Celebrity

Amanda Rawles, Asmara Abigail & Maizura Bicara Film A World Without

  by: Giovani Untari       29/10/2021
  • Mewarnai perfilman Indonesia di tahun 2021 ini, A World Without menyuguhkan cerita yang berbeda dari biasanya.

    Film yang disutradarai oleh Nia Dinata bekerja sama dengan penulis Lucky Kuswandi tersebut membawa kita pada kisah tiga remaja perempuan yang memilih menjalani kehidupan tak biasa dengan bergabung dalam The Light, sebuah organisasi yang berjanji untuk mewujudkan kehidupan idaman milik para anggotanya. 

    Dan tentu saja salah satu daya tarik dari film yang tayang di Netflix tersebut terletak dari karakter tiga sahabat yaitu Salina (Amanda Rawles), Tara (Asmara Abigail), dan Ulfah (Maizura). Meski bersahabat, namun ketiganya memiliki karakter yang berbeda dan unik. Mereka pun akhirnya berjuang bersama untuk menemukan kekuatan dan suara mereka sendiri dalam hidup. Remember: girls can do anything!





    Foto kredit: Netflix, Fotografer: Nicoline Patricia Malina.


    Untuk itu Cosmo pun berkesempatan untuk melakukan interview bersama Amanda Rawles, Asmara Abigail, serta Maizura mengenai peran, opini mereka tentang kekuatan perempuan (plus fun fact) dalam film A World Without. Simak interview-nya berikut ini:


    AMANDA RAWLES SEBAGAI SALINA


    Hai Amanda, dalam A World Without kamu berperan sebagai sosok Salina, perempuan muda yang cerdas, logis, dan memiliki tekad kuat dalam hidupnya. Apa tantangan terbesar yang kamu rasakan saat berperan sebagai Salina? 

    Amanda: Tantangan terbesar saya yang rasakan sebagai Salina adalah ketika saya harus memerankan karakter yang jauh di bawah usia saya yang sebenarnya. Bukan hanya itu, tapi juga karena ini film ini mengambil potret karakter anak muda yang ada di masa depan pada 2030, yang mana ini jelas semakin menantang bagi saya. Lalu saat membangun chemistry bersama Tara (Asmara Abigail) dan Ulfah (Maizura) sempat cukup challenging karena sebelumnya saya selalu bermain dengan lawan jenis, sedangkan film ini lebih mengambil tema persahabatan. Jadi ini tentu ada treatment khusus untuk membangun chemistry dengan sahabat – sahabat ini.


    Seberapa mirip seorang Amanda Rawles dengan karakter Salina itu sendiri?

    Amanda: Jujur lumayan mirip! Kami berdua sama-sama pakai kacamata, tomboy, dan cuek. Sisi ambisius Salina juga sangat mirip, karena saya termasuk orang yang juga cukup ambisius. Sosok Salina juga sangat suka membuat film dan tertarik dengan industri perfilman, saya sendiri pun sangat passionate dengan perfilman, hal ini semakin menambah daftar kemiripan kami. Tapi rasanya saya tidak sepercaya diri dan seberani Salina.


    Foto kredit: Netflix, Fotografer: Nicoline Patricia Malina.


    Apakah ada pengalaman unik selama proses produksi film ini? Dengar-dengar karena pandemi proses casting-nya pun dilakukan secara virtual?

    Amanda: Proses syutingnya terbilang unik, karena kita semua syuting di masa pandemi. Dan di masa yang lagi sulit – sulitnya sekali waktu itu, sampai kita casting secara virtual dan sungguh terasa terbatas. Mungkin yang unik adalah karena adanya pandemi itu sendiri. Ketika syuting ada banyak sekali aturan – aturan baru yang harus dijalani, protokol kesehatan yang sangat ketat, menggunakan masker, terus juga ada grouping-nya, jadi benar-benar dibuat kelompok antara kru, sutradara, dan pemain, kita tidak bisa sembarangan nimbrung dengan semua orang. Which is sad – karena kadang kan kalau syuting kita ingin merasa seperti keluarga dan have fun bersama, tapi karena pandemi tentu semua hal benar-benar lebih terbatas dari biasanya. Salah satu hal unik lainnya adalah kita juga syutingnya di Bandung. Kita tinggal sekitar hampir dua minggu di Bandung dan itu membuat hubungan antara pemain, sutradara, dan kru semakin dekat.


    Film ini menyoroti tentang fenomena anak muda yang terkadang salah dalam mencari figur role model. Apakah ada pesan dari kamu bagi para penonton di luar sana, terutama para anak muda yang mungkin masih bingung dalam mencari jati diri mereka sendiri?

    Amanda: Menurut saya penting sekali untuk mendengarkan isi hati kita. Lalu juga mendengarkan intuisi kita, karena terkadang kita suka ingin mencari role model (dengan melihat orangtua, selebriti, atau teman kita) supaya kita merasa bisa jadi lebih baik. Padahal pada akhirnya diri kita sendirilah yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. Jadi menurut saya penting sekali untuk selalu stay true to yourself dan selalu mendengarkan isi hati kita.


    Foto kredit: Netflix.


    A World Without juga tak lepas dari para perempuan dalam menemukan kekuatan dalam dirinya. Ada tips bagi para perempuan agar mereka bisa menyadari kekuatan dan keunikan yang dimilikinya?

    Amanda: Tips untuk perempuan agar bisa menyadari kekuatan dalam diri mereka, menurut saya adalah kita harus benar – benar percaya pada diri kita sendiri, sekalipun kita masih muda. Lingkungan sosial kadang suka melabeli anak remaja sebagai sosok yang labil, belum tau apa – apa. Padahal sebenarnya kita semua harus yakin dan yang paling penting adalah harus mencari support system yang kuat.

    Kalau kita memiliki teman dan sahabat yang menerima kita apa adanya, kita pun harus terus menjaga hubungan tersebut. Siapa tahu hubungan tersebut akan membuat kita menyadari bahwa kita memiliki kekuatan yang selama ini mungkin tidak kita ketahui, sama seperti yang ada di film A World Without ini. Bahwa kita sebenarnya kuat, tetapi saat bersama perempuan lainnya kita akan semakin kuat lagi. Dan untuk keunikan itu sendiri menurut saya penting sekali untuk kita menerima diri kita seutuhnya terlebih dahulu, serta mau menerima kekurangan dan kelebihan yang dimiliki. Baru setelah itu kita bisa benar – benar stay true dan dapat mengekspresikan kepribadian diri kita yang sebenarnya.



    ASMARA ABIGAIL SEBAGAI TARA


    Hai Asmara, tahun 2021 nampaknya menjadi tahun yang produktif bagi kamu. Apa yang membuat kamu tertarik memerankan sosok Tara dalam film ini?

    Asmara: Saya merasa sangat bersyukur dengan proyek-proyek yang datang serta dengan karakter-karakter yang menarik pula yang ditawarkan kepada saya. Memerankan karakter Tara dalam film A World Without adalah sebuah tantangan tersendiri karena perbedaan usia Tara dan saya cukup jauh. Tapi ini merupakan proses yang menarik, karena saya bisa dibuat nyaman dengan menggunakan waktu untuk berdiskusi dan menggali kembali memori-memori saat saat saya masih berusia 17 tahun. Itu membuat saya menyadari ternyata banyak hal yang saya pelajari dari proses growth hingga saat ini, yang tentunya menjadi kenangan indah untuk saya pribadi.


    Karakter Tara juga cukup berbeda dari karakter yang kamu perankan sebelumnya, bagaimana cara kamu mendalami karakter ini?

    Asmara: Betul sekali. Karakter Tara sangat berbeda dari karakter – karakter yang pernah saya mainkan sebelumnya. Mungkin karena saya cukup sering bermain di film horror, namun karakter Tara ini justru menjadi bukti bahwa saya juga bisa memerankan tokoh yang memang masih remaja, masih mencoba eksplorasi, serta memiliki sisi innocent. Hal ini yang benar – benar saya coba hayati.


    Foto kredit: Netflix, Fotografer: Nicoline Patricia Malina.


    Ceritakan satu hal yang mungkin orang lain tidak ketahui tentang sosok Tara itu sendiri?

    Asmara: Satu hal yang tidak diketahui orang banyak mengenai sosok Tara, di balik sikap dan sifat ceplas – ceplosnya, ia tetap mendahulukan kedua sahabatnya. Karena Tara selalu merasa kedua permasalahan sahabatnya lebih penting. Tara punya kekuatan untuk bisa independent dan mendahulukan sahabatnya daripada dirinya. Hal itu yang membuat karakter Tara menjadi lebih multi-dimensional.


    Bagaimana cara kamu membangun chemistry dengan Amanda Rawles dan Maizura selama syuting? Hal apa yang paling mempersatukan kalian?

    Asmara: Chemistry kami tidak dibangun hanya saat syuting, tapi itu semua dibangun ketika kita reading dan rehearsal, kita ulang kembali, lalu kita gali setiap adegan bersama. Namun karena usia saya berbeda cukup jauh dari keduanya, saya justru merasa nyaman dengan Amanda dan Maizura karena mereka juga sangat terbuka bersama saya. Kami menghabiskan waktu bersama, melakukan yoga, main surfing, dan lunch bareng, sambil ditemani sutradara juga. Namun saat itu kami tidak membicarakan film, kami lebih membicarakan hal – hal dalam kehidupan sehari – hari. Jadi ketika udah syuting apalagi di Bandung, walaupun kamar kami terpisah, tetapi kami tetap saling seru – seruan, dan tentunya saling melindungi satu sama lain.





    Foto kredit: Netflix.


    A World Without juga tak lepas dari para perempuan dalam menemukan kekuatan dalam dirinya. Ada tips bagi para perempuan agar mereka bisa menyadari kekuatan dan keunikan yang dimilikinya?

    Asmara: Pesan aku untuk pembaca Cosmo adalah find your own power within. Jangan pernah takut mencoba karena kita harus memperbanyak pengalaman kita sebelum kita mengetahui sebenarnya kekuatan kita ada di mana.



    MAIZURA SEBAGAI ULFAH


    Hai Maizura, apa tantangan terbesar yang kamu rasakan ketika harus bermain sebagai sosok Ulfah?

    Maizura: Tantangan terbesar saya adalah ketika saya masuk ke lingkungan baru dan harus berusaha bisa menyerap semua informasi dan energi di lingkungan tersebut. Tapi ternyata itu menyenangkan dan saya suka tantangan. Saya harus memerankan sosok perempuan hamil, hal ini membuat saya mendapat banyak sekali masukan dari Teh Nia bahkan dari dokter kandungan pada saat kami persiapan syuting.


    Ulfah adalah sosok perempuan yang lovely dan bermimpi memiliki keluarga bahagia. Apa yang kamu harap para penonton lihat dari karakter Ulfah ini? Apakah kamu bisa merasa relate dengan sosoknya?

    Maizura: Mengenai Ulfah adalah sosok perempuan yang ingin berkeluarga dan punya mimpi indah namun sederhana, saya pikir banyak juga perempuan yang relate dengan hal tersebut. Karena, buat saya menjadi perempuan yang berdaya adalah ketika perempuan bisa tahu apa yang ia inginkan, jadi bukan berarti Ulfah tidak lebih maju daripada teman – temannya. Ia ahu betul yang dia inginkan, yaitu berkeluarga dan mempunyai anak, makanya Ulfah mendatangi The Light. Tapi memang kita sebagai manusia memang selalu punya harapan, namun belum tentu harapan tersebut selalu mendatangkan apa yang kita impikan.


    Foto kredit: Netflix, Fotografer: Nicoline Patricia Malina.


    Kira-kira seberapa mirip Maizura dengan sosok Ulfah itu sendiri?

    Maizura: Saya termasuk setia dengan sahabat – sahabat saya, sama seperti Ulfah. Namun pastinya saya tidak akan semudah itu bergabung ke dalam perkumpulan yang memiliki aturan – aturan di mana aturan tersebut juga sudah mulai mengarah ke ranah privat. Tentu, saya enggak akan join! Haha...


    Dalam A World Without, kamu pun berkesempatan untuk bekerja sama dengan nama para sineas besar, seperti Nia Dinata, Lucky Kuswandi, Chicco Jerikho hingga Ayushita. Apa saja pembelajaran terbaik dari bekerja sama dengan para nama besar tersebut?

    Maizura: Bekerja bersama mereka nyaman – nyaman saja, karena saya merasa tidak ada perbedaan. Kita malah seperti membentuk keluarga sendiri, dari mulai kita persiapan syuting hingga sekarang. Dan yang paling dibangun adalah ruang yang sangat nyaman dan menghargai satu sama lain.



    Foto kredit: Netflix.


    A World Without juga tak lepas dari para perempuan dalam menemukan kekuatan dalam dirinya. Ada tips bagi para perempuan agar mereka bisa menyadari kekuatan dan keunikan yang dimilikinya?

    Maizura: Bagi teman-teman agar menemukan kekuatan dalam dirinya, mungkin kita harus belajar untuk banyak mencoba sesuatu hal yang baru, dan berani mengambil risiko juga dalam hidup. Tapi ketika kita merasa ada yang tidak beres, kita harus mengasah intuisi dan berani mengambil langkah untuk keluar dan menyudahi segala hal yang bertentangan dengan intuisi kita.



    Foto kredit: Netflix.



    A World Without tayang secara global mulai 14 Oktober di Netflix.






    (Giovani Untari / Images: Dok. Netflix / Ilustrasi Opening: S. Dewantara)