Lifestyle

Leburnya Seni Indonesia-Nigeria di Biennale Jogja 2015

  by: RedaksiCosmopolitan       30/11/2015
  • Biennale Jogja kembali hadir tahun ini! Berlangsung mulai dari tanggal 1 November hingga 10 Desember 2015 bienalle ke-12 ini menggandeng Nigeria sebagai rekanan dengan mengangkat tema “Hacking Conflict”. Pameran utama Biennale Jogja XII: Equator #3 ini melibatkan 26 partisipan dari Indonesia dan Nigeria dan menggunakan tiga situs di Jogja National Museum (JNM) yang ruang pamernya dirancang oleh Wok The Rock sebagai kurator bersama seniman/arsitek Iswanto Hartono.

    Biennale yang Mengena

    Menurut Cosmo, Biennale Jogja (BJ) tahun ini menawarkan pengunjung cara mengapresiasi seni yang lebih mengena, yaitu berinteraksi langsung dengan sang artis, atau terlibat langsung di dalamnya. Selama ini, banyak orang datang ke pameran seni tapi sebenarnya tidak memahaminya – atau mungkin hanya sekadar untuk foto-foto sebagai ajang eksistensi di media sosial. Di biennale kali ini, begitu masuk, panitia hanya meminta KTP yang nanti bisa ditukarkan saat keluar ruang pameran sebelum menjawab kuis yang dilontarkan panitia mengenai karya-karya yang dipamerkan. Kalau begini, mau tidak mau pengunjung harus benar-benar memerhatikan setiap karya yang ada, kan?



    Kemiripan Nigeria dan Indonesia

    Nigeria sendiri digandeng karena sejalan dengan proyek jangka panjang BJ yang bertema Equator (Khatulistiwa), di mana setiap seri BJ bekerjasama dengan satu kawasan di sekitar khatulistiwa. Anda tentu ingat ketika BJ tahun 2011 yang saat itu menggandeng India dan tahun 2013 mengajak Arab. Menurut Wok sendiri, Indonesia dan Nigeria sebenarnya dua negara yang hampir mirip. “Pada November 2014, saya diutus Yayasan Biennale Yogyakarta untuk melakukan penelitian ke Nigeria. Di sana, saya menemukan banyak situasi yang sebenarnya sedang dialami juga di Indonesia,” ungkapnya. “Pasca runtuhnya rezim militer tahun 1998, Nigeria dan Indonesia sibuk membangun mimpi akan kehidupan yang paling demokratis. Ini adalah bius menawan yang membuat semuanya lupa bahwa perbedaan adalah jiwa yang turut lahir bersama demokrasi,” tambahnya.




    Karya Seni Kritis

    Ada 32 karya yang ditampilkan kali ini, mulai dari karya yang bersifat aktivitas, interaktif, hingga yang menggunakan beragam media seperti lukisan, instalasi, dan buku. Di luar itu, ada empat karya yang ditampilkan di luar area JNM. Karya Olanrewaju Tejuoso bisa dilihat di Jl. Bintaran Kulon No. 6 dan karya Agan Harahap dan Yusuf Ismail didistribusikan via internet. Sedangkan karya kolaborasi Irwan Ahmett-Tita Salina dan Yudi Ahmad Tajudin berupa prosesi yang digelar di Desa Giyanti, Karanganyar tanggal 6 November lalu. Beberapa karya cukup menyentuh untuk ditelisik lebih jauh, seperti karya “The Wealth of Nations” milik Victor Ehikhamenor yang bicara tentang kayanya Indonesia dan Nigeria akan minyak hingga konflik yang didapat dari kekayaan tersebut. Di sini Anda juga bisa menikmati karya kolaborasi Eko Nugroho dan kawan-kawan di “Hacking Artworks” hingga “People to People” karya seniman asal Lagos, Nigeria, Kainebi Osahenye. (Vidi Prima / SW / Image: doc. Cosmopolitan)