Love & Sex

Pasangan Anda Posesif? Baca Artikel Ini!

  by: Hana A. Devarianti       20/11/2016
  • Ladies, Anda tentu tidak ingin berada di hubungan yang menimbulkan rasa tidak nyaman karena selalu dikekang. Well, sikap peduli memang menjadi satu poin yang harus dimiliki Mr. Right. Akan tetapi, sikap si dia yang selalu ingin “mengontrol” bahkan cenderung posesif justru dapat menjadi masalah yang besar pada hubungan.

     

    Mengapa Si Dia Posesif?



    Menurut Alexander Sriwiejono, psikolog dan founder dari Daily Meaning People Development Consultat, sikap posesif muncul bukan tanpa alasan. Ia mengatakan ada tiga alasan mengapa seseorang dapat memiliki sikap ini ketika menjalin sebuah hubungan.

     

    Alasan yang pertama adalah pengalaman masa lalunya. Trauma yang muncul dari pengalamannya itu belum tuntas sehingga si dia pun akhirnya menjadi posesif kepada Anda. Kedua, rasa insecurity, atau rasa tidak aman, yang biasanya terkait dengan self image atau cara pandangnya terhadap dirinya sendiri. “Kurang kesibukan jadi alasan yang ketiga. Orang yang lebih tidak sibuk, pikirannya bisa lebih banyak diisi dengan hal yang tidak-tidak,” ujar Alex.

     

     

    Seperti Apa Pasangan yang Posesif Itu?

    Brandy Engler, Ph.D., seorang psikolog hubungan, mengatakan bahwa pasangan yang posesif biasanya akan menuntut perhatian Anda setiap saat. “Menurut pasangan, dia memiliki hak untuk selalu mendapatkan perhatian penuh dari Anda dan mengetahui info paling personal Anda,” kata Brandy.

     

    Pria yang posesif memang akan passionate dan sangat perhatian, dan ini akan terasa menyenangkan di awal hubungan. Namun, lama-kelamaan mereka akan semakin needy. Dalam beberapa kasus, sikap posesif berujung pada “sesak” dalam menjalin hubungan karena si dia selalu mengecek isi pesan dalam smartphone, selalu ingin tahu Anda sedang ke mana dan bersama siapa, dan bersikap terlampau curiga pada teman pria dan rekan kerja pria. Tidak jarang pula sikap posesif malah dapat membuat pasangan melakukan kekerasan.



     

    Lalu, Bagaimana Menghadapinya?

    Alexander Sriwiejono menuturkan, dalam banyak situasi, sikap posesif berasal dari dalam diri seseorang. Jadi, jangan buru-buru menyalahkan diri Anda. Akan tetapi, di satu sisi situasi ini juga sekaligus bisa menjadi bahan untuk melihat kembali ke diri masing-masing dan bahan diskusi untuk bagaimana sebaiknya hubungan kalian dibangunnya.

     

    “Bicarakan dengan serius, bahwa hubungan seringkali bisa bubar bahkan bukan karena kehadiran orang ketiga, tetapi karena ketidaknyamanan yang terjadi di kedua belah pihak,” kata Alex. Hati-hati untuk tidak terjatuh pada perjanjian kaku yang berisi larangan bagi pasangannya untuk tidak boleh ini dan itu. Hubungan yang sehat didasarkan pada rasa saling percaya dan komitmen untuk menjadi pribadi yang lebih baik saat berpasangan, dan bukan karena paksaan. (Hana Devarianti/SS/Image: outnow.ch)

     

    BACA JUGA:

    Coba Cek, Apakah Si Dia Protektif, atau Posesif?

    Mengatasi “Sang Mantan” Pasangan Yang (MASIH) Posesif

    6 Kebiasaan di Media Sosial yang Bisa Merusak Hubungan