Better You

Cara untuk Melepaskan Diri dari Hubungan Toksik

  by: Givania Diwiya Citta       8/10/2021
  • Menyakitkan dan berbahaya, apalagi dengan potensi hubungan berubah menjadi situasi kekerasan, hubungan toksik sering kali amat melelahkan secara fisik dan emosi. Dalam skenario seperti ini, seseorang cenderung akan kehilangan kepercayaan dirinya, nilai berharga akan dirinya, dan perilaku dari pasangan bisa membuat orang yang ‘secara psikologis baik saja’ merasa ‘gila’ dalam berbagai hal. Singkatnya, hubungan toksik sangat berdampak pada kesehatan dan kesejahteraan mental seseorang.


    Tapi sebelum kita mengetahui caranya untuk lepas dari situasi tak sehat ini, mari pecahkan tanda yang menunjukkan jika kamu sedang dalam hubungan toksik. Menurut Dr Roma Kumar, seorang konselor di Emotionally.in, “Pasangan toksik mengimplementasikan sikap mereka secara perlahan dan halus. Itu bisa dimulai dari kritik kecil seperti, ‘Kenapa kamu harus ngobrol dengan orangtuamu lama-lama sih?’, dan seiring waktu bisa berwujud sebuah kontrol dan isolasi, seperti, ‘Aku tak suka kamu bergaul dengan temanmu’ atau ‘Kenapa kamu pakai gaun sih ke pesta?’. Sementara itu, beberapa tanda dari hubungan toksik ada yang tampak lebih jelas, termasuk adanya kekerasan fisik, perselingkuhan atau kebohongan yang repetitif, dan perilaku seksual yang tak pantas. Namun ada tanda yang lebih sulit untuk dideteksi, seperti rasa tak menghormati, tak jujur, atau perilaku mengontrol. Sering kali sifat penyangkalan, rasa bersalah, rasa malu menjadi senjata untuk memanipulasi.”




    Kini setelah kamu mengidentifikasi apakah kamu sedang terlibat dalam hubungan toksik atau tidak, Dr Kumar memaparkan beberapa cara yang bisa kamu lakukan ketika menghadapi rambu merah ini.



    Dirikan batasan yang sehat

    Meski memang penting untuk menciptakan batasan yang sehat di setiap hubungan, namun batasan ini bisa jadi kritis dalam hubungan toksik. “Batasan adalah cara efektif untuk memberi standar terhadap tipe perilaku, rasa hormat, dan kejujuran yang diharapkan ada dalam sebuah hubungan. Batasan juga berfungsi untuk mengidentifikasi bendera merah, perilaku yang harus diwaspadai, meningkatkan cara berkomunikasi, melepas rasa malu ataupun bersalah, dan menolong untuk lepas dari situasi atau orang yang membuat Anda merasa tak nyaman serta tak aman. Mendirikan batasan yang layak adalah cara untuk membuat Anda merasa lebih aman, merasa didengarkan, dan secara beriringan akan membantu meningkatkan self-esteem. Doronglah komunikasi yang jelas, dengan begini, Anda bisa bicara dari hati dan akan didengar oleh sang pasangan, yang mungkin bisa berubah jika ia niat, begitu juga sebaliknya,” jelas Dr Kumar.


    Lakukan aktivitas yang merilis endorfin

    Cobalah untuk bicara pada pasangan tentang apa saja yang sudah mengganggu kamu dalam hubungan kalian, atau perilaku darinya terhadap kamu. Terpisah dari itu, coba juga pertimbangkan untuk melakukan aktivitas yang bisa memberi kamu sebuah tujuan, semisal olahraga fisik, meluangkan waktu bersama orang terkasih lainnya, menari, menyanyi, dan lainnya. Semua aktivitas itu akan membantu meningkatkan self-esteem dan self-worth, serta membantu untuk meredakan stres dan melegakan rasa sakit.





    Lepas keterikatan dari pasangan dan prioritaskan diri sendiri

    “Pahamilah bahwa melepas ikatan diri dari pasangan yang toksik bukan berarti Anda tak mencintai atau peduli terhadapnya. Justru, ini berarti Anda memilih untuk memprioritaskan kebutuhan dan kesehatan emosional Anda, dan tak ada yang salah mengenai hal ini. Anda juga harus belajar untuk bilang ‘tidak’ ketika dibutuhkan. Belajarlah untuk menggunakan kata ‘tidak’, jika kata ini jadi alat penguat Anda dalam memutuskan keputusan yang terbaik untuk diri sendiri. Dengan begini, Anda bisa berfokus pada self-care dan akan menolak undangan dari orang lain, terutama ketika Anda sedang merasa tak nyaman,” tambah Dr Kumar.


    Pertimbangkan untuk mencari bantuan profesional

    Kalau kamu kesulitan dalam menghadapi situasi ini, maka pertimbangkanlah untuk berkonsultasi dengan profesional. Seorang psikolog bisa membantu kamu mengidentifikasi rasa takut terhadap kesendirian, dan akan memandu kamu untuk mengelola kesembuhan. Memikirkan ulang dinamika dalam hubungan dan memberdayakan diri sendiri adalah langkah penting untuk membebaskan diri dari sebuah hubungan yang tak sehat dan beracun.


    (Artikel ini disadur dari Cosmopolitan.in / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Alih Bahasa: Givania Diwiya / Image: Jasmine Carter from Pexels / Diya Verma)