berada dalam fase kehidupan yang berbeda dengan orang yang kita cintai/mencintai kita," ujar Shula. "Kita bisa jatuh cinta lalu menjalin hubungan dengan banyak orang, namun tidak semuanya bisa menjadi orang yang tepat bagi kita di masa depan."



    Ini yang bisa kamu lakukan jika bertemu dengan orang yang tepat di waktu yang salah

    Di samping keinginan untuk berteriak, menangis, dan menyalahkan dirimu sendiri atas seluruh masalahmu, psikolog klinis Joshua Klapow, PhD, memberi saran untuk mengambil napas panjang terlebih dahulu, kemudian berpikir mengenai opsi yang kamu miliki.

    Jika masalahnya adalah kamu atau orang tersebut akan pindah ke luar kota atau ke negara lain, maka pikirkan, apakah kalian bisa mencoba hubungan jarak-jauh? Apakah kalian bisa mengatur jadwal untuk tetap bertemu secara virtual, dan apakah hal ini cukup bagi kalian berdua? Apa yang kalian butuhkan agar hubungan tersebut bisa tetap bertahan? Dan yang paling penting, apakah kalian sanggup menjalaninya?

    "Karena bukan 'cinta' yang membuat kedua manusia bertahan dalam satu hubungan, namun tindakan yang didorong atas nama cinta," ujar Joshua. "Tindakan seperti keinginan untuk rela berkorban, berkompromi, berkomunikasi, hidup dengan sebaris konflik di sana-sini, serta keinginan untuk tumbuh."

    Di sini, kuncinya adalah dengan saling berkomunikasi secara jujur serta realistis mengenai apa yang bisa kalian berikan satu sama lain, ujar Shula. Percayalah, kamu tidak ingin membuat si dia percaya bahwa kalian bisa menjalin hubungan padahal sebenarnya kalian tak mampu.

    Yang membawa kita pada poin berikutnya: Bahkan jika kalian berdua mungkin bisa menemukan sebuah cara agar kalian tetap bersatu, Joshua berkata bahwa beberapa kompromi mungkin tidak layak untuk kalian lakukan. Jika hubungan tersebut mulai berdampak pada kesehatan mental kalian, atau jika salah satu dari kalian mulai merasa tertekan, malu, atau berusaha terlalu keras agar "hubungan ini bisa berjalan"—mungkin sudah waktunya bagi kalian untuk berpisah.

    "Pertimbangkan antara opsi yang kalian miliki dan konsekuensinya," ujar Joshua. "Terkadang keinginan untuk tetap bisa bersama dengan seseorang mengalahkan akal sehat bahwa kalian tidak bisa bersatu."

    Pengingat penting untukmu: Kita tidak selalu ditakdirkan untuk secara serius menjalin hubungan dengan seseorang yang memiliki koneksi dengan kita, dan memutuskan untuk tidak bersama tak berarti kamu tidak mencintai si dia.

    Seperti yang disimpulkan oleh Joshua: "Kita bisa mencintai satu sama lain namun tetap memutuskan untuk menjalani hidup masing-masing. Kita bisa mempertahankan rasa cinta satu sama lain dan tetap tidak tinggal bersama. Kenapa? Karena hidup kita berubah, karakter kita berganti, dan prioritas kita tak lagi sama." And that, is absolutely okay.




    Bisakah kalian kembali bersama ketika waktunya sudah lebih baik?

    Shula dan Joshua setuju bahwa terkadang waktu yang keliru hanya membutuhkan, well, waktu. Setelah sebulan, setahun, satu dekade, whatever, kamu mungkin menemukan bahwa situasi yang membuat kalian terpisah kini tak lagi ada. Dan Shula mengonfirmasi bahwa "jika koneksi tersebut masih ada ketika kalian kembali bertemu, ini akan menjadi kesempatan yang luar biasa untuk melihat apa yang akan terjadi."

    Namun meskipun semua ini terdengar baik dan menyenangkan, sayangnya, ada hal juga harus kamu sadari. "Timing itu sangat tidak bisa ditebak," ujar Joshua. "Ketika kamu bertemu kembali dan kali itu waktunya sudah tepat, bisa jadi timing-nya akan berubah dalam beberapa waktu ke depan."

    Seperti yang dikatakan Joshua, hal yang bisa kamu lakukan adalah tetap optimis namun juga realistis. Jangan merelakan pekerjaan impianmu atau kesempatanmu untuk pindah kerja hanya karena kamu telah menunggu waktu yang tepat agar kalian bisa bersama.

    "Live your life, dan jika semuanya bisa berjalan dengan baik, fabulous," ujar Shula. "Jangan menunggu dan justru menutup diri dari berbagai kesempatan."


    Cara mengetahui apakah si dia adalah jodoh yang tepat untukmu

    Ketika kamu akhirnya menemukan seseorang yang menyukai playlist lagumu yang aneh, mau memijat kakimu ketika kamu lelah, serta tak bisa bangun pagi dan gemar menikmati brunch sepertimu (oke, ini tipe ideal saya), kamu mungkin bertanya-tanya apakah kamu akan bisa menemukan orang yang lebih baik. Kalau kamu penasaran apakah si dia memang jodohmu ataukah kamu harus mencari yang lain, well, berikut adalah beberapa tanda apakah si dia memang jodoh yang tepat untukmu:

    • Kalian berada di frekuensi emosional yang sama, yang berarti kalian mencari level hubungan yang sama, dan kalian berdua berkomitmen untuk membuat hubungan tersebut bertahan.
    • Kalian memiliki tujuan hidup yang saling berhubungan, nilai hidup yang sama, serta memiliki ide yang serupa mengenai kehidupan di masa depan.
    • Kalian selalu melakukan yang terbaik dan saling menyemangati satu sama lain. Hubungan ini adalah sumber dari segala hal positif bagi kalian berdua.
    • Kalian bisa menghadapi konflik dan perbedaan lewat saling menghargai dan mencintai satu sama lain. Kalian tidak merasa malu atau saling menyakiti satu sama lain.
    • Kalian memperbolehkan satu sama lain untuk tetap menjadi diri sendiri, dan kalian ingin masing-masing tumbuh dan berkembang sebagai individu yang lebih baik.
    • Adanya emosi, hubungan fisik, chemistry, serta hubungan romantis yang dalam.
    • Kalian mampu berkomunikasi secara terbuka dan bisa bersikap rapuh di hadapan masing-masing. Kamu merasa aman bersamanya.
    • Kalian menginginkan yang terbaik untuk satu sama lain dan saling mmendorong satu sama lain untuk mengambil kesempatan yang baik.

    Jika pasanganmu bisa mencentang seluruh hal tersebut, maka mungkin ia adalah orang yang tepat untukmu. Namun jika tidak, ingatlah bahwa kamu ditakdirkan untuk memiliki bentuk cinta yang lain dalam hidupmu. Walaupun timing saat ini tidak berpihak padamu, dan tidak bisa bersama dengan si dia adalah hal yang menyakitkan, Cosmo yakin kamu tidak kehilangan kesempatan untuk menemukan jodohmu.

    "Ada banyak 'the one' di luar sana," ucap Shula. "Cinta bukanlah sumber yang terbatas. Kalau kamu membuka diri terhadap berbagai kemungkinan dalam hidup, kamu akan menemukan mana yang paling baik untukmu."

    Dan ingat, yang namanya jodoh pasti akan dipertemukan, tentunya di waktu yang tepat, bukankah begitu?


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih bahasa: Alvin Yoga / Image: Dok. Jakob Owens on Unsplash)