Lifestyle

Film Review: Yuni, Remaja yang Terbelenggu oleh Sistem Patriarki

  by: Nadhifa Arundati       9/10/2021
  • Belakangan ini perfilman di Indonesia sempat dihebohkan oleh prestasi yang diraih oleh film karya Kamila Andini berjudul ‘Yuni’ — memenangkan penghargaan Platform Prize di Toronto International Film Festival 2021, mencetak sejarah sebagai satu-satunya film Indonesia dan Asia Tenggara yang menjuarai Platform Prize. Bahkan nominasi tersebut diperkenalkan pertama kali pada tahun 2015 yang dikhususkan untuk deretan film dengan nilai artistik tinggi, big applause!

    Ini bukan pertama kali Kamila Andini mengepakkan sayapnya di industri perfilman, sebelumnya ia pernah membuat film pendek ‘Following Diana’ yang sempat diputar di Toronto International Film Festival 2015, serta film ‘The Seen and Unseen’ yang meraih perhatian di Toronto International Film Festival 2017. Yep, jadi tak heran kalau 'Yuni' punya sajian cerita yang menjanjikan. Dilengkapi dengan para pemain, yakni Arwinda Kirana, Kevin Ardilova, Dimas Aditya, Marissa Anita, dan Asmara Abigail, they stole the show!




    Film ‘Yuni’ mengisahkan tentang apa?




    Mengisahkan tentang Yuni (Arawinda Kirana), remaja yang terobsesi dengan warna ungu serta kehidupannya yang diselimuti dengan pedoman budaya dan agama. Beruntung-lah Yuni memiliki guru seperti Ibu Lies (Marissa Anita) yang membantu Yuni untuk mendapatkan beasiswa, meski hal ini dibentur oleh lingkunganya sendiri.

    Problematika seputar keperawanan dan pernikahan di usia dini malah menjadi hal yang lumrah bagi orang di sekitar. Sudah jelas bahwa Yuni mempunyai pikiran yang berbeda dan selalu mempertanyakan banyak hal, namun di balik itu semua, ada karakter Yoga (Kevin Ardilova) yang selalu mendukung Yuni melalui puisi indah karya Sapardi Djoko Damono. Pada akhirnya, jalan kehidupan Yuni ada di tangan Yuni sendiri.

    OK, setelah memahami secara garis besar, langsung saja kita masuk ke babak review (no spoilers!).



    PROS

    Agama, Patriarki, dan Identitas Gender

    Membahas tentang budaya patriarki di Indonesia memang tak ada habisnya — tidak bisa ditepis meski banyak alasan tak berlogika yang sampai saat ini masih diterapkan — seperti budaya menikah setelah lulus SMA dengan embel-embel hidup perempuan jauh lebih sejahtera karena, “buat apa sih perempuan sekolah tinggi-tinggi?" "daripada mengundang fitnah, perempuan lebih baik menikah saja," ucapan yang sering terdengar di film 'Yuni'. Nyatanya ini hanya-lah pola pikir konservatif, dibalut dengan ajaran agama yang disalahgunakan.  Dan salah satu isu yang mengganggu saya sejak awal film yakni: keperawaan bisa dibeli dengan dalih dinikahkan — meski dimadu tak masalah, yang penting ~halal~.

    Yes, tidak cuma seputar skema kehidupan perempuan penuh pilu saja yang disinggung, bayangkan saja hidup di Indonesia, khususnya di wilayah terpencil tempat Yuni tinggal (bukan kota Jakarta lah, ya) sudah pasti sulit sekali untuk menerima hal-hal tabu (well, not surprised at all). Menyinggung soal identitas gender, hal ini pun telah disentil di salah satu adegan film 'Yuni', meski hanya ditampilkan dalam durasi yang cukup singkat. Namun lagi-lagi pernikahan menjadi kedok utama untuk menutupi ‘warna gender’ yang dimiliki oleh karakter tersebut, mau tak mau, karena memang tak ada jalan lain.

    Saya rasa hal ini-lah yang didorong oleh Kamila Adini dalam setiap pesan yang disajikan, mulai dari; bernyanyi itu dosa karena sama saja mengumbar aurat, pamali kalau menolak lamaran pernikahan, minim edukasi seks (saya rasa Yuni dan teman-temannya pun tidak pernah tahu soal kondom?), perempuan yang dihadang untuk maju, poligami, gender — tanpa harus pakai cara yang lebay semua isu tersebut dapat dipotret secara nyata.


    Yuni, Karakter Remaja yang Progresif

    Semua yang dilakukan karakter Yuni itu reasonable — sejujurnya saya lelah kalau harus menyaksikan penggambaran karakter perempuan lemah, dan untungnya film Yuni tidak menyajikan karakter yang klise — bahkan di fim ini, sisi labil anak SMA versi Yuni ditampilkan sesuai dengan porsinya, tidak ada tuh cringe-dialogue yang dramatis. Pokoknya hampir seluruh percakapan Yuni dengan teman-temannya itu sangat, sangat relatable. Contoh: adegan berkumpul sambil bahas, "memangnya perempuan bisa masturbasi?" One of my favorite part.



    Decision making adalah masalah utama di film Yuni, bikin kita ikut berpikir, "kalau saya masih jadi anak SMA dan ada di posisi Yuni, apa yang bakal saya lakukan, ya?" Yuni membuktikan kalau kelemahan tidak akan memberi solusi dan kebahagiaan hanya bisa kita peroleh dari diri sendiri — walau disebut keras kepala, tetapi Yuni punya sikap yang konsisten (tidak ada perubahan karakter secara mendadak).

    Kamila Andini mampu menyuguhkan kita akan satu scene yang menggambarkan tentang ‘kebebasan’, like we're all floating together with Yuni. Pesan yang saya tangkap dari adegan tersebut: tidak semua hal harus langsung diberikan jawaban, it takes time to go further, but we have MUCH time to listen to ourselves. Make sense.


    The #PurplePower Visual




    And also the visual itself, di setiap adegan selalu disisipkan warna ungu secara detail. Hanger di toko baju yang warnanya seragam, serta adegan sewatu di diskotik yang dikemas dengan taburan cahaya ungu — sungguh cantik di mata without trying so hard, ugh! Menariknya, adegan diskotik mengingatkan saya dengan pencahayaan yang dipaparkan di serial 'Euphoria' saat Zendaya dan Hunter Schafer tengah berdansa di dance floor.





    Bisa dikatakan obsesi Yuni terhadap warna ungu (yang sebenarnya kelewat batas sih...) merupakan suatu terapi warna yang tanpa disadari dilakukan oleh Yuni — warna ungu menonjolkan sisi unik dan eksotisme, people tend to love the idea of purple or just really hate it (berdasarkan dari buku ‘Psychology of Color’ karya Eva Heller tahun 2009). Mendefinisikan Yuni dalam satu warna. 

    Selain dimanjakan oleh visual warna, sinematografi yang apik dari Teoh Gay Hian juga menyinambungkan antara keindahan setiap shot dengan alur cerita film. Shot di mana Yuni sedang berada di ruang guru dan muncul sosok Pak Damar yang ditampilkan secara samar — semua ini sudah ada benang merahnya. 


    CONS

    We need Marissa Anita more!

    Satu hal yang bikin kurang greget yakni adegan Ibu Lies (Marissa Anita) dengan Yuni yang terlalu singkat, bahkan saya beharap ada satu momen memorable yang hadir dari kedua karakter tersebut. Ibu Lies tentu punya andil yang cukup penting terkait rasa gundah yang Yuni rasakan terhadap masa depan. Ditambah lagi dengan logat dan gestur Marissa Anita yang bikin kita ketagihan, we need it more!


    Akhir kata, Yuni telah membubuhkan energi baru bagi para remaja perempuan di luar sana. IMO, she’s a truly powerful young woman. Oh, and shout out to Asmara Abigail, karakter pendukung yang sangat menghibur dan “freedom abis!” *insert purple heart emojis*.


    Kabar baiknya, film Yuni akan mulai tayang di Bioskop Indonesia mulai tanggal 9 Desember mendatang.


    (Nadhifa Arundati / Image: Dok. Instagram, Youtube, Cercamon)