Lifestyle

Drama Romantis Sang Penari Ronggeng

  by: Redaksi       11/11/2011
  • “Ronggeng itu tidak cuma perkara urusan nari, tapi juga urusan kasur, urusan dapur, urusan sumur.”

    Menurut legenda, seorang penari ronggeng dilahirkan bukan diciptakan. Dan penduduk Dukuh (desa) Paruk di Banyumas, Jawa Tengah, sangat meyakini hal itu. Setelah bertahun-tahun kehilangan penari ronggengnya akibat suatu peristiwa keracunan, desa miskin tersebut akhirnya memiliki kembali penari ronggengnya: seorang gadis bernama Srintil (Prisia Nasution). Memiliki bakat untuk menari dengan magis, dia diyakini oleh para tetuah dukuh memiliki roh penari ronggeng. Untuk itulah Srintil dibawa oleh kakeknya ke Kertareja (Slamet Raharjo), seorang dukun ronggeng, untuk disiapkan sebagai penari ronggeng yang sesungguhnya.

    Namun sang kekasih, Rasus (Oka Antara), merasa cemburu karena selain harus menghibur masyarakat, seorang penari ronggeng juga dituntut untuk melayani nafsu para lelaki. Hal ini membuat Rasus merasa kecewa; ia merasa cintanya telah pupus. Akhirnya ia memutuskan untuk meninggalkan Dukuh Paruk untuk bergabung dengan tentara. Setelah kepergian Rasus, justru popularitas Srintil sebagai penari ronggeng dari Dukuh Paruk semakin naik.



    Kemudian masa terkelam dalam sejarah Indonesia terjadi. Setelah tragedi Gerakan 30 September, pembantaian massal dilakukan TNI terhadap masyarakat yang dicurigai terlibat partai komunis. Warga Dukuh Paruk ikut terseret dalam peristiwa tersebut. Dan Rasus yang bergabung sebagai tentara kini dihadapkan pada dilema, yakni harus memilih loyalitas kepada negara atau cintanya kepada Srintil.



    Film yang diinspirasi dari trilogi "Ronggeng Dukuh Paruk" karya Ahmad Tohari ini digarap dengan sangat apik oleh sutradara muda, Ifa Ifansyah. Anda akan terlarut dalam kisah cinta yang touching. Kombinasi dari akting berkualitas, cerita yang mengharu-biru, dan penataan setting yang sangat baik, menjadikan film ini tontonan wajib Anda bersama pasangan di akhir pekan ini. Very Recommended!(Calvin Hidayat/SL/Gambar: Dok. Sang Penari)