Better You

Merasa Lelah? Mungkin Kamu Mengalami Empathy Burnout, Baca Tips Ini

  by: Alvin Yoga       15/10/2021
  • Seperti yang mungkin sudah kamu sadari, kita telah berada dalam situasi pandemi ini selama hampir dua tahun, dan hingga tulisan ini diturunkan, COVID-19 telah merenggut lebih dari 140.000 jiwa di Indonesia. Memang, kini kita sudah memiliki vaksin dan laporan kasus positif belakangan ini sedang menurun, meski begitu kita tetap tak boleh lengah, karena bagaimanapun juga pandemi ini masih ada.

    Bagi beberapa orang, pandemi ini mungkin terasa lebih buruk. Pemutusan hubungan kerja, kehilangan anggota keluarga, kehilangan pasangan, serta keadaan lainnya membuat kita tenggelam dalam situasi yang tak pernah kita hadapi sebelumnya: anxiety, serangan kesehatan mental, trauma, paranoia, serta hal buruk lainnya.

    Needless to say, Cosmo mengerti jika kamu tidak bisa berpikir dengan jernih dan merasa sangat kelelahan. Jujur, saya juga pernah merasakannya. Inilah mengapa, Cosmo berbicara pada Naiylah Warren, seorang staf terapis yang bekerja di sebuah perusahaan mental health care, Real. Kami mengobrol tentang bagaimana cara menghadapi serangan "trauma" yang terus menerus terjadi, dan bagaimana kita bisa menemukan ruang kegembiraan bahkan ketika dunia saat ini terasa "terbakar" di sekitar kita—dan perasaan tersebut sepertinya tak bisa kita elakkan.




    Tulisan ini diunggah berdasarkan apa yang disampaikan oleh Naiylah Warren pada Sara Li, kontributor Cosmopolitan US.


    ~~~~~

    Empathy burnout adalah sesuatu yang semakin sering saya lihat selama setahun belakangan. Ini adalah sebuah perasaan di mana kita tak bisa lagi menghasilkan energi untuk memedulikan apa yang sedang terjadi di sekitar kita—sepanjang waktu. Bukan berarti kita jadi antipati karena kita tak berdiri dalam "sepatu" mereka, tapi karena ada terlalu banyak hal buruk (atau menyebalkan) yang terjadi di sekitar kita, sehingga rasanya sungguh, sungguh sulit untuk bisa berempati setiap waktu. Banyak orang kemudian memilih untuk berhenti bersosialisasi, karena semua hal yang terjadi di dunia belakangan ini memberikan banyak rasa sakit dan kesedihan bagi mereka. Saya ingin sekali mendorong orang-orang untuk berhenti sejenak, menarik napas lalu menengok hal-hal yang benar-benar ampuh untuk membuat mereka merasa tenang, sesimpel mandi busa di rumah atau melakukan sesuatu yang lebih bermakna seperti FaceTime dengan kerabat.

    Salah satu hal yang sering saya sarankan pada para klien saya (dan saya harap mereka lakukan) adalah bertanya pada diri sendiri, Apa yang dibutuhkan dari saya saat ini? Dan sebaliknya, apa yang saya butuhkan mulai hari ini? Berfokus pada hal-hal yang dapat kita kendalikan bisa menjadi hal yang sangat membantu. Seperti: makanan apa yang bisa kamu makan hari ini yang membantumu merasa lebih baik? Dan FYI, entah jawabanmu sepiring kale atau sebungkus kue favorit, kedua jawaban tersebut valid untukmu.

    Belakangan ini, rasanya sangat mudah untuk bereaksi secara emosional terhadap semua hal yang terjadi. Dan kalau boleh jujur, hidup dalam keadaan kelelahan emosional yang konstan seperti ini sangat tidak baik untuk kehidupan kita. Ini adalah saatnya bagi kita untuk mengembangkan gaya hidup mindful. Dan dengan "mindful", maksud saya bukanlah bermeditasi setiap pagi. Toh, tak semua orang bisa melakukannya, dan saya tidak memaksanya. Maksud saya adalah benar-benar mempraktikkan "art of being present"—seni untuk berada di masa kini.

    Semisal, katakanlah kamu baru saja bangun di pagi hari dan kamu memiliki seekor anjing peliharaan. Apa tanggung jawabmu terhadap anjing tersebut? Kamu harus memastikan bahwa kamu bangun dan mengajak anjing tersebut berjalan. Kamu harus memberinya makan. Terhubung dengan tanggung jawabmu adalah apa yang saya maksud ketika saya berkata, "Be more present"—jadilah lebih nyata.



    Hal ini sangat membantu kita untuk terhubung kembali pada hal duniawi yang memanusiakan kita dan membuat kita merasa lebih memegang kendali, terutama ketika ada begitu banyak hal yang ada di luar kendali kita.

    Kita juga perlu menyadari bahwa perasaan keputusasaan ini tidak akan bertahan selama itu. Hidup tidak akan selamanya buruk, pun sama halnya hidup tak bisa selamanya baik. Ada banyak orang yang merasa bahwa untuk bisa menjadi orang yang baik, mereka perlu terhubung secara mendalam dengan semua yang sedang terjadi saat ini. Tapi ketahuilah: Kamu bisa kok, menjadi orang baik dan tetap merasa kesal dengan hal-hal yang terjadi di sekelilingmu sambil menciptakan ruang kosong untuk kebahagiaanmu sendiri. Saya rasa orang-orang memberikan terlalu banyak tekanan pada diri mereka sendiri untuk mengangkat beban dunia meski pada kenyataannya, ada tempat untuk semua hal tersebut, entah yang baik maupun yang buruk.

    Seperti, kamu bisa merasa senang dengan kenyataan bahwa kamu telah melakukan sesuatu yang luar biasa di kantor—dan juga merasa sedih karena mungkin rekan kantormu sedang menghadapi saat-saat yang buruk. Kamu juga bisa menikmati kencan yang menyenangkan dengan pacarmu—sambil tetap merasa marah dengan situasi yang terjadi di dunia. Saya hanya ingin memvalidasi orang-orang bahwa ini merupakan situasi yang sangat tipikal dari pengalaman kita sebagai manusia.

    Kamu bisa menjadi orang baik dan tetap merasa kesal dengan hal-hal yang terjadi di sekelilingmu sambil menciptakan ruang kosong untuk kebahagiaanmu sendiri.

    Hal lain yang juga penting bagi kita adalah mengambil langkah mundur, dan kembali terhubung dengan aktivitas-aktivitas yang memunculkan berbagai emosi serta memberikan pengalaman yang berbeda selain rasa sakit dan kehilangan. Karena perbedaan inilah yang bisa membantu kita melewati masa-masa ini. Kita tidak perlu tenggelam sepenuhnya dalam perasaan sedih atau frustasi. Tidak baik bagi kita untuk tetap berada di fase tersebut, jadi saya mendorong orang-orang untuk melakukan aktivitas yang benar-benar mampu menggerakkan mereka ke cara berpikir yang positif karena itulah yang kita butuhkan untuk bisa mengatasi masa-masa seperti ini, terutama ketika kita merasa seperti tak punya harapan. Mungkin kamu perlu berolahraga? Atau melakukan kegiatan kreatif seperti melukis? Atau mungkin menulis sebuah jurnal? Apapun itu, berpartisipasi dalam aktivitas-aktivitas tersebut dapat membantu memicu optimisme kembali hadir dalam kehidupanmu. And optimism is what we need to survive.


    (Artikel ini disadur dari cosmopolitan.com / Perubahan telah dilakukan oleh editor / Berdasarkan apa yang disampaikan oleh Naiylah Warren pada Sara Li, kontributor Cosmopolitan US / Alih bahasa: Alvin Yoga / Image: Dok. Cosmopolitan US)