Lifestyle

Hermes Temptation Journey From Two Fabulous Woman

  by: Redaksi       30/11/2011
  • My ultimate life goal? To continually work on my internal glamor – because what's outside is just window dressing.” Alexandra Dewi


    Tas Birkin telah menjelma menjadi simbol status sosial tertinggi bagi para fashionista dan socialite. Finest quality dari brand asal Prancis ini, sudah pasti membuat wanita manapun tergoda untuk memilikinya. Namun siapa menyangka, dibalik penjualan tas Hermes terdapat kisah petualangan yang penuh suka dan duka. Ya, kisah ini diceritakan oleh dua sahabat bernama Fitria Yusuf dan Alexandra Dewi dalam buku mereka Hermes Temptation yang secara resmi diluncurkan di Restoran Italia Pesto, Jakarta (29/11/11).



    Semuanya bermula dari percakapan ringan antara Fifi (Panggilan akrab Fitria Yusuf) dan Dewi, yang berlanjut dengan terperciknya sebuah ide untuk berkolaborasi sebagai reseller berbagai varian tas Hermes. Didukung oleh tren penjualan barang melalui Blackberry messenger group, Fifi dan Dewi memutuskan untuk membentuk BBM grup bernama Hermes Temptation yang berisikan 30 anggota, dalam perkembangannya grup tersebut semakin besar hingga mencapai 7 grup dengan jumlah anggota mencapai 210 anggota.

    Di luar negeri seperti di New York, orang-orang lebih memilih menggunakan tas Hermes dengan warna klasik seperti hitam dan cokelat, sedangkan di Indonesia lebih menyukai warna-warna cerah,” tutur Fifi. Untuk masalah kelangkaan dan mahalnya harga tas tersebut bukan menjadi masalah bagi sekelompok orang, “Semakin susah didapatkan, semakin banyak yang mengincar,” jelas Dewi.

    Harga di store sebenarnya lebih murah dari reseller, namun mendapatkan barang terutama limited edition cukup sulit walaupun Anda mempunyai uang. Dengan waiting list yang bisa mencapai dua tahun, maka tidak heran membuat banyak orang memilih untuk membeli barang di reseller.



    Menjadi broker tas dengan harga spektakuler itu, membuat dua sahabat yang pernah sukses menulis buku Little Pink Book: Jakarta Style & Shopping Guide ini mengalami perjalanan panjang penuh dengan pengalaman, yang terkadang cukup pahit. Seperti Fifi yang pernah mengalami penipuan, ketika tas yang ia jual dibawa kabur oleh salah seorang pelanggan. Mereka juga menjumpai berbagai kenyataan yang terkadang lucu, seperti tas Hermes yang di Prancis diperlakukan layaknya tas, tidak apa-apa ditaruh di lantai. Sedangkan di Indonesia, diperlakukan bagai manusia yang harus memiliki tempat duduknya sendiri.

    Namun berkat berbagai pengalaman tersebut, duo penulis itu menemukan kembali prioritas dalam hidup, menggali lebih dalam betapa berartinya persahabatan dan keluarga. “Harapan saya membuat buku yang entertaining dan fun, bukan menggurui namun bisa membuka pikiran orang lain. Agar menilai orang lain bukan hanya dari tasnya saja,” jelas Dewi.

    Buku Hermes Temptation sangat menarik dibaca, karena menceritakan kisah yang merubah cara pandang Fifi dan Dewi dengan cara bertutur yang sangat enjoyable. Buku ini sangat recommended untuk wanita yang ingin melihat dunia sosialita/fashionista yang memiliki perbedaan cukup ekstrem dengan kehidupan mayoritas wanita Indonesia.

    Dan pesan terpenting yang akan Anda dapatkan, seperti ditulis dalam buku ini oleh Fitria Yusuf, “... and I won't let what I have or what I don't have dictate whether I'm superior or inferior to others.”(Calvin Hidayat/IR/Image: Dok. Cosmopolitan)